Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Restricted Area

Bab 3 Restricted Area

“Lelah!” keluh Rara. Selama lima hari berturut-turut mereka bekerja menjadi tenaga sukarela yang merawat dan juga menjaga museum ini, selama itu pula hari sibuk di liburan semester dimulai. Meski menyenangkan, tetap saja Rara selalu punya napas pendek yang dikeluhkannya.

“Ini!” Kevin mendekat memberinya sapu tangan yang membuat Rara melongo.

“Kamu punya sapu tangan? Buat aku?” tanyanya sedikit heran. Kevin hanya menggeleng lalu beranjak dari tempatnya, melenggang mendekati salah satu patung Dewa.

“Maksudnya apa Vin?” tanya Rara yang bingung, sapu tangan itu sudah berada di tangannya.

“Maksud Kevin, itu sapu tangan kamu, Ra.” Tapa tersenyum lebar seperti mengejeknya.

“Hish!” Menolak malu, Rara berpaling lalu menjauhi sepupunya. “Menyebalkan.”

Kevin menoleh ke belakang, menatap lelah pada dua orang yang terikat saudara sepupu itu. Kevin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ini sudah hari kelima. Tugas mereka hanya membersihkan ruangan yang gedungnya tinggi dan luasnya cukup untuk berolahraga. Lelah tentu saja diderita, sudah lima hari tanpa ada peningkatan. Kevin sudah memperhitungkan semuanya, jika ini berlanjut pada lima hari berikutnya, maka misi di liburan kali ini bisa terancam gagal total.

Pekerjaan mereka sesekali digantikan menjadi pemandu saat tidak ada kerjaan, tentu saja diawali Rara yang memiliki inisiatif cukup tinggi. Kevin ingat betul saat itu, dirinya menyuruh Rara yang sedikit mengganggu untuk memeriksa keberadaan mesin itu, tetapi Rara justru berkata, “Kevin! Kita sudah menjelajahi museum ini hampir empat hari, tidak ada mesin yang kita cari. Lagi pula menolong orang itu baik bukan hanya untuk orang yang kita tolong, tetapi buat otak kita dan kehidupan kita mendatang.”

Kevin hanya bisa mengangguk maklum saat itu, kini dirinya hanya perlu melangkah beberapa kali dengan lebih berhati-hati dan bermata tajam. Meski akhirnya, lima hari pertama berkerja di museum itu tak membuahkan hasil.

*

“Pokoknya kalau hari ini masih tidak ketemu, Tante harus buatkan semur jengkol buat Kevin,” kata Rara dengan napasnya yang terburu. Gadis itu bergegas menaruh barangnya di loker yang tersedia untuk staf.

Pandangan matanya menyorot pada Tapa yang memandangnya aneh.

“Apa?” tanya Rara kesal, melihat Rara kesal itu membuat geli perut Tapa. Rara suka kedamaian dan ketenangan berhubungan sosial, tetapi ia selalu bertengkar dengan Tapa. Tak mencerminkan kepribadiannya. Alih-alih dirinya tertawa, dia hanya mampu menggeleng. Tak mau membuat perempuan itu lebih mengeluh tentang hidupnya kali ini.

“Selamat pagi semua!” Seorang pemuda berusia tiga puluhan bersandar di ambang pintu, menatap tiga orang yang memiliki raut wajah berbeda. Tapa yang tenang dengan istighfar yang terus terucap di dalam batinnya, Kevin yang menatap malas pekerja di depannya juga Rara yang tak mampu menyembunyikan kekesalannya.

Si pemuda menaikan tangan kanannya, dia mengayunkannya ke kanan dan ke kiri. “Kalian ada tugas tambahan?” serunya girang dengan mata licik yang ingin Rara cakar, Untungnya Rara masih cukup waras untuk tidak melakukan hal bodoh semacam itu.

“Apa?” tanya Rara tak yakin dengan kabar yang ia sebut bagus itu.

“Restricted area. Beberapa ruangan ada yang tidak pernah dibersihkan, jadi sepertinya kalian akan sibuk seminggu sampai dua minggu ke depan.” Perkataan ringannya itu diakhiri senyuman. Sesekali melempar sekelompok kunci itu ke atas dan menangkapnya kembali.

Kevin hanya bisa mendengus singkat, menampilkan senyuman miring tanda dirinya tak peduli. Laki-laki itu berjalan mendekati si pemuda yang sibuk memainkan kunci. Kevin mengangguk pasti. “Kabar baik?” tanyanya.

“Ya!”

Kevin mengangguk sebagai balasan, langkahnya pasti, semakin dekat dengan tubuh orang yang nyatanya tak menyamai tingginya Kevin. Setelah dekat, tangannya mengudara, meraih kunci yang dilambungkan beberapa detik yang lalu, terlalu cepat, semuanya terlalu cepat untuk dipotret oleh mata.

“Memang kabar baik!” kata Kevin singkat, tangannya bersedekap. Hal itu langsung diketahui maknanya, si pemuda langsung masuk ke dalam ruangan, ingin mengambil barang di loker, sedangkan Kevin keluar dengan senyum simpul yang timbul di wajahnya. Otaknya terus berputar, beberapa fakta dan ilmu pengetahuan yang beradu di sana tersambung dengan imajinasi realistis yang ingin ia wujudkan. Memang begitulah perangai Kevin.

“Kevin! Kok mau saja sih, mana kelihatan senang sekali. Tidak tahu apa, ini museum gedenya Allahu Akbar, membersihkan barang yang kelihatan saja susah apalagi yang ada di area terlarang kaya gitu.” Mencebik sebal, dia melirik Kevin yang nyatanya tak memberikan tanggapan.

“Kevin!”

Menghela napasnya panjang, Kevin beralih menatap Rara perlahan. “Ini namanya peningkatan,” katanya memulai. Kevin sangat malas menerangkan, tetapi jika tak diterangkan, maka sia-sia sudah tujuh hari pertama yang dihabiskan dengan rasa lelah dan derita. Mengumpulan sedikit energi untuk dibuang, Kevin berusaha sabar.

“Peningkatan apanya?” gumam Rara yang tak digubris oleh Kevin.

“Area terlarang memang beberapa ada yang tidak bisa dimasuki sembarangan. Tapi kita dapat kuncinya, aku yakin pimpinan yang mengizinkan langsung kepadanya. Walaupun kemungkinan sangat buruk tempatnya, itu normal, tapi kita punya akses lebih. Tujuh hari pertama kita lelah di area depan, bisa saja kalau mesin itu ada di salah satu area terlarang?”

“Eeeh?” Rara melarikan matanya ke atas, memutar lalu ke kanan dan ke kiri beberapa kali. Gerakan aneh itu diakhiri senyuman lebar yang menyirat kesenangan.

“Hari ke delapan ini Rara jamin kita bisa menemukan mesin itu. Ciaoo!” serunya girang, Rara mengambil paksa kunci yang ada di tangan Kevin dan melenggang mendahului laki-laki itu.

Kevin hanya bisa terkekeh singkat. “Hhah!”

“Mantra apa yang kamu berikan sampai dia segirang itu?” tanya Tapa menyejajari Kevin.

Kevin hanya menggeleng. “Aku hanya memberinya sebuah fakta.”

“Huft! Akhirnya kita bisa mengakses ruangan mana saja di sini, kepercayaan yang kita bangun untuk mereka memang berfungsi! Benar kan?” Sunyi, Tapa hanya bisa mengelus dada kala menyadari langkah Kevin sudah jauh di depannya.

“Memang punya temen yang tidak normal itu, tidak sadar selama seminggu ini menginap terus di tempatku! Tapa memang harus sabar, innallaha mangasobirin, Tapa.” Tapa menggumam pada dirinya sendiri.

Seminggu ini Kevin memang tidur di rumah Tapa, selain menghindari rumah yang sepi, tidak mau repot dalam mengurus makanan, dia juga beralibi ingin membahas misi. Nyatanya tiap pulang tak ada waktu lebih untuk membahas hal itu. Mereka selalu punya waktu di perjalanan, membahas misi yang terancam gagal sebab berhari-hari takada peningkatan. Kevin putra kedua, Ayah dan kakaknya sibuk bekerja. Sang kakak menjadi diplomat. Kasih yang ia damba pun tak kunjung didapat sebab ibunya meninggal sewaktu dirinya masih berada di bangku SMP. Menginap di rumah Tapa adalah hal yang biasa bagi pemuda itu.

Hari sudah cukup siang ketika Tapa menggeret paksa Kevin ke area terlarang di lantai dasar. Dia menunjuk dengan dagunya mesin yang teronggok kaku di depannya. Penuh debu, banyak sekali hal yang patut dikagumi.

“Ini sih benar-benar mirip dengan yang ada di internet!” kata Rara memulai, ia mengeluarkan gawainya, memberikan softfile yang sudah ia siapkan untuk misi ini, di sana terdapat detil benda yang dicari mereka berserta keterangannya.

Jantung ketiganya memburu, iya ketiganya, sebab Kevin pun merasakan suasana yang menegangkan di ruangan ini. Mesin peninggalan Jepang yang mereka cari ternyata tersia-sia di ruangan kotor dengan debu yang menyelimuti seluruh permukaannya.

“Sama persis!” ujar Kevin yang sudah merekam bentuk mesin ini di dalam otaknya.

Ketiga orang itu menatap penuh gelora mesin di hadapan mereka, napasnya melakukan respirasi tanpa keteraturan. Jantungnya memburu, ketegangan menyelimuti mereka.

“Ayo kita bersihkan!” titah Kevin yang diangguki kedua temanya. Mereka langsung dengan semangat membersihkan mesin peninggalan Jepang itu.

Peluh membanjiri dahi mereka, panas juga gerah langsung menghantam tubuhnya. Jilbab Rara berantakan membuat beberapa helaian rambut keluar. Manis!

“Uhuk uhuk!”

Saking tebalnya debu, beberapa kali mereka terbatuk. Kevin bahkan sudah tak bisa lagi menahan sikap kerennya, dia bisa batuk dengan tak normal di depan mata Rara. Rara yang melihat hanya bisa geleng kepala.

Meski sangat susah membersihkan sebab debunya cukup tebal, tetapi raut puas juga gembira tercetak jelas di wajah-wajah muda ketiganya.

“Akhirnya!” kata Rara dengan kelegaan yang berarti.

“Alhamdulillah.” Mereka bertiga menatap mesin yang cukup besar itu dengan penuh semangat.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel