Bab 12 Mimpi?
Bab 12 Mimpi?
Tidak ada gebrakan tertentu atau suara keras yang berdengung. Rara mulai membuka matanya, keremangan pandangan bukan berarti karena remangnya ruangan. Gadis itu perlahan mengerjap, sesekali memejam lama guna memulihkan pandangannya.
Rara menyadari, dirinya tidak lagi dikerumuni oleh prajurit sadis itu. Tidak ada teriakan dengan Bahasa Jawa kuno yang terdengar melalui indra telinganya, pun tak ada lagi ujung tombak yang mengintimidasi. Rara berusaha bangun, dia mengambil posisi duduk setelah sadar sepenuhnya.
“Shhh!” desisannya tak cukup mengubah suasana. Rara kebingungan, kepalanya menoleh mendapati Kevin yang masih sempat memegang pergelangan tangannya. Gadis itu tersenyum, lalu tatapannya mengarah kepada wajah Kevin. Kevin masih pingsan, Rara menelan salivanya mengingat sesuatu.
“Ra!” Rara segera mencari asal suara, itu panggilan dari Tapa. Melihat Tapa dalam keadaan normal, Rara memandangi pakaiannya sendiri, tangannya naik ke atas memegangi jilbab yang masih terpakai dengan rapi.
Tapa sendiri justru tak mengindahkan kebingungan Rara, dia berlari cepat mendekati mereka. Kedua jarinya langsung ditempelkan ke nadi Kevin di bagian leher, setelah cek nadi laki-laki itu cepat-cepat mengecek napasnya. Masih belum percaya keadaannya normal, Tapa dengan bodohnya mendekatkan telinga kanan ke dada Kevin.
“Kenapa?” tanya Rara gugup, dia ingat dengan jelas kejadian sebelum mereka kembali ke ruangan ini. Tempat terlarang yang berisi mesin waktu peninggalan Jepang.
“Normal, Kevin masih hidup!” seru Tapa dengan lega. Sepupu Rara itu menegakan punggungnya dan duduk dengan tenang di sebelah Kevin. Napasnya memburu sedang menenangkan diri.
“Normal gimana?” Rara tak percaya. “Tadi dia kena tombak prajurit itu, Pa!”
Rara merengsek mendekati Kevin, lalu dirinya melepaskan genggaman tangan lelaki itu. Membasahi bibirnya sendiri berulang kali, kali ini dengan sedikit sungkan dia membuka kancing baju Kevin. Meski sungkan, kekhawatirannya cukup tinggi membuatnya tak bisa berpikir jernih!
“Kamu ngapain Ra!” tanya Tapa dengan menganga, dia selanjutnya hanya diam melihat tingkah sepupunya yang sedang gila.
Rara tak mendengarkan, ia tetap membuka kancing kemeja yang dikenakan Kevin. Satu kali dibuka, saat itu juga matanya tertutup. Perlahan dia mengintip, menatap pakaian yang belum sempurna dibukanya.
Kevin sendiri mulai merasakan dinginnya pualam lantai. Kepalanya mengernyit heran dengan perasaan ini, ingat sekali Kevin tadi sedang berada di ujung maut. Apakah dirinya sudah mati? Jadi ini ada di alam selanjutnya? Surga mungkin.
Makin kurang nyaman ketika seseorang sedang membuka bajunya, sekuat tenaga Kevin membuka mata yang begitu berat itu, seakan matanya sedang ditimbun dengan batu. Berat!
Lampu di tengah ruang menyala terang. Kevin mengenali ruangan ini, ruangan terlarang yang berisi mesin waktu. Melirik singkat pada dadanya, matanya terangkat mendapati tangan lentik yang mungil tengah berbuat sembrono di sana. Kevin mengalihkan pandangannya pada sang empu.
“Rara, kamu ngapain?” tanya Kevin lirih.
Rara menegang, dia tadi hampir menyentuh bagian dada yang ia yakini tempat tombak tadi menancap. Sayangnya mata itu masih waras, tidak ada luka sedikit pun di sana. Bahkan lecet barang semili pun tak ada. Rara menelan salivanya, memandang Kevin dengan raut tersipu yang kentara. Ruam merah memenuhi pipi, membuat pipinya merona seperti langit di ujung bumi kala mendekati senja.
“Ak-aku ....” Rara cepat-cepat mengancing kembali pakaian Kevin. Dia memalingkan wajahnya merasa malu, tidak bisa dirinya menatap mata Kevin saat ini. “Aku tadi mau melihat lukamu.”
Kevin berusaha duduk, Tapa yang berada di dekatnya beranjak membantu. “Hati-hati!”
“Tapi, Vin!” seru Rara tiba-tiba. Kepalanya menoleh menatap sepupunya juga Kevin. Meski malu ia tetap ingin berbicara. “Ini aneh, tadi kamu terluka. Iya kan? Tapi ini bersih, bahkan kemejamu masih rapi, “ ujarnya.
“Eh?” Kevin linglung. Ia memandang ruangan yang nampak tak asing ini dan mengingat ruang yang ia tempati beberapa waktu lalu. Lumajang. Majapahit. Perang Paregereg. Semuanya berputar di kepala. Kevin memandang Tapa dengan tatapan tanya.
“Tombak? Kamu kena tombak tadi.”
“Kamu bilang apa Ra?” Tapa merasa tak asing dengan kejadian itu.
“Kevin kena tombak kan?”
“Kita balik lagi?” gumam Kevin masih linglung.
Mereka bertiga langsung memandang mesin yang cukup besar di depan mereka. Mesin itu masih di tempatnya, dalam keadaan yang sama bahkan tak kurang atau lebih. Semuanya, mirip. Tubuh mereka yang ada di ruangan ini pun persis sama seperti mereka pergi. Tak ada lagi kemben yang dipakai oleh Rara. Tak ada pula ikat kepala yang digunakan oleh Tapa. Mereka juga tak mengenakan celana hitam ala petani jaman bahela. Bahkan luka Kevin yang paling nyata pun sirna. Mereka semua berpikir itu mungkin hanya mimpi, tetapi mengapa ketiganya seperti mengalami hal yang nyata.
“Itu tadi tidak mimpi kan?” gumam Rara. Akan sangat malu jika dirinya benar tidur di ubin ruangan ini. Selain kurang etis, apa tujuannya coba? Orang luar yang melihat pasti akan berprasangka bahwa dirinya gila.
“Mimpi apa Ra?” tanya Kevin yang dilanda penasaran, ia juga menganggap bayangan tadi itu bukan mimpi tetapi nyata pun rasanya khayalan saja.
“Masuk ke sana!” tunjuk Rara ke arah mesin yang diam di tempatnya. Sudah cukup bersih dipandang, cukup layak tak membuat mata panas karena debu yang menutupinya.
“Masuk ke sana? Aku juga, kayaknya bukan mimpi deh!” seru Kevin.
Rara mendapati jam tangannya masih sama, seperti tadi saat ia menunggui Rara dan Kevin di depan pintu.
“Jamnya masih sama!” tegas Rara. “Tadi bukan mimpi?” tanyanya lagi.
“Kalian masuk ke sana nyusul aku?” tanya Kevin, tidak lagi malas berbicara. Pemuda itu sungguh luar biasa penasarannya. Ia menyilakan kaki, menghadap kedua temannya. Rara dan Tapa langsung duduk dengan tegap saling memandang.
“Iya, aku langsung menarik kamu dari mesin tapi ikutan menghilang.”
“Aku juga, tadi lari dari pintu terus kita ....”
Rara tak mau meneruskanya, berharap ada yang meneruskan lalu mempertegas semua itu tidaklah mimpi.
“Kita di Majapahit,” potong Kevin yang tak sabar menunggu kata selanjutnya.
“Di Lumajang, selama tiga hari kita mengembara di jalanan.” Tapa ikut menimpali, ia memandang sepupu juga temanya itu dengan binar senang sekaligus bingung.
Mata Rara mengelilingi ruangan. Ruang ini masih sama keadaannya. Tak ada tanda-tanda telah terjadi suatu ledakan atau sejenisnya. Tak ada yang berantakan sebab peristiwa tadi. Waktu yang terbuang selama tiga hari seperti kembali ke semula.
“Dilintasi waktu?” gumam Kevin. “Pelipatan ruang?” gumamnya lagi. Otaknya dipenuhi angka-angka matematika dan berbagai teori relativitas yang ia pelajari. “Kita beneran jelajah waktu tadi?”
“Ehh! Kalau mimpi bagaimana?” tanya Rara. Dia memandangi Kevin dengan sangsi. “Tadi aku melihat kamu kena serangan, tombak, di dada. Kok tidak ada bekas lukanya?” tanya Rara. “Mungkinkah ini mimpi?”
Kevin justru mendengkus. “Kamu buka baju aku Ra?” tanyanya tak tahu malu, semu merah kembali hadir di pipi Rara.
“Tapi kalau mimpi tidak mungkin sama kok Ra. Aku juga tadi tahu kalau Kevin kena tombak. Prajurit Majapahit kan?”
Rara mengangguk. “Umm.”
Kevin pun mengangguk.
“Begini aku tanya pada kalian untuk ngetes!” usul Tapa mengawali. Tapa berdehem, bersiap untuk menanyakan sesuatu yang cukup krusial di perjalanan yang sepertu mimpi itu.
“Apa, Pa?” tanya Rara tak sabar. Tapa tetap diam sambil berpikir.
“Kenapa Kevin sampai kena tombak?” tanya Tapa.
“Kita diserang, dikira mata-mata!” kata Rara. Tapa menatap Kevin meminta penjelasan. Kevin malas sekali melakukan hal itu. Ia hanya menghela napasnya lalu mengangguk.
“Mengangguk saja tidak jadi bukti Vin. Apa?”
“Kita dikira telik sandi. Kalau kata Ibu pemilik warung yang kita singgahi di sana. Banyak prajurit dan mata-mata majapahit yang disebar sebab banyak prajurit yang ingin melepaskan diri. Ingin mengabdi sama Wirabhumi.”
“Valid!” ujar Tapa senang. “Kita beneran abis jejak petualang ke Majapahit.”
Rara mengernyit heran, lalu mengangguk. Dia menceritakan dari awal, mulai dari gelangnya yang dikorbankan untuk tempat tinggal hingga kerudungnya yang terlepas. Kevin melihat Rara sejenak, lalu memandang langit-langit. Perangai Kevin sedikit aneh. Tapa menatapnya dengan tatapan ragunya.
Tak di sangka, selang beberapa menit Kevin tergelak. Tak ada rasa malu, laki-laki itu tergelak di tengah ruangan aneh yang menampung mesin waktu peninggalan Jepang itu.
***
