Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Acara Makan Malam

Sementara itu, setelah Lorenzo meninggalkan kamarnya, ia langsung pergi ke private lift miliknya dengan senang dan terburu-buru. Ia merasa sangat senang, karena setelah dua tahun penderitaannya menahan hasrat seksual dan desire untuk have sex dengan Blanca telah berakhir. Pada akhirnya, ia bisa have sex dengan Blanca. Tetapi, di sisi lain ia merasa terburu-buru karena ia harus cepat sampai ke Siguiente Restaurant.

Ia tidak boleh telat hadir di acara makan malam bersama orang tuanya. Kalau ia telat, tentu orang tuanya akan menanyakan alasan Lorenzo telat hadir saat itu. Sungguh tidak mungkin jika Lorenzo akan berkata bahwa, ia telah have sex dengan Blanca. Pasti orang tuanya akan marah besar dan mencapnya sebagai perebut pacar orang.

Tidak lama kemudian, private lift terbuka dan ia segera masuk ke dalam private lift. Setelah di dalam private lift, ia langsung memencet tombol “UG” untuk mengantarkannya ke Underground yang menjadi halaman parkir. Ia menunggu beberapa menit sembari ia menyandarkan badannya di dinding lift.

Selama ia menunggu, otaknya masih teringat dengan momen dirinya have sex dengan Blanca. Ia merasa senang, karena ia bisa have sex dengan Blanca yang sangat menggairahkan dan mencoba berbagai gaya ynag ingin ia lakukan bersama Blanca.

“Ah! Sungguh indah, ya!” ucapnya dalam hati.

Tidak lama kemudian, ia merasa pipinya menjadi lebih hangat dan penisnya mulai berdiri lagi. Ia langsung melihat ke arah penisnya dan setelahnya ia mengusap penisnya dengan lembut. “Sabar, Sayang! Kita akan have sex lagi nanti. Malam ini aku harus menghadiri acara makan malam bersama orang tuaku dulu.”

Ia langsung mencoba untuk mengalihkan pikirannya, karena ia tidak ingin orang tua Lorenzo akan menanyakan alasan penis Lorenzo berdiri dan menjadikannya topik perbincangan makan malam kali itu. Ia langsung mengambil teleponnya dan setelahnya ia mendapati ada pesan dari Roberto yang bertuliskan. “Selamat makan malam, Sr.! Semoga acara makan malam kali ini berjalan lancar!”

Ia langsung membalas pesan Roberto. “Terima kasih, Roberto!”

Tetapi, otaknya masih saja teringat dengan momen dirinya have sex dengan Blanca. Memang momen have sex kali itu adalah momen yang paling indah menurutnya. Ia teringat dengan momen Blanca yang duduk di pangkuannya. Meskipun Blanca memang berat, tapi hal itu sangat menggairahkan.

Tidak lama kemudian, lift pun terbuka yang menandakan bahwa, lift telah sampai di lantai UG. Ia segera pergi ke mobilnya. Setelah di depan mobilnya, ia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobilnya. Setelah di dalam mobil, ia langsung mengenakan seatbelt dan menyalakan mode autopilot untuk mengantarkannya ke Siguiente Restaurant.

Saat ia mengendarai, ia teringat dengan Blanca mulai membuka bajunya dan tatapan Blanca terlihat sangat kelaparan. Ia langsung bergumam. “Blanca, Blanca, kasihan sekali kamu sudah satu minggu tidak have sex dengan Trevor. Jika aku menjadi pacarmu, tentu aku tidak akan membiarkanmu kelaparan seperti itu. Bagaimana bisa aku membiarkanmu kelaparan sedangkan setiap aku melihat matamu aku selalu ingin have sex denganmu, Sayang? Kau memang sangat menggairahkan dan sangat menggoda di mataku.”

“Aku juga tidak akan membiarkan lubangmu merapat karena aku jarang have sex denganmu. Bagaimana bisa aku membiarkan lubangmu merapat sedangkan lubangmu itu sangat nikmat? Memang Trevor itu cowok yang sangat bodoh dalam bercinta. Saking bodohnya ia tidak tahu betapa nikmatnya lubangmu.”

Tidak lama kemudian, Lorenzo teringat dengan momen Blanca memuji penisnya yang masih lurus. “Still straight, but bigger” adalah kata-kata yang terngiang di otaknya. Ia langsung bertanya dalam hati bagai ia tahu jawabannya. “Kenapa dia tidak curiga bahwa, aku itu bukan Trevor? Kalau aku Trevor, tentu saja penisku sudah tidak lurus karena aku sudah sering have sex dengan Blanca.”

Otak Lorenzo mencoba untuk menebak-nebak dan mencari tahu berbagai kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah Blanca tergila-gila dengan penisnya. Kemungkinan kedua adalah Blanca masih polos dan tidak mengerti mengenai penis. Kemungkinan ketiga adalah Blanca sudah tahu dan mengerti mengenai penis, tapi ia membiarkan hal itu terjadi karena ia memang sudah merasa sangat mabuk.

Memang banyak kemungkinan lainnya yang bisa terjadi dan ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lorenzo merasa malas untuk mencari tahu kemungkinan yang sebenarnya terjadi.

“Ah! Sudahlah! Biarkan saja mengenai apapun yang sebenarnya terjadi! Yang penting aku bisa have sex dengan Blanca sepuasnya tadi. Aku juga bisa have sex lagi dengan Blanca nanti bila aku mau.” ucapnya lagi dalam hati. Ia memang merasa ketagihan untuk have sex dengan Blanca lagi.

Setelahnya, ia berpikir. Bagaimana kalau Blanca tidak mau dan malah marah besar kepadanya? Bagaimana kalau Blanca membicarakan hal tersebut ke Trevor? Bagaimana kalau Trevor memberitahu ke orang tuanya?

Tentu masalahnya akan menjadi tambah besar dan ia pasti akan dimarahi oleh orang tuanya, Blanca, dan Trevor. Ia membayangkan apabila orang tuanya tidak mau membantunya lagi dalam proyek-proyeknya lagi. Perasaan takut tersebut mulai menghantui dirinya. Ia merasa sangat berdosa dan sangat bersalah dengan hal yang telah ia lakukan, tapi mau bagaimana lagi?

Ia telah melakukan hal itu dan ia juga telah setuju bahwa, ia akan menanggung semua risiko yang terjadi. Jadi apabila hal itu terjadi, seharusnya ia sudah siap. Begitu pikirnya. Tidak lama kemudian, ia telah sampai di dekat kawasan Siguiente Restaurant. Ia melihat sebuah restoran kecil dengan papan nama yang bertuliskan “Siguiente Restaurant”.

Di depan restoran tersebut terdapat halaman parkir yang luas. Di paling depan halaman parkir yang luas terdapat palang untuk mengambil tiket parkir. Ia langsung mengambil tiket parkir dan setelahnya palang terbuka. Ia langsung mengendarai mobilnya masuk ke halaman parkir.

Setelah di halaman parkir, ia langsung mencari tempat parkir yang kosong dan memarkirkan mobilnya. Setelah memarkirkan mobilnya, ia melepas seatbelt dan ia mencoba menenangkan dirinya dengan mengembuskan napasnya.

“Lorenzo, kamu sudah sampai sekarang. Tidak usah dipikirkan lagi sekarang! Pikirkan saja lagi nanti!” Ucapnya selanjutnya dalam hati berusaha menenangkan pikirannya.

Setelahnya, ia mencoba mengatur napasnya. Ia mencoba memasang senyum terbaik dan menyembunyikan semua ketakutannya. Ia menganggap bahwa, orang tuanya tidak tahu dan semua akan berjalan baik-baik saja. Baginya, jika dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya, tentu orang tuanya akan mengetahui hal yang terjadi.

Setelahnya, ia membuka pintu mobil dan pergi ke luar dari mobil. Setelah dia berada di luar mobil, ia langsung menutup pintu mobil. Lalu, ia berjalan ke dalam restoran melewati jembatan kayu dengan langkahnya yang tegap. Ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja agar orang tuanya tidak curiga dengan dirinya.

Setelah di dalam restoran laut, ia melihat ada pemandangan laut dengan berbagai ikan dan keindahannya di dinding tersebut. Di tempat tersebut ada empat baris tempat duduk. Setiap baris terdiri dari lima tempat duduk dan setiap tempat duduk dapat ditempati dua sampai empat orang. Di saat itu, hampir semua tempat tersebut diisi oleh customer. Banyak waiters dan waitress yang sedang membawakan makanan dan minuman yang dipesan para customers.

Matanya langsung mencari orang tuanya. Tidak lama kemudian, ia melihat seorang pasangan yang sudah beruban dan mengenakan kacamata baca duduk di kursi paling pojok kanan. Pasangan tersebut mirip dengan dirinya. Pria tersebut memiliki jenggot dan kumis tipis.

Rambutnya lurus pendek. Wanita tersebut memiliki rambut ikal yang pendek. Pakaiannya rapi, mewah, dan bermerek. Mereka adalah orang tua Lorenzo.

Lorenzo langsung berjalan ke arah orang tuanya. Di tengah Lorenzo berjalan, ayah Lorenzo sudah melihat kehadiran Lorenzo. Ia langsung mencolek Ibu Lorenzo dan memberitahu keberadaan anak mereka. “Sayang, itu anak kita!”

Ibu Lorenzo menatap ke arah ayah Lorenzo menatap dan tidak lama kemudian ia mendapati Lorenzo sedang berjalan ke arahnya. “Oh. Iya. Itu Lorenzo.”

Ibu Lorenzo langsung melambaikan tangan dan menyapa anaknya dengan hangat. “Hai, Lorenzo!”

“Hai!” Sapa Lorenzo kembali sembari ia berusaha berlari cepat ke arah orang tuanya. Setelah di dekat orang tuanya, ia langsung mengambil kursi yang terletak di depan Ibu Lorenzo dan duduk di kursi tersebut. Di saat itu, ayah Lorenzo langsung memanggil pelayan. "Pelayan!"

Tidak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka. "Ada apa?"

"Menu!" pinta ayah Lorenzo.

"Baik. Mohon ditunggu!" Tidak lama kemudian, pelayan pergi meninggalkan mereka dan mencari menu. Di saat itu, mereka mulai melakukan small talks.

"Bagaimana kabar hari ini?"

"Baik. Mama dan papa bagaimana?"

"Baik."

"Bisnis lancar, Lorenzo?"

"Lancar." Tidak lama kemudian, pelayan mencari menu dan membawakannya untuk mereka. Setelah di dekat mereka, pelayan langsung memberikan menu. "Ini menunya!"

Mereka langsung melihat menu makanan. Tidak lama kemudian, ayah Lorenzo menyebutkan minuman yang mau pesan. “Tiga teh manis hangat.”

“Satu udang bakar, satu lobster bakar,” pesan Ibu Lorenzo

‘Satu kerang lada hitam,” pesan Ibu Lorenzo lagi.

“Satu tenderloin steak dengan kentang goreng!” Pesanan Lorenzo yang membuat mata ayah Lorenzo dan ibu Lorenzo melotot ke arah Lorenzo. Setelahnya, mereka mengernyitkan dahi karena mereka merasa bingung.

“Kamu yakin? Di sini masakan dari makanan lautnya terkenal fresh dan enak-enak, loh! Biasanya kamu suka pesan ikan salmon atau ikan dori.” Ayah Lorenzo menanyakan keyakinan Lorenzo.

“Ya, tapi aku lagi enggak mood makan ikan,” komentar Lorenzo.

“Enggak mood, kenapa? Biasanya kamu mood.” Ibu Lorenzo merasa bingung, karena anknya tidak mood makan ikan salmon dan ikan dori yang merupakan ikan kesukaan anaknya.

“Saya pesan ikan dori fillet tepung satu,” ucap Ayah Lorenzo.

“Ada lagi?” Pelayan memastikan.

“Tidak ada.” Ayah Lorenzo menjawab tegas. Setelahnya, pelayan mengulang pesanan mereka dan meminta mereka menunggu. Lalu, pelayan pergi meninggalkan mereka. Di saat itu, mereka berbasa-basi membicarakan mengenai banyak hal.

"Lorenzo, kapan kamu bawa pacar kamu makan bareng ibu?" Pertanyaan Ibu Lorenzo yang membuat suasana terasa kikuk.

"Pacar saja aku belum punya. Nanti kalau aku sudah punya pacar, Mom, aku akan ajak dia makan bareng bersama mama dan papa." Lorenzo menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia merasa bingung.

"Yah!" Ibu Lorenzo merasa kecewa, karena anaknya belum juga punya pacar.

"Kenapa belum punya? Kamu sudah empat puluh tahun sekarang, tapi kamu belum punya juga. Padahal, kamu tampan. Teman-temanmu yang lebih jelek dan lebih miskin dari kamu sudah punya pacar." Ibu Lorenzo merasa bingung, karena menurutnya anaknya tampan, kaya, dan baik. Jadi mengapa tidak ada yang mau dengan anaknya?

"Ibu tahu, aku sibuk cari uang dan bisnis. Aku enggak punya waktu buat cari pacar." Memang selama ini Lorenzo sibuk untuk bekerja dan dia tidak pernah punya niat untuk menikah selain bersama Blanca, karena Lorenzo sangat mencintai Blanca. Bagi Lorenzo, lebih baik ia meninggal dalam kondisi jomblo dibandingkan ia menikah dengan wanita selain Blanca. Lorenzo sangat menginginkan Blanca menjadi cinta pertama dan terakhir Lorenzo.

“Ya, Sayang. Lorenzo memang sibuk bisnis dan cari uang. Sudahlah! Biarkan saja dia mengerjakan hal yang ia inginkan, Sayang!” Ayah Lorenzo berusaha agar Ibu Lorenzo mengakhiri topik perbincangan mengenai pacar Lorenzo.

“Tapi, Sayang, usia kita ini sudah tua …” Keluhan Ibu Lorenzo yang terpotong oleh ucapan Lorenzo, karena ia merasa tidak ada masalah yang sebenarnya terjadi.

“Terus, apa masalahnya? Bukannya meninggal dalam keadaan jomblo juga tidak masalah? Yang penting, aku kaya dan bisa membeli apapun dengan uangku, kan?” Lorenzo mengernyitkan dahi, karena ia tidak mengerti mengenai hal yang sebenarnya menjadi masalah.

Nada bicara Ibu Lorenzo langsung melemah, karena ia merasa ucapan anaknya dan suaminya memang betul. “Ya. Betul juga, tapi aku sangat mengharapkan cucu. Aku ingin bermain dengan cucuku sebelum aku meninggal. Darimu ataupun Trevor belum ada yang memberikanku cucu. Aku ingin salah satu dari kalian memberikanku cucu.”

“Sudahlah! Tidak usah pikirkan hal itu! Kita bisa bahagia berdua sebelum kita meninggal.” Ayah Lorenzo mencoba menghibur suasana hati Ibu Lorenzo. Setelahnya, Ayah Lorenzo langsung mengalihkan pembicaraan ke arah bisnis.

Tidak lama kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan pun datang ke dekat mereka. Setelahnya, pelayan menaruh makanan dan minuman tersebut di atas meja. Mereka langsung berterima kasih dan mulai menyantap makanan dan minuman tersebut. Sembari makan, Lorenzo memikirkan perkataan ibunya.

Memang dia dan orang tuanya sudah tidak muda lagi, tapi dia belum juga memiliki pacar ataupun keturunan. Apakah dia akan meninggal dalam kondisi sendirian? Entahlah! Dia tidak tahu.

Meskipun dia telah have sex dengan Blanca, tapi apakah Blanca mau menikah dengannya? Hal itu yang terus dipikirkan oleh Lorenzo. Belum lagi ia teringat dengan momen dirinya yang mengaku menjadi Trevor ke Blanca. Hal itu membuat muka Lorenzo tegang dan dirinya tambah panik, karena ia takut orang tuanya mengetahui hal yang terjadi.

“Lorenzo, kamu ada masalah apa?” Ayah Lorenzo merasa penasaran, karena melihat muka Lorenzo yang tegang.

“Masalah?” Lorenzo mengernyitkan dahi. Ia berpura-pura tidak tahu mengenai hal yang dibicarakan oleh ayahnya.

“Enggak ada masalah, kok, Dad.” Lorenzo menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia berusaha terlihat di depan orang tuanya bahwa, ia tidak memiliki masalah yang besar. Setelahnya ia berusaha untuk bersikap santai, tapi tetap saja ia tidak bisa.

“Terus, kenapa kamu kelihatan gugup banget? Enggak biasanya kamu kayak begini. Kamu lagi ada masalah?” Ayah Lorenzo menduga bahwa, ada masalah dalam hidup Lorenzo yang membuat Lorenzo menjadi sangat tegang.

“Enggak, kok, Dad. Enggak ada masalah apa-apa.”

“Sudah, Lorenzo! Bicara saja sama kita! Kita pasti akan bantu Lorenzo semaksimal yang kita bisa kayak dulu pas pembuatan Hotel Sans Siguiente, kamu pinjam tabungan ibu.” Ibu Lorenzo membujuk Lorenzo untuk membicarakan masalahnya kali itu.

Perkataan “Hotel Sans Siguiente” mengingatkannya terhadap momen have sex dirinya dengan Blanca. Tangannya langsung gemetar dan tidak lama kemudian pisau pun jatuh ke lantai. Dengan cepat, ia langsung mengambil pisau. Ia berusaha agar orang tuanya tidak tahu mengenai masalah yang sebenarnya terjadi, tapi Ibu Lorenzo langsung berkata. “Sudah, Lorenzo! Biarkan saja! Pisau itu sudah jatuh ke lantai.”

“Enggak usah, Bu. Enggak apa-apa,” bantah Lorenzo sembari mengambil pisau yang telah terjatuh.

Ibu Lorenzo langsung memanggil pelayan. “Pelayan!”

Tidak lama kemudian, pelayan datang ke arahnya. Setelah di dekat Ibu Lorenzo, ia langsung bertanya, “Ada apa, Bu?”

“Tolong ambilkan pisau baru untuk steak!” perintah Ibu Lorenzo.

“Pisau yang itu jatuh tadi di lantai.” Ibu Lorenzo menunjuk ke arah pisau yang dipegang Lorenzo. Hal itu membuat pelayan langsung melihat ke arah pisau yang dipegang Lorenzo.

“Baik.” Tidak lama kemudian, pelayan pergi meninggalkan mereka dan mereka menunggu beberapa saat hingga pelayan mendatangi mereka dan membawa pisau untuk steak yang baru. Setelahnya, pelayan mengambil pisau yang telah jatuh.

“Terus, kenapa kamu makan steak sampai jatuh seperti itu? Dari kamu kecil, kamu enggak pernah makan steak sampai seperti itu. Kamu pasti ada masalah besar.” Perkataan Ibu Lorenzo yang memaksa Lorenzo untuk menjelaskan alasannya, tapi ia memilih untuk diam.

“Sudah! Bicara saja!” Ibu Lorenzo mencoba membujuk Lorenzo lagi.

“Masalah kompetitor?” Ayah Lorenzo menebak mengenai masalah yang terjadi kepada Lorenzo.

“Enggak ada kalau masalah itu, Dad.”

“Masalah uang?” Ayah Lorenzo menebak lagi. Ia mencoba mengingat-ingat mengenai masalah keuangan yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak lama kemudian, ia teringat bahwa, ia membutuhkan dana yang sangat besar untuk pembuatan Hotel Sans Cielo, hotel cloudtop pertama yang akan diluncurkan di kotanya.

Sans Group dan Vargas Group sedang berebut hati para investor untuk menginvestasikan uang mereka di proyek hotel yang akan mereka buat. Di saat itu, Lorenzo langsung menganggukkan kepalanya dan setelahnya ia mengakui mengenai masalah tersebut. “Ya, Dad. Aku ada masalah itu.”

“Kenapa, Sayang? Biasanya kamu enggak ada masalah kalau tentang uang.” Ibu Lorenzo mengernyitkan dahi, karena ia merasa bingung. Baginya, Lorenzo adalah orang yang pandai mengatur keuangan. Jadi seharusnya masalah keuangan itu tidak ada, tapi mengapa Lorenzo memiliki masalah keuangan saat itu? Itulah yang membuatnya bingung.

Setelahnya, Lorenzo menjelaskan mengenai masalah keuangannya dan orang tua Lorenzo memerhatikan dengan saksama. Setelah Lorenzo menjelaskan, Ayah Lorenzo langsung paham dengan masalah Lorenzo. “Oh. Masalah uang untuk proyek. Butuh berapa?”

Lorenzo menyebutkan jumlah uang yang ia butuhkan lagi dan proyek dari bisnisnya secara detail. Setelahnya, ia berkata, “Ya. Memang, modal dari proyek ini tidak kecil dan kita lagi butuh investor akhir-akhir ini. Mungkin ayah dan ibu tertarik.”

“Oh. Kalau begitu, ayah langsung transfer saja!” Tidak lama kemudian, ayah Lorenzo mengambil teleponnya. Setelahnya, ia mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Lorenzo. Setelah mentransfer, ia memberitahu Lorenzo. “Sudah ditransfer!”

Lorenzo langsung mengambil teleponnya. Setelahnya, ia mengecek saldo di rekeningnya dan setelahnya ia mendapati saldonya telah bertambah. “Terima kasih, Ayah!”

“Sama-sama, Sayang. Kalau ada masalah, bilang saja! Enggak usah diam begitu. Ayah dan ibu pasti bantu kamu.”

“Ya, Yah.” Lorenzo menganggukkan kepalanya. Setelahnya, mereka lanjut menyantap makan malam saat itu bersama orang tuanya sembari mereka berbincang-bincang mengenai keseharian mereka saat itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel