Bab 3. Maafkan Aku! (R21)
“Kita sudah sampai di depan hotel, Sayang!” Lorenzo menjelaskan kepada Blanca saat mereka telah sampai di depan hotel dan ia langsung mengambil tiket parkir. Lalu, ia mengendarai ke halaman parkir yang terletak di lantai bawah. Setelah sampai di sana, ia langsung mencari halaman parkir yang kosong dan memarkirkan mobilnya.
Setelahnya, mereka membuka pintu dan ke luar dari mobil. Tidak lupa, mereka juga membawa pakaian mereka. Lalu, mereka menutup pintu mobil dan pergi ke lift terdekat yang ada di halaman parkir. Setelah di depan lift, Lorenzo langsung memencet tombol ke bawah.
Tidak lama kemudian, lift terbuka dan mereka langsung masuk ke dalam lift. Setelahnya, mereka memencet tombol G dan lift mulai mengantarkan mereka di lantai G. Muka Blanca langsung tegang, karena ia merasa sangat tidak sabar untuk segera pergi ke kamar hotel. Ia terus menerus melihat ke arah informasi lantai lift telah sampai.
Di saat itu, Lorenzo langsung memeluk Blanca dari belakang, memasukkan penisnya ke lubang Blanca, dan mencium leher Blanca dengan lembut. “Ah, Sayang! Kamu hot sekali! Tidak biasanya kamu seperti ini.”
“Seperti aku bilang, Sayang, aku merindukan untuk have sex denganmu.” Tangan Lorenzo langsung berjalan ke payudara Blanca perlahan-lahan. Setelahnya, ia memainkan payudara Blanca semaunya dengan meremas-remas, meraba-raba, memijat-mijat, y otros. Hal tersebut membuat Blanca tidak berhenti berdesah dan lubang Blanca mengeluarkan cairan terus-menerus, karena ia merasa sangat enak. “Ah! Ah!”
Tidak lama kemudian, lift pun terbuka. Mereka langsung pergi ke luar dari lift dengan posisi seperti itu dan melihat di depan mereka ada ruang resepsionis. Setelahnya, Blanca meminta untuk berganti posisi. “Sayang, aku ingin duduk.”
Lorenzo langsung melebarkan pahanya dan Blanca langsung loncat. Setelahnya, lubang Blanca langsung terpenuhi dengan penis Lorenzo dan ia duduk. Lorenzo langsung membawanya. Sesampainya di ruang resepsionis, mereka langsung disapa ramah oleh salah seorang resepsionis.
“Permisi, Pak! Ada yang bisa saya bantu?”
“Mau minta kunci kamar ruangan 702 yang sudah saya pesan.” Resepsionis yang mengenali wajah Lorenzo langsung paham, kalau itu ruangan kamar Lorenzo. Ia langsung mengambil kunci dan memberikannya ke Lorenzo. Lorenzo langsung menerima kunci tersebut dan masuk lagi ke dalam lift.
Setelahnya, ia memencet tombol lantai dan lift langsung terbuka. Mereka langsung masuk ke dalam lift dan Lorenzo langsung memencet tombol di lantai tujuh. Di saat itu, Blanca langsung mengernyitkan dahi dan bertanya, “Sayang, kamu sudah pesan?”
“Sudah.” Lorenzo menjawab dengan singkat.
“Kapan?” Blanca merasa bingung, karena selama ia bersama dengan Lorenzo, ia tidak melihat Lorenzo mengambil teleponnya untuk memesan kamar hotel.
“Sebelum aku jemput kamu.” Lorenzo menjawab dengan asal. Setelahnya, Blanca menanyakan lagi hal yang membuatnya rasa bingung. “Sayang, kok kamu enggak kasih bukti ke mereka kalau kamu sudah pesan?”
“Buat apa? Mereka sudah tahu.” Jawaban Lorenzo yang merasa bingung.
“Bagaimana mereka tahu?” Blanca merasa sangat penasaran. Lorenzo langsung mencium bibir Blanca agar Blanca berhenti bertanya, karena ia merasa sangat malas untuk menjawab pertanyaan Blanca. Blanca mencoba untuk berkata, tapi Lorenzo malah mencium bibir Blanca lebih hangat yang membuat konsentrasinya teralihkan.
Tidak lama kemudian, lift pun terbuka. Lorenzo langsung berjalan ke luar dari lift dengan posisinya. Sesampainya di ruang 702, Lorenzo langsung masuk ke dalam kamar. Mereka langsung menaruh pakaiannya di hanger dekat kamar dan Lorenzo menutup pintu kamar dengan punggungnya.
Mata Blanca langsung melihat sekeliling kamar tersebut. Ia melihat ada empat sofa mewah dan satu meja di depannya. Ada lampu chandelier di dinding. Setelahnya, Blanca turun.
Ia ingin mengetahui fasilitas-fasilitas yang ada di ruangan tersebut. Di saat itu, Lorenzo langsung memasukkan penisnya ke lubang Blanca dan menaruh Blanca di dekat tembok yang membuat badan Blanca menempel ke tembok. Hal itu membuat Blanca tidak bisa lari darinya. Setelah ia perhatikan, ia merasa banyak ruangan di kamar tersebut dan fasilitas-fasilitas kamar tersebut sangat mewah seperti kamar president suite yang membuatnya ia merasa bahwa, ia salah kamar.
“Sayang, kamu yakin kamar kita yang ini? Kita enggak salah kamar, kan?” Lorenzo langsung mencium bibir Blanca dan setelahnya ia memerintahkan Blanca untuk diam. “Diam!”
Blanca langsung terdiam, karena ia merasa takut jika pria yang ada di sampingnya akan marah besar kepadanya dan memberinya hukuman fisik berupa pukulan, tendangan, tamparan, dan lain-lain. Memang Trevor selalu memberinya hukuman fisik, apabila Trevor merasa diganggu dan imajinasi liarnya tidak bisa tersalurkan. Hal itu membuat ia hanya bisa menuruti keinginan Lorenzo. Tidak lama kemudian, ia menjilati leher Lorenzo dengan hangat.
Lorenzo langsung menggoyang-goyangkan pinggangnya dan memasukkan penisnya maju mundur. Ia langsung memeluk Blanca dengan hangat. Setelahnya, ia menjilat-jilat payudara dan puting Blanca. Telapak tangan kanannya meremas-remas payudara Blanca.
Tidak lama kemudian, ia merasa sangat pusing. Ia langsung menggigit-gigit puting Blanca dengan lembut. Telapak tangan kanannya langsung mencubit-cubit dan menarik-narik payudara Blanca dengan keras. Jari telunjuk kirinya langsung berjalan ke Blanca's asshole dan menusuk-nusuk Blanca's asshole yang masih rapat karena Trevor tidak pernah mau untuk have sex dengan menggunakan Blanca's asshole.
Hal itu membuat Blanca terus-menerus berdesah. “Ah! Ah! Great! I love it!”
Lorenzo merasa semakin bersemangat. Tidak lama kemudian, penisnya mengeras. Ia langsung meminta maaf kepada Blanca sembari ia memajumundurkan penisnya terus menerus, karena ia tidak tega memperlakukan Blanca dengan keras. “Maafkan aku! Aku tahu, ini akan sakit. Tetapi, aku tidak tahan, Sayang!”
Tidak lama kemudian, penis Lorenzo muntah di dalam lubang Blanca. Ia langsung membuka pintu hotel dan memberikannya uang. Ia berniat untuk pergi meninggalkan Blanca, karena ia tidak tega telah berkencan dengan Blanca dan membohongi Blanca bahwa, ia adalah Lorenzo. Ia merasa bahwa, ia sangat berdosa.
Karena itu, ia langsung mencari uang dan memberikannya ke Blanca dengan harapan Blanca tidak akan menceritakan mengenai kejadian tersebut kepada siapapun. “Ini uang untukmu! Terima kasih sudah memuaskanku! Tolong jangan beritahu hal ini kepada siapapun!”
“Tentu, Sayang! Terima kasih!” Mata Blanca langsung berbinar-binar, karena ia merasa sangat senang.
