Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Perang Paregreg

Bab 7 Perang Paregreg

“Mbak tidak ganti?” Rara menggeleng, melihat yang diberikan lelaki itu hanya kemben. Ia sama sekali tak suka memakainya, selain nantinya akan membuat jilbabnya terlepas, bahu juga setengah punggungnya akan terlihat jelas. Bukan saja malu, dosa pun akan ia tanggung.

Kevin menengok ke belakang, diikuti Tapa. Kedua laki-laki itu tentu maklum dengan penolakan yaang diberikan Rara.

“Kenapa semua orang bersembunyi?” tanya Rara hati-hati. Belum sempat dijawab, Kevin dan Tapa sudah datang, ikut duduk di sana dengan pemuda itu juga Rara.

“Mereka bersembunyi, semenjak perang terjadi, banyak penjarah yang berdatangan. Orang-orang lebih memilih terkurung di rumahnya daripada membiarkan mereka masuk dan melakukan penjarahan.” Pemuda itu menatap langit-langit rumah, menghela napasnya panjang. “Kadang mereka juga melakukan hal bejat seperti pemerkosaan. Dua pedukuhan sebelah bahkan banyak rumah yang dibakar.”

“Apa tidak ada keamanan?” tanya Tapa, dia lebih lancar menggunakan bahasa Jawa ketimbang lainnya.

Si pemuda menggeleng. “Kami cukup jauh dari Kotaraja, Kisanak. Tidak banyak pendekar yang hidup di pedukuhan kami. Prajurit bhayangkara pun lebih pasti untuk melindungi kerajaan ketimbang warga terpencil seperti kami.”

“Perang apa?” tanya Kevin, dia ingin tahu perang apa yangterjadi di sini.

“Sepeninggal mendiang Maharaja Sri Rajasanegara, hubungan kerajaan Barat dengan Timur menjadi semakin pelik. Jika dulu Bhra Hyang Wisesa Wikrama hanya berselisih mulut dengan Bhre Wirabumi. Namun setelah Maharaja mangkat, perang dingin terjadi, perselisihan makin timbul dan perang baru-baru ini pecah. Membuat para bandit di tengah hutan gembira, senang turun dan naik gunung mengambah pada desa-desa yang sedang butuh pelampiasan. Menjarah harta benda mereka, juga menodai para istri, janda dan gadis gadis desa. Banyak yang mati dan merugi. Perang memang tidak ada gunanya.”

Tapa mencoba mengangguk mengerti. Kevin hanya melirik ingin tahu siapa nama-nama asing yang disebutkan laki-laki itu.

“Siapa sih?” tanya Kevin berbisik.

Pemuda yang baru saja menjelaskan mengernyit heran, pasalnya ucapan Kevin tidak pernah ia ketahui sebelumnya, apakah itu bahasa Gujarat? Atau Campa?

“Bhre Wirabumi itu anaknya selir Hayam Wuruk. Aku ngga tahu nama aslinya. Dia nikah dengan sepupunya sendiri, Negarawardhani, putri dari Nertaja, Nertaja itu adiknya Hayam Wuruk. Terus Kusumawardhani, anaknya Raja sama permaisuri nikah nih sama yang tadi namanya panjang banget, namanya kalau ga salah Wikramawardhana. Hubungan Wikrama sama Kusumawardani juga sepupu. Jadi antar sepupu nikah, terus antar pasangan berselisih akhirnya perang.”

Tatapan tak suka si pemuda dilayangkan, Rara tahu jika bahasa yang digunakan oleh Tapa memang tak diketahui oleh si pemuda. Namun, si pemuda itu juga tak rela jika para petinggi yang dianggap agung dipanggil semena-mena. Ingin menghukum pun tak ada guna, tak ada hak. Hanya bisa menatap Tapa tak suka.

“Kamu ngomongnya keras banget, dia dengar kamu menyebut raja-rajanya tidak pakai gelar. Tidak sopan,” bisik Rara yang membuat Tapa sadar. Dia mengalihkan pandangannya kepada pemuda itu dan tersenyum lebar dengan perasaan malu juga sedikit waswas.

“Mohon bantuannya kisanak, bolehkah kami bermalam di sini?” tanya Tapa berusaha mencairkan suasana.

“Di sini tidak ada sentong khusus untuk tamu.” Perkataannya sarkas, ingin Tapa segera pergi dari rumah kecil ini.

“Kami tersesat, kami berniat mencari informasi terkait wilayah di sini terlebih dahulu. Tapi adik kami terlalu lelah, jika dipaksa takutnya ....”

“Huhh!” Dia mengela napasnya. Merasa jika Tapa tak tahu terima kasih. Mengingat emas yang diberikan oleh perempuan di depannya membuat ia tersadar jika itu tak sebanding dengan pakaian yang mereka kenakan. Setelah perang batin, pada akhirnya dia hanya bisa mengangguk.

“Silakan, hanya ada dua kamar. Diajeng bisa istirahat di kamar sebelah. Saya harus tetap tidur. Kalian berdua tidak akan muat jika satu tempat dengan saya!”

Rara tak bisa menahan senyumannya, selain senang dua rekannya ini mendapatkan ganjaran dengan tak dapat tempat tidur. Pun senang dengan si pemuda yang memanggilnya diajeng. Rara jadi merasa dirinya istimewa.

“Kami bisa tidur di luar, yang paling penting adik kami dapat tempat.”

Si pemuda mengangguk, sedang Rara hanya bisa diam merasa bersalah telah merasa senang dengan musibah kecil ini.

Pemuda itu beranjak memasuki bilik, dia langsung membersihkannya, mempersiapkan tempat agar layak ditempati untuk tidur.

“Kenapa nikahnya dengan sepupu seperti itu?” tanya Kevin pada Tapa. Tapa menoleh, merasa heran dengan pertanyaan itu.

“Dulu kan keturunan dari Ken Dedes saling bunuh, iya toh? Nah mulai dari Raja Mahisa mereka sudah menetapkan bahwa keturunan dari Ken Dedes dan Tunggul Ametung harus bareng dengan keturunannya Ken Dedes dan Ken Arok. Selain tidak ingin darah mereka itu campur dengan darah orang lain terus mewarisi tahta, juga untuk menghindari perang. Nyatanya toh memang benar, sedikit berlaku. Pemberontakan kecil pun sering terjadi. Tapi ya begitu, Vin. Ini salah satu hal yang membuat Majapahit mundur.”

“Jadi ini masa di mana Majapahit runtuh sebentar lagi?”

“Tidak semudah itu. Banyak hal yang buat Majapahit mundur, bukan hanya perang Paregreg ini. Kejadian setelah Gadjah Mada mengundurkan diri dari gelarnya Mahapatih membuat Hayam Wuruk sedih, nyatanya Mahapatih baru tidak bisa mengganti peran Gadjah Mada yang begitu besar. Majapahit pun mulai kehilangan arah. Putri raja dan saudaranya berselisih hingga perang ini muncul. Kemakmuran rakyat sudah tidak bisa dipikirkan lagi. Ditambah kemunculan Islam. Aku yakin Gujarat datang bukan cuman berdagang, tapi juga syiar. Belum nanti kalau Demak muncul dan mulai menyerang. Jadi masa kejayaan sampai surut dan runtuhnya cukup panjang, dan Paregreg adalah salah satu penyebabnya.”

Kevin mengangguk mengerti, tatapannya beralih pada Rara. “Maaf!” katanya. Dia tadi sempat memikirkan akan melakukan banyak penelitian jika benar bisa bergulir ke masa lalu, nyatanya semua tak semenyenangkan itu. Apalagi mereka datang di waktu yang salah. Pada saat Majapahit sedang mengalami dukanya.

Ditambah perjalanan yang membuat gelisah itu, kepulangan yang tak tahu caranya, pun rasa lelah yang diderita. Raut penyesalan juga rasa bersalah timbul, dia merasa ini tak seharusnya terjadi juga dengan Rara.

Rara hanya bisa tersenyum lalu menggeleng. “Aku juga ingin ikut kalian. Lagi pula masih untung kita tidak nyasar di zaman purba?” Rara hanya bisa mencoba menghibur diri juga menenangkan hati dua laki-laki yang ia yakini merasa bersalah atas kemalangan ini.

Pemuda itu datang lagi. “Kamarnya sudah disiapkan, siapa tahu diajeng mau istirahat dulu?”

“Panggil saja Rara, Kang.”

Pemuda itu mengangguk. Tapa memberikan kode lalu berbisik. “Kamu tutup pintunya lalu istirahat dulu, aku sama Kevin mencari info ke luar.”

Rara mengangguk lalu melenggang ke dalam. “Kisanak, mohon jaga adik saya. Saya dan teman saya ingin keluar sebentar.”

Mengerutkan kening, pemuda itu mengangguk. “Mohon hati-hati,” katanya memberikan peringatan.

Tapa menoleh melihat Kevin, menarik tangannya lalu keluar dari rumah itu. “Saya akan hati-hati.”

Mengangguk singkat, Tapa menarik Kevin lebih kencang.

“Kalau di luar ada banyak perampok seperti yang tadi dia katakan bagaimana?”

“Kalau kita tidak keluar bagaimana bisa tahu keadaan dan medan? Lagi pula kita juga tidak bisa tinggal di sana terus-terusan. Aku lihat dia tinggal sendirian, punya potensi untuk membuat kita celaka, Rara pastinya lebih aman kalau tinggal di sana sementara ini.”

Kevin mengangguk. Dia sadar akan hal itu, tadi Rara lebih senang melamun. Menjadikan Kevin merasa sangat bersalah akan hal itu.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel