Bab 6
"Ada apa dengan Riki?" tanya Zee.
Tidak menampik perasaan, sebenarnya Zee masih penasaran apa yang terjadi dengan mantan kelasihnya itu.
"Tuh, kan, masih penasaran." Edo malah terkekeh melihat Zee yang penasaran.
"Ish, kamu ... ."
Edo berhenti tertawa, ada rasa tidak tega bergolak di dalam hatinya. Ingin rasanya ia mengucapkan kenyataannya, tetapi bibirnya terasa kelu dan tertutup rapat. Pantang rasanya bila ia bergosip, apalagi menyangkut perasaan wanita di depannya.
"Hei...!" Zee melambaikan tangannya di depan Edo. Lelaki itu tampak melamun memikirkan sesuatu.
"Iya, aku masih sadar, udahlah gak penting, ngapain ngomongin masa lalu kamu, ada masa depan kamu di sini. Jadi gak usah mikirin yang buat kamu sakit." Edo mulai mengeluarkan jurua rayuan maut miliknya.
"Terserah kamu lah ngomong apa, pusing aku mendengarnya." Zee berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia tak mau karena gugup Edo semakin menggodanya
Beruntung kedatangan waitress mampu mengalihkan perhatian, setidaknya ia terhindar dari gombalan lelaki di depannya, meskipun Zee juga heran, kapan ia memesan makanan.
"Nggak usah heran, cafe ini sudah aku anggap kayak rumahku sendiri, tanpa aku pesanpun mereka sudah paham apa yang harus mereka lakukan." Edo menebak apa yang ada dalam pikiran Zee.
'Ini orang memang pedenya tingkat super, ampun dah, kenapa aku bisa kenal lelaki seperti dia.' Zee bergumam dalam hati.
Tanpa basa-basi Edo langsung menyantap makanan yang tersaji, sementara Zee masih terasa kenyang. Mengamati lelaki di depannya membuat Zee tersentil, sebenarnya Edo sangatlah tampan, bahkan bisa dibilang idola para wanita.
Hati Zee tergelitik untuk mengamati Edo lebih dalam, Alisnya yang tebal membuatnya tampak terlihat lebih macho, lesung pipitnya, kornea matanya, bibirnya yang seksi, otot lengannya begitu kekar, pasti dia rajin berolah raga dan fitnes.
'Pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padanya,' batin Zee.
"Mbak kasir, kalau suka bilang suka, nggak usah curi-curi pandang, aku tahu kalau aku itu tampan, jadi cukup mudah bagiku membuatmu jatuh cinta padaku."
Zee terkesiap, malu rasanya ketahuan mengamati Edo secara diam-diam. Mencoba mengalihkan rasa malunya, Zee meminum cappucino float miliknya.
Edo berbalik menatap Zee, melihat wanita di depannya salah tingkah, semakin membuatnya merasa menang. Bahkan hatinya semakin tergelitik untuk mengenal Zee lebih jauh. Wanita itu sungguh menarik hatinya. Sederhana, tapi mampu membuat hati Edo penasaran. Jarang sekali wanita tipe seperti Zee.
"Kamu tahu? Cinta, sayang, suka, ketiga kata itu mempunyai arti yang berbeda."
Tiba-tiba Edo melontarkan sebuah perkataan yang membuat Zee terheran. Lelaki di depannya masih saja menatap Zee tanpa henti, hingga membuatnya benar-benar salah tingkah.
"Bukankah semua itu sama?" tanya Zee, tangannya masih sibuk mengaduk cappucino float miliknya. Manik matanya tak berani bersinggungan dengan Edo, takut bila nanti ia harus terjerat dengan playboy seperti Edo.
"Yang sama itu, hanya dua perasaan insan yang saling mencinta."
"Kok, aku mendadak gerah ya." Zee celingukan, tiba-tiba saja ia bingung mengartikan perkataan Edo.
"Hei, santai saja, aku tidak sedang memintamu menjadi pacarku." Edo terkekeh melihat ekspresi Zee.
"Ish, ge er, aku memang kegerahan tauk." Zee berkilah, padahal hatinya sudah dag dig dug tak karuan.
Kornea hitam itu, terus saja memandanginya hingga membuatnya salah tingkah. Bahkan sosok Zee yang cuek dan galak, tetiba hilang, hanya karena pandangan Edo.
"Sepertinya, kita harus pulang, aku khawatir keadaan rumah."
Keadaan yang sudah terjepit membuat Zee ingin segera melarikan diri, malu rasanya bila ia harus lama-lama berhadapan dengan Edo.
Lelaki itu, hari ini benar-benar berhasil memporak-porandakan hatinya sejak pagi. Melihatnya bersama wanita lain benar-benar membuatnya tersulut emosi, dan sekarang, ia berhasil membuat Zee terpojok.
******
Malam hari, di suatu tempat hiburan malam. Lampu berkerlap-kerlip membuat para muda-mudi terlena dengan alunan music Dj.
Semuanya hanyut dalam hentakan music electrik yang menyihir, pria, wanita, semua bercampur baur tak ada jarak, bau alkohol pun mulai menguar. Tak segan sepasang kekasih mengumbar kemesraan diantara kerumunan. Bagi mereka itu sudah menjadi hal biasa, dunia malam yang penuh kebebasan.
Edo duduk termenung di tempat Vip, memandangi segelas cocktail, membuatnya mengingat kenangan masa lalunya, kejadian yang membuatnya terseret ke dalam dunia malam, membuatnya tersesat ke dalam kehidupan bebas, serta membuatnya sering berkencan dengan wanita-wanita cantik yang mengelilinginya.
"Edo ... !" Seorang wanita cantik menghampirinya, tangannya yang lentik bergelayut manja.
"Kamu kemana aja?tumben banget baru kelihatan, aku udah kangen sama kamu," bisiknya manja.
Edo merasa risih, dilepasnya perlahan tangan yang menempel di dadanya.
"Edo, kamu kenapa, sih?" kesal Vani karena penolakan Edo.
"Van, gue nggak mau diganggu." Edo menepis tangan Vani yang berusaha menyentuh pipinya.
Kesal, Vani pergi meninggalkan Edo, wanita bertubuh seksi itu menggerutu tiada habisnya dengan perlakuan Edo. Baru kali ini Lelaki tampan itu menolaknya.
"Hei, Bro, lu apain Vani sampai ngomel-ngomel kayak gitu." Doni datang dengan merangkul seorang gadis muda menghampiri Edo.
"Males gue, ngeladenin cewek genit kayak dia." Edo meneguk cocktail di tangannya.
"Wow, sejak kapan lu kayak gini Bro? Biasanya juga lu langsung tancap gas kalau ada Vani." Doni setengah tak percaya dengan Edo. Sohibnya itu benar-benar berubah.
"Gue keinget Sonia, Don."
Doni tetiba iba melihat Edo yang terlihat sedih, wajah yang biasanya terlihat menawan kini tampak sedih.
Doni memberi kode pada gadisnya untuk segera meninggalkan mereka berdua. Ia tahu bila sahabatnya tengah mengingat masa lalunya.
"Sudahlah Edo, biarkan Sonia tenang di sana." Menepuk punggung Edo, berusaha menenangkan sahabatnya yang teringat akan calon istrinya.
"Gue merasa bersalah, Don." Edo mengusap air mata yang mulai menetes.
Mengingat Sonia, membuat hatinya semakin merasa bersalah atas kematiannya. Bertahun-tahun ia terkunci dalam perasaannya itu, saat itu pula ia mulai melampiaskan seluruh kemarahannya.
"Hei, santai ajalah Bro, yang lalu biarkan berlalu. Oh iya, gue dengar lu bekerja di supermarket jadi pramuniaga di sana? Ngapain sih Do, kurang kerjaan aja lu."
"Ish, gue juga butuh makan, Don."
"Shit, nggak usah bohong, tu supermarket punyak bokap lu, ngapain juga pake jadi pramuniaga di sana?"
"Hahahha, udah lah lu gak perlu tahu dan gak usah cari tahu, gue pengin buka lembaran baru, jadi lu gak usah gangguin rencana gue." Edo tersenyum mengingat kebersamaannya bersama Zee.
"Yaelah, emang kamu itu dasar semprul, ujung-ujungnya juga pasti perkara wanita." Doni menebak gelagat sahabatnya.
"Udah, diem aja lu gak usah mau tahu urusan orang."
"Semprul." Doni menonyor lengan Edo, wajah yang semula muram kini mulai tersenyum lagi.
Kedua sahabat itu semakin terlarut dengan pekatnya malam, sementara di tempat lain ada seorang wanita yang tengah resah memikirkan pertemuannya dengan Edo tadi siang.
Bayangan wajah Edo semakin melintas dalam pikirannya, entah apa yang akan ia lakukan bila esok nanti berjumpa dengannya.
Apakah sekarang dia benar-benar sudah bisa move on?atau hanya sekadar pelarian semata? yang pasti, baginya kehadiran Edo masih menyimpan misteri tersendiri baginya, kedatangan lelaki itu begitu tiba-tiba.
