Bab 2. Melancarkan Aksinya
Hari terus berlalu. Esoknya, untungnya, rapat selesai saat jam setengah empat sore. Dengan cepat, ia langsung pergi meninggalkan ruang rapat ke mobilnya. Di saat itu, Roberto yang menemani Lorenzo langsung meledek Lorenzo. “Kamu benar-benar tidak sabar untuk bertemu Blanca. Memang, Blanca sangat cantik dan sangat memesona, Sr.”
“Ah, Roberto! Kamu bisa saja meledekku.” Pipi Lorenzo memerah.
“Sepertinya, ada yang sedang jatuh cinta.” Tidak lama kemudian, ia telah sampai di depan mobilnya. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan berdandan menirukan Trevor. Setelahnya, ia mengendarai mobil ke Universidad De La Hoja. Sesampainya di Universidad De La Hoja, ia melihat Blanca yang sedang berdiri sendirian di depan kelasnya dengan tatapan bingung karena saat itu hujan turun tiba-tiba.
Ia langsung mengendarai mobilnya ke depan kelas Blanca. Banyak mahasiswa yang terpana dengan mobil Lorenzo, karena merasa kagum. Tidak lama kemudian, suasana mulai ramai. Banyak mahasiswa yang memperbincangkan mengenai siapa pemilik mobil dan siapa orang yang dijemput.
“Wah! Siapa pemilik mobil tersebut?”
“Enggak tahu.”
“Kira-kira dia mau jemput siapa?”
“Entahlah! Aku enggak tahu.”
“Yang jelas, dia orang hebat. Kalau tebakanku kemungkinannya yang dijemput itu Trevor. Kakaknya itu CEO. Pasti kakaknya yang menyuruh Trevor untuk dijemput, karena kakaknya kasihan dengan Trevor.”
Lorenzo langsung mengambil payung. Setelahnya, ia membuka payung sembari membuka pintu mobil. Lalu, ia pergi ke luar dari mobilnya sambil menutup pintu mobil. Setelahnya, ia berjalan ke Blanca.
Saat di dekat Blanca, ia langsung mengajak Blanca untuk pulang bersama. “Ayo, Sayang! Kita pulang.”
“Ayo.” Blanca menerima ajakan Lorenzo dan setelahnya mereka berjalan ke mobil bersama-sama dengan Lorenzo yang memegang payung untuk Blanca. Lorenzo memastikan tidak ada satu tetes air hujan yang membasahi pakaian Blanca. Setelah di depan mobil, Lorenzo langsung membukakan pintu untuk Blanca. “Silakan masuk!”
Blanca langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil. Dengan cepat, Lorenzo langsung berjalan ke kursi pengemudi. Setelahnya, ia masuk ke kursi pengemudi sembari menutup payungnya. Setelahnya, mereka mengenakan seatbelt. “Sudah siap, Sayang?”
“Sudah.” Lorenzo langsung mulai mengendarai mobil ke luar dari kampus.
“Sayang, terima kasih sudah antar aku pulang pakai mobil!” Blanca langsung berterima kasih.
“Sama-sama.”
“Kamu senang, kan, Sayang?” Lorenzo memastikan Blanca merasa senang.
“Senang banget, Sayang. Tetapi, tumben banget, Sayang, kamu jemput aku pakai mobil. Ada apa?” Blanca merasa bingung.
“Tidak ada apa-apa, Sayang.”
“Kamu yakin?” Blanca merasa ragu, karena biasanya Trevor bersikap baik dan romantis kepada dirinya saat Trevor menginginkan sesuatu.
“Ya.” Trevor menganggukkan kepalanya.
“Beneran? Biasanya kalau kayak begini, kamu lagi ada maunya."
"Hmmh… Sebenarnya aku lagi ingin have sex dengan kamu. Aku berharap kamu juga lagi mau have sex denganku. Cuman aku bingung bagaimana ngomongnya.” Lorenzo menyampaikan keinginan terpendamnya selama ini.
Blanca langsung tertawa, karena ia merasa tingkah tersebut sangat lucu. “Oh. Cuman itu. Kalau itu, kamu enggak usah malu-malu, Sayang. Aku itu pacarmu. Masa kamu masih malu-malu untuk mengajakku have sex? Biasanya juga kamu enggak malu-malu buat ajak aku have sex.”
“Masa aku ngajak kamu duluan?”
“Ya. Memang kenapa?” Bukannya menjawab, Blanca malah bertanya lagi ke Lorenzo.
“Aku malu. Aku takutnya kamu lagi enggak mau.”
“Enggak apa-apa, Sayang. Kamu itu pacarku. Jadi, kamu boleh bicara seperti itu. ingat komitmen kita dulu! Kalau di antara kita ada yang mengajak have sex, kita harus menyetujui dan have sex agar hubungan kita tetap awet. Lagi pula, kamu juga biasanya tidak malu. Kok sekarang malu banget. Ada apa?”
“Enggak ada apa-apa. Maaf, Sayang! Aku lupa mengenai komitmen itu.” Lorenzo langsung meminta maaf dengan alasan lupa. Padahal, dia memang tidak pernah tahu tentang komitmen tersebut.
“Enggak apa-apa, Sayang. Oh ya, ngomong-ngomong, ini mobil siapa, Sayang? Mobil kamu?”
“Enggak. Ini bukan mobilku. Ini mobil kakakku, Sayang. Aku pinjam ke dia.”
“Oh. Keren juga mobilnya! Tumben dia pinjamin mobilnya ke kamu.”
“Ya. Tadi aku minta izin buat minjam mobilnya. Dari dulu, aku enggak pernah minjam. Baru sekarang, aku minjam mobil ke dia buat ajak kamu have sex. Kamu pasti capai banget hari ini. Kalau mau istirahat di kursi jok tengah, istirahat saja!”
“Terima kasih, Sayang! Kamu romantis dan pengertian banget sama aku. Aku semakin cinta sama kamu.” Setelahnya, Blanca mencium pipi Lorenzo dengan manja. Lalu, ia mendekat ke arah bibir Lorenzo dan mereka berciuman.
“Sama-sama.”
“Oh ya, Sayang, kamu mau kita pergi ke hotel mana?” Lorenzo menanyakan mengenai hotel yang Blanca inginkan saat mereka telah sampai di luar kampus, karena Lorenzo bingung dengan tujuan mereka
“Hmmh… Aku inginnya di Hotel Sans Siguiente, hotel yang baru buka tapi mahal. Kita cari hotel dekat sini yang murah saja, Sayang, kayak di Hotel Azul Rubi.” Blanca memang sangat ingin have sex di Hotel Sans Siguiente, hotel bintang lima yang baru buka seminggu yang lalu. Ia ingin mengetahui fasilitas-fasilitas mewah yang ada di Hotel Sans Siguiente.
“Enggak apa-apa, Sayang.”
“Ayo kita have sex di Hotel Sans Siguiente!” Lorenzo mengajak Blanca untuk have sex di hotel.
“Jangan, Sayang! Mahal!” Blanca menolak ajakan Lorenzo.
“Ayo, Sayang! Enggak apa-apa aku traktir. Nanti aku yang bayar.” Lorenzo mencoba mengajak Blanca lagi.
“Kamu yakin? Di sana mahal banget!” Blanca merasa ragu apabila dirinya akan have sex dengan Lorenzo di Hotel Sans Siguiente.
“Ya, enggak apa-apa, Sayang. Untuk kamu. Apa yang enggak buat kamu? Semua aku berikan untuk kamu, Sayang!” Lorenzo mencoba merayu Blanca sembari ia langsung mengendarai mobilnya ke Hotel Sans Siguiente.
"So romantic!" puji Blanca. Setelahnya, Blanca membuka dua kancing pakaiannya, karena ia merasa kepanasan. Mata Lorenzo langsung melotot, karena ia merasa sangat kaget. Ia tidak menyangka, jika Blanca akan mulai membuka pakaiannya.
Setelahnya, matanya berbinar-binar untuk beberapa saat karena ia merasa mendapatkan santapan baru. Taktiknya telah berhasil. Kepalanya langsung merasa pusing dan ia menatap Blanca dengan liar, karena ia langsung ingin have sex dengan Blanca yang telah menjadi impiannya selama ini. Karena itu, ia langsung membuka pakaiannya sembari ia mengubah mode mobil ke mode automobil. Setelahnya, ia langsung mengajak Blanca ke kursi belakang. “Ayo ke belakang!”
“Ayo!” Blanca menerima ajakan Lorenzo. Setelahnya, mereka pergi ke kursi belakang. Blanca langsung duduk. Lorenzo langsung mendorong Blanca dengan pelan untuk duduk di dekat kaca jendela. Badan Blanca langsung bersandar ke sisi dekat mobil dengan punggungnya yang menempel ke kaca jendela.
Setelahnya, Lorenzo mengklik tombol yang membuat kursi yang tadinya untuk duduk menjadi untuk berbaring agar tempat untuk mereka have sex semakin luas. Setelahnya, Lorenzo langsung mencium bibir Blanca dan mereka langsung berciuman dengan hangat. Tangan kiri Lorenzo langsung meraba-raba puting Blanca yang masih kencang. Ia merasa sangat yakin jika Blanca tidak have sex dengan Trevor dalam seminggu.
“Ah! Pasti akan sangat enak have sex dengannya. Aku yakin, lubangnya sedikit merapat dari ukuran adikku,” ucap Lorenzo dalam hati.
Ia langsung menarik-narik dan memutar-mutar puting Blanca. Tangan kanan Lorenzo langsung memegang klitoris Blanca dan lubang Blanca. Ia merasakan lubang Blanca telah basah, karena ia sangat ingin have sex saat itu juga. Setelahnya, ia melihat Blanca yang sedang menjilat-jilati penisnya yang panjang dengan tatapan yang sangat merindukan have sex. “Kamu sudah tidak kuat, Sayang?”
“Ya. Aku sudah seminggu enggak have sex dengan kamu, Sayang,” keluh Blanca sembari ia menyedot-nyedot penis Lorenzo dan menjilat-jilatinya.
Lorenzo langsung mencoba untuk memasukkan jari telunjuknya ke lubang Blanca dan ia merasakan lubang Blanca yang masih rapat serta hangat. Blanca langsung berdesah. “Ah, Sayang! Enak sekali!”
Lorenzo merasa lubang Blanca yang rapat dan ukuran lubang Blanca yang terbentuk sama dengan ukuran penis adiknya yang lebih kecil darinya. Dari hal itu, ia tahu jika Blanca tidak selingkuh dengan orang selain adiknya dan lebih rapat karena telah seminggu tidak have sex. Lalu, ia mengangkat jari telunjuknya dan mencium-cium jari telunjuknya.Ia merasakan sensasi campuran aroma penis adiknya yang khas dan aroma lubang Blanca yang sangat nikmat.
Ia langsung menjilat-jilat telunjuknya sendiri dan ia menyukai rasa cairan dari lubang Blanca. Lorenzo langsung memuji. “Enak sekali, Sayang! Tidak semua wanita seenak dirimu.”
“Penismu juga enak sekali. Masih lurus, tapi lebih besar. Aku suka!” puji Blanca.
Setelahnya, Lorenzo melihat ke arah mobilnya. Ia memastikan mobilnya mengendarai dengan benar. Tidak lama kemudian, dari kejauhan ia telah melihat sebuah hotel yang berdiri dengan warna emas. Hotel tersebut memiliki papan nama besar yang bertuliskan “Hotel Sans Siguiente”. Di depan hotel tersebut terdapat kolam renang yang besar dengan pohon kelapa di kiri dan kanannya.
Lorenzo langsung memasukkan penisnya ke lubang Blanca, karena ia merasa tidak lama lagi ia akan sampai. Penis Lorenzo mengeluarkan cairan-cairan kecil dalam waktu yang singkat di lubang Blanca. Ia langsung mengangkat penisnya dari lubang Blanca. Hal itu membuat Blanca langsung merasa kesal dan emosi karena merasa tidak puas.
“Sayang, kok langsung diangkat? Kamu baru masukkin penismu beberapa kali ke lubangku. Ayo lagi!” rengek Blanca.
