Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10

"Zee ...! Sumpah, kamu beneran gila ya!" Alena menghampiri Zee yang tengah memasukkan jaket dan tas ke dalam loker.

"Gila apanya? Kamu tuh yang sinting, sembarangn ngatain orang. Masih waras kayak gini dibilang gila." Menutup loker dan melotot ke arah Alena.

Alena memandangi Zee dari atas sampai ke bawah. Menelisik setiap penampilan Zee, hingga membuatnya risih.

"Kamu ngapain sih, Len. Kayak orang kesurupan."

"Aku cuma heran Zee, wajah pas-pasan dan body triplek kayak kamu, kok bisa ya jadi rebutan? Kalau dipikir juga seksian aku."

"Sialan kamu, maksudnya apa ngomong kayak gitu." Zee memukul lengan Alena.

"Hahaha, maaf, aku cuma heran aja, kok bisa-bisanya dua cowok keren sampai mengejar-ngejarmu. Yang satu mantan, udah mutusin, eh sekaranginta balikan. Yang satunya lagi cowok tampan yang uh.... Beneran nggak nahan kalau lihat dia." Alena menampakkan ekspresi genitnya.

"Ish, kamu ini genit banget sih. Ambil aja kalau mau."

"Hahahaa aduh Zee, beneran jangan nyesel lho ya kalau si Edo nyantel sama aku." Alena mengerlingkan matanya,membuat Zee makin gerah dengan tingkah sahabatnya.

"Ish beneran sinting, ketahuan Joni, baru kapok."

"Ih, ngancem. Kelihatan tuh gak rrla kalau Edo buat aku." Alena makin menggoda, membuat Zee semakin terpojok.

Meninggalkan Alena, Zee berjalan menuju kassa tempatnya bekerja. Melihat Edo yang tengah berbincang dengan Pak Felix. Sekilas mata mereka beradu, Edo tersenyum menyapanya. Sementara Zee malah menunduk malu, hatinya terasa berbunga. Sepertinya kupu-kupu telah menyerbuk bunga di hatinya.

Duk...

"Aw ... !" Zee menabrak tembok pembatas ruangan manajemen dan area supermarket.

Zee mengelus dahinya yang terasa sakit, melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang melihatnya. Malu rasanya ada yang memergokinya menabrak tembok.

"Kalau jalan hati-hati, Zee."

Zee menoleh asal suara, ia bernapas lega, bukan Edo yang di belakangnya. Malu rasanya bila kepergok olehnya.

"Kamu kenapa? Seperti melihat setan," heran Riki yang melihat raut wajah Zee.

"Iya, kamu setannya." Zee melengos, berjalan meninggalkan Riki. Mantannya itu selalu saja hadir di waktu yang tidak tepat.

"Zee." Riki menahan tangan Zee, menghentikan langkahnya.

"Rik, jangan kayak gini, please."

Perlahan Riki melepas tangannya, membiarkan Zee pergi meninggalkannya. Melihat punggung Zee yang mulai menghilang di balik Rak barang.

"Bro, sepertinya kamu harus melupakan Zee." Seseorang menepuk punggung Riki dari belakang.

Ternyata, ada Edo yang mengamati mereka sedari tadi.

"Itu bukan urusan kamu." Riki menghempas tangan Edo. Matanya menatap tajam, baginya Edo hanya pengganggu antara dirinya dan Zee.

"Wait ... Kamu harus ingat, Zee itu pacar aku. Okey. Kamu itu adalah mantan, hanya bagian masa lalu. Zee memang harus melihat dengan lebar lelaki macam apa kamu ini." Edo membalas menatap tajam Riki, seolah menyimpan sebuah kartu rahasia yang membuat Riki telak.

"Wow, seorang pegawai rendahan yang sok tahu." Riki kembali menyorot mata Edo sinis.

"Apa yang aku lihat kemarin itu adalah bukti yang kuat, ternyata orang kalem sepertimu itu bisa bejat juga. Lebih baik lihatlah diriku, aku memang seorang player, tetapi setidaknya aku tidak pernah mengelabuhi orang dengan tampilanku. Jadi, terserah orang mau menilaiku seperti apa. Satu lagi, jangan dekati Zee, dan mempermainkannya."

Ucapan Edo sukses membuat Riki kelimpungan, kesempatan untuk mendekati Zee lagi sepertinya sedikit sulit dengan kehadiran Edo.

"Shit ... !!!" umpat Riki. Melihat Edo berjalan memasuki area supermarket membuatnya semakin geram.

Wajahnya memerah menahan amarah, Rencana yang ia susun gagal karena keteledorannya saat di club kemarin. Zee adalah satu-satunya wanita yang tidak bisa ia lupakan, hubungan yang terjalin lama hancur karena keegoisannya. Ia baru menyadari rasa cinta Zee begitu besar kepadanya.

Begitulah cinta, kalau sudah tiada baru terasa. Padahal kehadirannya begitu berarti.

*****

"Kak, boleh minta nomor teleponnya?" Di sela-sela antrian pembeli, seorang gadis ABG meminta nomor Edo.

Zee sekilas menoleh sembari menscan barcode barang pembeli, tatapannya menunjukkan tidak suka ada yang menggoda Edo.

"Ini barangnya dimasukin ke kantung, pembeli sudah antri banyak nih!" ketus Zee.

Edo tersenyum, ia paham bila Zee tengah kesal dan cemburu. Wanita itu terlalu malu untuk mengakui bahwa ia memang suka pada Edo.

"Adek gemes, nanti tunggu di sana aja ya, Kakak kasir lagi jutek." Edo menunjuk sebuah food counter di depan.

"Hihihi siap Kakak ganteng." Mengambil belanjaannya gadis itu tersenyum genit pada Edo.

Zee menatap Edo tak suka.

"Nggak usah sok tebar pesona sama pembeli, fokus kerjanya, banyak antrian." Kembali Zee menggeser barang yang telah ia scan.

Edo mendekat."Kamu cemburu?" bisik Edo.

"Ish, ge er, aku nggak mau para pembeli komplain karena kamu suka tebar pesona."

"Hahahha." Edo malah tertawa. Kembali menaruh barang ke dalam kantung plastik. Menyerahkannya kepada pembeli dengan senyum termanisnya.

"Makasih kakak ganteng, jadi betah antri di kassa ini." Seorang customer lagi-lagi menggoda Edo.

"Sama-sama Tante cantik." Edo pun membalasnya.

"Ish dibilangin fokus. Lihat masih banyak antriannya." Zee semakin kesal dibuatnya.

"Iya ... ."

"Mbak, jangan galak-galak sama Kakak ganteng, kasihan." Seorang pembeli yamg antri menyeletum menegur Zee.

Edo tersenyum menang, melihat raut muka Zee yang berubah merah padam, sama seperti api yang tengah berkobar di padang hijau.

"Mbak kasir nggak galak kok, maafin ya." Edo tersenyum, para pembeli pun malah bergurau menanggapi perkataan Edo.

Zee hanya menghela napas, rasanya ia kalah bila melawan para barisan penggemar Edo. Pesona lelaki playboy itu benar-benar menghipnotis para pengunjung. Pantas saja kassa tempat Zee selalu ramai antrian.

Edo merupakan penggemar motor sport, tak heran Mv agusta selalu menemninya di jalan. Ada kenangan buruk saat ia harus mengemudi mobil. Itulah yangembuat Edo lebih nyaman mengendarai motor kesayangannya.

Tampilan Edo juga sangat berbeda dengan pramuniaga magang yang lain. Wajahnya terlihat lebih tampan, banyak karyawan yang sering curi-curi pandang, tak terkecuali Alena, sahabat Zee.

Antrian kassa mulai berkurang, membuat Zee sedikit lega. Punggun fan kakinya terasa pegal karena sedari pagi tak berhenti menghitung belanjaan pengunjung supermarket. Hari ini pengunjung begitu membludak, bahkan antrian di kassanya tak berkurang sedari pagi.

"Capek? Neh minum." Edo menawarkan sebotol air mineral saat kassa 28 terlihat sepi antrian.

"Eh, jangan minum sembarangan! Ketahuan Pak Felix bisa kena SP nanti." Zee langsung menyembunyikan botolnya.

Edo malah terlihat santai meneguk minumannya, beberapa karyawan yang lain hanya mengamatinya pe uh was-was.

"Ish, udah dibilang jangan minum sembarangan. Sembuyiin gak!" Zee merebut minuman Edo tapi tak berhasil.

Edo malah melempar botolnya dari tangan satu ke tangan yang lain, membuat Zee kewalahan.

Brukkk

Zee tersandung dan menabrak tubuh Edo, membuat mereka jatuh ke lantai dan sukses membuatnya menjadi tontonan umum.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel