Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8

Menyususri jalanan kota, Zee masih enggan pulang ke rumah. Melihat keadaannya yang seperti sekarang ini, pasti bapak dan ibunya berpikiran yang macam-macam. Pikirannya yang kacau membuatnya membutuhkan seseorang untuk bercerita, Alena sahabatnya lah jawabannya.

Sesampainya di rumah Alena, Zee menekan bel di depan berulang-ulang. Hasilnya nihil, tidak ada satupun orang muncul, sepertinya Alena tidak ada di rumah. Ia memutuskan kembali ke rumah saja, meskipun harus bersiap menghadapi berbagai macam pertanyaan. Toh antara dirinya dengan Edo tidak terjadi apa-apa dan mereka juga tidak mempunyai hubungan khusus.

Zee menarik napas panjang, mencoba menetralisir dan mencerna kejadian barusan. Seharusnya ia tidak perlu marah ataupun kesal saat melihat Edo dengan wanita lain, bahkan Edo hanyalah seorang yang mengaku-ngaku menjadi pacarnya. Jadi, tidak ada alasan yang tepat untuk Zee cemburu ataupun kesal pada Edo.

Melihat kedua orang tuanya tengah asyik menonton televisi membuat Zee semakin kecut, merasa kecewa belum bisa membahagiakan mereka di saat memasuki usia senja.

"Zee, duduk dulu," panggil Marini saat Zee melintas di ruang santai.

Dengan langkah yang gontai Zee duduk di sofa, berusaha menata hati agar ibunya tidak curiga.

"Kamu dari mana saja? Edo datang kemari mencarimu, ia tampak khawatir, kalian tidak sedang bertengkar 'kan?" tanya Marini, raut wajahnya sedikit khawatir melihat anak perempuannya yang terlihat kusut.

"Aku dari rumah Alena, Bu, mengenai Edo, aku dan dia hanya berteman di tempat kerja, tidak lebih." Zee mencoba menjelaskan keadaan sebenarnya, ia hanya mencoba mengantisipasi agar ibunya tidak kecewa.

"Apapun itu, bagi ibu, Edo anak yang baik."

"Betul kata Ibu, Bapak sangat setuju bila kalian menikah." Rahman ikut menimpali.

Zee terkejut mendengar ucapan kedua orang tuanya, kenapa mereka malah mendukung hubungannya bersama Edo, padahal lelaki itu hanya mempermainkannya.

"Bapak, kok malah ikutan, Edo itu hanya teman, Pak. Dia sudah punya pacar," jelas Zee. Ia tidak mau orang tuanya kecewa kedua kalinya, setelah Riki pernah menghianatinya.

"Sudah-sudah, kamu bersih-bersih dulu sana, setelah itu telpon Edo, dia itu khawatir sama kamu, Zee. Ibu sangat yakin kalau dia serius sama kamu." Marini mencoba menjelaskan bagaimana khawatirnya Edo saat ke rumah.

"Ish, Ibu apaan, sih, udah dibilangin kita cuma teman." Zee beranjak dari tempatnya masuk ke dalam kamarnya, tempat ternyaman bagi Zee saat hatinya tengah gundah.

Perkataan ibu dan bapaknya semakin membuatnya bimbang, bahkan semakin membuatnya bertanya-tanya, apakah ia mulai menaruh perasaan pada playboy semprul itu? Sepertinya Zee memang perlu menyegarkan pikiran, dan mendengarkan musik adalah cara yang sering ia lakukan untuk menstabilkan pikirannya.

Lagu "One Thousand Years" masih menjadi pilihan Zee menjadi playlist Mp3 di ponselnya, perasaan yang kacau membuatnya ingin mendengarkan lagu milik cristina perri.

Lagu ini mempunyai makna tersendiri bagi Zee, lagu tentang penantian cinta yang berujung manis. Lagu yang seolah memandang bahwa salah satu bentuk cinta sejati adalah “menunggu” orang yang memang benar-benar dicintai, dan Zee masih menantikan sosok cinta sejatinya itu yang tak tahu kapan datang.

****

Hari libur adalah hari yang paling menyenangkan bagi Zee, di mana ia tidak akan bertemu dengan Riki, dan mengahadapinya di tempat kerja.

Pagi hari, ia lebih suka bergumul di dalam selimut, bermalas-malasan di dalam kamar, tanpa melakukan hal yang berarti. Marini berulang kali memanggil putrinya, tetapi Zee masih asyik menarik selimutnya. Tak menyahut panggilan ibunya.

Zee ingin menenangkan pikirannya yang sempat kacau beberapa hari ini, ingin mencoret semua nama yang mengganggunya belakangan ini. Tidak ada Riki, Edo ataupun yang lainnya. Zee ingin fokus memanjakan diri. Duduk, ia mulai merapikan rambut yang berantakan, membersihkan wajah yang sudah tak beraturan karena air liur.

'Yeah, akhirnya aku bebas dari si semprul' Zee berbicara sendiri di depan cermin.

Melihat dirinya yang terlihat berantakan di depan cermin, membuatnya merasa iba pada diri sendiri, betapa malangnya nasib percintaannya, belum saja pintu hatinya terbuka, kini harus tertutup rapat lagi.

Wajah wanita itu sangat tergambar jelas, ekspresinya saat berbicara pada Edo menandakan sebuah keseriusan. Yang membuat Zee kecewa, Edo tidak menjelaskan satu hal apapun kepadanya tentang wanita tersebut.

Tiba-tiba muncul bayangan Edo pada cermin, lesung pipitnya menyapa, Zee berulang kali memastikan penglihatannya. Bagaimana bisa lelaki semprul itu masuk ke dalam kamarnya, bahkan dengan santainya ia tersenyum kepada Zee. Selang sebentar sosok Edo menghilang dalam pandangannya. Kini, hanya wajah Zee yang menghiasi cermin di depannya.

'Kamu itu emang seperti hantu, bisa muncul di mana saja.' Zee berbicara sendiri di depan cermin.

'Kamu itu, bena-benar playboy semprul yang harus aku jauhi.' Kembali Zee, berbicara sendiri.

Malas rasanya ingin beranjak untuk mandi, badan berasa lengket dan baunya sudah tak bersahabat lagi, tetapi pikiran Zee masih saja terpaut pada Edo. Sepertinya lelaki itu sudah menebarkan virus yang melebihi virus corona yang merajalela sekarang ini, buktinya sampai sekarang Zee masih memikirkan perkataan Edo kemarin, membuatnya menginstropeksi diri sendiri.

Apakah selama ini dia yang terlalu kaku menjadi cewek, sehingga membuat Riki bosan? Atau itu hanya sebuah alasan Edo agar Zee tidak berpikiran jelek tentangnya? Semua itu hanya Edo yang tahu apa maksud dari ucapannya kemarin.

****

"Zee, bantu ibu beli keperluan dapur di pasar ya?" pinta Marini di saat Zee tengah minum di dapur.

"Hmmm, males ah, Bu. Panas, ntar kulitku jadi item karena kepanasan." Zee bercanda, sambil mengerucutkan bibirnya.

"Anak gadis Ibu nggak boleh malas, jodohnya jauh nanti," gurau Marini, menyerahkan tas belanjaan kepada Zee.

"Ibu doanya kok jelek, bukannya aku nggak mau buru-buru menikah. Aku hanya ingin mencari suami yang benar-benar serius Bu, jadi doakan saja semoga anakmu ini cepat mendapatkan jodoh." Zee merasa bersalah dengan statusnya yang masih betah menjomblo.

"Amin, Ibu doakan yang terbaik buat kamu, syukur-syukur Nak Edo yang jadi menantu Ibu." Marini malah tertawa, melihat reaksi Zee berubah membuatnya semakin yakin bahwa putrinya memang tengah jatuh cinta.

"Ish, Ibu ngapain sih? Pakai nyebut nama si semprul segala, jadi males tauk." Zee merasa tak senang ibunya menyebut nama Edo.

Marini hanya geleng-geleng kepala melihat watak Zee yang keras. Bagaimana dia bisa mendapatkan calon suami kalau hatinya sekeras batu. Sebelum mendekat pasti mereka akan lari tunggang langgang karena sifat Zee yang seperti ini.

Berpamitan, Zee lebih memilih naik ojek ketimbang naik motor sendiri. Jarak rumah ke pasar tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup 10 menit sudah sampai di pasar tradisional langganan ibunya.

Membayar ongkos ojek, segera Zee masuk ke dalam pasar membeli perlengkapan dapur yang telah ditulis Marini pada selembar kertas. Suasana pasar yang ramai membuat Zee sedikit kesusahan berjalan di kerumunan orang.

Akhirnya Zee bisa bernapas lega, terbebas dari sesaknya pengunjung. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Sebentar Zee duduk di Halte depan pasar melepas capek, menikmati semilir angin.

Saat menikmati sepoinya angin, tiba-tiba saja Edo datang meraih tas belanjaan Zee, membuatnya kaget mengira ada copet.

"Kamu?" Melihat Edo, membuatnya semakin kesal karena kejadian kemarin.

"Iya, ini aku. Kamu ini kenapa sih? Suka banget bikin orang khawatir."

"Kenapa apanya? Aku baik-baik aja, lagian ngapain juga kamu mesti khawatirin aku," ketus Zee.

"Kamu ini batu atau manusia, sih?"

"Manusia lah, kalau aku batu, nggak mungkin berada di depanmu." Zee masih sengit melihat Edo yang seenaknya merebut barang bawaannya.

"Kalau kamu manusia, nggak mungkin hatinya keras kayak batu di goa."

"Menurutmu? Aku manusia purba yang hidup jaman primitif." Zee tambah kesal dengan ucapan Edo barusan, baru kali ini ia mendengar seorang lelaki mengatainya.

"Aish, kamu itu, beneran cewek aneh, udah neh, bawa barangmu, aku mau kencan sama si Agusta. Menghadapimu membuatku tidak bisa menikmati hidup." Menaruh barang bawaan Zee, meninggalkannya sendirian di halte depan pasar.

"Hei, awas kamu! Nggak usah temui aku ataupun sebut namaku!" Zee meneriaki Edo dari kejauhan, tetapi lelaki itu masih saja berjalan tak menghiraukan seruan Zee.

Melihat Edo yang mulai menghilang dan hanya meninggalkan suara motornya yang meraung-raung, membuatnya semakin kesal pada Edo.

Tadinya ia berpikir Edo berbeda dengan playboy manapun, nyatanya, sama saja, bahkan lebih menyebalkan dari semua pria yang Zee kenal.

'Kenapa harus kayak gini, sih,'

Zee benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada hatinya, di saat ingin berdamai dengan Edo. Hatinya selalu berontak, yang ada hanya kesal bila berbicara padanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel