Bab 5. Hari Keberuntungan Lorenzo
Tidak lama kemudian, makan malam pun berakhir. Lorenzo langsung izin pergi meninggalkan orang tuanya. “Mom, Dad, aku izin pulang dulu!”
“Oke, Sayang. Sampai bertemu nanti!” Setelahnya, ibu Lorenzo memeluk anaknya dengan hangat. Lalu, Ibu Lorenzo mencium dua pipi Lorenzo dan Lorenzo pun membalas ciuman tersebut ke dua pipi Ibu Lorenzo. Setelahnya, ayah Lorenzo memberikan pelukan yang hangat untuk anaknya. Lalu, Lorenzo pergi meninggalkan tempat tersebut ke halaman parkir.
Sesampainya di halaman parkir, ia langsung berjalan ke mobilnya. Setelah di dekat mobilnya, ia langsung membuka pintu mobil dan masuk. Lalu, ia menutup pintu mobil dan mengenakan seatbelt. Setelahnya, ia menggunakan fitur kemudi autopilot untuk mengantarkannya ke hotel, karena ia merasa sangat lelah hari itu dan ia takut dirinya tidak akan fokus mengendarai yang dapat menyebabkan ia tidak akan sampai dengan aman ke tujuannya.
Sesekali ia memerhatikan arah mobilnya mengemudi, karena mungkin saja mobilnya salah mengemudi. Setelah tiga puluh menit, ia telah sampai di depan Hotel Sans Siguiente. Ia langsung mengendarai mobilnya ke halaman parkir pribadi. Setelah di halaman parkir, ia melihat ada dua puluh koleksi mobil mewah miliknya.
Ia langsung mencari tempat yang kosong untuk memarkirkan mobil hitamnya. Setelah ia memarkirkan mobil hitamnya, ia langsung melepas seatbelt sembari ia membuka pintu mobil. Lalu, ia berjalan ke luar dari pintu mobil. Setelah di luar, ia langsung menutup pintu mobil dan setelahnya ia berjalan ke his private lift.
Di depan private lift, ia langsung memencet tombol ke bawah dan tidak lama kemudian lift pun terbuka. Di saat itu, ia langsung masuk ke dalam lift. Di dalam lift, ia langsung memencet tombol “7” untuk mengantarkannya ke lantai tujuh. Ia menunggu beberapa saat sembari ia membaringkan badannya ke lift, karena ia merasa sangat lelah hari itu.
Ia tidak menyangka jika hari itu ia akan berjalan dengan kesenangan, kecemasan, ketakutan, dan hal-hal lainnya yang tidak pernah ia duga akan terjadi dalam hidupnya. Hal yang menjadi kesenangannya karena ia dapat have sex dengan Blanca saat itu. Selain itu, ayahnya membantu dirinya menginvestasikan uang untuk proyek Hotel Sans Cielo. Padahal, saat siang ia sempat berpikir untuk menggagalkan rencana proyek tersebut karena komisaris dan investor terkesan tidak tertarik dengan proyek rancangannya saat rapat dan mereka tidak mau memberikannya bantuan dana.
Meskipun ada yang memberikan bantuan dana, tapi hanya dua orang investor dalam jumlah dana yang tidak terlalu besar. Ia sempat berkata ke Roberto setelah rapat usai. “Roberto, sepertinya proyek ini kita gagalkan saja!”
Mendengar hal tersebut, mata Roberto langsung melotot karena ia merasa sangat kaget. Ia juga langsung mengernyitkan dahi, karena ia merasa bingung. Selama Roberto bekerja dengan Lorenzo, baru kali itu Lorenzo memintanya untuk mengatakan bahwa, sepertinya proyek dan rencananya akan digagalkan. “Kenapa memangnya, Sr.?”
“Rancanganmu dan idemu itu bagus. Kita menjadi pionir pertama hotel cloudtop di kota ini. Belum ada saingan hotel cloudtop di kota ini artinya kita bisa menarik minat pengunjung lebih banyak. Tidak ada yang salah dari rancangan dan idemu. Jadi mengapa harus dibatalkan?” Roberto memang merasa sangat penasaran dengan alasan Lorenzo berencana untuk menggagalkan proyeknya begitu saja.
