Bab 5
Zee mulai mengemasi barang-barang Rahman, tadi pagi dokter menyatakan bahwa Rahman sudah boleh pulang, tetapi harus tetap melakukan pemeriksaan rutin satu minggu sekali, sampai dokter menyatakan semua dalam keadaan normal.
Sepanjang melewati koridor rumah sakit, Zee celingukan mencari keberadaan seseorang yang semalam mengantarnya, ada rasa menyesal karena belum mengucapkan terima kasih.
Sepintas, Zee melihat Motor sport kesayangan milik Edo terparkir di parkiran rumah sakit. Tanpa berpikir panjang, Zee meminta izin untuk langsung berangkat kerja dari rumah sakit, dengan alasan ada jadwal piket pagi. Ayah dan ibunya pun menyetujui, mereka pulang menggunakan taksi online yang telah dipesan.
Hati Zee nampak berbunga, dengan riang melangkahkan kaki menuju parkiran rumah sakit. Dalam bayangannya, ia bertemu dengan Edo, mengucapkan terima kasih dan berangkat kerja bersama.
Belum sampai ia mengucapkan kata terima kasih, kali ini Zee benar-benar jengkel. Langkahnya terhenti, ada kekesalan di dalam hatinya. Apa yang menjadi bayangannya bubar seketika.
"Ternyata, sekalinya playboy tetap playboy, tidak akan berubah." Zee merasa kesal, tangannya mengepal, bibirnya pun mulai komat-kamit mengeluarkan sumpah serapah untuk Edo.
Entah apa yang membuatnya naik darah kali ini. Ada perasaan kecewa, tapi ia segera menepisnya. Menyesal telah memikirkannya, meskipun hanya beberapa detik.
Berjalan meninggalkan parkiran rumah sakit, mengepal tangannya, emosinya tersulut melihat dua sejoli yang tengah berbincang mesra. Kalau memang dasarnya seorang playboy tetap tidak akan berubah.
Percuma Zee mulai percaya dengan ketulusan Edo. Nyatanya, semua itu palsu, tidak perlu sampai 10 hari. Cukup sampai di sini Zee mengenal lelaki seperti Edo.
Lelaki yang hanya bisa mempermainkan hati wanita, dan terlalu percaya diri bahwa setiap wanita akan terpesona olehnya, begitupun dengan Zee.
'Biarpun sekalipun aku susah move on, tak akan aku terjerat pada lelaki playboy sepertimu,' gumam Zee kesal.
*****
"Ini kenapa coba melamun." Alena mengagetkan Zee.
Saat ini mereka tengah istirahat setelah pergantian shift.
Zee masih cuek, menyeruput kopi susu yang ia pesan. Matanya masih terasa berat, semalam harus menjaga sang ayah dan harus lanjut bekerja.
"Len, si Edo nggak masuk hari ini?" tanya Zee.
"Iya, tadi bilangnya ada urusan keluarga."
"Ish, yang ada pacaran iya." Zee menggerutu kesal.
"Hahaha, kenapa kamu?cemburu?" heran Alena.
"Ogah lah cemburu sama tukang tebar pesona kayak dia." ketus Zee, mengingat tadi pagi membuatnya semakin kesal pada Edo.
Alena menggeser tempat duduknya, wajahnya mengamati Zee yang tengah memberengut.
"Hei, apa kamu mulai jatuh hati pada partner kerjamu yang tampan itu?" tebak Alena.
Zee terlohok, terbatuk-batuk mendengar ucapan Alena, membuatnya semakin salah tingkah.
"Biasa aja Zee, aku udah kenal kamu lama." Alena tersenyum melihat kekikukan Zee.
"Udah ah, aku mau pulang, mau istirahat, capek, semalam begadang jagain Bapak." Zee beranjak meninggalkan Alena. Lebih tepatnya menghindar.
Zee masih menunggu ojek pesanannya, berulang kali melihat jam tangannya, tetapi ojek pesanannya belum juga datang.
"Hai, Mbak kasirku sayang."
Zee terkesiap mendengar suara yang sangat ia kenal. Baru saja ia dibuat jengkel olehnya, tetapi lelaki itu malah berada tepat di hadapannya.
"Kamu? Ngapain di sini." ketus Zee.
"Ish, perasaan kemarin udah jinak, kenapa sekarang udah galak lagi sih."
"Gak penting." Zee semakin gelisah menunggu ojeknya yang tak kunjung datang.
Edo turun dari motor, mendekati Zee yang tengah manyun karena kehadirannya. Wajah Zee semakin terlihat menggemaskan bagi Edo. Bibir mungilnya terlihat mengerucut, dan ekspresi mukanya benar-benar membuat Edo ingin tertawa.
"Udah, abang ojeknya gak usah ditungguin, udah aku suruh balik tadi." Edo mengerlingkan matanya, semakin senang melihat ekspresi Zee yang tambah kesal.
"Apa lihat-lihat? gak usah sok baik." Zee semakin jengkel. Ia langsung membuka kembali aplikasi ojek online dalam ponselnya.
Belum sempat memesan, Edo langsung meraih ponsel Zee dan menyimpannya dalam saku jaket miliknya.
"Edo, balikin gak?" Zee mencoba mengambil ponselnya, tetapi dengen sigap Edo malah mencekal tangan Zee.
"Kamu tidak kangen bonceng si Mv Agusta huh?" Edo melempar pandangannya pada motor di hadapannya.
Zee menarik napas, kesal rasanya dengan tingkah Edo yang seenaknya saja. Apalagi saat ia tersenyum sumringah bersama wanita cantik siang tadi. Bayangan lelaki playboy sangat melekat dalam pikirannya kali ini.
"Ogah, mending aku jalan kaki. Lagian ngapain kamu di sini, bukankah tadi kamu asik banget sama pacar kamu." Tanpa sengaja Zee melontarkan rasa kekesalannya.
"Kamu cemburu?" Edo mengerutkan dahinya, matanya menatap wajah Zee yang tengah memerah.
"Nggak, aku hanya kesal, karena gara-gara kamu aku kewalahan menghadapi pembeli hari ini." Zee berkilah.
Edo melepaskan tangan Zee, bibirnya tersenyum, sepertinya ia mulai menemukan suatu hal yang membuatnya semakin tertarik untuk mengenal Zee lebih dalam.
Karakter wanita yang galak dan cuek membuat Edo makin penasaran, di saat banyak wanita dengan gampangnya menyerahkan tubuhnya pada Edo, tetapi Zee berbeda, dengan lantangnya ia selalu mengatakan bahwa Edo adalah pria playboy, padahal Zee sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya Edo. Hal inilah yang membuatnya semakin tertarik untuk lebih dalam mengenal Zee.
Dug...!
Zee malah memukul punggung Edo dengan tasnya, membuat Edo terhuyung dan kaget dengan aksi Zee.
"Kamu ini niat nganter aku gak sih."
"Kamu ini udah kayak bunglon, sebentar-sebentar berubah." Edo mengelus punggunya yang terasa sakit karena ulah Zee.
"Lumayan irit ongkos." Zee berkilah.
"Bilang aja emang pengen deket sama aku, ini baru hari kedua, hari ketiga dan seterusnya kamu bakalan jadi pacar aku."
"O_gah."
Edo tersenyum, ia mengikuti Zee yang sudah lebih dulu mendekati motornya. Edo mengambil helm cadangan yang ia bawa, memakaikannya dan merapikan rambut Zee yang sedikit berantakan.
Kedua netra sepintas bertatapan, bola mata itu terlihat bayang-bayang sang cupid yang tengah siap memanahkan panah asmara.
"Gak usah kesempatan." Zee melepas tangan Edo yang merapikan helmnya.
Pandangannya beralih, menghindar dari panahan si cupid.
"Kasih kesempatan sedikit kenapa sih Mbak kasir."
Zee tak menghiraukannya, ia langsung membonceng dan melipat tangannya sebagai pembatas, perasaannya masih kesal dengan Edo. Meskipun di balik kekesalannya bibirnya mengulum senyum.
Edo menghidupkan motor kesayangannya, bersiap mengantar Zee pulang ke rumah. Deru motornya meraung-raung, ngebut, Edo membawa Zee menjauh dari halte supemarket tempat ia bekerja.
Sebelum mengantar Zee pulang, Edo mengajak wanita yang tengah menarik hatinya tersebut ke suatu tempat. Betapa kagetnya Zee melihat jalannya sudah berubah arah, hatinya mulai was-was, takut Edo akan berbuat macam-macam padanya.
Tak berselang lama, mereka tiba di suatu tempat, sebuah cafe yang berdesign unik, tamannya pun dipenuhi dengan bunga mawar yang bermekaran.
Zee begitu takjub melihatnya, bunga-bunga bermekaran terlihat indah sekali, apalagi warna warninya membuatnya terlihat menarik.
"Bro Edo, pacar baru nih." sapa seorang karyawan cafe.
"Calon pacar, doain aja." sahut Edo, tangannya menggandeng Zee masuk ke dalam cafe.
Edo menarik sebuah kursi, mempersilahkan Zee duduk, merasa canggung, ia hanya menundukkan wajahnya, tak berani memandang wajah Edo yang terlihat mempesona kali ini.
Kini Edo duduk menghadap Zee, matanya menatap bola mata Zee yang tampak malu-malu. Sedangkan wanita di depannya hanya mampu menundukkan pandangannya.
"Katakan padaku, Apa kamu masih suka sama Riki, mantan pacarmu itu?"
Zee terkaget saat mendengar nama Riki di sebut. Lelaki yang telah membuatnya susah move on, dan dengan susah payah ia mencoba melupakan cinta pertamanya itu. Sekarang, Edo malah menyebut namanya.
"Kenapa kaget? Mantan pacarmu itu..." Edo tak meneruskan perkataannya.
Ia masih ragu untuk menceritakan kejadian semalam saat pulang dari rumah sakit, rasanya pantang baginya bila di cap sebagai pria tukang adu.
