Bab - 2
Hari terus berlalu, dan di kantor, aku mulai merasa ada ruang yang tidak lagi terisi.
Bukan ruang fisik. Meja Faiz masih di sana. Kursinya tetap ditarik keluar setiap pagi. Komputernya menyala tepat waktu. Tapi ada sesuatu yang tidak pernah kembali ke tempatnya.
Faiz menjauh.
Bukan menjauh dengan cara kasar. Tidak menghindar. Tidak marah. Ia tetap menyapaku di lorong dengan anggukan singkat. Tetap menyebut namaku saat butuh tanda tangan. Tetap profesional, nyaris sempurna. Justru itu yang membuatnya terasa dingin.
Obrolan kami menyusut, seperti kain yang terlalu sering dicuci. Menipis. Rapuh. Tinggal urusan kerja. Angka. Deadline. Tanda tangan. Semua yang aman. Semua yang tidak menyentuh apa pun selain pekerjaan.
Suatu pagi di pantry, aku menyapanya seperti dulu. Menawarkan kopi, merek yang biasa ia minum. Ia menerimanya tanpa komentar, menuang gula terlalu sedikit, lalu mengaduk cepat.
“Lu kelihatan capek, Iz,” kataku, pura-pura ringan.
“Biasa,” jawabnya singkat.
Aku menunggu. Lalu memberanikan diri.
“Faiz… lu baik-baik aja, kan?”
Sendoknya berhenti berputar. Ia menatap permukaan kopi, bukan aku.
“Kenapa nanya gitu?” katanya datar.
“Karena lu berubah,” jawabku jujur. “Dan gue masih temen lu.”
Ia mengangkat wajah. Menatapku sebentar. Tatapan itu tidak marah. Tidak sedih. Lebih seperti orang yang sudah memutuskan untuk tidak membuka pintu lagi.
“Aku lagi konseling,” katanya akhirnya.
Satu kata itu, —aku—, jatuh lebih berat dari kalimatnya sendiri.
“Oh,” kataku pelan. “Bagus kalau gitu.”
Ia mengangguk, meneguk kopinya sekali, lalu meletakkan cangkir di wastafel.
“Maaf, Fad. Aku ke meja dulu. Ada kerjaan yang mesti aku beresin.”
Aku berdiri sendiri di pantry, memegang cangkir yang sudah dingin, merasa seperti baru saja mengetuk pintu yang tidak akan dibuka lagi.
Mendengar ‘Gue’ berubah jadi ‘aku’. Rasanya aku seperti baru mengenal Faiz hari ini.
Hari-hari berjalan seperti biasa.
Sampai suatu siang, di pantry yang sama, Afri dari divisi IT berdiri di sampingku. Afri bukan tipe yang suka cerita. Kalau ia bicara, berarti ada beban yang ingin ia lepaskan.
“Mas Fadli,” katanya pelan. “Mas Faiz cerai sama Mbak Nasya. Resmi kemarin.”
Tanganku berhenti di tengah gerakan menuang air.
“Cerai?”
Afri mengangguk. “Iya.”
Ia pergi tanpa tambahan apa pun.
Kata itu berputar di kepalaku lebih lama dari yang seharusnya. Faiz cerai. Semua potongan yang selama ini terpisah tiba-tiba menyatu. Doa yang tidak dijawab. Malam yang terlalu panjang. Permintaan yang seharusnya tidak pernah diucapkan. Dan sekarang—akhir yang sunyi.
Beberapa hari kemudian, aku menunggunya di parkiran.
Faiz datang dengan langkah yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak tergesa. Tidak lesu. Wajah orang yang sudah melewati bagian terburuk dan kini hanya ingin selesai.
“Bro,” panggilku.
Ia berhenti, menoleh.
“Ada apa, Fad?”
Aku membuka mulut, tapi kalimat yang sudah kususun runtuh satu per satu.
“Gue dengar…” Aku berhenti. “…tentang rumah tangga lu sama Nasya.”
Ia mengangguk kecil. Tidak kaget.
“Ini bukan salahmu, Fad,” katanya cepat, seolah ingin menutup topik itu bahkan sebelum aku sempat masuk. “Jangan kamu bawa ke mana-mana, jangan disambung-sambungkan.”
“Faiz,” kataku, suaraku turun. “Gue—”
“Fad,” potongnya. Untuk pertama kalinya, suaranya sedikit naik. Bukan marah. Lebih seperti lelah.
“Aku sudah gagal jadi suaminya, Nasya. Titik.”
Kami berdiri berhadapan, tapi jaraknya terasa jauh.
“Ada hal-hal,” lanjutnya lebih pelan, “yang nggak bisa diselamatkan oleh orang lain, walaupun niatnya baik.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari tuduhan apa pun.
Aku ingin minta maaf. Ingin menjelaskan. Ingin mengatakan bahwa aku masih sering memikirkan hari itu. Tapi wajah Faiz tidak memberi ruang. Ia sudah menutup pintu itu dari dalam.
Seminggu kemudian, aku dikejutkan kabar bahwa Faiz resign. Katanya mau lanjut S2 ke Kairo. Alasannya terdengar rapi—seperti presentasi yang sudah lama disiapkan. Pendidikan. Lingkungan baru. Awal baru. Tapi aku tahu, ia hanya ingin menjauh dari suara-suara lama. Termasuk suaraku.
Hari terakhirnya di kantor, kami berdiri canggung di dekat lift.
“Jaga diri lu, Iz,” kataku.
Ia mengangguk. “Kamu juga.”
Kami berpelukan. Singkat. Tubuhnya kaku, seperti orang yang tidak ingin memberi kesempatan pada emosi untuk naik ke permukaan.
“Makasih, Fad,” katanya pelan. “Doain aku.”
Aku mengangguk. Tidak berani berkata lebih. Karena aku tahu, di antara doa-doa itu, ada rasa bersalah yang akan selalu ikut terbawa.
Setelah ia pergi, gosip buruk tumbuh dan menyebar tentang kelemahan Faiz. Sialnya malah ada yang berspekulasi mengatakan Faiz -impoten.
Seperti biasa. Kantor selalu lapar pada cerita yang tidak lengkap. Aku berusaha selalu memotong setiap kali mendengar gosip murahan itu. Mengalihkan pembicaraan. Menegur si penyebar gosip walau pelan. Lebih baik aku dianggap berlebihan daripada membiarkan nama baik sahabatku dicabik-cabik tanpa ia bisa membela diri.
Hari-hari setelah itu, kadang, di malam yang sunyi, pikiran absurd itu datang juga.
Bagaimana kalau waktu itu aku mengiyakan saja permintaan Faiz. Memuaskan Nasya, sekali. Hanya sekali. Mungkin rumah tangga mereka bisa bertahan. Mungkin Nasya akan merasa terpuaskan dan cukup. Mungkin perceraian mereka tidak pernah terjadi.
Pikiran itu singgah seperti tamu tak diundang, duduk sebentar, lalu menatapku dengan wajah penuh kemungkinan. Tapi setiap kali aku mencoba membiarkannya tinggal lebih lama, ada bagian lain dalam diriku yang berdiri.
Istri dan anak lelakiku yang baru lahir.
Mereka tak boleh jadi korban, apa pun alasannya.
^*^
Beberapa hari setelah kepergian Faiz, telepon kantorku bergetar pelan di atas meja. Bukan dering—hanya notifikasi pesan dari resepsionis.
[Mas Fadli, ada tamu mencari Mas. Namanya Nasya.]
Aku menatap layar beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Jari-jariku berhenti di atas keyboard.
Nasya.
Nama itu seperti ketukan pelan di pintu ingatan yang sudah lama kututup. Aku mengenalnya jauh sebelum semua ini berantakan—sejak ia masih pacar Faiz, sejak mereka masih sama-sama muda, rapi, dan tampak seperti pasangan yang tak mungkin goyah. Nasya selalu tenang. Tutur katanya lembut. Wajahnya bersih dengan senyum yang jarang berlebihan. Cantik dengan cara yang tidak pernah berisik.
Aku berdiri, merapikan kemeja yang sebenarnya sudah rapi. Entah kenapa, dadaku terasa sedikit sempit.
Di lobi, Nasya berdiri sendirian. Ia mengenakan kerudung krem pucat dan blus sederhana. Tak ada riasan berlebih. Hanya sepasang mata yang terlihat lebih lelah dari terakhir kali kami bertemu setahun lalu.
“Mas Fadli,” katanya lebih dulu. Suaranya tetap lembut, tapi ada jeda kecil sebelum menyebut namaku.
“Nas…” jawabku. “Kamu… sendirian?”
Ia mengangguk. “Iya. Maaf datang mendadak. Aku nggak punya nomor kamu.”
Aku mengangguk pelan. Wajar. Selama ini, aku dan Nasya hanya saling mengenal lewat Faiz. Setelah perceraian mereka, semua jalur komunikasi ikut terputus.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku hati-hati.
Ia menoleh sebentar ke arah pintu keluar, seolah memastikan sesuatu.
“Bisa ngobrol? Empat mata. Di tempat yang… aman.”
Kata aman membuat tengkukku mengeras. Aku tidak bertanya maksudnya. Aku hanya mengangguk.
“Kafe di seberang jalan,” kataku akhirnya. “Nggak terlalu ramai sore ini.”
Kami berjalan terpisah menuju mobil masing-masing. Nasya datang dengan mobilnya sendiri. Dari jauh, geraknya tetap rapi, tapi ada kehati-hatian baru—seperti orang yang sedang belajar menjaga jarak dengan dunia.
Di perjalanan singkat itu, pikiranku tidak berhenti berisik.
Permintaan Faiz yang absurd—yang kutolak, yang kupikir sudah terkubur—bergaung lagi. Bukan sebagai kalimat, tapi sebagai gema. Aku menggeleng kecil, seolah bisa mengusirnya.
‘Tenang, Fad. Ini cuma obrolan. Jangan berprasangkan buruk dulu!’
Tapi tubuhku tidak sepenuhnya percaya.
Kafe itu tenang. Musiknya rendah. Cahaya sore masuk dari jendela besar. Kami memilih meja di sudut—tidak intim, tidak mencolok. Aku memesan kopi hitam. Nasya memilih teh hangat.
Beberapa detik pertama, kami hanya duduk. Suara sendok kecil beradu dengan cangkir terdengar terlalu jelas.
“Aku nggak akan lama,” katanya akhirnya. “Aku cuma perlu bicara sama orang yang kenal Mas Faiz dan aku. Tanpa prasangka.”
Aku mengangguk perlahan. “Silakan, Nas.”
Nasya menautkan jari-jarinya di atas meja. Tarikan napasnya terukur, seolah kalimat ini sudah ia latih berkali-kali.
“Aku dengar Mas Faiz ke luar negeri.”
“Katanya begitu,” jawabku jujur. “Mesir. Kairo. Melanjutkan S2-nya.”
Ia tersenyum tipis. Bukan senyum senang. Lebih seperti pengakuan.
“Dia nggak ke Kairo, Mas.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.
^*^
