04. Racun di Balik Tirai Malam
Malam setelah jamuan istana, ketenangan di kediaman Pangeran Ketiga kembali terusik. Angin malam berembus lebih kencang dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan firasat buruk yang pekat.
Fang Yin duduk di dalam kamarnya, membersihkan pedang panjang peninggalan ayahnya. Bilah baja itu berkilat di bawah cahaya lilin. Di medan perang, musuh terlihat jelas dengan zirah mereka. Namun di Chang'an, musuh bersembunyi di balik senyuman manis dan jubah sutra yang indah.
*Sreeet.*
Suara gesekan halus di atas genting membuat gerakan tangan Fang Yin terhenti. Matanya menyipit. Sebagai seorang yang terlatih di perbatasan, indranya sangat tajam. Ia meniup lilin hingga kamar seketika menjadi gelap gulita.
---
### Penyusup Malam
Pintu geser kamarnya terbuka tanpa suara. Sesosok bayangan hitam menyelinap masuk, bergerak mendekati ranjang tempat Fang Yin biasa tidur. Di tangan bayangan itu, berkilat sebuah belati yang telah dilumuri racun hitam pemakan darah—racun khas yang biasa digunakan oleh pembunuh bayaran dari pasar gelap barat.
Tanpa ragu, bayangan itu menusukkan belatinya ke balik selimut. Namun, yang ia rasakan hanyalah gumpalan bantal.
"Mencari aku?"
Suara dingin Fang Yin terdengar dari balik tirai kegelapan. Sebelum sang pembunuh sempat berbalik, bilah pedang Fang Yin sudah melesat, menebas lengan pria itu hingga belatinya terjatuh ke lantai dengan dentingan keras.
Pembunuh itu mengerang kesakitan, mencoba melarikan diri lewat jendela. Namun, sebuah jarum perak tiba-tiba melesat dari arah luar, menancap tepat di lehernya. Pria hitam itu langsung roboh, kejang-kejang, dan tewas dalam hitungan detik dengan busa beracun di mulutnya.
Li Xiao melangkah masuk melewati jendela, melompati mayat yang masih hangat itu seolah-olah itu hanya seonggok sampah. Ia mengenakan jubah tidur longgar, rambut hitamnya terurai bebas, namun matanya memancarkan kewaspadaan yang tinggi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Li Xiao, suaranya sedikit lebih rendah dan serak dari biasanya. Ada kilatan kecemasan yang samar di matanya saat ia memeriksa tubuh Fang Yin.
"Aku baik-baik saja," jawab Fang Yin, menatap mayat di lantai. Ia berjongkok, menggunakan ujung pedangnya untuk menggeledah pakaian sang pembunuh. Di dalam saku batin jubah pria itu, ia menemukan sebuah saputangan sutra putih yang harum. Di sudutnya, terdapat sulaman bunga teratai suci dan sebaris nama: *Ruo*.
Fang Yin tersenyum dingin. "Teratai Putih kita tampaknya sudah mulai tidak sabar."
Li Xiao mendekat, melihat saputangan tersebut. "Fang Ruo terlalu bodoh. Dia meninggalkan bukti sejelas ini? Ataukah... ada seseorang yang sengaja ingin kita mengarah padanya?"
---
### Jebakan di Dalam Jebakan
Keesokan paginya, Ibu Kota Chang'an kembali diguncang oleh berita baru. Pengawal Pangeran Ketiga menyeret mayat pembunuh bayaran tersebut dan membuangnya tepat di depan gerbang kediaman Keluarga Fang—tempat di mana Fang Ruo saat ini tinggal.
Tindakan terang-terangan ini membuat Fang Ruo panik setengah mati. Ia segera berlari menuju kediaman Sheng Wangshu, mencari perlindungan dari pria yang ia klaim sebagai pelindungnya.
Di dalam aula kediaman Sheng, Fang Ruo berlutut di kaki Wangshu sambil menangis tersedu-sedu. "Jenderal Sheng... tolong Ruo-er! Kakak Yin menuduhku mengirim pembunuh. Saputangan itu... seseorang pasti telah mencurinya dan memfitnahku! Kakak Yin ingin menghancurkanku karena dia cemburu padamu!"
Sheng Wangshu melihat wajah Fang Ruo yang pucat dan air matanya yang berlinang. Namun, entah mengapa, bayangan wajah menangis Fang Ruo tidak lagi membangkitkan rasa iba yang mendalam seperti dulu. Di dalam benaknya, justru terbayang wajah tegap dan tatapan dingin Fang Yin saat mengenakan gaun ungu tua di istana. Wanita yang kuat, yang tidak pernah memohon padanya.
"Apakah benar bukan kau yang melakukannya, Ruo-er?" tanya Wangshu, suaranya terdengar datar, membuat tangisan Fang Ruo terhenti sesaat.
"Jenderal... kau tidak mempercayaiku?" Fang Ruo menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Aku wanita lemah, bagaimana mungkin aku bisa menyewa pembunuh dari pasar gelap?"
Sebelum Wangshu menjawab, seorang pengawal masuk dengan tergesa-gesa. "Jenderal! Perintah dari Istana Kekaisaran baru saja turun. Kaisar yang sedang sakit mendadak sadar dan memerintahkan Jenderal Muda Sheng Wangshu beserta Nona Fang Yin untuk menghadap ke Istana Pengobatan Utama sekarang juga!"
Wangshu tertegun. Kaisar memanggil mereka berdua?
Di sudut kota, di dalam keretanya, Li Xiao menatap Fang Yin yang duduk di hadapannya dengan senyum misterius.
"Obat yang kukirimkan pada tabib istana akhirnya bekerja," bisik Li Xiao. "Kaisar Tua telah terbangun, dan rahasia tentang segel militer yang dicuri oleh faksi Sheng Wangshu akan segera dibongkar di depan ranjang kematiannya. Yin-er, ini adalah saatnya kau merebut kembali hak keluargamu."
Fang Yin mengepalkan tangannya. "Dan saatnya membuat Sheng Wangshu berlutut di tempat yang paling tinggi."
