Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Zee terpekur melihat lalu lalang pengunjung supermarket dari kassa 28 tempatnya sekarang. Ucapan Edo sukses membuatnya tidak bisa lepas memikirkannya. Perkataan lelaki itu seakan membawa magnet baginya, seolah membuatnya tertarik medannya ke dalam arus magnet ucapannya.

Senyum manisnya seolah merekah di dalam bayangannya, lesung pipitnya, tubuh kekarnya, semua paket komplit dalam Edo terbayang di dalam pikiran Zee.

Pengunjung supermarket mulai ramai berdatangan, tetapi sampai sekarang Edo belum juga muncul. Mulai tampak antrian di kassa 28, Zee mulai kewalahan, harus menghitung dan membungkus belanjaan.

"Bisa kubantu?"

Zee terkejut melihat Riki yang sudah berdiri di sampingnya, ingin menolak tapi ia butuh bantuan agar pekerjaannya lebih ringan, apalagi antrian customer yang mulai memanjang.

Tanpa sepatah kata apapun, Zee membiarkan mantan kekasihnya itu membantunya, sedangkan ia menghitung total pembayaran customer.

Antrian mulai berkurang, akhirnya Zee bisa bernapas lega, setidaknya ia menghindari Riki, memintanya untuk pergi dari tempatnya.

"Riki, aku rasa, aku sudah bisa mengatasinya sendiri, kamu boleh pergi sekarang." Tanpa basa-basi Zee meminta Riki meninggalkannya.

"Zee, kamu kerepotan, lihatlah sudah jam segini, partner kerjamu itu belum juga datang, heran aku dengan Pak Felix, kenapa memperkerjakan pegawai seperti dia, sering bolos dan tidak tepat waktu." Riki memperlihatkan ketidak sukaannya pada Edo.

"Udahlah, dari pada kamu sibuk mengurusi urusan orang, lebih baik kamu urusi urusan pekerjaan kamu."

"Bukankah aku seoramg supervisor? Jadi berhak rasanya aku menilai kinerja seseorang yang aku rasa tidak layak."

Zee malah semakin geram dibuatnya, mantan kekasihnya itu benar-benar membuatnya muak kali ini, bukan karena kejadian beberapa tahun lalu, tetapi karena perkataannya yang menyudutkan Edo.

Terdengar ponsel Riki berdering, ia segera menerima panggilan telepon dan menjaug dari Zee, dari raut mukanya ia nampak begitu serius, Zee tak memperdulikannya. Hingga akhirnya Riki menghilang dari pandangannya.

'Ke mana, ya, dia? Sampai sekarang belum datang ke kassa juga,' batin Zee, kembali mengamati lalu lalang customer di pintu masuk supermarket.

Bayangan Edo tiba-tiba bermunculan di dalam pikirannya. Tawanya seakan kembali membuatnya hanyut dalam lamunan.

Senyum manis itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Wajah yang beberapa jam lalu mampu memporak-porandakan medan dalam otaknya, mendekat dan menyapanya, bahkan Zee tidak menyadari kehadiran lelaki yang dinantinya.

"Kangen, ya, sama aku?" Edo mendekat, berdiri di samping Zee, bersiap melayani customer yang antri.

"Iya," jawab Zee. Ia tak menyadari kehadiran Edo di sampingnya.

"Apa aku bilang, ini baru tiga hari lho." Edo menyenggol bahu Zee hingga membuatnya tersadar dari lamunannya.

Zee tersentak mendengar ucapan lelaki di sampingnya."Kamu?" terkejut, hingga mimik wajahnya nampak gusar.

"Iya, ini aku, Mbak kasir."

'Mampus aku, bisa tambah geer dia kalau kayak gini.'

Zee hanya geleng-geleng kepala, menyesali kebodohannya. Beruntung ada customer yang datang, hingga membuatnya bisa mengalihkan rasa malunya yang begitu besar.

*****

Membuka bekal, dan memakannya di ruang karyawan membuat Zee lebih nyaman ketimbang harus berdesakan di kantin. Alena yang biasa menemaninya harus pulang lebih awal karena mengambil jam pendek minggu ini.

Edo masuk, dan merapikan loker miliknya, mengambil jaket dan helm, duduk menghampiri Zee yang tengah makan siang.

"Calon pacar, aku pulang dulu, maaf hari ini aku tidak bisa membantumu sampai jam kerja selesai."

"Kenapa?" Zee menghentikan aktifitasnya, sepertinya ia mulai penasaran dengan sosok Edo. Padahal ia hanya berstatus pegawai biasa, tetapi dengan seenaknya ia masuk dan pulang saat jam kerja.

"Nanti juga kamu bakal tahu. Oh, iya sepertinya si supervisor itu masih mengejar-ngejarmu, ya? Sepertinya ia masih mencintaimu."

"Sudahlah tak usah bahas dia, sepertinya kamu sedang tidak enak badan, apa kamu sakti?" Zee melihat wajah Edo yang nampak sedikit pucat.

"Apa kamu mulai menghawatirkanku?" Edo tersenyum.

Zee menelan ludah seperti rertampar oleh ucapan Edo, malu bila rasa hawatirnya, terlalu jelas terlihat.

"Sudahlah, aku pulang, baik-baik jaga diri, jangan sampai kamu akan merindukanku." Edo beranjak meninggalkan Zee sendirian, rasanya ia masih tidak yakin bahwa begitu cepat kebersamaannya bersama Edo begitu singkat.

Lelaki yang biasa membuatnya jengkel, yang biasa membuatnya naik darah, bahkan seringkali dengan kekonyolannya mampu membuat Zee tersipu malu.

Mungkin Zee memang perlu membuka hati dan mengenal sosok Edo lebih dalam, kesan pertama pertemuan mereka membuatnya selalu berpikiran negatif, padahal tidak selamanya apa yang dilihat sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

'Mungkin sudah saatnya aku move on,' batin Zee, sembari tersenyum melihat bayangan Edo yang mulai menghilang.

****

Edo masih terdiam tak menjawab pertanyaan gadis di depannya, raut wajahnya tampak tidak nyaman, rasanya ingin meloncat dari tempatnya, menghadapi Stela, adik almarhumah calon istrinya ini benar-benar membuatnya muak.

Gadis ini rela melakukan apa saja hanya untuk mengambil hati Edo, bahkan seringkali ia membuat hubungannya dengan almarhumah kekasihnya sering berdebat hanya karena ulah Stela.

"Cepat katakan, apa maumu, waktuku tidak banyak."

"Kak Edo, kenapa, sih, ini masih sore, masih banyak waktu senggangku untuk Kakak, tak perlu buru-buru."

"Aku yang ada urusan, Stela, jadi bergegaslah apa yang ingin kamu katakan."

Gadis itu mendengkus, ia sudah mengira pasti Edo akan menghindarinya. Ia mulai mengungkpakan apa yang menjadi pesan mama papanya, Edo terlihat terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang disampaikan Stela.

Seorang wanita dari kejauhan baru memasuki cafe sendirian, masih memakai seragam supermarket tempatnya bekerja, ia terkejut melihat Edo yang tengah berbicara serius kepada seorang wanita.

Kedua kalinya Zee mendapatinya bersama seorang wanita, di saat hatinya mencoba ingin mengenal lebih dalam sosok Edo.

Kenapa di saat hati mulai membuka diri, rasanya akan sesakit ini bila melihatnya bersama yang lain. Zee masih berdiri di depan pintu, langkahnya terasa ragu ingin masuk, melihat Edo bersama yang lain membuatnya ingin berlari dan menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan.

Tatapan mereka bertemu, Zee mengusap bulir bening yang terlanjur terurai, bahkan Edo tidak mengira ada Zee yang sedang memantung di ujung pintu.

Zee segera berbalik keluar, tak ingin rasa sakit mulai menyergap hatinya.

Harusnya ia paham, harusnya ia belajar dari kebodohnnya saat menjalin hubungan bersama Riki, bahkan dengan seorang Edo yang baru saja ia kenal tanpa sengaja. Harusnya ia tidak segampang itu percaya pada lelaki semacam Edo.

"Kalau ingin menangis, nggak usah ditahan, nyesek jadinya." Edo menyodorkan sebuah tisu pada Zee yang tengah duduk di taman cafe.

Zee menoleh, disambarnya tisu dengan muka masam, tak memperdulikan Edo yang tersenyum ramah padanya.

"Kamu cemburu?" tanya Edo tanpa basa-basi.

Zee menarik napas dalam, mendengar pertanyaan Edo membuatnya terasa sesak mengingat kejadian beberapa waktu lalu.

"Untuk apa aku cemburu dengan pria semacam kamu."

"Sudahlah, kalau cemburu ngaku saja tak usah kamu tutupi." Edo menyilangkan kedua tangannya.

"Aku hanya jengah melihat lelaki seperti kalian, kamu dan Riki tidak ada bedanya." Zee nampak benar-benar kesal kali ini.

Edo membalikkan badannya, menghadap Zee yang tengah tersulut amarah."Pantas ya, pria itu meninggalkanmu, ternyata kamu itu wanita yang benar-benar keras kepala."

Zee membulatkan mulutnya, tak menyangka Edo akan berkata seperti itu, ia pikir ia akan menjelaskan siapa wanita itu, tapi pada kenyataannya tidak.

"Kamu?"

"Iya, memang itu apa adanya, banyak wanita yang aku kenal, bahkan mereka lebih cantik dari kamu, tapi tak ada satupun dari mereka yang keras kepala seperti kamu."

"Lantas buat apa kamu di sini? Hanya membuang waktumu saja!" ketus Zee, hatinya semakin remuk mendengar ucapan Edo.

"Aku hanya tidak tega melihat kamu harus terkurung dengan masa lalu yang harusnya kamu buang jauh-jauh."

"Itu bukan urusan kamu." Zee mengusqp air matanya yang meleleh, berdiri meninggalkan Edo dengan harapan yang hancur.

Sore yang indah berubah menjadi mendung yang kelabu, mungkin memang benar, Edo hanya mempermainkan Zee, ia hanyalah seorang playboy yang dengan gampangnya mengejar wanita dan membuangnya setelah ia puas berkencan.

Terlalu banyak misteri, dan terlalu naif bagi seorang Zee menanggapi serius petkataan Edo yang jelas-jelas hanya bermain-main dengannya.

Setidaknya apa yang dikatakan Edo ada benarnya, masa lalu adalah hal yang harus dikubur dalam-dalam, jangan hanya karena masa lalu , Zee menjadi menyamaratakan semua laki laki.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel