Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Ini Zaman Apa?

Bab 6 Ini Zaman Apa?

Beberapa detik itu seperti hanyut, mereka bertiga terdorong keluar dengan kecepatan tinggi. Rara dengan refleknya menutup mata, pegangannya pada lengan Kevin juga tautannya dengan tangan Tapa terlepas. Dia terjatuh dan Tapa hampir mengenainya.

“Shhhh!” desis Rara, dia memegang lengan atas sebelah kiri sejenak. “Berat, Tapa! Berdiri tidak!”

Tapa yang tahu diri akhirnya mencoba berdiri. “Ya maaf, Ra!”

Tatapan Rara beralih pada sosok laki-laki yang sudah berdiri tegap di depannya. Tampan dan berwibawa. Kevin tak mengindahkan tatapan macam itu, dia menggeser Tapa, membantunya untuk beralih dari tubuh Rara. Setelah itu membantu Rara berdiri.

Kevin merendahkan diri, hingga seperti jongkok. Ia mengulurkan tangan besarnya untuk Rara. Rara meraihnya, Kevin mencoba menarik lalu meletakan tangan yang lainnya di balik punggung, membantu Rara berdiri.

Tapa yang melihat itu hanya bisa mencebik kesal, bagaimana mungkin Rara yang terlebih dahulu dibantu berdiri, dirinya kan tadi yang ada di atas. Tak ingin terlihat iri, Tapa mencoba berdiri sendiri. Menepuk bagian belakangnya dan menatap langit biru bersih yang menghampar di atas sana.

Langitnya sungguh bersih, jarang sekali awan putih yang menggulung di atas sana. Udaranya pun sejuk, meski terik matahari menyengat, angin sepoi dengan udara yang berembus saling mengadu. Membuat tubuh nyaman dengan suasana macam ini. Menyenangkan!

Ketiganya mulai melangkah tak pasti, hingga menemukan satu dua rumah bergaya joglo. Ada yang mengundak tinggi, dengan kayu jati sebagai saka dan beberapa anyaman bambu yang terpasang jelas sebagai dindingnya.

Semakin jauh melangkah semakin banyak rumah serupa yang ditemukan. Tapa terus mengamati hingga Kevin bertanya. “Ini di zaman apa?”

“Tidak tahu, dari bangunan sudah ketahuan di Jawa. Jawa kuno! Ketemu buyut kita!” Cengiran pongahnya terlihat menyebalkan di mata Rara.

“Hha!” Rara mencela, menganggap ini serius, bukan lagi hal lucu.

Pondasinya tak tertanam, ada di atas dengan tumpukan batu bata merah yang saling menyusun. Latar mereka cukup luas, dengan beberapa tanaman yang menghias di halaman. Ada yang tanahnya kosong, diisi bangku besar di bawah pohon duku. Atap mereka dari genting.

Rumah yang mereka temui terdapat satu tempat sendiri di sampingnya, seperti sebuah tempat khusus untuk bebersih, tidak beratap juga berpintu, bahkan beberapa hanya tumpukan bata tanpa dinding. Di atasnya terdapat beberapa kendi juga air yang sudah siap digunakan.

Khawatir terjadi sesuatu, Rara yang paling cemas di antara mereka. Tak sadar memegang lengan sepupunya, Tapa. Tapa pun tak mengelak, membiarkan orang yang selalu berperang dengannya kini dekat dan saling melindungi.

Hal yang baru mereka sadari adalah, semua orang seperti lenyap. Dari rumah pertama yang mereka temui hingga rumah yang terbangun di depan mereka ini tak ada orang sama sekali. Atau mungkin ada acara besar, atau mungkin mereka mengurung diri? Nyepi?

Rumahnya kosong, bukan hanya satu dua rumah, tetapi sepanjang jalan.

“Stt!” seseorang mendesis, memberikan panggilan membuat ketiganya menoleh. Rara sampai memicingkan mata guna melihat siapa gerangan manusia di antara sepinya tempat ini. Sampai sepasang mata di antara rumah-rumah itu terlihat, dia berada di balik dinding. Ketiganya mendekat. “Kalian siapa? Kenapa berkeliaran di sini?” tanyanya dengan bahasa Jawa kuno yang kental, juga aksen khas.

Tapa memandanginya, dia jelas tahu bahasa itu. Meski sudah cukup kuno, tetapi ketiganya belajar juga bahasa macam itu. Sedikit banyak tahu. Tapa kini semakin yakin jika ini di Jawa. Mulai dari gaya rumah, bahasa yang digunakan juga orang yang mereka temukan.

Hal paling menguntungkan adalah orang tersebut tidak menggunakan bahasa Sansekerta yang tentunya lebih rumit dari bahasa Jawa. Tatapan mata Tapa mengikuti tatapan mata orang tersebut, ke arah baju-baju mereka, pasti orang ini curiga.

“Kalian dari pedagang Gujarat itu?’ tanyanya lagi.

Orang-orang Gujarat sudah memasuki Nusantara, bisa dipastikan ini lebih dari abad dua belas. Akan lebih menyenangkan jika mereka tersesat pada jaman Majapahit kepemimpinan Hayam Wuruk. Selain mereka bisa bertemu Rajasa yang ternama itu, mereka juga bisa bertemu Gadjah Mada, Maha patih paling terkenal sepanjang jaman.

