Bab 13 Kendali
Bab 13 Kendali
Lama waktu mereka habiskan untuk bercerita, sampai akhirnya Kevin berdiri mendekati mesin itu. Wajahnya terlihat girang.
“Kita benar tadi menjelajah waktu?” ungkap Tapa sekali lagi. Dia ikut berdiri menyusul Kevin. Lengang suasana ruangan ini tak dihiraukan ketiganya. Rara pun berbalik ikut serta bersama dua temannya.
“Iya!” seru Rara tak begitu senang. Dia lebih tenang jika penelitian selanjutnya hanya mengandalkan pengumpulan informasi, tak perlu lagi mencoba mesin itu.
“Sekarang jam berapa Ra?” tanya Kevin, dia meneliti tiap hal di mesin itu. Mencoba mengingat apa saja yang ia lakukan sebelum tubuhnya menghilang bersama waktu.
“Masih sama seperti waktu kita pergi!” jawab Rara. Dia mendekati Kevin, menatapnya dengan penuh penasaran. “Kamu mau melanjutkan misi ini?”
Kevin mengangguk. Pertanda dirinya sudah memiliki keputusan yang cukup bulat. “Kita diskusikan lagi,” katanya kemudian.
Waktu terus bergulir, tak ada lagi yang menjaga pintu. Baik Tapa maupun Rara pun tak membantu Kevin. Keduanya berdiri dengan bosan di depan mesin ini. Sedangkan Kevin sudah masuk, meneliti tiap jengkal dan alat yang tersedia. Beberapa kali berhenti guna memasukannya pada memori terdalamnya. Kevin benar-benar ingin tahu fungsi dan cara kerja mesin aneh itu.
“Vin!” seru Tapa yang sudah tak sabar. Ini sudah terlalu sore, sebentar lagi waktu mereka pulang. “Cepat keluar!” titahnya kemudian.
Lengang. Diam. Hanya suara cicak yang kadang kala cukup nyaring membuat keributan di ruangan itu. Kevin sama sekali tak menghiraukan panggilan Tapa.
Di sebelahnya, Rara sudah menahan tawa. Sudah tahu yang di dalam itu Kevin, mana mau diperintah dengan mulut. Tidak akan digubris!
“Panggil sana!” suruh Tapa pada Rara. Rara mengerutkan keningnya lalu menggeleng.
Rara menjawab, “Tidak akan ada gunanya, lihat sendiri Kevin sedang sibuk dengan dunianya.” Perkataannya itu penuh dengan senyum menahan tawa. “Lagi pula, masih setengah jam lagi jadwal kita pulang!”
“Masalahnya kita di sini dari tadi, pasti kalau ada yang tahu kita bakalan disuruh pulang paling akhir. Kerjaan yang tadi harus diselesaikan, kan?”
“Ye! Kan banyak staf lainnya.” Rara menilik jamnya sekali lagi. “Sepuluh menit lagi kalau Kevin tidak mau keluar, kita seret saja sampai ruangan kita.”
Tapa setuju, akhirnya keduanya harus jadi patung sepuluh menit ke depan. Menghirauklan suara cicak yang bersiul menggoda nyamuk, juga cahaya lampu yang makin lama cahaya putih kekuningannya membuat mata bermasalah. Hanya sepuluh menit menunggu guna menghabiskan kesabaran sampai tak ada yang tersisa.
“Haish!” Sudah cukup waktunya, tanpa dikomando Rara berbalik, menaiki undakan yang hanya tiga tangga itu dan melihat Kevin yang sedang memandangi beberapa tuas di depannya.
Rara kesal, tidak memedulikan lagi bagaimana fokusnya Kevin, lengan yang jelas-jelas lebih kuat itu ia tarik dan ia paksa untuk berjalan keluar.
Tapa menyusul, dia membantu Rara menyeret Kevin keluar dari mesin itu.
“Kalian kenapa sih?” sergah Kevin tiba-tiba. Tatapan kesalnya kentara, napasnya memburu, tangan Tapa dan Rara yang memeganginya ia sentak sekuat tenaga. “Ck. Menyebalkan!”
Kevin pergi dari sana seorang diri, dia tak menghiraukan Rara dan Tapa yang sedang menganga karena sikap Kevin barusan.
“Susul Ra!” titah Tapa.
“Ayo!” ajak Rara sembari menyeret tangan Tapa.
Mereka semua berjalan hingga melewati ruang administrasi. Ada Pak Joko yang tengah tenggelam pada pekerjaannya.
“Tunggu!” ujar supervisor mereka yang meski pelan mampu membuat Kevin diam di tempat. Ia menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan, tak ingin kekesalannya membuat ia jadi bermasalah, Kevin sama sekali tak ingin menyinggung Pak Joko.
“Ada apa Pak?” tanya Kevin, tatapannya melirik Tapa dan Rara yang berjalan mendekatinya kemudian diam, berdiri di sebelahnya.
“Kalian dari mana? Seharian seperti menghilang.”
Pernyataan itu wajar, tatapan bertanya di mata Pak Joko murni karena ingin tahu. Tak ada nada ingin mencela. Pekerjaan ketiganya masih aman sentosa.
“Kami jalan terus kok Pak. Memang sering di bagian depan, melihat koleksi untuk laporan.” Tapa mengangguk mengiyakan pernyataan Kevin.
“Kita tadi melihat-lhiat, Pak. Ini udah hampir sebulan, ada laporan bulanan buat kita kumpulin nantinya.”
Pak Joko terkekeh sambil mengangguk. Dia berdiri sembari membawa satu buku mirip majalah. “Di sini kan lengkap koleksinya. Kalian lihat dulu saja, besok cocokan dengan koleksi yang ada di museum sekalian cek takut ada yang baru, hilang, atau rusak. Ini buku khusus pekerja, jadi koleksi yang sudah tidak terpajang pun ada.”
“Wah, terima kasih ya Pak,” ungkap Rara senang. Ia tak perlu lagi bekerja dua kali.
“Iya, kalau ada apa-apa lapor ke saya saja ya!”
“Siap, Pak!”
Kevin yang sudah siap berjalan lagi terhenti, membuat Rara dan Tapa ikut serta dengan tatapan tanyanya.
“Kami izin pulang duluan boleh, Pak?” tanya Kevin.
“Boleh! Mau buat laporan ya?”
Kevin hanya tersenyum singkat, meski singkat itu cukup manis di wajah tampannya.
“Tidak apa-apa, kalian juga sering lembur. Saya tahu dari beberapa staf bagaimana kinerja kalian.”
“Terima kasih, Pak!” ujar ketiganya, lalu berjalan kembali menuju loker tempat mereka menyimpan barang mereka.
Ketiganya kini sudah berjalan keluar, ingin pulang ke rumah Tapa. Rasanya mendiskusikan hal yang baru saja mereka alami bukanlah hal yang membosankan.
“Kita ke warteg depan dulu aja!” pinta Rara yang tak kuat lagi menahan lapar. Meski waktu menunjukan hal yang sama, rasanya perut ini tak bisa dibohongi. Mereka sudah tiga hari mengembara dengan hari terakhir perut kosong dari pagi. Saat Kevin terkena tombak itu sudah terik, matahari sudah meninggi meski belum sepenuhnya. Rara merasa sangat lapar!
“Ayo!”
Tiga serangkai itu sepakat untuk makan di warung sederhana yang ada di pinggiran jalan. Jalanan di sore hari cukup ramai, tetapi tak cukup untuk membuat ketiganya hilang fokus pembahasan. Sembari menunggu makanan datang mengisi perut mereka yang keroncongan, saat itulah Kevin mulai membahas lagi misi yang baru saja dimulai.
“Walaupun waktu di bumi sekarang masih sama kaya waktu di bumi saat kita pergi, tetapi tubuh kita bisa merasakan bahwa kita udah nambah hidup tiga hari di waktu yang berbeda,” kata Kevin cukup panjang. Jika seperti ini setiap hari, Rara bisa merasa kenyang sepanjang waktu. Gadis itu berdehem singkat, lalu menyangga dagu dan menunggu Kevin menjelaskan hal lebih lanjut lagi.
“Kaki kamu masih sakit Ra?” tanya Kevin makin membuat Rara senang.
“Ra!” panggil Tapa sembari menabok bahunya.
“Sakit Tapa!”
“Kaki kamu masih sakit?” ulang Tapa.
“Dikit, walaupun kita balik, tapi aku merasakan bekas sakitnya keseleo.”
“Dada kamu harusnya juga sakit dong, Vin?”
Kevin memandang ketiganya, teringat dengan Rara yang membuka kancing kemeja miliknya membuatnya panas, napasnya memburu segera dinormalkan, jantungnya berdetak segera ditahan.
“Aku tidak merasakan sakitnya, tapi lelah setelah berjalan jauh masih lumayan nempel.”
Ketika makanan datang, diskusi itu serentak kelar. Mereka lapar, menunda pembahasan bukanlah masalah besar. Dengan ketenangan tiga serangkai itu makan, mengisi perut yang menurut mereka sudah tiga hari hanya diisi buah dan ubi curian.
“Alhamdulillah!” ungkap Tapa lalu berdoa setelah selesai makan. Melihat kedua temannya minum mengakhiri makan mereka, Tapa bersuara kembali. “Jadi apa yang bakalan kita lakukan selanjutnya?”
“Kita lihat kondisi mesin dan cari tahu cara kerjanya!” seru Kevin yang cukup membuat Rara kurang nyaman. Tapi ini sudah menjadi komitmen ketiganya, kalau hanya meneliti gadis itu masih bisa bersabar dan menahan diri dalam misi ini. Kevin memegang bulatan yang dibawanya. “Ini kendali jarak jauh, aku baru tahu setelah kita bisa kembali ke sini.” Kevin membolak balik bulatan seperti kompas itu.
“Kita meneliti saja kan?” tanya Rara mempertegas niat Kevin.
Kevin hanya meneleng lalu berkata, “Aku ingin tahu apa mesin ini hanya bisa digunakan untuk ke masa lalu seperti yang terjadi dengan kita tadi, bagaimana bisa kita keluar dari masa itu dan pulang, dan juga apa kita bisa mengendalikannya? Aku ingin tahu bagaimana cara mengendalikan mesin itu.”
“Maksudnya?” tanya Tapa.
“Aku ingin tahu, apa bisa kita setting mesinnya buat keperluan dan kepentingan kita. Misalnya, kepergian kita sesuai dengan rencana kita, di mana, tahun berapa, saat ada apa. Terakhir kita di Lumajang itu cukup jauh dari Jakarta. Belum lagi kita ke sana waktu selesai perang. Aku berharap bisa pergi sesuai dengan kebutuhan kita, kalau itu bisa bukannya bakalan lebih nyaman buat penelitian selanjutnya?”
“Tapi ....”
“Tapi kita belum tahu bagaimana caranya, kita juga belum menguasai sistem kerjanya. Kalau begitu kita belum tentu bisa pulang sesuai dengan keinginan kita!” Kevin diam sejenak melihat bulatan dalam genggamannya. “Aku akan menjadikan ini semacam kalung atau jam.” Semua diam, terpaku melihat benda yang berada di tangan Kevin itu.
***
