Pustaka
Bahasa Indonesia

Terpikat Istri Temanku

6.0K · Ongoing
Fajar Merona
5
Bab
521
View
9.0
Rating

Ringkasan

Setelah lima tahun berumah tangga, istriku sama sekali belum menunjukan tanda-tanda akan mengandung anakku. Dokter sudah beberapa kali mengatakan jika benih yang ada dalam diriku, tidak masalah. Ketika salah seorang teman istriku menawarkan sesuatu yang baru, pikiranku mulai goyah...

RomansaDrama

Bab - 1

Sang Pemuas Elegan

Sebuah kisah yang akan menguji keimana sang tokoh juga pembaca. Dilarng mendadak basah jika belum pada bab yang menimbulkan kebasahan lokal.

Cerita ini akan free, kecuali untuk sesuatu yang mungkin bisa membasahi lantai, aku kunci dengan harga Rp.1000/bab demi melindungi pembaca lainnya. Yang tidak suka boleh dilewatkan bab terkunci itu, yang suka basah-basahan, bila dibuka gemboknya, simple ya.

Selamat membaca.

^*^

Aku duduk di meja kantin lantai dua, tepat di dekat jendela kaca yang menghadap area parkir. Dari sini, deretan mobil pegawai tampak seperti barisan yang tertib dan rapi—seolah hidup memang berjalan sesuai garis yang sudah digambar.

Matahari siang menyusup malu-malu lewat kaca buram, memantul di lantai keramik yang selalu dipel bersih oleh OB sebelum jam makan. Bau cairan pel lantai bercampur dengan aroma nasi goreng dan gorengan, menciptakan wangi khas yang entah kenapa selalu membuatku merasa aman.

Di hadapanku, sepiring nasi goreng masih mengepul. Uapnya naik perlahan, seperti napas kecil yang dilepaskan dengan sabar. Sudah hampir lima menit aku menyendok, tapi baru separuh yang masuk ke perut. Sendokku lebih sering berhenti di udara daripada benar-benar sampai ke mulut. Siang itu, lambungku terasa penuh oleh sesuatu yang bukan makanan.

Jam makan baru saja dimulai. Kantin riuh oleh tawa, obrolan ringan, dan keluhan kecil yang dilontarkan setengah bercanda. Di bank syariah swasta tempatku bekerja, semua orang tampak seragam. Bukan hanya pakaiannya, tapi juga sikapnya. Sopan, religius, bersahaja. Bahkan bahasa pun terjaga.

Senyum yang tahu kapan harus muncul dan kapan harus disimpan. Poster tentang integritas, amanah, dan keberkahan menempel di hampir setiap sudut. Seolah hidup bisa diringkas menjadi slogan-slogan yang dibingkai rapi.

Ini dunia baru. Sangat berbeda dengan masa laluku. Tapi entah bagaimana, takdir baik membawaku sampai di sini.

Di seberangku, Faiz makan dengan lahap. Ayam gorengnya hampir habis, tulangnya disusun rapi di sisi piring. Sambal disentuh pelan-pelan, seolah ia sedang menakar sesuatu, bukan sekadar rasa pedas. Sesekali ia tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya. Aku tahu betul apa yang ada di sana, bahkan sebelum ia memiringkan layar sedikit ke arahku.

Foto anaknya.

Balita laki-laki berusia dua tahun, dengan pipi yang terlalu besar untuk wajah sekecil itu. Matanya menyipit karena tertawa, seolah dunia belum sempat memperkenalkan kecewa padanya.

“Mirip banget sama lu, Iz,” kataku, menunjuk layar dengan dagu. Hanya saat berdua, aku dan Faiz masih pakai bahasa lama kami—lu dan gue.

Faiz tertawa pendek, tawa yang sudah kukenal sejak belasan tahun lalu.

“Syukurlah. Jangan mirip ibunya dulu. Galak.”

Aku ikut tersenyum. Ada rasa hangat setiap kali melihat Faiz seperti itu. Dari ratusan pegawai di kantor ini, hanya dia yang benar-benar mengenalku tanpa lapisan.

Kami berteman sejak tahun pertama kuliah. Satu almamater, satu jurusan ekonomi, bahkan sempat satu kosan di tahun-tahun paling berisik dalam hidup kami. Tahun-tahun ketika hidupku brengsek—dan Faiz tidak.

Dia tahu reputasiku dulu. Tahu betapa berantakannya hidupku. Tapi Faiz tidak pernah mencoba memperbaiki aku. Ia hanya ada. Mendengar. Menertawakan. Menarikku pulang saat aku terlalu jauh.

Aneh tapi nyata, hanya pernikahan yang membedakan garis hidup kami. Faiz dua tahun lebih dulu, maka tak heran jika ia sudah punya anak, sementara istriku, Tania, sedang mengandung. Hampir saja hidup menyamakan langkah kami, meski isi harinya berbeda.

Aku meletakkan sendok dan menarik napas dalam-dalam.

“Bro,” kataku pelan, “lu lagi sibuk nggak?”

Faiz mengangkat alis. Ekspresi khas yang selalu muncul sebelum obrolan berubah arah.

“Pertanyaan pembuka yang nggak enak biasanya diakhiri curhat.”

“Ya emang.”

Ia menyandarkan punggung ke kursi, menyilangkan tangan. Waktunya milikku.

“Akhir-akhir ini gue sering digoda cewek-cewek,” lanjutku, suaraku direndahkan. “Dan bukan yang sembarangan. Yang kelihatannya alim. Hijabnya rapi. Ada yang ibu rumah tangga, ada dosen, ada juga pedagang kecil yang tiap hari setor ke sini.”

Faiz terkekeh kecil.

“Lu kan dari dulu magnet.”

“Beda, Bro,” potongku. “Sekarang jelas. Bukan bercanda. Ada yang ngajak ngobrol pribadi, ada yang omongannya udah nggak abu-abu. Padahal mereka tahu gue udah nikah. Bahkan mau punya anak. Dan sebagian itu nasabah bank ini.”

Faiz tidak langsung menjawab. Ia menatap piringnya, seolah mencari jawaban di antara nasi dan sambal.

“Lu sekarang kelihatan alim dan mapan,” katanya akhirnya. “Kerja di bank syariah. Hidup rapi. Religius. Punya keluarga. Buat sebagian orang, itu justru sasaran empuk buat diuji.”

Aku mengangguk.

“Lucu ya. Dulu pas hidup gue brengsek, gue nggak kepikiran godain cewek-cewek alim. Sekarang pas gue ngerasa lurus, godaannya malah lebih dahsyat.”

“Godaan naik level seiring keimanan lu, Fad,” jawabnya singkat. “Fokus aja ke istri sama calon anak lu.”

Obrolan berhenti di situ. Tidak dramatis. Tidak berat. Aku kembali ke meja kerja dengan perasaan lebih ringan. Bahkan sempat berpikir: mungkin ini cuma ujian kecil. Hanya numpang lewat dan akan segera selesai.

Sebulan kemudian, kami duduk di kantin yang sama. Meja yang sama. Jam yang hampir sama. Hanya berdua. Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Faiz terlihat sangat lain. Bukan dari pakaiannya, tapi dari caranya hadir. Piringnya hampir utuh. Ayam gorengnya dingin, tepungnya mengeras. Sendoknya berputar pelan di atas nasi—berputar, berhenti, lalu berputar lagi.

Tangannya bergetar halus. Getaran kecil yang mungkin luput dari mata orang lain, tapi terlalu kentara bagiku.

Aku menunggu.

“Fad,” katanya akhirnya. “Sekarang gantian.”

“Gantian apa?”

Ia menarik napas panjang.

“Gue yang mau curhat.”

Aku tersenyum setengah bercanda.

“Lah, serius amat. Kayak mau sidang.”

Faiz tidak tertawa. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri terlalu lama.

“Ada hal-hal,” katanya pelan, “yang nggak bisa gue ceritain ke siapa-siapa, selain lu.”

Poster amanah di dinding kantin seolah ikut mendengar.

“Gue shalat dan berdoa,” lanjutnya lirih. “Tapi makin gue berdoa, makin gue ngerasa kosong.”

Dadaku mengencang.

“Dan akhirnya gue ngerasa gagal,” katanya. “Sebagai suami.”

Ia mengusap wajahnya cepat, seperti menolak terlihat rapuh.

“Dari dulu lu tahu,” katanya hampir berbisik, “ukuran senjata gue kecil. Dan istri gue nuntut lebih. Nggak marah. Tapi diam. Dan itu lebih nyakitin, Fad.”

Aku menelan ludah. Suara kantin terasa jauh.

“Gue udah ke dokter,” lanjutnya. “Dua-duanya bilang sama. Secara medis… nihil, gak ada masalah.”

Ia mengepal, lalu membuka tangannya.

“Gue udah nyoba sabar. Tapi tiap malam, gue kalah sama pikiran gue sendiri.”

“Iz,” kataku hati-hati, “Nasya bisa hamil dan punya anak. Itu artinya kalian normal.”

“Iya. Tapi depresi bikin semuanya makin drop. Nasya makin ngambek.”

Aku diam.

“Dan akhirnya gue sampai di titik,” katanya, “di mana gue kepikiran hal yang bahkan gue sendiri benci.”

Ia menatapku lurus.

“Gue nggak datang ke lu karena nafsu. Tapi karena gue takut sama dosa gue sendiri.”

Dadaku turun perlahan.

“Tolong bantu gue,” katanya hampir tak terdengar. “Puasin istri gue,” lanjutnya.

“ASTAGFIRULLAH!” lepas dari mulutku tanpa sadar.

Kalimat itu jatuh berat di antara kami.

“Faiz,” kataku pelan, “lu tahu nggak yang lu minta barusan itu apa?”

Ia mengangguk.

“Lu sadar kalau itu bakal menghancurkan semuanya. Apa lu yakin itu solusi, bukan jurang?”

Ia mengusap wajahnya. Matanya basah.

“Gue capek jadi orang baik yang gagal, Fad.” katanya. “Gue cuma pengen istri gue berhenti nangis.”

Aku berdiri di antara masa laluku dan hidup baruku.

“Bro,” kataku akhirnya. “Gue bukan orang suci. Tapi gue nggak bisa bantu lu untuk yang satu itu.”

Ia mengangguk, seolah sudah tahu.

“Gue punya istri. Istri gue lagi hamil. Gue takut. Dan gue nggak mau rumah tangga kita hancur, atau persahabatan kita mati.”

Air matanya jatuh tanpa suara.

“Iya,” katanya pelan. “Maaf. Gue lupa… sekarang lu udah berubah.”

Ia pergi, meninggalkanku sendiri.

Aku menatap poster amanah di dinding kantin.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar: ujian paling berat tidak datang lewat godaan, tapi lewat permintaan orang yang paling kita percaya.

^*^