Bab - 4
Baru saja aku hendak rebahan di sofa, baru pualng kerja sehabis lembur di luar kota. Istri dan anakku sudah terlelap tidur. Nomor tak dikenal menyala di layar ponselku hampir pukul sebelas malam.
Aku mengenal iramanya sebelum aku mengenali suaranya.
“Assalamu’alaikum, Fad.”
Dadaku menegang.
“Wa’alaikum salam,” jawabku. “Faiz?” untuk memastikan.
“Iya.” jawabnya.
Aku beranjak dari sofa, melangkah pelan ke arah jendela. Dari kamar, terdengar suara bayiku merengek kecil.
“Lu di mana, Iz?” tanyaku, berusaha tak mengubah ‘sapaan’.
“Yang pasti bukan di Mesir,” katanya seperti sambil tersenyum.
Aku tidak mengejar penjelasan. Kami memang tidak pernah pandai membicarakan hal-hal yang sudah pecah.
“Aku dengar Nasya sempat datang ke kantormu,” lanjutnya.
“Iya.”
“Hm.” Ada jeda. “Aku nggak akan bahas itu.”
Aku menunggu.
“Aku mau bicara Rayhan, anakku,” katanya kemudian. Satu kata itu cukup membuat napasku melambat. “Sesekali tolong tengok dia. Anggap aja… kamu wakil aku, Fad.”
Aku menutup mata.
“Faiz,” kataku pelan, “itu bukan hal kecil.”
“Aku tahu,” jawabnya. “Makanya aku minta ke kamu.”
Aku tidak langsung menjawab. Dari balik telepon, aku mendengar napasnya, pendek, terukur, seperti orang yang sudah lama berdamai dengan keterbatasannya sendiri.
“Kalau kamu nggak bisa, bilang aja,” katanya. “Aku terima.”
“Gue pikirkan,” kataku akhirnya.
“Terima kasih,” jawabnya singkat. Lalu sambungan terputus.
Aku duduk lama setelah itu.
Faiz selalu hadir dalam hidupku jauh sebelum aku menjadi siapa-siapa.
Saat uang kostku telat, saat semester hampir gagal, saat hidupku berantakan dan aku terlalu gengsi untuk meminta. Ia tidak banyak bicara. Masalahku entah bagaimana selalu selesai di tangannya. Bukan dengan pengorbanan besar, tapi dengan ketepatan. Seperti orang yang tahu kapan harus menolong tanpa membuatku merasa kecil.
Itu sebabnya permintaannya sekarang terasa seperti simpul yang sulit dilepas.
Bukan karena isinya berat, tapi karena yang meminta adalah orang yang pernah menyelamatkanku berkali-kali tanpa syarat.
Tapi aku juga tahu satu hal lain.
Nasya tidak kekurangan apa pun. Keluarganya berkecukupan. Butiknya besar dan maju. Rumahnya jauh lebih besar dari rumah sederhanaku. Faiz pun berasal dari keluarga yang tidak akan membiarkan cucunya terlantar. Rayhan aman secara duniawi. Yang tidak aman adalah batas dan hasrat diantara para orang dewasa.
Aku membayangkan Nasya di rumah besar itu, berdua dengan anaknya, ditemani babysitter. Dan aku membayangkan diriku—pulang ke rumah kecil, menggendong bayiku sendiri, dengan istri yang mempercayaiku sepenuhnya.
Aku tidak diminta menjadi ayah pengganti buat Rayhan. Tidak juga diminta menyelamatkan apapun atau siapa pun. Tapi aku tahu, sekali aku melangkah, peranku tidak akan pernah sesederhana “Om yang berkunjung menemui anak temannya.” ada Nisya yang memiliki perasaan lain, dan mungkin saja aku juga.
Dan untuk pertama kalinya sejak Faiz pergi, aku benar-benar takut— bukan karena aku akan menolak, tapi karena aku mungkin tidak sepenuhnya ingin menolak permintaan itu.
Aku berdiri di depan jendela cukup lama. Pantulan lampu malam memperlihatkan bayanganku sendiri. Lelaki dengan rumah kecil, anak yang tidur pulas, dan batas yang kini harus dijaga lebih keras dari sebelumnya.
Pikiran itu membawaku ke Faiz dan Nasya.
Dari dulu, mereka selalu tampak sebagai pasangan yang selesai. Sejak awal pacaran, semua orang setuju. Serasi. Mapannya seimbang. Keluarganya sejalan. Mereka hadir di acara keluarga dengan sikap yang sama setiap kali. Tertawa di saat yang tepat. Diam di waktu yang tepat. Terlalu rapi.
Aku ada di sana sejak awal. Duduk di pinggir, mengamati. Dan sejak dulu juga, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kupahami.
Mereka terlalu tenang.
Bukan karena matang, tapi karena seperti tidak ada ruang konflik sama sekali. Tidak ada tarik-ulur. Tidak ada pertengkaran kecil yang biasanya muncul dari dua orang yang benar-benar saling terlibat.
Faiz mencintai Nasya dengan cara yang utuh. Ia bangga, protektif, setia. Ia menjaga perasaan seperti amanah. Itu tidak pernah kuragukan.
Nasya berbeda. Ia selalu berjalan di samping Faiz, tapi jarang benar-benar bersamanya. Selalu ada jarak tipis yang tidak pernah ditutup.