“Kami tersesat!” kata Rara mencoba mendahului. Dia memberanikan diri meski bahasa yang ia ucapkan terdengar aneh dan kaku.

Laki-laki muda itu mendekati mereka, bajunya tanpa kancing, memperlihatkan dada bidang dan perut berotot yang tak timbul sempurna. Ada ikat kepala dengan motif batik parang rusak. Juga celana hitam yang lebar. Tanpa alas kaki, dia mendekat.

Memandangi ketiganya cukup serius, ia menghela napas. “Kalian pergi saja, ke arah sana. Bagusnya kalian jangan di sini.”

Kevin mengerutkan keningnya, setelah berusaha susah payah memahami apa yang terjadi dengannya, bersyukur mereka tak terlempar pada masa sebelum adanya aksara, kini dia jengkel dengan tatapan khawatir yang seakan ingin mengusir mereka.

“Ada pakaian pengganti? Saya pikir akan berbahaya jika kami tetap mengenakan pakaian seperti ini,” ujar Kevin mencoba mendatarkan wajahnya. Ia terlihat aneh di mata pemuda itu, tetapi tetap saja mengerti apa yang diucapkan Kevin.

“Ayo masuk dulu, jangan di luar. Bahaya!”

Perintah itu diangguki ketiganya, mereka segera melangkah masuk ke rumah itu. Kaki mereka mengundak tiga kali hingga menapak pada lantai ubin tak berkeramik. “Jangan di teras, masuk ke sini!” titahnya. Tatapan pemuda itu sesekali melirik ke arah belakang, takut ada seseorang yang membuntuti atau ada penjahat yang lewat.

Sepertinya desa ini memang sedang kacau.

“Aku pernah mendengar kedatangan Gujarat, biasanya mereka tinggal di Mleca. Tempat khusus untuk orang asing. Aku pikir kalian dari Gujarat? Dagangan kalian laku?” tanyanya mencoba basa-basi. Setelah masuk lebih jauh ke dalam rumah, ia terus bertanya. Haus informasi, seakan apa yang ingin ia ketahui saat di luar harus terjawab di sini.

“Kami bukan dari Gujarat!” Laki-laki itu mengangguk saja, melirik Kevin yang mukanya asing. Kevin itukan sedikit bule. Maka wajar ketika pemuda itu meragukan Kevin sebagai penduduk asli.

Laki-laki itu percaya jika Rara dan Tapa anak lokal, meski ia menduga tetap saja ketiganya dari Gujarat dari jilbab yang Rara kenakan. Juga kulit Kevin yang asing di matanya. Mengedikan bahu, ia masuk lebih jauh ke dalam rumahnya. Membiarkan ketiga orang itu mengamati rumah sederhana yang ia bangun sendiri.

Rara menatap langit-langit, genting itu terangkai dengan bambu yang sudah terpasang apik di atas sana. Perkakas di sini terbuat dari gerabah. Kursi kayu diukir apik di tempat seharusnya.

“Ini kita beneran di abad 12?” tanya Rara yang diangguki kedua rekannya.

“Seperti yang tadi orang itu katakan, dia menggunakan bahasa Jawa. Terus, dia juga menyinggung keberadaan pedagang Gujarat. Dia juga menyinggung Mleca. Kemungkinan paling besar kita ada di Majapahit.”

“Siapa yang jadi rajanya? Bisa ketemu Hayam Wuruk tidak ya?” Rara mulai berhalusinasi.

“Tidak tahu,” kata Tapa, Kevin hanya mengedikan bahu tanda dirinya pun tak tahu.

“Ada apa dengan Mendiang Maharaja? Kenapa kalian begitu tak sopan menyebut namanya?” tanya Laki-laki itu, dia datang membawa setumpuk pakaian dengan pandangan mata yang tajam.

“Kalian bukan telik sandi, kan?” tanya tetap menginterogasi mereka.

Tapa mendekat. “Kami tersesat, tak tahu dan sedang menebak keberadaan kami.”

Picingan mata pemuda itu sungguh menyebalkan. Jiwa kehati-hatiannya cukup tinggi. Prasangkanya buruk.

“Baju ini tidak gratis!” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Ketiganya saling pandang, mereka membawa uang, namun itu pasti tidak akan diterima. Lagi puala di jaman ini, jika benda yang ditebak Tapa tadi, maka selain emas dan perak hanya ada satu mata uang penukaran mereka. Gobok! Mata uang pertama Majapahit yang membuat negeri itu sungguh gemah ripah loh jinawi.

Menggaruk kepala yang tak gatal, Kevin mencoba berpikir. Rara pun sama. Hingga Rara tergerak maju dan mendekati laki-laki itu. “Sistem barter masih berlaku kan?”

“Barter?”

“Tukar menukar dengan barang.”

“Iya.”

“Pakai gelang emas saya, mau?” tanya Rara mencoba bernegosiasi. Biasanya kepingan emas yang ditawarkan, tidak tahu jika perhiasan pun bernilai sama.

Laki-laki itu nampak berpikir singkat lalu mengangguk, memberikan pakaian itu pada tiga orang asing yang ditemuinya kebingungan di sepanjang jalan depan rumahnya juga menarik dengan tak sabar gelang yang diberikan oleh Rara.

Senyuman di wajahnya muncul, dia lalu berkata, “Kalian bergantilah cepat. Di bilik itu!” Dan tetap menatap gelang emas digenggamannya.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel