
Ringkasan
Blanca Rivera (seorang mahasiswi yang cantik dan seksi yang biasa dipanggil Rivera) selalu menolak ajakan Sans Lorenzo (multimillionaire tampan biasa dipanggil Lorenzo) untuk have sex, karena ia sangat mencintai Trevor Yero (pacar Blanca dan adik Lorenzo yang biasa dipanggil Trevor) dan tidak ingin berselingkuh dari Trevor. Sementara itu, Lorenzo yang memiliki fantasi gila untuk have sex dengan Blanca sangat tergila-gila dengan fantasinya dan ia menginginkan fantasinya menjadi nyata. Lorenzo sering merasa iri dengan Trevor yang dapat have sex dengan Blanca kapanpun Trevor mau. Lorenzo bertekad untuk membuat khayalannya menjadi nyata. Akankah khayalannya menjadi nyata?
Bab 1. Mengajak Blanca Have Sex
Bel telah berbunyi yang menandakan kelas telah selesai. Seperti biasa, para mahasiswa langsung pergi ke luar dari kelasnya dengan bersemangat. Begitu pun dengan Blanca Rivera yang biasa dipanggil Blanca. Ia adalah seorang mahasiswi yang tergolong cantik di Universidad De La Hoja, karena matanya sipit dengan kedua irisnya yang berwarna hitam, badannya yang seksi, hidungnya mancung, bibirnya yang tipis, dan rambutnya yang panjang sedada berwarna cokelat.
Saat itu, memang Blanca sangat tidak sabar untuk bertemu dengan pacarnya yang bersekolah di satu universitas dengannya yaitu Trevor Yero yang biasa dipanggil Trevor. Setelah kelas selesai, badan wanita tersebut mencoba untuk menyelinap di antara keramaian para mahasiswi yang ingin pergi ke luar dari kelas. Untungnya, badan wanita tersebut tidak terlalu gemuk sehingga ia bisa menyelinap di antara keramaian. Setelah di luar kelas, wanita tersebut langsung melangkahkan kakinya ke luar kelas sembari ia melihat kelas Trevor yang berada di samping kelasnya dengan matanya yang indah. Rambutnya tertiup dengan angin yang kencang.
“Ah! Masih ada dosen.” Blanca mengeluh, karena ia melihat seorang dosen masih mengajar di kelas Trevor. Dengan terpaksa, ia harus duduk di bangku panjang yang berada di depan kelasnya. Setelahnya, ia mengambil buku tugasnya dan penanya. Lalu, ia mengerjakan tugas sembari matanya yang sipit dengan kedua irisnya yang berwarna hitam menatap ke kelas Trevor dengan harapan kelas Trevor segera berakhir.
Di saat ia menunggu, tiba-tiba ia melihat seorang pria berpakaian rapi dan mewah berjalan ke arahnya. Pria itu bertubuh kekar. Ia memiliki mata yang sipit dengan kedua irisnya yang berwarna cokelat, alis yang tebal, rambut yang hitam, dan hidung yang mancung. Pria itu adalah Sans Lorenzo yang biasa dipanggil Lorenzo.
Dia adalah kakak Trevor dan CEO perusahaan Sans Group, sebuah perusahaan makanan yang menghasilkan banyak restoran ternama dengan kualitas terbaik di dunia. Dari kejauhan, wajah cowok tersebut terlihat sangat tegang dan sangat serius. Tidak ada senyum sama sekali di wajahnya.
Ia melangkah dengan cepat dan terburu-buru sembari matanya mencari Blanca, karena ia ingin menemui Blanca hari itu dan mengajaknya have sex. Ia takut Blanca telah pulang. Jika Blanca telah pulang, maka rencananya untuk mengajak Blanca have sex hari itu otomatis gagal. Ia memang sangat ingin have sex dengan Blanca, karena Blanca adalah gadis cantik yang memesona dan misterius baginya.
Di saat semua orang bercita-cita untuk menjadi pacarnya atau setidaknya dapat berkencan dengan dirinya, Blanca justru menolak ajakan Lorenzo. Itulah yang membuat Blanca terkesan misterius dan menarik bagi Lorenzo. Karena itu, saat melihat Blanca sedang duduk sendirian, senyum Lorenzo muncul kembali. Tidak lama kemudian, ia telah sampai di dekat Blanca. Ia langsung duduk di dekat Blanca sembari menyapa Blanca dengan ramah. “Hai, Blanca!”