Dulu aku tidak berani menyimpulkan apa pun. Aku menepisnya sebagai prasangka. Aku tahu diri. Secara ekonomi, kami tidak berada di lantai yang sama. Hidupnya luas dan terang. Hidupku kecil dan cukup. Aku mengingatkan itu pada diriku sendiri berkali-kali.
Aku pikir, semua itu hanya ada di kepalaku.
Kesadaranku datang terlambat. Baru sekarang aku bisa memberi nama pada sesuatu yang dulu hanya terasa ganjil. Perhatian Nasya padaku tidak pernah benar-benar netral. Cara ia mendengarkan. Cara ia mengingat hal-hal kecil tentang hidupku. Cara matanya menahan tatapan sebentar lebih lama, lalu buru-buru dialihkan.
Dulu aku menyebutnya sopan santun. Sekarang aku tahu, itu perasaan yang disimpan rapi. Dan saat ia datang ke kantorku beberapa hari lalu, aku yakin: api itu belum padam.
Faiz tidak jelek. Secara fisik kami sejajar. Tapi cinta tidak selalu memilih yang pantas. Kadang ia memilih yang terasa hidup. Yang bergerak. Yang berisiko.
Pikiran itu membuatku muak pada diri sendiri.
Aku menatap anakku yang tidur dengan napas teratur. Tangannya menggenggam jariku tanpa sadar. Di situ aku tahu, ketakutanku bukan pada Nasya, bukan pada Faiz, tapi pada diriku sendiri. Pada kemungkinan bahwa aku bisa saja menikmati peran itu.
Dan justru karena itu, aku harus berhenti.
Pikiran itu belum selesai ketika satu hal lain muncul.
Faiz bilang ia di Kairo.
Tapi ia menelepon dari nomor lokal.
Suaranya terlalu dekat. Terlalu bersih. Tidak ada jarak.
Pertanyaan datang satu per satu. Jika ia ada di Indonesia, mengapa tidak menemui Rayhan sendiri? Mengapa justru aku yang diminta? Mengapa ia memilih menghilang?
Nada suaranya terlalu tenang untuk seorang ayah yang rindu anaknya. Seperti seseorang yang sudah memindahkan perannya ke tangan orang lain. Dan kecurigaanku tidak berhenti di situ.
beberapa hari kemudian, aku datang ke rumah Nasya beberapa hari kemudian. Langsung dari kantor. Tanpa mampir ke rumah. Tanpa cerita apa pun ke istriku. Bukan karena niat menyembunyikan, melainkan karena aku belum menemukan kata yang tidak akan berubah bentuk di telinga orang lain.
Rumah itu tenang dengan cara yang terlatih. Gerbang tinggi. Halaman luas. Kemewahan yang tidak minta dipuji. Aku memarkir mobil agak jauh, menarik napas, lalu masuk sebagai tamu yang tahu diri.
Nasya membukakan pintu sendiri. Gamis gelap. Kerudung lebar. Rapi hingga nyaris steril. Wajahnya jernih, kelelahan terlipat rapi di sudut mata. Rayhan duduk di karpet, mainan kayu di tangannya. Anak itu tidak rewel, tidak ribut. Terlalu cepat belajar tenang. Kami bermain tanpa kata. Balok demi balok.
Aku menjaga jarak, seperti orang yang sadar garis mana yang tak boleh diinjak. Nasya mengamati. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Sikapnya terjaga, hampir formal. Di ambang pintu, ia berkata bahwa ia tidak berharap apa-apa. Kehadiran saja sudah cukup. Kalimat itu yang membuatku yakin. Bukan Rayhan yang ia maksud.
Aku keluar dengan satu kesimpulan yang belum berani kusebut keras-keras. Bahwa ada peran yang sedang dicoba dipindahkan kepadaku. Bahwa api lama tidak benar-benar padam, hanya disimpan agar tidak terlihat menyala.
Dan bahwa Faiz, dengan segala ketenangannya, mungkin sedang mengatur jarak bukan untuk menghilang, melainkan untuk menguji. Agar aku masuk dalam kehidupan Nasya. Apakah mereka benar-benar bercerai atau hanya sandiwara?
Di mobil, sebelum mesin menyala, aku memilih satu sikap yang kupelajari dari jalanan dulu. Pelan. Sabar. Tidak reaktif. Jika ini permainan, aku akan membaca sampai ujung. Jika ini permintaan tulus, aku akan menjaganya tetap bernama seperti seharusnya.
Dan jika ini jebakan, aku harus tahu dari mana ia dipasang. Karena kali ini, yang kupertaruhkan bukan harga diri. Melainkan rumah kecil yang menungguku pulang.
Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah, meski aku tidak langsung bisa menunjuk apa.
Di rumah, semuanya tampak sama. Istriku tetap bangun lebih pagi dariku, menyiapkan air hangat, menidurkan bayi ketika aku masih menatap langit-langit. Gerakannya efisien, tanpa drama, seperti hidup yang sudah lama berdamai dengan ritmenya sendiri. Ia tidak bertanya berlebihan. Tidak menyelidik. Tidak mencium gelagat apa pun yang mencurigakan, karena baginya tidak ada yang patut dicurigai.
Dan justru di situlah dadaku sesak.
^*^
Jika ingin membaca cerita-cerita panas yang seru dan GRATIS, silahkan kunjungi aplikasi VICTIE, cari author Fajar Merona, disana ada 20 cerita Gratis yang bisa dengan mudah dibaca.