Lorenzo langsung mengambil bajunya dan hendak mengenakan pakaian tersebut, tapi Blanca langsung memegang tangan Lorenzo. “Kamu mau udahan, Sayang? Kamu sudah puas sekali saja denganku?”
Mendengar hal tersebut, ia merasa sangat berdosa karena ia tidak mengakui siapa dirinya. Ia langsung meminta maaf kepada Blanca. “Maafkan aku! Sebenarnya, aku Lorenzo. Bukan Trevor. Aku sangat ingin imajinasi gilaku menjadi nyata. Terima kasih telah melayaniku!”
“Tidak apa-apa, Sayang. Ayo kita lanjutkan!” Blanca merasa sangat mabuk saat itu. Ia masih berharap Lorenzo memasukkan penisnya dua atau tiga kali lagi atau lebih. Perkataan Blanca dan tatapan Blanca yang seperti sangat merindukan have sex langsung membuat hati Lorenzo luluh.
Lorenzo langsung menggantungkan pakaiannya lagi. Setelahnya, mereka have sex dengan berbagai gaya yang Lorenzo impikan seperti: gaya anjing, gaya lotus, cowgirl, y otros. Mereka melakukannya di berbagai tempat. Terakhir mereka mencoba di tempat tidur, karena merasa sangat lemas.
Blanca merasakan sensasi baru yang tidak pernah ia coba sebelumnya dengan Trevor. Setelah mereka merasa sangat kelelahan, Blanca langsung tertidur di tempat tidur. Di saat itu, ia langsung pergi ke kamar mandi. Setelahnya, ia mandi menggunakan shower dan mengenakan pakaiannya lagi dengan cepat, karena ia berniat untuk cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.
Ia langsung menaruh amplop yang telah ia siapkan kemarin di samping Blanca. Setelahnya, ia mencium kening Blanca. “Selamat tidur, Sayang! Semoga mimpimu indah hari ini!”
Tidak lama kemudian, Lorenzo pergi meninggalkan tempat tersebut. Saat Blanca terbangun, ia tidak melihat ada siapapun di ruangan tersebut. Matanya langsung melotot dan ia hampir meloncat, karena ia merasa sangat kaget saat bangun ia berada di tempat yang mewah. Ia merasa sangat bingung mengenai keberadaan dirinya.
“Di mana aku? Tidak biasanya aku berada di tempat semewah ini.” Ia langsung melihat ke sisi tempat tidur dan ia menemukan sebuah amplop putih. Ia langsung mengambil amplop tersebut dan ia melihat isi amplop tersebut. Ada uang, kartu nama Sans Lorenzo, dan kertas.
“Uang, kartu nama Sans Lorenzo, dan kertas? Untuk apa?” Blanca merasa sangat bingung. Ia benar-benar tidak ada ide. Ia langsung mengambil surat tersebut dan membaca isi surat tersebut.
“Terima kasih aku telah have sex denganmu! Itu ada uang untukmu! Mohon jangan beritahu siapapun tentang hubungan kita! Maaf aku telah mengajakmu have sex! Aku merasa tidak kuat untuk menahan nafsuku lagi. Jika memang kamu mencintaiku dan kamu ingin have sex lagi denganku, kamu bisa menghubungi nomorku yang ada di kartu nama.”
Blanca langsung melihat ke kartu nama dan setelahnya ia mendapatkan nomor telepon Sans Lorenzo. Ia langsung menyimpan nomor Sans Lorenzo di teleponnya. Ia berniat untuk menghubungi Lorenzo lagi nanti, karena ia mulai jatuh cinta dan ia merasa sangat tergila-gila dengan gaya seks Lorenzo yang sangat memuaskan dibandingkan dengan pacarnya. Tetapi, sesaat kemudian ia merasa ragu. Ia merasa sangat ingin menghubungi Lorenzo saat itu juga.
Karena itu, ia langsung menghubungi Lorenzo. “Tidak apa-apa, Sayang! Terima kasih juga untuk uang dan kesempatan have sex denganmu! Aku senang bisa have sex denganmu. Semoga kita bisa have sex lagi nanti!”
Setelahnya, ia mengenakan pakaiannya dan pergi meninggalkan kamar tersebut.