“Hai!” Jawaban Blanca dengan tegas, tapi tetap sopan. Matanya langsung melirik ke kiri dan ke kanan, karena ia berharap seseorang mengajaknya pergi dari Lorenzo atau seseorang mengajak Lorenzo pergi darinya. Hal ini karena ia merasa sangat malas untuk bertemu dengan Lorenzo yang selalu mengajak Blanca have sex dari enam bulan yang lalu. Bagi Blanca, seharusnya Lorenzo sudah sadar diri bahwa, ia tidak akan pernah berselingkuh dengannya di belakang Trevor ataupun berkencan dengan dirinya, tapi tetap saja Lorenzo bersikap seperti itu.
“Sendirian saja?”
“To the point, please!” Blanca berkata dengan tegas sembari ia memandang ke arah buku, karena ia malas dengan sikap Lorenzo yang malah memulai percakapan dengan small talks.
"Berapa harga semalam denganmu?" Lorenzo langsung menanyakan ke intinya dengan tegas.
“Maksudmu?” Blanca mengernyitkan dahi, karena ia merasa bingung dan tidak mengerti maksud perkataan Lorenzo. Mendapatkan pertanyaan dari Blanca, Lorenzo langsung mengembuskan napasnya dengan berat dan setelahnya ia memutar kedua bola matanya karena ia malas untuk menjelaskan hal yang dimaksudnya ke Blanca.
“Ah! Jangan berpura-pura tidak mengerti! Kamu pasti paham maksudku.” Lorenzo merasa sangat yakin, jika Blanca memang sangat paham dan hanya berpura-pura tidak mengerti saja.
Setelahnya, ia menyengir sembari berkata dalam hati, “Entah apa tujuan anak itu berpura-pura tidak mengerti. Mungkin dia berpura-pura tidak mengerti agar dirinya dihargai mahal. Padahal, kalau dia menyebutkan harga semahal apapun itu, aku pasti akan membayarnya asal aku bisa have sex dengannya.”
“Ya. Berapa harga semalam denganmu? Sebutkan saja! Aku akan membayarnya asal aku bisa have sex denganmu.” Lorenzo mengulang kalimatnya lagi dan meminta Blanca untuk menyebutkan harganya. Perkataan Lorenzo.
Mata Blanca langsung melotot dan jantungnya yang berdetak dengan kencang saat ia mendapatkan penawaran dari Lorenzo, karena ia merasa sangat kaget dan sangat tidak menyangka jika Lorenzo akan melakukan hal yang sangat gila seperti itu. Blanca merasa sangat kesal, karena ia merasa seperti dilecehkan oleh Lorenzo. Mukanya langsung merah padam. Blanca juga langsung mengangkat tangannya. Ia bersiap untuk memberikan sebuah tamparan kencang di pipi Lorenzo, tapi tangan kanan Lorenzo langsung menangkap tangan Blanca dan malah memegang tangan Blanca. Setelahnya, Lorenzo mengarahkan tangan Blanca ke penisnya. “Besar, kan? Ini sehat!”
“Ayo setuju saja untuk have sex denganku! Sebut saja berapa nominalnya, aku pasti akan bayar! Atau sebut saja apa keinginanmu, aku akan memberikannya untukmu.” Lorenzo merayu Blanca sembari tangan kirinya membuka kancing kemeja hitamnya satu per satu. Ia memang berniat untuk telanjang di depan Blanca saat itu. Ia merasa bahwa, dirinya tidak bersalah dan tidak malu apabila ia telanjang saat itu karena memang saat itu suasana sedang sepi dan banyak mahasiswa yang sudah pulang.
“Panas juga aku melihatmu! Aku sudah sangat tidak tahan untuk have sex denganmu, Blanca. Memang, aku sudah menyimpan hasrat ini untuk waktu yang sangat lama. Jadi mohon kabulkan permintaanku!” rengeknya.
Memang, sudah dua tahun Lorenzo menahan hasratnya untuk berkencan dengan Blanca. Dua tahun adalah waktu yang sangat lama bagi Lorenzo. Biasanya, kapanpun ia mau have sex dengan wanita siapapun, ia bisa langsung membayar wanita tersebut dan tidak lama kemudian mereka akan have sex. Tidak seperti dengan Blanca yang malah menolak untuk have sex dengan Lorenzo terus-menerus.
Lorenzo tahu bahwa, Blanca adalah orang yang sangat setia dengan Trevor dan ia tidak ingin mengecewakan Trevor dengan berselingkuh dengan dirinya. Begitu pun dengan Trevor yang setia dan tidak ingin berselingkuh dengan wanita selain Blanca, meskipun Lorenzo telah menawarkan Trevor wanita lain yang jauh lebih seksi dan lebih cantik.
“Kau gila? Aku ini pacar Trevor (adikmu). Masih saja kau embat!” marah Blanca.
“Ya, tepatnya aku tergila-gila denganmu. Jadi, ayo have sex denganku! Kamu mau, kan?”
“Tidak mau!” Blanca hampir berteriak, karena ia merasa sangat takut dengan tatapan liar Lorenzo yang seolah-olah ingin memangsanya saat itu.
“Kau yakin mau menolakku?” Lorenzo menanyakan keyakinan Blanca saat itu. Dengan cepat, Blanca langsung berkata “Iya” sembari menganggukkan kepalanya, karena ia tidak ingin mengkhianati Blanca.
“Hei! Perlu kau ingat! Aku ini seorang multimillionaire tampan. Aku bisa membeli apapun dengan uangku. Banyak cewek yang mau berpacaran denganku, tapi mengapa kau tidak mau?”
“Kalau begitu, have sex saja dengan mereka. Tidak usah membujukku dari dulu. Aku tidak pernah mencintaimu. Lagi pula, aku ini pacar Trevor.”
“Terus, apa masalahnya? Trevor tidak akan tahu. Lagi pula, ia tidak akan pernah mempermasalahkan jika kita have sex.” Lorenzo merasa jika tidak ada masalah apabila Blanca have sex dengannya.
“Aku itu orangnya setia. Tidak semudah itu untuk have sex dengan orang lain. Jadi, lupakan fantasi gilamu untuk kita have sex! Jangan pernah bermimpi sampai kapanpun kalau kita akan have sex!”
“Tidak. Aku tidak akan melakukannya, karena wajahmu yang cantik dan badanmu yang seksi telah membuatku tergila-gila untuk have sex denganku dan kau harus bertanggung jawab atas itu.”
“Ya sudah, terserah kamu saja! Kau ini memang orang yang susah untuk diberitahu, tapi siap-siap saja untuk kecewa, karena aku tidak akan pernah have sex denganmu.”
“Kau yakin dengan ucapanmu?” Lorenzo menanyakan keyakinan ucapan Blanca sekali lagi.
“Ya.”
“Oke. Kita lihat saja nanti!” Lorenzo langsung bertekad dalam hati bahwa, ia akan membuktikan kepada Blanca apabila dirinya akan bisa have sex dengan Blanca. Ia juga bertekad untuk membuat Blanca tergila-gila kepadanya.
“Oke.” Blanca menerima perkataan Lorenzo.
“Blanca!” Panggilan seseorang dengan suaranya yang berat seperti suara Trevor yang membuat Blanca menengok ke arahnya. Setelahnya, ia mendapati seorang pria bertubuh kekar, berhidung mancung, berkumis tipis, matanya belo dengan kedua irisnya yang berwarna cokelat, rambutnya yang gondrong berwarna cokelat. Ia adalah Trevor.
“Ya.” Blanca langsung berdiri dan setelahnya ia berjalan ke arah Trevor.
“Apa yang Lorenzo lakukan kepadamu?” Trevor merasa penasaran dengan hal yang telah dilakukan kakaknya ke Blanca sehingga raut wajah Blanca terlihat sangat tegang.
“Aku hanya berbincang-bincang saja dengannya, Trevor.” Lorenzo sengaja menjawab dengan cepat, karena ia takut Blanca akan memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi ke Trevor dan akan membuat Trevor marah besar kepadanya.
