Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13

Zee pulang ke rumah menggunakan taksi online, setelah kejadian beberapa menit yang lalu Edo meninggalkan Zee sendiri, padahal Zee telah memakai helm milik Edo.

Sepanjang perjalanan Zee terus saja memegangi bibirnya, rasa manis itu terasa masih melekat pada bibirnya. Zee tersenyum, ini pertama kalinya ia berciuman. Bertahun-bertahun menjalin hubungan dengan Riki, Zee selalu menghindar dan menolak saat sang kekasih memintanya.

Sekarang, Zee malah dengan gampangnya memberikan ciuman pertamanya kepada Edo, seorang lelaki playboy yang baru ia kenal.

Masuk ke dalam rumah Zee masih saja tersenyum sambil memegang bibirnya. Membuat kedua orang tuanya heran melihat anak kesayangannya seperti orang yang kurang waras. Senyum-senyum sendiri sedari tadi dan tidak menghiraukan keberadaan kedua orangtuanya.

Zee mebaringkan tubuhnya di atas kasar, rasa lelahnya tak terasa. Ia masih saja memegang bibirnya.

Suara dering telpon membuyarkan fantasinya. Nomor asing menghubunginya. Tanpa ragu Zee menggeser tombol warna hijau.

"Zee, kamu sudah sampai rumah?" Terdengar suara yang sangat tidak asing bagi Zee. Seseorang yang telah membuat Zee merasakan ciuman pertamanya, sekaligus seseorang yang tengah sukses mengoyak hati Zee hari ini.

"Sudah." Zee tersenyum.

"Aku minta maaf, telah meninggalkanmu. Aku ... ." Edo merasa bersalah.

"Hei, sudah berapa kali kamu mengucapkan kata maaf. Aku sudah bosan mendengarnya. Apa tidak ada kata lain yang enak di dengar?"

"Zee ... Kamu nggak kesurupan jin emprit kan saat pulang?" Edo terheran mendengar ucapan Edo. Wanita itu biasanya akan marah-marah bila Edo membuatnya kesal.

"Pck ... Besok kamu harus jemput aku sebagai hukuman kamu udah ninggalin aku."

"Ini serius? Aku nggak lagi mimpi atau berkhayal 'kan?" Edo benar-benar masih heran dengan perubahan Zee.

Zee tersenyum, ia sendiripun tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Hatinya terasa bahagia, meakipun sempat terbesit di hatinya meragukan kesungguhan Edo. Menurut Zee hari ini adalah hari paling terburuk baginya, di saat ia merasa melambung saat di area pemakaman, tetapi hatinya bagai terjatuh saat melihat ada wanita lain yang berharap pada Edo. Apalagi saat Riki mulai mendekatinya lagi, hatinya begitu bimbang.

"Zee ... Kamu masih hidup kan?" Terdengar suara Edo memanggil dari ujung telpon.

"Eh ... Iya lah aku masih hidup. Kamu ngarep aku mati apa?"

Terdengar Edo tertawa dari seberang mendengar jawaban Zee.

"Kamu aja belum jawab pertanyaanku tadi pagi, masak iya kamu mau jadi arwah gentayangan."

Zee terhenyak, ia teringat pedkataan Edo tadi pagi yang sukses membuatnya bimbang.

"Do, udah malam aku istirahat dulu ya, sampai jumpa besok."

Belum sempat Edo menjawab, Zee langsung menutup telponnya. Ia tidak ingin terdengar salah tingkah karena perkataan Edo.

Memandangi langit-langit kamar membuat Zee membayangkan semua yang telah terjadi. Saat pertama kali bertemu dengan Edo. Lelaki itu tampak percaya diri, tetapi di balik sikapnya, Zee merasa ada sesuatu yang membuat Zee penasaran.

Edo yang tiba-tiba menciumnya dan tiba-tiba minta maaf lantas malah pergi meninggalkannya. Bagi Zee itu adalah sebuah tanda tanya besar baginya.

Ia mulai memejamkan mata, tak peduli badan masih terasa lengket. Ia hanya ingin segera terlelap dan terhanyut dalam dunia fantasi yang membawanya dalam suatu angan yang indah.

*****

Pukul 06.00 Edo telah bersiap menjemput Zee berangkat ke supermarket bersama. Menuruni tangga Edo melihat maminya yang tengah sibuk membaca koran ditemani secangkir teh melati.

"Edo ... !" Panggil Asri.

Edo menghentikan langkahnya."Iya, Mi." Edo malas beranjak dari tempatnya.

Jika Asri sudah menegurnya, berarti ada hal penting yang akan dibicarakan.

"Mami dengar kamu jadi pramuniaga di supermarket?"

Pertanyaan Asri membuat Edo terkejut. Dari mana maminya tahu tentang pekerjaannya sekarang.

"Mami tahu dari Stella? Dasar ember banget tuh bocah."

Asri menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat perilaku anak lelakinya yang selalu saja membuatnya naik darah.

"Edo, kamu kan bisa bilang sama Papi. Pasti kamu akan dapat jabatan lebih di sana, nggak perlu jadi pegawai rendahan. Apa kata relasi Papi kalau sampai tahu."

"Anggap aja Edo bukan anak Mami-Papi, beres kan?"

"Edo ...!!!" Edo menyilangkan kedua tangannya. Malas rasanya jika di pagi hari harus membahas obrolan yang menurutnya tidak penting.

Asri meminum teh melatinya."Nanti malam, mami harap kamu nanti pulang tepat waktu, jangan keluyuran. Ada keluarga Om Hartono makan malam di rumah."

"Apa hubungannya sama Edo, Ma."

"Do, mereka calon besan Mami."

"Mi, Sonia udah nggak ada. Jadi jangan harap Mami mau jodohin aku sama Stella." Edo nampak sengit dengan keputusan sepihak Asri yang menjodohkannya dengan Stella.

"Apa salahnya, Stella gadis yang baik, dan adik almarhum Sonia. Mami yakin kamu akan bahagia dengannya."

"Terserah Mami, yang pasti sampai kapanpun Stella nggak akan bisa gantiin Sonia." Edo pergi dengan kekesalan.

Mambawa Agustanya dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelararan rumahnya.

Asri sangat paham dengan watak anak lelakinya itu. Sepeninggal Sonia, Edo memang lebih susah di atur dan suka semaunya. Tak jarang Orang tuanya sering dibuat marah karenanya.

Asri menelpon seseorang, raut wajahnya nampak serius. Setelah puas ia mematikan sambungan telponnya dan tersenyum menang.

****

Zee tengah menunggu kedatangan Edo dengan perasaan was-was. Waktu menunjukkan pukul07.00, tetapi Edo belum juga nampak. Apakah Edo hanya bercanda semalam? Itulah yang ada dalam pikiran Zee.

Ia mulai takut berharap terlalu banyak kepada Edo. Di hari ke enam, Zee mencoba berdamai dengan hatinya.

Mencoba membuka sedikit hatinya untuk mengenal Edo lebih Jauh. Zee sadar, usianya tak remaja lagi. Ia pun tak mau selalu terpuruk di dalam masa lalu percintaannya yang memberi celah Riki untuk mendekatinya.

Terdengar suara Agusta berehenti di depan rumah Zee, bunyi klaksonnya memberi tanda bahwa lelaki yang dinanti kehadirannya telah datang.

Zee segera berpamitan dan bergegas berangkat ke supermarket

"Pagi ... Mbak kasirku sayang," sapa Edo dengan lesung pipitnya yang menyapa.

Tanpa basa-basi Zee segera membonceng tanpa berkata sepatah kata apapun.

"Hei, aku bukan tukang ojek," protes Edo.

"Ya ampun Edo, kita udah terlambat. Aku nggak ingin Pak Felix memberiku Sp karena terlambat."

Edo malah tertawa, hingga membuat Zee memukul punggungnya.

"Kalau Pak Felix ngeluarin Sp nya. Aku yang bakalan pecat dia."

"Ish dasar beneran gak waras kamu."

"Iya memang, aku nggak waras karenamu."

"Pagi-pagi nggak usah ngegombal. Ayo buruan berangkat."

Tanpa permisi lagi-lagi Edo menarik tangab Zee dan melingkarkannya.

Menghidupkan Agusta dan membawanya dengan kecepatan tinggi, membuat Zee harus mengeratkan pegangannya agar tak terjatuh.

Edo membelah jalanan dengan santainya, sementara Zee merasa jantungnya hampir copot.

Mereka kembali beraktifitas seperti biasa bekerja menjadi partner di Kassa 28, seluruh pandangan karyawan melihat Zee dan Edo menunjukkan ketidaksukaannya. Terutama pegawai wanita. Mungkin mereka merasa patah hati, karena Edo lebih memilih Zee, miss jutek.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel