Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9

"Zee ... !! Ada Nak Edo di luar," seru Marini dari luar kamar.

Zee yang sedang berhias di depan cermin sangat terkejut, tumben sekali partner kerjanya itu menjemput. Apalagi kemarin Edo begitu menyebalkan, membuat Zee semakin geram.

Merapikan bentuk alis, Zee mulai mengaplikasikan eyeliner pada ujung matanya agar terlihat lebih tajam, menambahkan maskara agar terlihat lentik bulu matanya. Terakhir Zee memakai lipstick berwarna merah. Penampilannya kini terlihat sempurna sebagai salah satu karyawan supermarket.

Mengambil tas dan jaket, Zee keluar kamar. Di ruang tamu nampak Edo yang semakin akrab dengan kedua orang tuanya. Penampilannya terlihat agak kusut, membuat Zee penasaran apa yang terjadi dengannya. Biasanya lelaki ini terlihat segar dan agresif.

Sekilas, Edo melirik Zee yang tengah berdiri, tetapi ia tak menyapanya. Edo kembali berbincang serius dengan kedua orang tua Zee.

"Bukankah kamu ke sini untuk menjemputku?" Zee menyilangkan kedua tangannya. Memakai seragam kaus polo putih membuatnya terlihat lebih cantik.

Edo menoleh, melihat Zee yang tampak berang membuatnya tertawa.

"Sepertinya, ada yang sudah tidak sabar." Marini mengulum senyum, ia paling suka menggoda putri semata wayangnya.

Melihat penampilan Zee membuat Edo tak berkedip. Simple dan elegan, itulah yang tampak pada penampilan Zee. Berbeda dengan karyawan lainnya yang terlihat sedikit tebal saat berdandan. Bahkan mereka tak segan menonjolkan bagian tubuh yang menarik perhatian.

"Ngapain senyum-senyum." Zee mendelik menatap Edo yang tersenyum.

"Aduh Zee, galaknya dikurangin sama calon suami." Marini menegur putrinya.

Edo tersenyum menang mendapat pembelaan dari Marini.

"Ibu ... udah dibilangin dia itu cuma teman kerja, nggak lebih." Zee mendengkus kesal.

Edo berdiri mendekati Zee sejajar."Udah pantas 'kan Bu?"

"Cocok, ibu setuju seratus persen." Marini mengangkat kedua jempolnya.

Melihat gurauan ibunya dan Edo. Zee berjalan keluar rumah karena jengkel. Edo berpamitan dan menyusul Zee keluar.

Nampak wajah Zee yang terlihat kesal berdiri di samping motor kesayangan Edo.

"Sampai kapan kamu akan melipat mukamu kayak kertas?" Edo menghampiri Zee.

"Kamu kenapa sih?dari kemarin bikin sebel melulu." Zee masih kesal bila mengingat kejadian kemarin dan saat di cafe.

Edo mengambil helm dan memakaikannya pada Zee, kedua netra mereka bertemu, pancaran keduanya terasa menghangat sesaat mereka berperang.

"Aku minta maaf, sekarang aku akan tebus semua kesalahanku." Tatapan Edo terlihat tulus. Tampak berjuta luka yang ia pendam. Zee merasa ada yang aneh dengan tatapan Edo.

"Kamu baik-baik aja?" Zee merasa ada yang berbeda.

"Ya, aku baik, kamu tak perlu menghawatirkanku. Kita berangkat sekarang." Edo mengalihkan pertanyaan Zee.

Naik Agusta kesayangannya, Zee membonceng. Seperti biasa, Edo menarik tangan Zee dan meletakkannya pada pinggang. Mau tidak mau Zee harus mendekat.

Edo dengan kencang membawa motor kesayanganya, knalpotnya yang berisik membuat mereka menjadi pusat perhatian setiap orang di jalan. Mengeratkan pegangannya, Zee menyembunyikan mukanya di balik punggung Edo.

Perjalanan yang panjang membuat Zee benar-benar harus mengeratkan pegangannya, tangannya melingkar erat, membuatnya nyaman berada dalam boncengan si Agusta.

Motor Edo terhenti, Zee mengangkat kepalanya dari persembunyian, berharap suasana di parkiran supermarket masih sepi. Malu rasanya jika kepergok Alena berbarengan dengan Edo.

Bukan parkiran tempatnya bekerja yang ia dapati, melainkan parkiran sebuah area pemakaman. Suasana tampak begitu sepi, hanya ada beberapa orang yang berkunjung.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Zee heran.

Edo masih terdiam, merapikan helm, melepas jaket hitamnya. Meninggalkan Zee masuk ke dalam area pemakaman.

Lagi-lagi Zee kesal dibuatnya.'Maunya apa sih?' Zee menggeretu dalam hati, berjalan menyusul Edo.

Lelaki itu tampak berdiri di depan sebuah makam. Bertuliskan nama seorang gadis "Sonia" pada batu nisannya, meninggal tepat dua tahun silam di tanggal yang sama persis dengan sekarang.

"Kamu tahu, wanita yang ada di dalam sana adalah wanita yang sangat penting dalam hidupku." Edo terdengar agak melankolis.

Zee tidak menyangka, sosok Edo yang semprul menyimpan luka yang besar.

"Apa dia kekasihmu?" tanya Zee.

"Ia tidak hanya kekasih, ia adalah calon istriku yang meninggal tepat satu hari sebelun kami menikah."

"Ironisnya, penyebab kematiannya adalah aku." Edo mulai mengusap matanya yang mulai mengembun.

"Ma_af, aku tidak bermaksud ... ." Zee merasa iba melihat kondisi Edo.

"Tak perlu kamu kasihan pada penjahat sepertiku. Aku memang pantas dihukum." Edo duduk bersila di depan makam. Memainkan rumput hijau di sekitaran makam.

"Hei, kenapa kamu seperti ini, mana si semprul yang aku kenal." Zee ikut duduk di sebelah Edo.

Mata Edo menatap Zee."Kamu tahu? Pertama melihatmu saat itu, langsung mengingatkankanku padanya. Tatapanmu seolah menggambarkan ada dirinya pada jiwamu."

Zee terperanjat kaget, ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang diucapkan Edo.

"Wanita yang kamu lihat saat di cafe adalah adik almarhumah, Stela namanya, dari dulu sampai sekarang sifatnya tak pernah berubah." Edo menjelaskan siapa Stela.

"Kenapa kamu nggak menikah saja dengannya? Sepertinya dia suka padamu."

"Huft, nggak semudah itu Zee. Bukankah aku pernah bilang, kamu yang akan menjadi pacarku."

Zee menoleh seketika, ucapan Edo menghentakkan seluruh persendiannya.

Lelaki itu nampak serius dengan perkataannya, tetapi Zee masih ragu dengan kesungguhannya.

"Maaf, aku tidak lagi mencari pacar, aku ingin mencari seseorang yang serius menjadikanku istri, bukan lagi tahap pacaran atau sejenisnya."

Edo meraih tangan Zee."Aku tepati itu, aku akan segera melamarmu."

Zee benar-benar kaget mendengar ucapan Edo, lelaki ini benar-benar semprul, berawal dari mengaku menjadi pacar, mengejar-ngejarnya, bahkan sekarang ia mau melamarnya. Secepat itukah? Sepuluh hari saja belum terpenuhi setengahnya, tetapi dengan gampang ia memutuskan untuk melamar Zee hanya karena kemiripannya dengan almarhumah.

"Jika niatmu hanya karena aku mirip calon istrimu, maaf aku nggak bisa, perkenalan kita terlalu singkat. Aku butuh waktu."

"Waktumu tinggal lima hari untuk memutuskan semuanya, dan saat itu aku akan tepati janjiku." Edo beranjak dari duduknya. Menarik tangan Zee bediri.

Menggandengnya berjalan menyusuri jalan pemakaman. Zee hanya terdiam menurut. Ucapan Edo memang berhasil membuatnya kacau. Lima hari waktu yang sangat singkat untuk memastikan semua rasa yang ada di dalam hatinya.

Apakah benar rasa ini tulus adanya? ataukah hanya dijadikan pelampiasan semata. Terlalu banyak pertanyaan yang membuat Hati Zee semakin bimbang.

"Kamu tahu, seberapa banyak wanita yang mengejarku, tetap kamu calon istriku." Memakaikan helm dan mengaitkannya. Matanya seolah menunjukkan keseriusan.

"Jika itu benar adanya, aku hanya butuh bukti."

"Its Okey, bagiku itu tidak masalah, masih ada lima hari lagi kamu akan menerima lamaranku." Edo tersenyum, dan kembali membawa Zee mengarungi padatnya jalanan mengantar Zee ke supermarket tempatnya bekerja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel