Bab - 3
Aku menatap permukaan kopi yang mulai beruap.
“Lalu?”
“Ada di suatu tempat. Biar itu jadi pilihannya. Aku datang ke sini bukan buat minta Mas Fadli menjelaskan apa pun,” katanya. “Aku cuma mau memastikan satu hal.”
Ia menatapku langsung sekarang. Tatapannya tenang, tapi tajam.
“Mas Faiz pernah minta sesuatu ke Mas Fadli, ya?”
Jantungku berdetak lebih keras. Untuk sesaat, kafe itu terasa menjauh—suara, cahaya, semua seperti ditarik ke belakang.
Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena ingin berbohong, tapi karena sedang mencari bentuk kejujuran yang tidak melukai siapa pun.
“Ada hal yang dia ceritakan dan dia memintanya,” kataku akhirnya. “Dan ada hal yang aku tolak juga.”
Nasya mengangguk pelan. Tidak terkejut.
“Terima kasih sudah jujur.”
Ia menunduk sebentar, lalu meneguk tehnya yang sudah mendingin.
“Aku nggak datang buat menyalahkan kamu, Mas. Justru… aku datang karena kamu menolak permintaan Mas Faiz itu.”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
Ia menatap ke luar jendela, ke jalan yang mulai padat.
“Kalau Mas Fadli mengiyakan waktu itu, mungkin aku nggak akan duduk di sini hari ini. Tapi mungkin juga… aku nggak akan pernah sembuh.”
Kata sembuh menggantung lama di udara.
Dadaku terasa mengendur, bersamaan dengan rasa waspada yang justru semakin tajam. Percakapan ini belum sampai ke intinya. Dan entah kenapa, aku tahu—apa pun yang akan Nasya katakan setelah ini akan mengubah caraku memandang Faiz, dan mungkin… diriku sendiri.
Aku menunggu. Tidak menyela. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku belajar bahwa diam juga bisa menjadi bentuk jawaban jitu dan rasa tanggung jawab.
Nasya menatap cangkir tehnya lama sekali. Uapnya sudah hilang. Teh itu hampir dingin.
“Mas Fadli menyalahkan aku atas perceraian ini?” tanya Nasya tiba-tiba.
Aku menatapnya beberapa saat, lalu menggelengkan kepala, karena sejak awal aku tidak pernah menyalahkan siapa-siapa dalam kasus ini, justru menyalahkan diri sendiri.
“Semuanya terjadi karena aku terlalu lama kesepian, Mas,” katanya akhirnya. Tidak lirih. Tidak dramatis. Terlalu jujur untuk disebut keluhan.
Aku tetap diam.
“Bukan sekarang saja,” lanjutnya. “Sejak lama. Bahkan sebelum semuanya runtuh, sebelum anak kami lahir. Hampir tiga tahun.”
Ia menatapku sekilas, lalu kembali menunduk.
“Mas Faiz itu baik,” katanya hati-hati. “Sopan. Bertanggung jawab. Nggak pernah kasar. Tapi… sering jauh. Selalu memberikan nafkah lahir dengan sempurna, tapi nafkah batin….. hampa.”
Aku mengangguk pelan. Dari sejak obrolan terbuka dua bulan yang lalu, aku sangat tahu hal itu. Aku juga cukup lama mengenal Faiz.
“Selama berumah tangga, aku nggak pernah benar-benar merasa ditemaninya,” katanya. “Aku sering duduk di rumah besar itu sendirian. Rumah yang kelihatannya utuh dari luar, tapi sunyinya panjang. Malam-malamku selalu sunyi dan sepi.”
Ia menarik napas lebih dalam.
“Dan soal sebagai seorang istri, sebagai wanita normal,” katanya setelah jeda, memilih kata dengan hati-hati, “aku selalu merasa kurang. Seperti ada bagian dari diriku yang tidak pernah benar-benar tersentuh, bukan badannya, tapi perasaannya.”
Kalimat itu jatuh tepat. Tidak perlu penjelasan lain.
Aku menelan ludah.
“Aku tahu Mas Faiz berjuang,” lanjutnya. “Dan aku sudah bersabar. Bertahun-tahun. Tapi ada titik di mana kesabaran berubah jadi kejengkelan karena terlalu lama sendirian.”
Ia menatapku lurus. Tidak menuntut. Tidak memohon.
“Aku mau jujur sekarang,” katanya. “Karena aku nggak mau datang ke sini membawa kebohongan.”
Dadaku mengencang.
“Aku sudah menaruh hati sama kamu… sejak lama, Mas.”
Aku refleks menarik napas, lalu menahannya. Ruangan terasa menyempit, bukan karena suasananya, tapi karena aku harus benar-benar hadir di detik ini.
“Bukan karena apa yang orang bisikkan,” katanya cepat. “Bukan karena apa pun yang Mas Faiz pernah katakan. Tapi karena caramu mendengarkan. Caramu menahan diri. Caramu berubah dari brengsek menjadi sangat baik, tanpa mengumumkannya.”
Ia tersenyum tipis, getir.
“Aku melihat kamu dari jauh. Dari dulu. Bahkan saat kamu masih berantakan, sebelum mengenal Mbak Tania.”
“Nasya…” kataku pelan.
