Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

03. Jamuan Beracun dan Sang Teratai Putih

Kabar mengenai Fang Yin yang tinggal di kediaman Pangeran Ketiga menyebar seperti api di antara alang-alang kering. Seluruh Ibu Kota Chang’an gempar. Putri Jenderal Besar yang baru sehari menikah, kini berada di bawah perlindungan "Iblis Berwajah Rubah".

Tiga hari setelah insiden di gerbang kediaman, sebuah undangan berlapis emas tiba di meja Li Xiao. Istana belakang mengadakan Jamuan Musim Gugur, dan nama Fang Yin secara khusus ditulis oleh Permaisuri—ibu suri dari faksi Pangeran Kedua dan Sheng Wangshu.

"Ini adalah jebakan," ujar Fang Yin, menatap surat undangan tersebut dengan tenang.

Li Xiao, yang sedang membersihkan belati peraknya, mendongak. "Tentu saja. Permaisuri ingin melihat apakah kau benar-benar telah membelot, sementara Fang Ruo... aku dengar dia menangis selama tiga hari tiga malam di kediaman Sheng, meratapi 'nasib malangmu'." Li Xiao terkekeh sinis. "Kau takut?"

Fang Yin bangkit dari duduknya. Jubah sutra ungu tua yang dikenakannya menyapu lantai, memberikan kesan agung sekaligus dingin. "Di medan perang utara, aku terbiasa menghadapi puluhan ribu anak panah, Pangeran Ketiga. Mengapa aku harus takut pada beberapa wanita yang bertarung dengan lidah mereka?"

---

### Langkah Di Atas Tikar Merah

Aula Jamuan Istana Barat dipenuhi oleh para bangsawan dan putri-putri menteri. Wangi dupa cendana bercampur dengan aroma anggur buah yang manis. Namun, atmosfer mendadak membeku saat kasim istana mengumumkan kedatangan mereka.

"Pangeran Ketiga, Li Xiao! Beserta Nona Besar Keluarga Fang, Fang Yin!"

Fang Yin melangkah masuk dengan dagu terangkat. Ia tidak lagi memakai riasan lembut layaknya gadis pingitan. Alisnya dilukis tajam, bibirnya merah merekah, dan matanya memancarkan aura ketegasan seorang panglima. Di sampingnya, Li Xiao berjalan dengan langkah malas namun berwibawa, memancarkan aura intimidasi yang membuat para pejabat menundukkan kepala.

Di sudut aula, Sheng Wangshu duduk bersama ayahnya. Mata Wangshu langsung terpaku pada Fang Yin. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya saat melihat mantan istrinya tampak begitu memukau—dan sepenuhnya berada di luar kendalinya.

Di samping Wangshu, duduklah Fang Ruo. Wanita itu mengenakan gaun putih bersih layaknya bunga teratai suci, namun matanya berkilat penuh kedengkian saat melihat perhiasan giok langka yang melingkari leher Fang Yin—hadiah dari Li Xiao.

---

### Lidah yang Lebih Tajam dari Belati

Saat jamuan dimulai, Permaisuri dari atas takhtanya tersenyum palsu. "Nona Fang Yin, senang melihatmu dalam keadaan sehat. Kudengar terjadi kesalahpahaman di malam pernikahanmu hingga kau pergi dari kediaman Sheng. Sebagai sepupu, Ruo-er sangat mengkhawatirkan kesucian namamu."

Fang Ruo segera bangkit dari duduknya, berjalan ke tengah aula, lalu berlutut dengan air mata yang berlinang di sudut matanya. Tampak begitu rapuh dan suci.

"Kakak Yin..." suara Fang Ruo bergetar, terdengar sangat tulus di telinga orang awam. "Semua ini salah Ruo-er. Jenderal Sheng hanya kasihan pada penyakit lemahku, tidak ada hubungan terlarang di antara kami. Tolong jangan hukum Jenderal Sheng dengan cara tinggal di kediaman Pangeran Ketiga. Reputasi Kakak sebagai putri penurut bisa hancur..."

Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu, menyudutkan Fang Yin sebagai wanita yang gegabah dan tidak tahu malu karena tinggal bersama pria yang belum dinikahinya.

Fang Yin tidak beranjak dari kursinya. Ia menyesap anggurnya perlahan, lalu menatap Fang Ruo dengan pandangan meremehkan.

> **"Sepupu Ruo, aktingmu di panggung teater istana ini sungguh luar biasa,"** ucap Fang Yin, suaranya yang dingin memotong seluruh bisik-bisik di aula. **"Kau bilang Jenderal Sheng hanya kasihan? Lalu apakah 'rasa kasihan' itu yang membuatmu menerima gelang giok turun-temurun Keluarga Sheng yang seharusnya diberikan kepada istri sah? Apakah 'penyakit lemahmu' yang membuatmu berada di kamar pengantinku pada malam pernikahan kami?"**

Wajah Fang Ruo langsung memucat seputih kain kafan. Ia tidak menyangka Fang Yin akan menyerangnya secara terang-terangan di hadapan Permaisuri.

"Kakak... kau memfitnahku..." ratap Fang Ruo, melirik ke arah Sheng Wangshu untuk meminta bantuan.

Wangshu tidak tahan lagi. Ia bangkit berdiri. "Fang Yin! Cukup! Jangan mempermalukan Ruo-er di depan Yang Mulia Permaisuri!"

Sebelum Fang Yin membalas, sebuah dentingan keras terdengar. Li Xiao meletakkan cangkir perunggunya ke meja dengan pelan, namun getarannya membuat seluruh aula terdiam.

"Jenderal Sheng, kau berani membentak seseorang di hadapanku?" Li Xiao menatap Wangshu dengan mata menyipit, senyum rubahnya menghilang, digantikan oleh hawa membunuh yang pekat. "Fang Yin adalah tamu agungku. Siapa pun yang menuduhnya memfitnah, sama saja menuduh Kediaman Pangeran Ketiga menyebarkan kebohongan."

Permaisuri yang melihat situasi mulai tidak terkendali segera menengahi dengan wajah kaku. "Sudahlah. Ini hanya kesalahpahaman antar anak muda."

Jamuan malam itu berakhir dengan kemenangan telak bagi Fang Yin, namun ia tahu ini barulah permulaan. Saat berjalan di lorong istana yang sepi menuju kereta, Li Xiao tiba-tiba menarik tangan Fang Yin, menyudutkannya ke dinding pilar batu yang dingin.

Napas Li Xiao terasa hangat di wajah Fang Yin. "Kau sangat hebat di dalam tadi, Yin-er. Tapi ingat, singa yang terluka seperti Wangshu dan ular seperti Fang Ruo tidak akan diam saja. Setelah malam ini, mereka akan mengincar nyawamu—bukan lagi sekadar reputasimu."

Fang Yin menatap lurus ke dalam manik mata hitam Li Xiao yang dalam. "Biarkan mereka datang, Yang Mulia. Aku sudah menyiapkan kuburan untuk mereka semua."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel