Bab 3
Semalaman Zee tidak bisa tidur hanya karena memikirkan perkataan Edo. Baru pertama kali ini ia bertemu dengan lelaki yang PD nya minta ampun.
Riki mantan kekasihnya saja tidak sampai seperti itu, bahkan sosoknya yang perhatian membuat Zee benar-benar dibuat gagal move on.
Zee hanya merasa bingung, bagaimana bisa Edo tahu alamat rumahnya, bahkan mereka saja baru bertemu kemarin. Itupun juga tidak sengaja. Hanya karena gengsinya pada Riki, membuatnya harus berurusan dengan Edo.
'Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan lelaki seperti Edo?' batin Zee.
'Amit-amit, bila aku harus berurusan dengan playboy macam dia.' Zee masih bergumam dalam hati.
Tiba-tiba saja Zee teringat dengan sebuah album foto miliknya, diambilnya sebuah kotak album yang tersimpan rapi di lemari.
Banyak sekali kenangan yang tersimpan antara dirinya dan Riki di masa lalu, kenangan masa kecilnya, bahkan foto kebersamaannya dengan Riki masih setia menempel di album.
Wajah cute itu benar-benar membuat Zee tak bisa melupakannya. Senyumnya yang khas, selalu menemaninya selama bertahun-tahun. Perhatiannya, tutur katanya selalu membuat Zee mempercayainya.
'Andai saja waktu itu kamu tidak berbohong, mungkin saat sekarang ini kita sudah menikah.' Zee masih memandangi foto mereka, sekelabat bayangan masa lalu membuatnya mengorek kembali luka yang telah ia kunci rapat-rapat, bahkan masih ingat betul dirinya bersama Riki melepas rindu di taman saat akhir pekan.
"Zee, tahukah kamu? di antara berjuta bintang di atas sana, aku temukan bintang yang bersinar terang di antara kegelapan." Riki menatap langit malam. Kala itu mereka sedang menghabiskan waktu di taman dekat rumah Zee.
"Malam ini mendung Riki, aku tidak dapat melihat satu bintang pun di sana." Zee ikut menatap langit yang mendung.
"Bintang itu bersinar terang, apa iya kamu tidak bisa melihatnya."
"Ki, mataku masih normal belum minus."
Riki beralih melihat Zee yang masih memandang langit malam.
"Zee, bintangnya itu ada di sampingku, karena kamu adalah bintang dalam hidupku."
Seketika Zee menoleh, jika saja malam tidak gelap, mungkin pipinya akan terlihat memerah karena malu. Perkataan Riki membuatnya terbang seperti kupu-kupu yang tengah menari di antara ribuan bunga yang bermekaran.
Dua insan yang tengah kasmaran menyalurkan sejuta rindu yang tengah membara di antara waktu yang padat, yang membuat mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Mungkin ungkapan cinta itu akan terdengar begitu gombal, tetapi tidak bagi insan yang tengah dimabuk cinta. Semua akan terdengar begitu manis dan membahagiakan.
****
Zee berjalan terburu-buru menuju parkiran , pesan whatsapp dari sang ibu membuatnya khawatir.
Kabar sang ayah masuk rumah sakit membuat Zee benar-benar panik. Dengan cepat ia melajukan motornya menuju rumah sakit tempat sang ayah dirawat.
Sesampainya di rumah sakit, Zee segera memakirkan motor, berjalan cepat menuju ruang perawatan sang ayah. Pikirannya begitu kacau, bagaimana bila terjadi hal yang tidak diinginkan. Zee hanya berharap jangan sampai hal buruk terjadi pada ayahnya. Ia hanya ingin Rahman bisa melihatnya menikah dengan orang yang tepat. Ini adalah beban berat bagi Zee, pacar saja belum punya, bagaimana bisa ia berpikir akan segera menikah.
Membuka pintu ruang perawatan membuat Zee tertegun, ada Riki di sana. Lelaki itu menemani sang ibu, bahkan mereka terlihat sangat dekat. Kalau sudah seperti ini, bagaimana Zee bisa move on dari mantan kekasihnya itu.
"Zee," sapa Riki menyambut kedatangan Zee.
" ... " Zee terdiam, ia berusaha cuek.
"Zee, Nak Riki yang membantu Ibu mengantar Bapak ke rumah sakit," jelas Marini. Ia paham dengan apa yang terjadi. Anak perempuannya itu benar-benar keras hatinya.
"Bisa kita bicara di luar," ajak Zee. Nada bicaranya terdengar tidak suka.
Riki pun mengangguk, Zee berjalan keluar dari ruang perawatan, Riki pun mengekorinya. Mereka berdua berbicara di luar ruangan, lorong yang terlihat sepi membuat Zee merasa nyaman berbicara di sana.
"Riki, jelaskan padaku apa maksud dari semua ini?" tanya Zee tajam. Ia hanya tidak ingin Riki kembali masuk ke dalam kehidupannya.
"Aku hanya ingin membantu." jawab Riki.
"Terserah, apapun alasanmu, tapi yang jelas jangan pernah seperti ini lagi!" Ucapan Zee terdengar ketus.
"Zee ... "
"Seharusnya, rasa sakit ini tidak akan sedalam ini." Zee menunjuk dadanya, tatapannya terasa sendu.
"Zee, itu tidak seperti yang kamu kira." Riki membuang napas mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Ya, bahkan itu lebih dari apa yang aku pikirkan." Zee mencoba menarik napas mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Ayolah Zee, bukankah kita masih menyimpan rasa yang sama?"
"Sorry, buatku rasaku hanya satu, 'mati'."
Damn!
Riki tersentak mendengar akhir kalimat Zee, ia benar-benar tidak menyangka, kejadian beberapa tahun yang lalu benar-benar membuat Zee berubah. Rasa sakit yang ia rasakan begitu dalam.
"Aku pikir, tidak ada lagi yang perlu dibahas, kita sudah selesai, sekarang ataupun selamanya. Berbahagialah bersama pacar barumu, biarkan aku menjalani kehidupanku," ucap Zee datar.
"Zee ... "
"Aku mohon, biarkan aku bahagia." Zee beranjak meninggalkan Riki yang terbalut dalam penyesalan.
"Apakah sekeras itu hatimu? Aku minta maaf jika membuatmu terluka."
Langkah Zee terhenti, mendengar ucapan Riki membuatnya terusik. Langkahnya berbalik kembali menghampiri mantan kekasihnya.
"Rik, tidak ada yang perlu dimaafkan di antara kita, fokuslah pada kehidupanmu, begitupun aku."
"Apa ini karena lelaki itu?" tanya Riki.
"Ya," jawab Zee bohong.
"Semudah itu kamu melupakanku?" Riki mencoba mencari pembenaran atas jawaban Zee.
"Ini bukan perkara mudah atau sulit, tetapi karena di hatiku sudah tidak ada namamu sama sekali," ujar Zee tegas.
Tanpa menoleh, ia pergi meninggalkan Riki termangu sendirian. Air mata yang ia tahan, satu persatu mulai jatuh terurai. Kenangan buruk yang telah ia kubur dalam-dalam kembali muncul dalam pikirannya.
Andai saja waktu itu tidak terjadi, mungkin mereka sudah menikah dan bahagia saat ini. Penghianatan seolah tidak ada kompromi dalam hati Zee, karena baginya kejujuran dalam suatu hubungan adalah kunci dari semuanya.
Zee menatap air mancur yang berada tepat di samping paviliun, duduk, merenungi sikapnya barusan. Apakah hatinya terlalu beku, sepertinya itu pantas untuk seorang penghianat seperti Riki. Kejadian itu sungguh membekas, bahkan nodanya teramat susah untuk menghilang
"Anak gadis dilarang melamun, pantas jomblonya akut."
Zee menoleh asal suara, ternyata ada Edo yang sudah duduk di sampingnya.
"Ish... Kamu lagi, kamu ini benar-benar seperti jelangkung, datang nggak diundang pulang nggak diantar."
"Oh ya, jelangkung tampan itu akan siap menusuk hatimu," goda Edo.
"Jangan harap." Zee beranjak dari tempat duduknya, jengah rasanya mendengar ucapan Edo, tetapi tangannya seperti ada yang menarik. Tubuhnya berbalik hingga berhadapan dengan Edo.
"Bukalah hatimu, berikan kuncimu padaku. Biarkan aku membuat hidupmu lebih berwarna." Edo menatap lekat Zee.
Tubuh Zee terasa gemetar, tak pernah ia sedekat ini bersama lelaki, meskipun dengan Riki sekalipun dan mata itu, sorotnya begitu tajam. Sama seperti saat pertama kali ia memandangnya.
"Kamu tahu, lebih baik aku menjomblo selamanya, daripada harus sakit hati mempunyai pacar playboy macam kamu," tegas Zee, matanya tak kalah tajam menatap Edo.
"Kita lihat, 10 hari aku akan buat kamu jatuh cinta."
"Terserah kamu, yang pasti, aku tidak akan terjerat oleh playboy semprul macam kamu." Zee melepas tangan Edo.
"Okey, Mbak kasirku sayang, siap-siap saja karena kita akan bertemu setiap hari, ingat ya,10 hari." Edo tersenyum, meninggalkan Zee yang masih kesal karena ulahnya.
Zee menatap punggung tegap lelaki yang baru ia kenal. Semuanya terasa aneh, kehadirannya yang begitu tiba-tiba membuat Zee bertanya-tanya.
"Siapa dia? Kenapa harus aku?" Zee menarik napas, membuangnya untuk melepas penat, baru saja Riki membuat hatinya galau. Sekarang ia harus berurusan dengan Edo si playboy semprul.
.