“Aku tahu,” potongnya lembut. “Mas Fadli sudah berumah tangga, dan aku datang ke sini tidak untuk merusaknya.”
Aku akhirnya bisa menarik napas.
“Aku datang karena satu hal lagi,” katanya kemudian. Nadanya berubah. Lebih pelan. Lebih rapuh.
“Anakku.”
Ia berhenti. Tangannya bergetar kecil sebelum akhirnya diletakkan di pangkuan.
“Dia butuh figur ayah, Mas. Bukan pengganti. Bukan kamu harus jadi apa-apa. Tapi seseorang yang hadir.”
Ia menunduk.
“Mas Faiz tidak pernah datang. Tidak menengok. Tidak menelepon.”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku menatap Nasya cukup lama, bukan untuk menilai, tapi seperti orang yang sedang memastikan pijakan sebelum melangkah. Di kepalaku ada banyak hal, iba, simpati, empati, tapi aku tahu, satu kalimat yang salah bisa berubah jadi janji yang tidak seharusnya.
“Aku mau jawab kamu pelan-pelan,” kataku akhirnya. “Bukan karena aku nggak ngerti perasaan kamu. Tapi karena aku ngerti… dan justru itu yang bikin aku harus hati-hati.”
Nasya mengangguk. Ia tidak memotong.
“Apa yang kamu rasakan itu nyata,” lanjutku. “Kesepian, ditinggalkan secara batin, merasa nggak utuh sebagai istri, itu bukan hal kecil. Dan itu bukan sesuatu yang bisa ditutup cuma dengan sabar atau doa yang diulang-ulang.”
Aku berhenti sebentar, menahan napas.
“Tapi aku juga harus jujur,” kataku lagi. “Aku nggak bisa berdiri di posisi yang kamu harapkan.”
Nasya menatapku. Diam. Menunggu.
“Aku bukan orang baik sejak awal,” kataku. “Aku tahu persis rasanya jadi laki-laki yang merasa berhak atas pengertian orang lain. Dan justru karena aku pernah hidup di situ, aku tahu… kalau aku salah melangkah sekarang, yang hancur bukan cuma satu rumah.”
Dadaku terasa berat saat melanjutkan.
“Aku punya istri dan anak. Itu bukan status. Itu tanggung jawab yang tiap hari aku pilih ulang, bahkan ketika rasanya nggak mudah.”
Nasya menunduk. Tangannya saling menggenggam.
“Soal anak kamu,” kataku lebih pelan, “aku ikut sedih dengarnya. Nggak ada anak yang pantas tumbuh tanpa kehadiran ayahnya. Tapi aku juga bukan solusi untuk lubang itu.”
Aku menggeleng kecil.
“Kalau aku masuk terlalu jauh, meski niatku baik, yang terjadi bukan penyembuhan. Tapi pemindahan luka. Dan itu nggak adil—buat kamu, buat anakmu, dan buat keluargaku.”
Hening jatuh di antara kami.
“Aku nggak bilang Faiz benar,” kataku. “Dia salah. Dan dia harus bertanggung jawab. Tapi kesalahannya nggak bisa ditebus dengan kesalahan yang baru.”
Nasya mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi tidak runtuh.
“Jadi… ini penolakan?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk. “Iya.”
Lalu aku menambahkan, suaraku lebih rendah dari sebelumnya.
“Tapi bukan penolakan ke perasaan kamu. Ini penolakan ke arah yang salah.”
Nasya mengusap pipinya cepat, seperti menolak air mata jatuh terlalu jauh.
“Aku tahu,” katanya lirih. “Aku sebenarnya sudah tahu jawabannya dari awal.”
Ia tersenyum tipis. Senyum orang dewasa yang sedang menerima, bukan menyerah.
“Aku cuma perlu dengar itu dari kamu,” lanjutnya. “Biar aku berhenti berharap pada pintu yang memang nggak seharusnya aku ketuk.”
Aku menunduk. Ada rasa berat di dadaku, tapi juga plong dan utuh.
“Aku berharap kamu sembuh, Nas,” kataku. “Bukan karena ada laki-laki baru. Tapi karena kamu berdamai sama diri kamu sendiri.”
Nasya mengangguk lama.
“Aku akan urus semuanya sendiri,” katanya. “Anakku. Hidupku. Aku cuma… capek terlalu lama sendirian.”
“Aku tahu,” jawabku. “Dan kamu nggak lemah karena itu.”
Kami duduk beberapa detik tanpa bicara. Tidak canggung. Tidak hangat. Tapi jujur.
Akhirnya Nasya berdiri lebih dulu.
“Makasih sudah mau dengerin,” katanya. “Dan… makasih karena tetap milih jalan yang benar. Meski itu menyakitin.”
Aku ikut berdiri. “Jaga diri kamu.”
Ia tersenyum kecil, lalu pergi.
Aku duduk kembali, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Di dalam diriku ada rasa kehilangan yang tidak bisa kuberi nama, bukan kehilangan Nasya, tapi kehilangan kemungkinan yang sengaja kulepaskan.
Aku mulai paham, tidak semua hal yang bisa aku lakukan adalah hal yang harus aku lakukan. Kadang, jadi orang dewasa bukan soal menyelamatkan semua orang, tapi tahu kapan harus berhenti, supaya yang tidak bersalah tidak ikut tenggelam.
^*^
