Bab 4 Time Machine
Bab 4 Time Machine
“Huaa!” Rara tercengang begitu hasil dari usahanya sudah nampak di depan mata. Setelah memutuskan untuk pulang terlambat, mesin ini terlihat lebih manusiawi dan membumi. Rara dapat melihat mesin peninggalan Jepang yang kini tak lagi diselimuti debu mempunyai ornamen-ornamen unik pada sisi luarnya. Semua debu sudah pergi, sudah tak ada lagi sumber yang membuatnya terus batuk dan bersin. Tak ada lagi yang membuat Kevin berubah menjadi manusia normal. Senyuman lega tercetak jelas di bibir gadis itu.
Tapa hanya bisa geleng kepala, peluh sudah bercampur dengan lelah. Dia tak bisa lagi memuji atau mengeluh, hanya bisa mengucap hamdalah dan mengatur napasnya agar tak memburu. Terlalu lelah!
Kevin, dia menatap menilai mesin itu. Mesin tua, gambarnya pun mirip dengan apa yang ia cari dari mesin pencari di gawainya. Semua sama, apalagi dia sudah melihat dengan jelas file yang Rara bawa. Hanya saja yang berdiri di depannya itu sudah usang, berkarat dan tampak tak ada nilainya. Mungkinkah sudah tak berfungsi? Bagaimana jika itu benar? Apakah misinya gagal dan berhenti sampai di sini? Namun, Kevin si maniak sains tidak pernah mengenal apa itu menyerah, dia yakin mesin ini akan berguna. Esok dirinya harus mencoba untuk menghidupkan kembali mesin itu, untuk membuatnya berfungsi sesuai dengan ekspektasinya. Membawa sebuah fantasi menjadi realita. Senyum tipis muncul dari wajah Kevin, sepersekian detik, lalu hilang lagi digantikan wajah datarnya yang menutupi otak canggih yang sedang berpikir.
Hari demi hari dilalui oleh ketiganya. Tiap ada kesempatan mereka akan ke lantai dasar gedung ketiga, menilik ruang terlarang yang bisa mereka akses tanpa melanggar tata tertib. Kini sudah hari kesepuluh, wajah Kevin bukan hanya datar, tetapi kesal. Pun dengan Rara yang sedari sebelum bertemu mesin itu sudah kesal dengan misi konyol yang dilontarkan oleh Kevin. Hanya Tapa, dia yang bertahan. Tapa tidak terlalu peduli dengan hasil misi itu, ia hanya bisa menikmati keluhan dua sahabatnya sembari menjaga hati agar tetap tenang.
Kini giliran Kevin dan Rara yang masuk ke dalam, dengan Tapa yang berjaga di luar. Beberapa kode sudah mereka buat untuk berkomunikasi. Tapa yang sudah siap hanya bisa menunggu dari luar, berharap Kevin tidak terlalu larut dalam dunianya dan membiarkan Tapa lumutan di luar pintu.
“Giliran aku yang bantu Kevin?” tanya Rara. Dia lelah, misi ini sudah digadang gagal total di otak kecilnya. Ia akan lebih suka jika pergi ke pasar, mencoba beberapa bahasa dengan orang asing guna memperlancar wawasannya, mengamat gerak gerik orang-orang dan menebak apa yang sedang mereka pikirkan dan akan lakukan. Menganalisis sistem pasar dan sejenisnya. Tak suka jika berkutat dengan banyaknya alat guna memperbaiki mesin, Rara bisa menjamin jika dirinya yang membenahi bukan menemani Kevin, maka mesin itu bukannya berfungsi justru akan rusak hingga tak bisa berdiri lagi.
“Iya, Ra. Cepat sana masuk, bantu Kevin. Jangan lupa ingatkan Kevin kalau sudah keterlaluan lamanya, aku tidak mau ya lumutan di sini.”
“Iya!” timpal Rara lalu masuk ke dalam. Ia sudah melihat Kevin yang saking kesalnya mau bicara. Lebih tepatnya menggumamkan berbagai umpatan. Laki-laki yang memang dari lahir jenius itu memiliki wawasan bahasa asing yang cukup luas. Bukannya Rara tak tahu apa yang Kevin keluhkan, hanya saja Rara tak tertarik. Ia lebih suka mempelajari berbagai bahasa daerah bukan bahasa asing seperti pemahaman Kevin saat ini.
“Hari kesepuluh, Vin. Awas saja gagal lagi.”
“Hmm.”
Di museum yang sekaligus pusat penelitian yang sepi itu, Kevin mengotak-atik mesin yang sudah penuh dengan karat peninggalan Jepang setelah perang dunia kedua, bermodal sebuah rakitan mesin yang diprint Kevin dari mesin pencari di internet. “Shit, Jerman dan Jepang memang sangat maju teknologinya,” umpat Kevin mahasiswa tingkat pertama Teknik Kimia itu. Si jenius terus mengumpat dalam berbagai bahasa asing, dan meskipun dia adalah mahasiswa Teknik Kimia namun Kevin sangat canggih di bidang Fisika dan segala unsur penunjangnya. Kevin melihat mesin itu dengan putus asa. Dia sudah mencoba berbagai cara untuk menghidupkan mesin itu.
Ini memang hari kesepuluh, Kevin hanya membawa alat seadanya dengan beberapa panduan yang sudah ia pelajari tetapi Rara memaksa untuk membawanya. Rara mengatakan, “Walaupun kamu cerdas, tapi tetap saja sudah sembilan hari gagal. Bawa saja panduannya, siapa tahu berguna.
Padahal mesin ini dan panduan itu sama sekali tak berhubungan. Kevin hanya bsia menurut dan fokus dengan apa yang ia kerjakan.
“Hatcim!” Tapa di luar sana bersin satu kali, tanda ada yang mendekati laki-laki itu.
“Vin, Tapa sudah memberi kode.” Perkataan Rara tak diindahkan.
“Hatcim!”
“Viin, ih!”
“Sudah tahu!” Kevin tetap fokus dnegan apa yang dikerjakannya. Langkah kaki terdengar lebih dekat. Laki-laki itu dengan cepat keluar dari mesin besar peninggalan Jepang, melirik sekilas pintu yang mana menjadi tempat berdirinya Tapa.
Kevin menghela napasnya lelah lalu menggandeng tangan Rara, semuanya serba cepat. Dia membawa Rara ke balik mesin.
Rara hanya bisa diam, dirinya memegangi dada yang nyatanya memang sang jantung begitu kurang ajar, berdetak tak karuan dengan buruan yang membuatnya semakin tegang.
“Tidak usah tegang!” kata Kevin saat melihat sikap Rara. Apalagi melihat bintik-bintik keringat kecil di dahi Rara. Kevin hanya bisa mendengkus dengan senyuman, berdehem lirih dan mencoba mendengarkan apa yang sedang Tapa bicarakan.
“Rara juga tidak ada,” katanya. Kevin mendengar sama-samar suara itu terlontar dari salah satu staf museum yang sudah cukup akrab dengan Rara.
“Sama Kevin juga hilang ya?” tanya yang lainnya. Kevin hanya bisa menghela napasnya, merasa bahwa apa yang ditanyakan itu tak berguna. Masih aneh dengan sikap orang-orang yang sudah membuang waktu dengan omong kosong dan perbuatan sia-sia.
“Iya Pak. Ini saya sedang mencari mereka berdua,” jawab Tapa. Kevin dan Rara pun tahu jika Tapa bisa setenang itu, senyumnya pasti muncul membuat dua staf yang menanyai mereka akan percaya. Rara hanya bisa tersenyum membayangkan, pasti Tapa beristigfar berkali-kali. Memohon ampun karena telah melakukan suatu kebohongan.
“Ya sudah jangan dicarilah. Mungkin sedang pacaran.” Staf itu justru tersenyum menggoda. Dia sama sekali tak tahu dengan efek yang timbul dari perkataannya. Dua anak muda yang bersembunyi di balik mesin itu sudah merasa canggung.
Tubuh Kevin menegang mengetahui bahwa sikapnya memang sedikit aneh pada Rara. Matanya tak pernah lepas dan dia pun sudah berpikir bahwa hatinya memiliki perasaan pada perempuan itu. Sayangnya Kevin bukan orang yang pandai berkomunikasi dengan perempuan, menggombal apalagi menyatakan perasaan. Menurut Kevin itu tindakan konyol dan merusak pikirannya. Ia hanya bisa diam.
Rara sendiri merasa malu, jantungnya sudah lebih cepat pacuannya. Kini bertambah dengan tenggorokannya yang tercekat, napasnya yang terhenti guna menutupi kegugupan yang ada. Rara merasa adukan di perutnya menjalar ke atas, keluar melalui pori-pori pipi dengan hasil ruam kemerahan. Tangan Rara terangkat, menutupi pipi yang ia yakini sudah semerah tomat.
“Kenapa?” tanya Kevin berbisik tepat di telinga Rara. Begitu kaku, Rara menjawab dengan dua buah gelengan singkat yang terlalu lama ia gerakan.
Entah apa yang terjadi selanjutkanya pada Tapa, kedua orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga terkesiap ketika menengar suara langkah yang makin menjauh. Tatapan mata Kevin awas, dia bergerak ke ujung mesin dan mengintip. Menggeleng singkat lalu berkata, “Mereka udah pergi!”
“Ayo keluar!” pinta Rara yang sudah berdiri lalu melenggang cepat meninggalkan Kevin sendirian.
“Ditinggal?” katanya pelan disertai telunjuk yang menunjuk dadanya sendiri.
Menggeleng cepat, Kevin lalu menyusul Rara.
Mereka berpura-pura saling mencari. Rara yang sedang, mencari Kevin, ternyata Kevin pun memutari museum sedang mencari Tapa.
“Kok kalian saling cari begitu sih? Tidak ada pekerjaan ya?” kata salah seorang pemuda yang tempo hari memberikan kunci dengan cemoohannya yang nyata.
“Ya tidak ada ruginya untuk kamu kan,” kata Rara cepat disertai senyuman mengandung sarkasme.
Kevin diam, memang sudah seharusnya diam dari tadi. Tatapan Rara terlalu jujur padanya. Rara mengedikan bahu, segera ke ruangan staf dan mengambil barangnya di loker.
“Ayo kita pulang!”
“Ke rumah Tapa, kita diskusikan hal yang tadi!”
Tapa hanya bisa menatap putus asa pada kilat optimisme di mata Kevin.
***