“Terus, kenapa kamu kelihatannya tegang banget, Sayang, Blanca? Kamu enggak apa-apa, kan, Blanca? Kamu enggak diapa-apain, kan, sama Lorenzo?” Ia membelai-belai rambut panjang Blanca sembari ia memeluk Blanca dengan erat. Ia merasakan degup jantung Blanca yang sangat kencang. Trevor merasa sangat takut dengan hal buruk yang terjadi kepada Blanca yang menyebabkan Blanca merasa sangat takut.
“Enggak, Trevor.” Blanca berbohong bahwa, tidak ada hal yang membuatnya tegang karena ia merasa tidak nyaman untuk menyampaikan hal tersebut di depan Lorenzo. Ia takut akan ada masalah baru apabila ia berterus terang. Sementara itu, Lorenzo merasa suasana menjadi kikuk. Karena itu, ia langsung izin pergi meninggalkan mereka.
“Blanca, Trevor, aku pulang dulu!”
“Oke.” Setelahnya, Lorenzo meninggalkan tempat tersebut ke mobilnya. Baru satu langkah Lorenzo berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut, Trevor langsung meminta maaf kepada Blanca. “Sayang, maafkan aku karena aku telat datang kepadamu! Tadi aku pergi ke toilet dulu dan kelas pun selesainya lebih lama dari biasanya.”
“Tidak apa-apa, Sayang. Aku paham, kok.”
“Kamu sendiri bagaimana dengan Lorenzo? Apa benar tidak ada masalah?” Trevor memastikan, karena ia merasa ragu jika memang tidak ada masalah. Blanca langsung menceritakan mengenai momen yang menakutkannya tadi bersama Lorenzo.
“Dia sok-sokan banget mau have sex denganku. Memangnya, dia pikir aku itu mau have sex dengan dia? Tentu tidak! Aku sangat cinta kamu, Sayang. Mana mungkin aku mendua darimu dengan lelaki lain? Dasar perebut cewek orang!”
“Nanti aku tegur dia biar dia enggak begitu lagi denganmu!”
“Kenapa dia tadi begitu denganku? Aku merasa benar-benar dilecehkan.”
“Karena kamu itu cantik banget, Sayang. Jadi dia mau untuk have sex dengan kamu.”
***
“Sial! Lagi-lagi ia tidak mau untuk have sex denganku dan malah berkata seperti itu ke Trevor,” keluhnya dalam hati.
“Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkannya? Aku rasa, aku telah mencoba segala cara tapi aku selalu gagal,” keluhnya lagi dalam hati. Setelahnya, otaknya teringat dengan cara-cara yang telah ia coba.
“Mentraktirnya cokelat dan makanan mahal, sudah. Membelikannya bunga, sudah. Memberinya pakaian bagus dan mahal sudah. Tetapi, mengapa ia masih saja tidak mau have sex denganku? Apa yang harus dilakukan agar ia mau have sex denganku?” Ia bertanya lagi dalam hatinya bagai ia tahu jawabannya.
Lorenzo tertegun sesaat dan berpikir sejenak mengenai cara yang dapat ia lakukan agar Blanca mau have sex dengannya. Apa yang harus Lorenzo lakukan agar Blanca mau have sex dengan Lorenzo? Apa Lorenzo harus memaksa Blanca atau berpura-pura menjadi Trevor? Begitulah yang dipikirkan oleh Lorenzo.
Ia merasa bahwa, ia perlu melakukan pembohongan atau pemaksaan kepada Blanca. Biasanya, kalau wanita sudah dipaksa, maka dia akan mau have sex dengannya secara sukarela. Tetapi, ia merasa takut jika Blanca akan melaporkan hal tersebut kepada Trevor dan Trevor akan memperbesar masalah tersebut menjadi masalah baru.
“Jangan-jangan! Dia pasti akan lapor ke Trevor dan Trevor pasti akan mempermasalahkan hal ini.” Begitulah ucapan Lorenzo dalam hati. Satu-satunya cara yang dapat ia tempuh hanyalah berpura-pura menjadi Trevor agar Blanca mau have sex dengannya.
Tetapi, apa Blanca akan percaya? Entahlah Lorenzo juga tidak tahu! Yang jelas, ia hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk meniru menjadi Trevor dan meyakinkan Blanca bahwa, dirinya adalah Trevor. Hanya dua hal itu saja yang terkesan mudah, tapi terasa sulit untuk dilakukan.
Bagaimana apabila Blanca tahu? Pertanyaan tersebut yang muncul di otak Lorenzo langsung membuat Lorenzo menggigit bibirnya, karena ia merasa sangat cemas dan takut. Apabila rencananya gagal dan Blanca mengetahui kebenarannya, tentu Blanca akan marah besar kepada Lorenzo dan pastinya Blanca akan memberitahukan kepada Trevor yang pada akhirnya akan membuat sebuah masalah baru.
Setelahnya, ia merasa bimbang mengenai dirinya yang perlu mencoba ide tersebut atau tidak. Di satu sisi, ia merasa ketakutan apabila tingkahnya diketahui olelh Blanca. Tetapi, di sisi lain, ia sangat ingin have sex dengan Blanca.
“Apa aku perlu melakukan hal ini?” tanyanya dalam hati. Setelah beberapa saat, ia merasa yakin bahwa, ia harus mencoba hal tersebut. Bagi Lorenzo, apabila nanti ia gagal, setidaknya ia sudah mencoba taktik tersebut dan dia tidak akan menyesal karena ia telah mencobanya. Yang terpenting baginya adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menirukan adiknya dan meyakinkan Blanca bahwa, ia adalah Trevor.
Tidak lama kemudian, Lorenzo telah sampai di mobil sedan hitamnya yang mahal. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi pengemudi. Setelahnya, ia menutup pintu mobil dan ia mengenakan seatbelt. Lalu, ia mengendarai mobilnya ke luar dari kampus tersebut.
Saat mobilnya baru melintas di jalan raya, ia melihat Blanca dan Trevor yang sedang berjalan ke motornya. Tidak lama kemudian, Trevor dan Blanca melihat ke arah Lorenzo. Ia langsung membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah Trevor. Trevor dan Blanca melambaikan tangan ke arah Lorenzo. “Hati-hati! Sampai jumpa!”
Tidak lama kemudian, Lorenzo menutup kaca mobil dan berjalan pergi dari mereka. Di saat itu, ia melihat mata Blanca berbinar-binar yang tertuju kepada mobilnya. Melihat hal tersebut, ia merasa ia menemukan ide baru. Ia dapat mengajak Blanca pulang esok dengan mobilnya.
“Ia pasti akan mau pulang esok denganku menggunakan mobil ini, karena dari mata Blanca yang sangat berharap bisa naik mobil ini. Aku akan menjemputnya esok dengan mobil ini,” gumamnya.
Setelahnya, ia langsung mengambil teleponnya. Lalu, ia mencari kontak John (asisten Lorenzo) dan menghubungi John. Tidak lama kemudian, telepon Lorenzo diangkat.
“Halo, John!” sapa Lorenzo dengan ramah.
“Halo, Sr. Lorenzo! Ada apa?”
“Tolong cari jam berapa Blanca Rivera pulang esok!” Perintah Lorenzo.
“Baik.”
Tidak lama kemudian, John mengirim data bahwa, Blanca akan pulang esok hari jam empat sore. Lorenzo langusng memuji John. “Kerja yang bagus, John!”
“Apa ada hal yang bisa saya bantu lagi?”
“Oh ya, John, hampir saja aku lupa! Besok tolong bersihkan jadwal dari jam tiga sore!” perintahnya.
“Maaf, Bapak Lorenzo! Enggak bisa. Jam tiga sore ada rapat dengan komisaris. Jam delapan malam ada acara makan malammu dengan orang tuamu.” John langsung meminta maaf dan memberitahu mengenai jadwal Lorenzo esok.
Lorenzo langsung mengembuskan napasnya dengan berat, karena niatnya untuk have sex dengan Blanca selama semalam gagal. Ia hanya bisa have sex paling lama sampai tujuh malam, karena ia harus menghadiri acara makan malamnya dengan orang tuanya. “Ah! Jam delapan malam ada acara makan malam. Oke.”
“Rapatnya sampai jam berapa?” Lorenzo merasa khawatir. Apabila rapat dengan komisaris akan berakhir sampai jam empat sore, ia tidak akan bisa mengajak Blanca untuk have sex dengannya esok
“Jam setengah empat sore.”
“Oke. Pastikan rapat tidak berakhir dengan telat! Aku akan menjemput Blanca esok.”
“Baik.”