Mendengar perkataan Roberto, ia langsung memutar kedua bola matanya karena ia merasa malas. “Tetapi meskipun begitu, kau tahu bahwa, semuanya perlu uang, kan?”
Memang, idenya dan rencananya bagus. Tetapi kalau tidak ada uang, semuanya akan sia-sia. Dan malam itu, tidak disangka-sangka bahwa, ayah Lorenzo akan membantu Lorenzo. Ia merasa bahwa, hari itu adalah hari keberuntungannya.
Tidak lama kemudian, teleponnya berbunyi keras yang menandakan ada notifikasi penting. Ia langsung mengambil teleponnya dan setelahnya ia mendapati ada banyak pesan. Salah satunya adalah pesan penting dari Roberto. “Sr., proyek Hotel Sans Cielo ini sudah pasti dibatalkan, kan?”
Saat itu, ia baru tersadar bahwa, ia belum memberitahu Roberto mengenai ayahnya yang membantu mengeluarkan uang dalam proyek tersebut. Ia langsung membalas pesan Roberto. “Tidak. Proyeknya enggak jadi dibatalkan.”
“Terus, uangnya dari mana?” Roberto merasa bingung.
“Tadi ayahku memberikan uangnya untuk investasi di Hotel Sans Cielo. Uangnya cukup. Jadi, kita bisa menjalani proyek ini.” Lorenzo menjelaskan ke Roberto. Mendapat balasan tersebut, Roberto langsung megembuskan napasnya karena ia merasa tenang dan senang proyek tersebut tidak jadi dibatalkan.
“Turut senang mendengarnya!”
“Terima kasih, Roberto!” Lorenzo langsung berterima kasih.
“Sama-sama.” Tidak lama kemudian, lift pun terbuka karena lift telah sampai di lantai tujuh. Ia langsung berjalan ke luar dari lift ke kamarnya. Setelah ia sampai di depan kamarnya, ia langsung membuka pintu kamar dengan perlahan karena mungkin saja Blanca sedang tertidur saat itu.
Ia tidak ingin mengganggu Blanca hingga membangunkan Blanca karena ia membuka pintu terlalu keras. Ia ingin membiarkan Blanca tertidur lelap di kamarnya. Kalau ia membuka pintu dengan pelan-pelan, mungkin saja ia bisa melanjutkan have sex dengan Blanca malam itu hingga pagi hari. Ia langsung berharap dalam hati agar Blanca masih tertidur lelap di kamarnya.
“Semoga saja Blanca masih tertidur! Jadi besok aku bisa have sex lagi dengannya,” gumamnya.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Lorenzo langsung menyalakan lampu dan tidak lama kemudian ia mendapati Blanca yang sudah tidak berada di kamar Lorenzo. Ia hanya mendapati tempat tidur di hadapannya dengan chandelier di atas dinding. Lorenzo langsung menundukkan kepalanya karena ia merasa sedih.
“Yah, dia sudah tidak ada di kamarku. Dia sudah pulang. Ya sudah! Mau bagaimana lagi?” keluhnya dalam hati.
Setelahnya, ia berjalan ke ruang keluarga. Sesampainya di ruang keluarga, ia melihat di sisi kiri ada satu sofa panjang. Ia langsung membaringkan badannya di sofa tersebut. Di hadapannya ada meja kayu yang panjang. Di atas meja kayu tersebut terdapat remote AC, remote TV, rak yang berisi minuman. Di sisi paling depan dari posisinya ada meja yang panjang dengan televisi di atas meja tersebut.
Televisi tersebut menghadap ke arah sofa. Di tembok sebelah kanan terdapat AC. Di atas terdapat chandelier. Ia langsung menyalakan chandelier dan AC. Tidak lama kemudian, ia merasakan suhu sejuk dan lebih dingin dari sebelumnya.
Setelahnya, ia mengambil teleponnya dan melihat banyak isi pesan yang ada di teleponnya. Ia langsung membuka dan membaca satu per satu pesan mulai dari pesan Blanca. Saat membaca pesan Blanca, pipinya langsung memerah karena ia merasa bahwa, ia telah berhasil menaklukkan perasaan Blanca. Hal itu yang membuatnya langsung tersenyum lebar dan seolah kelelahan yang ia rasakan saat itu hilang seketika.
“Ah! Rupanya dia mulai ketagihan untuk have sex denganku. Aku benar-benar tidak menyangka, jika dia akan ketagihan untuk have sex denganku lagi dan trikku berhasil.” gumam Lorenzo dalam hati.
Setelahnya, ia membalas pesan Blanca. “Ya. Aku harap juga kita bisa have sex lagi nanti secepatnya, Mi amor!”
Tidak lupa, ia memberikan emoticon cinta untuk Blanca. Ia langsung berkhayal bahwa, ia akan have sex lagi dengan Blanca esok hari menggunakan berbagai gaya yang akan ia coba. Sebelum ia have sex dengan Blanca esok, ia harus mencari gaya-gaya baru yang menggairahkan agar Blanca semakin bersemangat untuk have sex dengan Lorenzo di ranjang esok. Ia hendak mencari referensi gaya di ranjang, tapi ia langsung berpikir bahwa, masih banyak gaya di ranjang yang belum ia coba hari itu dan dapat ia coba esok.
Di saat itu, ia merasa panas. Ia langsung membuka dua kancing kemejanya dan setelahnya ia diam sesaat, tapi tubuhnya masih saja terasa panas.
“Ah! Kenapa panas terus?” Ia langsung mengeluh dan mengambil remote AC. Setelahnya ia melihat remote AC menunjukkan suhu 18 derajat celcius.
Seharusnya, ia sudah tidak merasakan kepanasan, tapi entah mengapa tubuhnya malah merasa kepanasan. Ia langsung membuka semua kancing kemejanya dan setelahnya ia merasa dingin. Di saat itu, tiba-tiba saja teleponnya terus berdering keras yang menandakan ada banyak notifikasi penting.
Ia langsung mengeluh dalam hati. “Aduh! Ada notifikasi apa lagi? Ini sudah jam setengah sepuluh malam.”
“Tapi memang begitu pekerjaan CEO. Selalu diganggu saat istirahat kalau ada hal-hal yang sangat penting,” gumamnya dalam hati. Memang begitulah pekerjaan CEO. Ia harus bisa memaklumi itu, karena itu adalah pekerjaannya.
Setelahnya, Lorenzo mengembuskan napasnya dan mencoba menenangkan pikirannya agar ia tidak merasa kesal dan bisa berpikiran tenang. Setelah Lorenzo merasa tenang, ia langsung melihat pesan-pesan tersebut yang ternyata dari Roberto. Lorenzo melihat banyak file yang telah dikirimkan oleh Roberto kepadanya.
Di akhir pesan, Roberto mengirimkan pesan. “Maaf mengganggu waktunya, Sr.! Saya perlu tanda tangan segera atas dokumen-dokumen itu dari Sr.”
Lorenzo langsung mengunduh folder-folder tersebut dan setelahnya ia membuka file-file tersebut satu per satu. File-file tersebut berisi banyak halaman di dalamnya. Ia langsung membalas pesan Roberto dengan keluhan.
“Aduh, Roberto! Apa tidak bisa dikerjakan esok pagi saja? Saya sudah minta kepadamu untuk mengosongkan jadwal saya dari jam delapan malam, karena saya ingin istirahat. Saya merasa sangat lelah akhir-akhir ini," keluhnya.
“Bisa, tapi ini urgent. Ini mengenai proyek kita!” keluh Roberto.
“Bagaimana kalau besok saya cek semua file itu dan saya akan tanda tangani sebelum jam sepuluh pagi? Apa bisa?” Lorenzo memberikan penawaran kepada Roberto.
“Bisa, Tuan.” Roberto langsung membalas pesan Lorenzo.
“Baik. Terima kasih! Selamat malam!” Lorenzo langsung memberikan salam yang mengakhiri pesan tersebut.
“Baik. Selamat malam!” balas Roberto.
