Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

02. Sangkar Burung Emas

Kereta kuda berlambang burung phoenix hitam membelah kabut pagi yang menyelimuti kediaman Pangeran Ketiga. Di dalamnya, Fang Yin duduk dengan punggung tegak, meskipun tubuhnya masih terasa kaku akibat dinginnya hujan semalam. Gaun pengantin merah yang robek telah digantikan dengan jubah sutra berwarna biru langit yang elegan—pemberian dari Li Xiao.

Di hadapannya, Li Xiao duduk dengan santai, menyesap teh krisan dari cangkir giok. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, kontras dengan reputasinya sebagai pria paling kejam di Chang'an.

"Kau tidak banyak bicara, Yin-er," ujar Li Xiao, memecah keheningan dengan nada malas yang menjadi ciri khasnya. "Apakah kau menyesali keputusanmu?"

Fang Yin menatap keluar jendela kereta, melihat gerbang Kediaman Pangeran Ketiga yang dijaga ketat oleh prajurit berbaju zirah besi. "Menyesal adalah kemewahan bagi orang yang masih memiliki pilihan, Pangeran Ketiga. Saat ini, aku hanya memiliki satu jalan: maju."

Li Xiao tersenyum tipis, kilatan kepuasan tampak di matanya. "Bagus. Karena mulai hari ini, kau bukan lagi pengantin Sheng Wangshu yang malang. Kau adalah tamu kehormatan di kediamanku—dan dalam waktu dekat, seluruh Chang'an akan tahu bahwa kau adalah sekutuku."

---

### Tamu yang Tak Diundang

Konflik pertama dari aliansi baru ini datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Baru saja Fang Yin menapakkan kakinya di aula utama kediaman Li Xiao, seorang pelayan dengan tergesa-gesa datang berlutut.

"Yang Mulia, Jenderal Muda Sheng Wangshu berada di luar gerbang. Dia membawa sepasukan prajurit dan menuntut agar Nona Fang Yin dikembalikan kepadanya."

Mendengar nama itu, tangan Fang Yin yang tersembunyi di balik lengan baju sutranya mengepal erat hingga kukunya memutih. Amarah yang sempat mereda kembali membakar dadanya.

Li Xiao melirik Fang Yin, mengamati reaksinya. "Bagaimana? Apakah kau ingin bersembunyi di dalam kamarmu, atau ingin melihat bagaimana suamimu memohon?"

"Dia bukan suamiku lagi," desis Fang Yin dingin. "Dan aku tidak akan bersembunyi."

---

### Konfrontasi di Gerbang Depan

Di depan gerbang kediaman, Sheng Wangshu berdiri dengan gagah, mengenakan jubah militer resminya. Wajahnya tampak tegang dan dipenuhi amarah. Di belakangnya, belasan prajurit siap dengan senjata mereka. Namun, kemarahan di wajah Wangshu mendadak surut, digantikan oleh keterkejutan saat melihat Fang Yin berjalan keluar.

Fang Yin tidak lagi tampak hancur seperti semalam. Ia berjalan dengan anggun, kepalanya terangkat tinggi, berdampingan dengan Li Xiao.

"Fang Yin!" panggil Wangshu, langkahnya maju satu tindak sebelum dihentikan oleh hunusan pedang penjaga Li Xiao. "Apa yang kau lakukan di sini? Semalam kau kabur dari kediaman Sheng. Sebagai suamimu, aku memerintahkanmu untuk pulang sekarang!"

Fang Yin menatap Wangshu dengan pandangan yang begitu asing, seolah pria di hadapannya hanyalah orang asing di jalanan.

> **"Jenderal Sheng, tampaknya ingatanmu sependek kesetiaanmu,"** ucap Fang Yin, suaranya lantang dan jernih, bergema di antara para prajurit. **"Pernikahan kita berakhir saat kau mengatakan bahwa aku hanyalah bidak politikmu. Kain merah yang kurobek semalam adalah tanda bahwa kita tidak lagi memiliki hubungan darah maupun hukum."**

Wajah Wangshu memucat. Ia tidak menyangka Fang Yin akan membongkar masalah itu di depan umum. Ia melirik Li Xiao dengan tatapan penuh permusuhan. "Pangeran Ketiga, ini adalah urusan rumah tangga Keluarga Sheng dan Keluarga Fang. Mengapa Anda mencampuri urusan ini? Menahan istri orang lain adalah pelanggaran hukum kekaisaran!"

Li Xiao tertawa rendah, suara tawanya terdengar mengejek sekaligus mengintimidasi. Ia melangkah maju, dengan sengaja berdiri sedikit di depan Fang Yin, seolah menyembunyikan wanita itu di bawah perlindungannya.

"Jenderal Sheng, kau salah paham," kata Li Xiao dengan senyum rubahnya. "Nona Fang Yin datang ke sini atas kemauannya sendiri untuk meminta keadilan. Mengenai hukum kekaisaran... bukankah memalsukan pernikahan demi merebut segel militer milik sekutu Kaisar adalah tindakan yang lebih mendekati pengkhianatan?"

Ancaman terselubung Li Xiao membuat Wangshu terdiam. Jika kabar tentang konspirasi segel militer ini sampai ke telinga Kaisar yang sedang sakit, faksi Pangeran Kedua—dan Keluarga Sheng—akan berada dalam bahaya besar.

Wangshu mengepalkan tangannya, menatap Fang Yin dengan tatapan yang kini bercampur antara rasa bersalah, kemarahan, dan kilatan obsesi yang aneh. Melihat Fang Yin yang tampak begitu bersinar di samping pria lain, ada rasa kehilangan yang tiba-tiba mencubit hatinya.

"Fang Yin... kau akan menyesali ini," bisik Wangshu dengan penuh penekanan. "Istana Pangeran Ketiga bukanlah tempat yang aman untukmu. Kau hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar yang lain."

"Setidaknya," balas Fang Yin, menatap lurus ke mata Wangshu, "sangkar ini tidak dipenuhi dengan kebohongan menjijikkan seperti milikmu."

Dengan kekalahan telak di pertemuan pertama ini, Wangshu terpaksa memerintahkan pasukannya untuk mundur. Namun, dari kejauhan, di balik kereta kuda yang tersembunyi di ujung jalan, sepasang mata lain sedang mengawasi kejadian itu dengan penuh rasa iri dan kebencian. Itu adalah Fang Ruo, sang sepupu, yang menyadari bahwa rencananya untuk menyingkirkan Fang Yin sepenuhnya dari Chang'an ternyata gagal total. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel