Bab 4
Tiga hari semenjak pertemuan Zee dengan Edo di rumah sakit. Zee selalu gelisah, bukan karena terpesona akan ketampanan Edo, melainkan perkataannya yang membuat Zee selalu was-was.
Tidak dipungkiri, Edo memang tampan, tubuhnya yang atletis pasti membuat setiap wanita akan bertekuk lutut kepadanya, tetapi tidak dengan Zee. Kesan pertama saat melihat Edo membuatnya selalu berpikiran negatif saat berjumpa dengannya.
"Zee... !" Alena datang tergopoh- gopoh menghampiri sahabatnya.
"Kamu kenapa, sih? Pelan-pelan jalannya."
Alena duduk di samping Zee, mengatur napas bersiap untuk berbicara.
"Zee, ada berita bagus buat kamu. Sumpah, kamu pasti akan senang mendengarnya." Alena tampak antusias bercerita.
"Ish, gak usah lebai lah, Len."
"Kamu ini benar-benar ngeyel ya, kamu tahu gak sih, Riki udah putus sama anak accounting. Mereka kemarin bertengkar hebat, dan yang menjadi alasan Riki putusin Sandra adalah kamu Zee, Riki masih sayang sama kamu."
Zee terbelalak mendengar cerita sahabatnya, lebih tepatnya tidak percaya dengan cerita Alena.
"Kamu gak usah mengarang cerita, hanya untuk menghiburku." Zee masih berusaha terlihat santai.
"Ish, kamu ini payah, bukankah ini kesempatan untukmu buat balikan lagi sama Riki?"
"Len, aku sama Riki sudah selesai." Zee mulai geram dengan Alena yang selalu mengingatkan hubungannya dengan Riki.
"Pasti karena anak magang baru itu 'kan?"
"Anak magang? Maksud kamu?" Zee masih tidak mengerti apa yang diucapkan sahabatnya. Apa hubungan Zee dengan anak magang?
"Anak magang itu, di belakangmu yang sedang menunggu." Alena berbisik tepat di telinga Zee.
Perlahan Zee menoleh, betapa kagetnya ia melihat Edo sedang tersenyum ke arahnya.
"Kayaknya, aku ke kantin dulu ya." Alena beranjak dari tempatnya.
Zee seketika gugup, karena di ruang loker hanya ada dia dan Edo.
Lelaki itu berjalan mendekatinya, bunyi hentakan sepatunya menggema memenuhi ruangan. Hati Zee semakin berpacu begitu hebat. Bayangan Edo yang sedang berciuman langsung terpintas dalam pikiran Zee.
"Kamu kenapa? Kagum melihatku?" Sorotan mata Edo begitu tajam.
Zee terkesiap, gugup rasanya ingin berbicara.
"Ngapain kamu di sini?" Zee terdengar ketus, menutupi rasa gugupnya.
"Hei, pacarku, jangan galak gini lah. Kita itu bakalan jadi partner di sini."
"Apa...!" Zee kaget bukan kepalang, bagaimana bisa ia akan berpartner dengan lelaki seperti dia.
"Santai aja lah, aku 'kan sudah pernah katakan, 10 hari akan aku taklukkan dirimu." Edo tersenyum santai.
"Jangan harap." Zee melengos, kali ini Edo benar-benar membuatnya kesal.
"Sebutkan! siapa wanita yang bisa menolak pesonaku."
Edo berjalan memutari Zee, gadis tersebut nampak jengah terhadap Edo yang selalu mengganggunya.
"A_ku, aku yang tidak akan pernah terhipnotis oleh pesonamu."
Edo hanya tertawa mendengarnya.
"Itu gak lucu ya, bagiku kamu itu hanya penjahat wanita yang hanya mempermainkan hati wanita sesukamu." Zee semakin terdengar sengit.
"Hei, kamu belum mengenalku, kita perlu saling dekat untuk mengenal satu sama lain, setelah itu, silahkan kamu menilaiku seperti apa." Edo mulai mendekat, Zee mundur satu langkah dan membuatnya terpojok pada tembok ruangan.
"Tidak perlu mengenalmu, cukup melihat perilakumu saat pertama kali bertemu, sudah menggambarkan semuanya."
"Nona jones, don't judge someone with your opinion." Edo menekankan ucapannya, wajahnya semakin mendekat.
"No matter."
"Apa aku perlu melakukan itu padamu, untuk membuktikan semua ucapanmu."
Zee terhenyak, ucapan Edo sungguh mengganggu hatinya, bagaimana bisa ia mengatakan hal yang harusnya tidak pantas diucapkan.
"Kenapa diam? Diam berarti se_tu_ju."
"Dasar gila." Zee berusaha mendorong Edo, tetapi tangannya malah dicekal erat.
Edo mulai mendekatkan wajahnya, Zee mulai gusar. Keringat dingin mulai bermunculan. Bibirnya mulai bergetar mendapat perlakuan Edo.
"Kamu tahu, kamu itu terlalu berharga untuk disakiti, dan aku pastikan kamu akan selalu tersenyum tanpa harus teringat masa lalumu." Edo melepas tangan Zee, dan melenggang pergi meninggalkannya.
Zee dapat bernapas lega, ternyata Edo tidak melakukan satu hal apapun kepadanya.
Perkataan Edo mampu membuatnya tersenyum, entah apa maksudnya. Zee merasa apa yang dikatakan Edo benar adanya.
Jangan pernah berpikir negatif tentang seseorang, sebelum kita mengenalnya lebih jauh, karena terkadang apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan kenyatan yang ada.
****
Zee membawa kantongnya menuju meja kasir, tampak Edo yang tengah tersenyum menyambutnya.
Lelaki itu benar-benar menyita perhatian semua orang. Banyak para wanita yang rela mengantri di kassa 28 hanya untuk melihat Edo.
Zee segera melakukan pergantian shift dengan rekannya. Edo masih santai berdiri, sedikit gugup Zee hampir terjatuh.
"Kamu tak perlu gugup, karena aku hanya setia kepadamu," bisik Edo.
Zee segera membenarkan posisinya, melanjutkan melayani pembeli yang melakukan pembayaran.
Dengan sigap Edo membantu Zee membungkus barang belanjaan pembeli, sesekali ia melempar senyuman, sedangkan para pemebeli sangat kegirangan saat Edo tersenyum.
Akhirnya Zee bisa terbebas dari Edo, jam kerja selesai, tiba waktunya absen dan bersiap pulang. Zee langsung bergegas menuju ruang loker untuk bersiap pulang.
Saat melintas di ruang admin, Zee mendengar seseorang tengah bertengkar. Dia mencoba mendekat ke arah pintu, ternyata Riki dan Sandra yang tengah berdebat.
"Riki, aku gak mau kita putus."
"Terserah kamu, yang pasti kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"Kamu itu benar-benar jahat ya Rik."
Terdengar suara langkah keluar ruangan, Zee terkesiap. Buru-buru ia beranjak, tetapi tangannya malah terasa ada yang menahan.
"Riki?" Zee tidak menyangka, ada Riki di sana.
Riki menarik tangan Zee menjauh dari ruangan Admin. Ia tidak mau Zee menjadi pelampiasan amukan Sandra.
"Rik, lepas." Zee berontak.
Riki melepas cengkramannya."Zee, kamu udah dengar 'kan? Aku sama Sandra sudah putus, aku harap kita bisa bersama lagi."
Zee terlihat bingung, hatinya terasa bimbang, bibirnya tak mampu berbicara sepatah kata apapun.
"Dia itu pacarku, jangan sekalipun kamu mempengaruhinya."
Tiba-tiba Edo muncul, lagi-lagi Zee terkesiap melihat kehadiran Edo yang selalu datang tiba-tiba.
Riki semakin jengah dibuatnya, kesempatan untuk mendekati Zee gagal karna kehadiran Edo.
Edo merangkul bahu Zee."Sayang, bukankah hari ini kita pulang bareng? Mv Agusta udah nungguin kita di parkiran."
Mau tidak mau, Zee menuruti perkataan Edo. Ia tidak mau Riki curiga. Zee melempar pandangannya, tampak raut kecewa, jelas terlihat pada wajah Riki.
Lelaki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya tengah membuatnya bimbang. Perasaan yang hampir pupus, kenapa harus tumbuh lagi.
Mengambil semua barangnya, Zee berjalan keluar bersama Edo, lelaki itu selalu hadir di saat waktu yang tepat. Ketika Riki selalu membuatnya tak berkutik, Edo datang bak malaikat penolong.
"Jangan pernah membuat hatimu bimbang, pilihlah apa yang membuat hatimu nyaman," ucap Edo saat Zee terasa bimbang.
"Kalau kamu butuh tumpangan, Mv Agusta siap mengantarmu pulang." Edo telah bersiap menstarter motor kesayangannya.
Zee hanya tersenyum menanggapinya, kali ini si playboy terdengar sangat manis sekali.
"Antar aku ke rumah sakit."
"Siap, calon pacar. Kemanapun kamu pergi, aku dan motor ini siap mengantarmu."
Zee tersenyum malu, dengan segera ia membonceng Edo. Hawa dingin malam yang kian larut membuatnya harus mendekat.
"Kalau mau peluk, peluk aja, gak usah nanggung." Edo membuka helmnya, menoleh ke belakang.
Tanpa meminta persetujuan Zee, ia menarik tangan partner kerjanya dan langsung melingkarkan pada pinggangnya, mendekatkan tubuh zee menempel pada punggung tegap milik Edo.
Menstarter motornya dan melajukannya dengan kencang, menembus malam yang pekat menuju rumah sakit tempat Ayah Zee dirawat.
Sepasang mata sedang marah, tengah cemburu, mengeratkan kedua tangannya melihat kedekatan dua insan yang tengah pergi meninggalkan parkiran supermarket .
