Bab 2 Magang
Bab 2 Magang
Gedung museum itu nampak sepi dan sunyi, memang begitulah selalu keadaannya. Berbeda jika yang dikunjungi mereka itu mall, pasti lebih ramai berkali-kali lipat.
“Ayo!” Rara menggerakan tangannya, memimpin berjalan ke gedung itu. Kevin dann Tapa mengikuti di belakangnya.
Sebelum lebih jauh memasuki museum, seorang penjaga tengah berdiri di teras depan gedung itu, Tapa yang masih menatap sekeliling halaman asri yang dipenuhi batuan itu memincing. “Itu, tanya bapak itu saja.”
Dua orang lainnya setuju, mereka merengsek langsung mendekati penjaga yang sedari tadi menatap mereka.
“Museumnya sudah ditutup, kalian bertiga boleh berkunjung kembali besok di jam kerja.” Rara tersenyum manis, mereka bahkan belum mengeluarkan suara, tetapi Bapak ini sudah menjelaskannya. Sudah sepi, ditambah tak ada pengunjung semakin sunyi.
“Kami membawa ini, Pak,” kata Rara menunjukan surat pengantar dari fakultas, di lampirannya juga ada surat rekomendasi ketiganya untuk melakukan magang di tempat itu.
Bapak itu menelan salivanya pelan, mencoba mengulang sebuah surat yang memiliki cap dari universitas ternama Indonesia. Tentu saja selain sudah cukup lama tak memiliki tenaga sukarela, dia termangu pada mahasiswa tingkat pertama yang mana jarang melakukan magang. Pun, universitas asal mereka menambah rasa kekaguman.
“Saya antarkan kepada atasan dulu,” katanya menyudahi aksi kagum mengagum pada surat sekaligus pemiliknya.
“Siap, Pak. Kami tunggu di sini,” kata Tapa memberikan kedua jempolnya pada laki-laki itu. Kevin hanya mendengkus, lalu tersenyum singkat dan mengangguk. Menandakan dirinya pun akan menunggu bapak itu pergi menemui atasannya.
Tak perlu menunggu lama, bapak tadi membawa seorang lagi, lebih gagah dan juga rapi. Mereka tergesa menemui remaja yang baru dewasa itu. Rara bisa yakin jika ekspresi atasan mereka tak jauh berbeda dari bapak tadi, sempat mengagumi dan akan mengijinkan mereka menjaadi tenaga sukarela di sini.
“Kalian yang mau magang di sini?” tanya langsung.
Kevin mewakili mengangguk, lebih terlihat keren ketimbang Tapa. Si atasan tersenyum. “Kenalkan, saya kepala divisi di sini.”
“ Mustafa, Pak. Bapak bisa panggil saya Tapa.”
“Tapa?” Namanya unik.
Melihat ke arah Rara, perempuan itu tersenyum lalu menyalami. “Zahira, biasanya dipanggil Rara!”
“Kevin.” Belum sempat si Bapak melihat ke arah Kevin, laki-laki itu berinisiatif mengungkapkan namanya sendiri. Menghadirkan sedikit kecanggungan teman-temannya. Tentu Kevin tak peduli, hanya menampilkan senyum lebar tanpa arti.
Laki-laki yang menjadi kepala divisi Sumber Daya Manusia di museum ini terkekeh pelan, senyuman muncul kala dia menatap Kevin. Memang di antara ketiga prang itu wajah Kevin yang paling asing, kulit putihnya bukan khas orang Jawa. Menghentikan kecanggungan, dia berkata, “Baiklah kalau begitu bisa langsung kita ke dalam?”
“Boleh Pak!” jawab Rara diakhiri senyuman. Ketiganya langsung siap untuk mengikuti Bapak itu.
“Ayo saya tunjukan.”
Dinding putih bersih dalam museum ini menonjolkan barang-barang koleksinya. Hari tidak sepagi saat mereka berangkat tadi, kini ketiganya mengusir penatnya aktivitas dengan penyejuk ruangan yang disajikan oleh museum ini.
Beberapa catatan muncul, tertulis di keramik yang terpasang jelas di tembok museum atau sengaja dibuatkan tugu. Di sana terdapat informasi terkait benda yang berada di sekitarnya. Entah asal-usul sejarah, sampai pada informasi identitas mulai dari nama, ukuran dan umur.
Kepala Divisi yang bertugas cukup kompeten, dia menjelaskan dengan detil bagaimana cara mengurus museum. Mulai dari cara membersihkan benda-benda antik itu hingga menjaganya agar tetap aman.
“Tapi harus diingat ya, dik. Hati-hati. Ada beberapa benda yang tak usah disentuh, tinggal bersihkan saja kaca pelindungnya, bersihkan bagian luar.”
“Kenapa tidak bisa disentuh pak?” tanya Rara, Kevin yang mendengar itu menoleh. Pun merasa penasaran dengan jawabannya.
“Bisa rusak nanti.” Pendek, cukup singkat untuk membuat peringatan pada anak muda di depannya agar jangan sekali-kali membantah atau melanggar apa-apa yang ditentukan olehnya.
“Di sana ruangan apa?” tanya Tapa. Dia sedari tadi terus berjalan dari teras depan, memandangi bagaimana benda-benda yang mungkin ditemukan jauh di bawah tanah itu akhirnya bisa terpajang menjadi bahan informasi juga pembelajaran untuknya. Tapi menurut Tapa ada sedikit hal yang membuatnya penasaran, tiap kali berbelok memasuki lorong, seharusnya semua ruang dikunjungi guna mendapatkan informasi cukup untuk mengurus Museum ini.
Namun, mereka selalu terlewati, seakan beberapa ruangan di museum ini sengaja tak boleh dimasuki.
“Oh, itu tempat khusus untuk mengurus benda yang sudah rusak. Setiap masuk dan keluarnya barang harus dilaporkan. Ada barang tertentu yang memang wajib diketahui setiap pengunjung meski sudah hancur bentuknya, tetapi ada yang tidak.” Dia tersenyum, memberi ketenangan bahwa ruangan itu memang tidak perlu dipikirkan.
Tapa mengangguk saja. Berusaha mengerti apa yang dikatakan oleh Kepala Divisi tempat ini.
Kevin, pemuda semester pertama teknik kimia itu cukup cerdas untuk tak mengurusi hal penting seperti itu. Menurutnya penjelasan yang bertele-tele dari laki-laki setengah baya di depannya tak cukup pantas untuk didengarkan dengan saksama.
Kevin, dia lebih tertarik merenungi setiap benda yang ada di ruangan itu. Membayangkan bagaimana jika dimasukan ke dalam larutan khusus yang ia buat, akankah hancur, keropos, melebur, atau bahkan meledak membuatnya kaget.
Hal yang paling esensial di dalam otaknya, entah apa pun reaksinya, apakah benda-benda seperti itu bisa berguna selain hanya untuk pajangan dan memberikan banyak pengetahuan? Menurutnya sejarah itu ya sejarah, hal yang ia pelajari dari sejarah adalah bahwa orang-orang yang tidak mempelajarinya sungguh-sungguh adalah orang yang bodoh. Di mana sejarah yang seharusnya menjadi pembelajaraan justru diulang terus menerus hingga menimbulkan pola kesalahan yang sama. Keserakahan.
“Kevin!”
“Kevin!” Rara memanggil, menyentuh bahu Kevin, membuat Kevin kaget karenanya.
“Apa?” tanyanya dengan cepat.
Menggaruk tengkuk, Rara hanya menggeleng. “Jangan melamun, kalau Bapaknya lihat nanti tidak enak.”
“Hmm,” jawaban singkat itu sesungguhnya membuat Rara dongkol, tetapi apa boleh buat, lagi-lagi ini memang sudah menjadi perangai Kevin. Susah jika mengharuskan dan mewajibkan Kevin melakukan sesuatu. Alih-alih berhasil, justru yang diterima penyuruhnya adalah kesialan.
Rara pernah melihat Kevin melakukan itu, dulu sekali saat kelas sepuluh di SMA. Kevin terlambat sekolah dan dihukum oleh salah seorang guru yang menurut Kevin tidak menyenangkan, hari berikutnya Rara mendapatkan kabar jika guru itu terlambat dua jam penuh. Tanpa ijin, tidak bisa mengisi presensi karena terlambat dan terulang selama tiga hari berturut-turut.
Tentu saja guru itu mendapat teguran. Dari cerita Tapa, Rara tahu Kevin yang memberinya pelajaran. Entah apa yang membuat guru itu terlambat tiga hari berturut-turut dan ini konstan dua jam penuh.
“Ayo!” titahnya sedikit malas, menggandeng tangan Kevin dan berjalan sedikit cepat menuju si Bapak yang sibuk menjelaskan bagaimana cara merawat museum dengan benar. Penjelasannya cukup dimengerti dan cara menjelaskannya menyenangkan.
Kevin menunduk, melihat kelima ruas jarinya yang saling bertaut dengan jari Rara. Dengan senyuman miringnya dia kembali tegap dan menatap langit-langit museum ini.
“Hari cukup melelahkan, kenapa harus dihabiskan untuk mendengerkan omong kosong yang terlalu banyak?” gumamnya pelan. Kevin ini malas berbicara, tetapi sekali mengeluh membuat sakit telinga.
“Aw!” Wajahnya memerah kala tak ada aba-aba Rara menginjang sepatunya.
“Semua itu bukan omong kosong,” bisik Rara. Kevin hanya bisa mendelik.
“Orang bodoh dan tak berguna itu bukan hanya karena kekurangan informasi, tetapi juga kelebihan. Apa yang Bapak itu jelaskan sangat variatif, informasi yang kita perlukan hanya sebesar lima persen dari penjelsannya itu. Kusebut apa jika bukan omong kosong?” tanya Kevin sembari menatap Rara yang terpana.
Rara selalu memiliki Raut seperti itu ketika Kevin sedang menjelaskan sesuatu, karena saat berbagi ilmulah laki-laki itu tidak bisu, bisa berkata lebih dari satu kalimat. Apalagi jika Rara mengingat pidato di aula sekolah atau lomba debat nasional yang diikuti Kevin. Semuanya keren meski laki-laki itu tampak tak puas sebab dirinya tak menyukai banyak kata seperti itu, lebih dianggap omong kosong yang sia-sia.
Hari itu cukup melelahkan, penjelasan panjang dibarengi terlalu terlambat datang ke museum menjadikan ketiganya tak sempat menganalisis terlalu dalam. Mungkin hanya Kevin saja yang sempat memikirkan hal lainnya. Namun, nyatanya Kevin tak sempat berpikir tentang letak mesin yang mereka cari, mesin yang ingin mereka selidiki dalam misi liburan semester kali ini.
***
