Bab 11 Telik Sandi
Bab 11 Telik Sandi
“Kalian ingin memesan?” tanya salah seorang mendekati Rara dan lainnya.
“Kami hanya ingin istirahat, Nyi.” Orang yang sudah berumur itu mengangguk, kepalanya meneleng merasa sedikit sungkan untuk bertanya. Mengapa pakai caping, ini sudah di kedai, tak akan panas. Tapi toh dirinya tak sanggup bertanya, tak terbiasa mencampuri urusan pengelana, biasanya yang menyembunyikan wajah seperti itu jika bukan orang besar ya pendekar. Memiliki banyak masalah, tentu saja pemilik kedai tak mau ikut campur ke dalam masalahnya.
“Nyi!” Panggilan Tapa berpengaruh, suara gosip di meja tengah kedai ini berangsung surut. Nyai itu mendekati Tapa lalu mengangguk. “Ada apa Kisanak?”
“Apakah keadaan sekarang masih kacau?” tanyanya basa basi, nyatanya memang sudah tersiar bagaimana kacaunya negeri ini. Memberanikan diri untuk ikut duduk, perempuan itu merasa perlu menjelaskan bagaimana keadaan sekarang. Mungkin ini bisa membantu saudagar pengelana di depannya.
“Betul, Ki. Bhre Wirabhumi hanya menduduki wilayah bawahan Majapahit, tetapi pengaruhnya cukup besar sebab dia anak kandung Maharaja terdahulu.” Dia menghentikan sejenak ucapannya, lalu melihat ke arah Rara yang nampak menundukan kepalanya. “Pasukan Bhayangkara mungkin terlalu sibuk mengurusi pasukan besar Majapahit, banyak yang membangkang. Banyak yang lepas meminta diri mengabdi pada Bhre Wirabhumi. Banyak telik sandi disebar, musuh pun melakukan hal yang sama. Sayangnya, mungkin keadaan rakyat dinomor sekiankan.”
Matanya menyorot sedih, Kevin melirik singkat, mengetahui bagaimana perasaan perempuan berumur itu sangat tak senang dengan keadaan ini.
“Dahulu Maharaja sering ngambah rakyat, belum ada keluhan, bantuan sudah dikirimkan. Sekarang susah, mungkin kabar dihanguskanya desa perbatasan itu baru terdengar di telinga raja besok atau lusa. Atau mungkin sudah terdengar tetapi terlalu lelah untuk mengurusinya. Semoga Sang Hyang Widi bisa memberikan penerangan untuk kita semua.”
“Maaf, Nyi. Kalau boleh tahu kita ini ada di mana?” tanya Rara perlahan.
“Loh, ndak tahu? Pengembara dari mana?” tanya Nyai yang diyakini pemilik kedai ini. Dia lalu tersenyum melihat ketiganya bungkam. “Kita di Lumajang, ke Barat Daya ada Kotaraja. Istana Barat ada di sana. Nanti di Timur, tepatnya menuju Tenggara ada Istana Timur. Kita ini ada di antara dua wilayah itu.”
Rara hanya mengangguk saja, tak tahu harus menangapi apa. “Sebentar, saya ambilkan minum. Ini gratis.” Wanita itu pengertian, dia ke dapur mengambilkan minum untuk tiga pemuda itu.
“Asli!” bisik Rara yang bisa didengar Kevin dan Tapa. “Kita tidak hanya pindah waktu tapi juga ruang. Aku pikir kita di dekat Sunda, atau lebih geseran sedikit misalnya Mataram atau Pajang. Lah ini sudah di Jawa Timur saja.”
“Jangan berisik, Ra.”
Rara mengedikan bahu. “Tidak ada yang dengar juga aku ngomong apa, atau ada yang dengar juga tidak paham.”
“Kamu tidak ingat tadi Nyai-nya bilang apa? Banyak yang membangkang. Aku yakin bukan hanyabeberapa prajurit pusat istana saja yang ingin Wirabhumi dapat keadilan, tapi juga kerajaan lain, yang bantu Wirabhumi. Dia juga bilang menyebar telik sandhi. Tidak takut kamu dikira mata-mata?”
Bungkam. Rara terdiam, dia tak mau berbicara lagi. Selain kesal, ia juga takut jika memikirkan perkataan Tapa itu. Memang benar begini keadaannya, wajar jika banyak mata-mata yang tersebar. Siapa tahu ada pemberontakan besar setelah ini.
Kesunyian di meja mereka tak dialami oleh meja lain, dari meja lain kedai ini ramai, masih membicarakan tentang banyaknya kekacauan akibat Paregreg ini.
“Nih, diminum dulu.”
“Terima kasih, Nyai.”
“Sami-sami.”
Ketika akhirnya lama waktu mereka gunakan untuk mencari informasi di kedai itu cukup, ketiganya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Rute mereka acak-acakan. Hanya bermodal matahari mereka tahu mana barat dan timur. Kadang lelah menghampiri membuat mereka duduk di mana saja. Bawah pohon, pohon tumbang atau bahkan tanah yang dilapisi daun lebar menjadi tempat duduk mereka. Beberapa kapuk randu tumbuh subur.
Beberapa rumah mulai lenyap, jarak antar rumah yang terlalu lebar kini makin lebar lagi. Sepertinya mereka berjalan menuju keluar dari pedukuhan.
