Bab 5 Menghilang
Bab 5 Menghilang
“Vin!” Tapa menatap temannya ini tak yakin. Hampir tiga minggu mereka menjalankan misi konyol milik Kevin. Mencari keberadaan sebuah mesin kuno yang diyakini peninggalan Jepang sebagai mesin waktu.
Awalnya Tapa cukup penasaran, tetapi melihat kilat optimis juga tampang Kevin yang agresif sungguh membuatnya takut. Menurutnya cukup mempelajari mesin itu, gunakan sebagai bahan pembelajaran dan jadikan itu sebagai ilmu pengetahuan baru. Tentu saja itu bertentangan dengan apa yang ada di kepala Kevin.
“Kenapa? Kamu ragu?” tanya Kevin. Sudah hampir selesai kenapa baru diragukan. Siapa pula yang menyetujui untuk meneliti mesin kuno yang ternyata sudah dibuang itu.
Rara menggeleng perlahan. “Vin, awalnya kan kita hanya mau meneliti, menganalisis dan ....” Rara terdiam sejenak, mencoba mengarungi akal Kevin yang nyatanya jauh di atasnya. IQ Kevin terlalu tinggi, bukan lagi di atas rata-rata tetapi sudah masuk ke dalam jenius. Masalah terburuknya adalah, Kevin sangat suka ilmu exact dan alam. Tentu saja otak sejenius itu sangat mendukung Kevin untuk memikirkan hal konyol seperti ini, melintasi waktu dan mengarungi masa lalu. “Kita tidak mungkin kan kembali ke masa lalu terus mengubah apa yang sudah ada?”
“Belum juga dicoba!” sergah Kevin, dia memutar bola matanya.
Malam ini sungguh indah, di antara gelapnya malam ada ribuan bintang yang berusaha bersinar paling terang. Ingin menunjukan pada siang bahwa kekuatan mereka pun tak kalah hebat dari matahari yang terlalu megah dan sombong. Di sana Kevin berharap, salah satu bintang itu adalah ibunya.
“Kamu yakin, Vin?” tanya Tapa. Ini pertanyaan kesekian kalinya. Bukannya Kevin meragukan kedua sahabatnya, tetapi memang ini misi konyol, Kevin menerima pengakuan itu. Tapi mempertanyakannya hampir setiap hari juga bisa membuatnya dongkol.
Kekesalan yang hampir memuncak itu untungnya dinetralisir dengan taman asri belakang rumah Tapa. Ini cukup segar meski angin malam turut menyapa.
“Hah!” Kevin membuang napasnya kasar. “Sebagai ilmuan aku harus yakin,” jawabnya sambil mesam mesem.
Rara yang melihat itu saja sampai kaget, sebab, sebuah senyuman yang muncul dari Kevin itu bukan menandakan sesuatu yang murni bagus. Pasti ada yang aneh atau buruk dalam pandangannya.
“Tapi dalam agama ....”
Belum sempat Tapa menyanggah, Kevin mengangkat tangannya, dia berusaha menginterupsi perkataan Tapa.
“Banyak hal yang ada dalam kitab suci belum kita pahami sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kita itu makhluk bodoh, kan?” Tapa memandang Kevin kagum. Si jenius itu baru saja mengatakan sesuatu yang menyentuh hati Tapa, kalimat panjangnya tak sia-sia, Kevin mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan ketauhidannya.
“Lagi, aku percaya adanya Tuhan yang satu. Dia yang awal dan akhir itu memegang waktu. Mesin itu juga kemungkinan bisa mengendalikan sebagian kecil dari waktu, bukankah akan menghasilkan penyesalan jika tak dicoba?”
Rara terus saja mengangguk, tak sempat berbicara. Kini Kevin mencoba serius dengan menjelaskan cukup panjang pada Tapa. Hampir saja Rara terpana. Dia sangat suka saat Kevin berbicara panjang lebar.
“Heh!” Bahunya menyenggol bahu Rara. Zahira atau biasanya dipanggil Rara itu menoleh, memandang Kevin dengan picingan mata. “Apa?”
Kevin hanya mengedikan bahu, tidak mau menjelaskan. Repot.
“Kamu jangan terlalu serius sampai matanya hilang fokus. Melamun lagi kesambet kamu Ra,” timpal Tapa, lalu dia berlutut, mencoba keluar dari gazebo yang sengaja dibangun untuk ketiganya bercengkerama. Tapa menapaki tanah, memasang sandal jepitya dan memandang dua orang berbeda gender itu dengan serius.
“Oke! Kali ini kita akan coba menggunakan mesin itu. Bukan lagi mengutak atik tidak jelas.” Perkataan Tapa sangat membuat Kevin girang. Cengiran tengil itu tak pernah lepas malam ini dari wajah Kevin yang biasanya cukup datar.
“Oke, besok kita coba!”
Maka sebelum ibu Tapa berteriak meminta ketiganya untuk makan malam. Kevin berinisiatif memandu Rara dan Tapa untuk mempersiapkan perlengkapan mereka. Kini ketiganya harus siap sedia jika besok memulai backpaper ke dunia masa lalu yang entah di mana.
“Bawa hal dasar saja, perlengkapan pramuka. Rara jangan lupa bawa kotak obat!” Rara mengangguk menurut.
“Jangan terlalu banyak atau kita bakalan ketahuan.” Tapa sedikit tegang dengan persiapan ini.
“Besok barangnya langsung dimasukin ke mesin aja, nanti kalau ada waktu kita langsung ke ruangan seperti kemarin-kemarin. Coba buat mesin itu berjalan sesuai fungsinya.”
“Oke setuju!”
“Hmm, itu juga bagus,” komentar Kevin dengan ide itu. Ketiganya bubar, langsung menyiapkan hal selengkap mungkin. Mereka tak memikirkan malam yang mulai berani menyapa kekelaman. Hingga akhirnya yang ditunggu pun tiba.
“Anak-anak! Makan dulu!” Panggilan Ibu Tapa langsung membubarkan mereka.
“Iya!” teriak mereka serempak.
*
Hari esok yang dinanti sudah datang. Kali ini giliran Rara yang menjaga di pintu. Mereka memiliki kesempatan sepeti kemarin untuk menyentuh benda itu. Rasanya begitu lama, pasti Tapa kemarin juga merasakan hal yang sama. Rara berusaha sabar meski jantungnya terus berpacu lebih cepat, beberapa kali kejutan nampak ia terima ketika salah satu staf datang ada ada pengunjung yang salah lorong hingga sampai di tempat yang paling terbengkalai di museum ini.
“Gimana?” bisik Rara, pandangannya meminta Tapa dan Kevin untuk bekerja dengan cukup cepat. Tapa hanya menggeleng.
Kaki Rara mulai lemas, beberapa kali ia gerakan untuk menetralkan kegugupan. Sama sekali tak ada hal yang baik menunggu di luar, seperti sedang senam jantung, penuh tekanan dan juga kekhawatiran.
Tapa yang membantu Kevin di dalam juga sedang gelisah, takut dan khawatir dengan penjaga museum yang mungkin tiba-tiba datang.
“Tapa ...! Rara!” Tapa yang sedang memicingkan mata mengkode agar Rara sabar pun terjengkit kaget, segera berbalik menatap Kevin yang berdirisempurna di tengah mesin.
“Tapa!” teriak Kevin lagi, kali ini wajah Kevin terlihat berbinar meski sudutnya terdapat kegelisahan, mesin itu menyala.
Tapa melihat itu, temannya yang berdiri di sana mulai hilang dari pandangan, seperti melebur dan menyatu dengan udara sekitar. Makin lama makin hilang dari pandangan. Terhisap mesin yang sedang menyala.
Jantung Tapa tanpa henti berdetak, dia segera berlari, jaraknya yang tak jauh dengan Kevin sigap mampu menyentuh tangan Kevin, menariknya berusaha mengeluarkan anak itu dari mesin waktu peninggalan Jepang. Jika kejadiannya akan seperti ini Tapa dengan keras akan menolak, saat waktu hampir habis mengapa baru ketakutan itu muncul di hati Tapa? Kenapatak dari kemarin dia berani dan dengan lantang mengelak juga menyanggah Kevin?
Usahanya sia-sia, Tapa semakin takut dengan kejadian yang dialaminya. Bukannya menarik Kevin untuk keluar, Tapa justru ikut terisap dalam mesin itu bersama.
Rara yang melihat adegan seperti film Hollywood di depannya langsung berlari. Rara sama sekali tak peduli dengan mesin menyala yang mungkin akan membuat seluruh warga museum gempar dan menghukumnya. Mengikuti kedua temannya adalah prioritasnya saat ini. Bagaimana jika ia tak bisa membantu dan justru terperangkap di sini sendirian, menanggung tanggung jawab yang harusnya dipikul bertiga. Tentu Rara tak mau, ia pun menerjang keduanya. Berusaha ikut masuk ke dalam mesin seperti Kevin juga Tapa.
“Apa kita akan melebur dan menjadi satu dengan udara?” tanya Rara setelah menggapai tangan Tapa. Tangan kirinya langsung memegang lengan Kevin yang nampak berbinar, hanya ada sedikit kegelisahan. Mungkin takut jika apa yang terbayang tak sesui dengan harapan. Kata-kata yang mengatakan realita yang ada tak sesuai dengan ekspektasi yang kita bayangkan tentu menghantui Kevin.
Tak mengindahkan perkataan Rara, Kevin memejamkan mata. Baru kali ini dia begitu tenang dan meminta pada yang Kuasa. Kevin benar-benar mengharapkan terkabulnya sebuah doa, ini kali pertama setelah meninggalnya sang ibu Kevin berdoa dengan bersungguh-sungguh. “Semoga perjalanan ini penuh dengan pembelajaran dan kami bisa kembali,” batinnya cukup serius.
“Aku pikir mungkin kita akan terisap seperti yang Kevin harapkan, lalu terdampar di dunia kuno yang sama sekali tak kita ketahui.”
“Kita mau ketemu Pithecantropus? Tapi kan kakek dan nenek moyang kita hidupnya berburu dan meramu. Kalau kita masuk di jaman itu bukanya mempersulit diri sendiri ya?”
Tapa hanya melirik Rara yang terlalu banyak berkhayal. “Aku hanya berharap kita tidak masuk ke jaman kuno sebelum tataran Sunda dan Sagul terbentuk.”
“Mati dong kita?!”
Tapa mengedikan bahu, Rara mencubit keras lengannya, menimbulkan delikan tajam yang sama sekali tak membuat Kevin merasa terganggu. Mereka bertiga terhisap bersama, menghilang dari restricted area.
***