Hari sangat terik ketika mereka berhasil melewati hamparan sawah yang begitu panjang, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah pasar. Pasar tradisional, jalanan penuh sesak oleh penjual perhiasan sederhana dan mainan anak-anak. Di sepanjang jalan itu pula berjejer rapi toko sayur dan buah, beberapa menjual kain.
Rara berhenti, enggan melangkah ke lebih jauh lagi. “Kenapa Ra?” tanya Kevin impulsif. Pertanyaan ini tidak dipikir dulu olehnya.
Rara menggeleng. “Takut, di sana ramai.”
Tapa menjitak caping Rara, membuat caping itu tertekan ke kepala. Rara mengaduh. “Kekerasan dalam persaudaraan. Ada pasalnya tidak sih?” keluh Rara sebal dengan sikap sepupunya.
“Tidak sah lah,” timpal Tapa.
“Yee! Tidak sah, kamu pikir nikah.”
Tapa hanya mencebik lalu berjalan tak peduli dengan ketakutan Rara. Kevin melihat itu, perlahan meraih pergelangan tangan Rara dan mengajaknya berjalan. Lambat laun mereka melambatkan langkah, jaraknya dari pasar tak jauh lagi. “Seperti ada yang mengikuti, kan?” bisik Rara yang dianggukin Kevin.
Kevin melirik ke samping kanan dan kriinya, Tapa berbalik pura-pura ingin bertanya, tetapi matanya menjelajah hingga mengernyit ketika mendapati dua orang yang bertingkah aneh di belakang mereka.
“Ekhm!” Tapa berdehem, memberi kode pada keduanya agar diam di tempat. “Jangan nengok, ayo jalan yang cepat!” pinta Tapa.
Rara mengangguk, lalu ketiganya berjalan cepat menuju pasar. Tak disangka yang di belakang pun bergerak cepat, sesekali Rara menoleh ketika larinya mereka mendekat. Sial lagi, ketika di persimpangan menuju pasar, laki-laki itu bersiul, dua gerombolan prajurit membawa tombak mengejar mereka.
Tak ada pilihan selain berlari. Tapa memilih lokasi paling aneh, dia mengajaknya ke tengah pasar, membuat kegaduhan dan teriakan di mana-mana. Hingga akhirnya mereka keluar pasar dan bisa menghela napasnya.
Sayangnya, prajurit itu adalah orang yang sudah hapal seluk beluk daerah ini, tentu saja keluar pasar justru dihadang. Dari semua sisi entah itu barat atau timur, dari selatan atau utara, mereka lagi-lagi merasakan dikepung. Bedanya tak ada air deras dan buaya.
“Telik sandi dari mana kalian?!” teriak salah seorang.
“Kami bukan telik sandi!” jawab Tapa tak kalah lantang.
Tawa hambar muncul dari beberapa mulut kotor orang-orang yang mengepung mereka. “Bukan? Mengelak tapi kabur? Apakah kalian dididik untuk menjadi bodoh?!”
Makin menyusut jarak mereka, makin merapat tiga serangkai itu. Ketiganya saling berpunggungan hingga dengan aba-aba yang sama sekali tak diketahui olehnya, Caping Kevin dan Rara terpental jauh.
“Wajahnya asing, telik sandi dari luar? Gadisnya ayu, dari mana Diajeng?” katanya santai seolah ini bukan hal menegangkan.
“Minggir!” bentak Kevin kesal, entah mengapa ia menjadi semarah itu. Ingin sekali menyumpah serapah mereka.
Dengan ala kadarnya, Kevin menangkis serangan santai yang menurut para prajurit itu main-main. Sayangnya senjata itu betulan, betulan kena maka betulan juga sakitnya.
Makin kurang ajar ketika salah seorang mendekat, menarik kerudung yang tak dikancing milik Rara. Rara hanya bisa memejamkan mata lalu bersembunyi di balik punggung Tapa. Kevin merengsek mendekat, menutupi sebisa mungkin tubuh mungil gadis itu. Kini Rara menyesal telah melepas penutup dadanya tadi, jika tidak ia bisa mengenakannya sebagai kerudung.
“Kurang ajar!” umpat Kevin yang membuat kening para prajurit itu mengkerut.
“Bahasa mana itu?”
“Mirip melayu!”
“Dari suku terdalam Swarnabhumi?”
“Berani sekali mereka datang ke mari!”
“Ayo serang mereka!”
Teriakan yang beradu itu tak dipikir, mereka sudah dikepung tinggal ditangkap, kenapa harus menyerang dengan ujung-ujung tombak itu. Tapa dan Kevin hanya bisa mendesis berusaha melindungi Rara. Mereka tentu tak ingin aurat perempuan itu lebih terlihat lagi.
“Mundur!” teriak Tapa tak terima ketika gelak tawa meremehkan itu dibarengi dengan langkah maju yang makin menyudutkan keadaan mereka.
Kevin makin panik, beberapa teriakannya beradu dengan gelak tawa para prajurit kurang ajar itu. Cara mereka menangkap tak elit, jika bukan untuk main-main berarti mewaspadai tiga serangkai memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi.
Hingga ujung tombak salah seorang prajurit itu mulai mengenai Kevin, Rara sempat menangis ketika melirik laki-laki yang memunggunginya itu. Tombak prajurit tersebut sudah menyentuh kulit Kevin, menimbulkan luka pada kulitnya. Rara yang melihat itu menjerit kuat. Tiba-tiba pandangan mereka kabur karena adanya kabut asap yang secara mendadak memisahkan mereka dari prajurit.
***
