Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 12

Edo mencari Zee di seluruh penjuru supermarket, tetapi ia tidak berhasil menemukannya. Ia sangat khawatir, Edo hanya takut Zee akan salah paham tentang Stella, meskipun di dalam pikiran Zee, Edo adalah seorang pemain wanita. Baginya tak masalah apapun itu, yang terpenting rasa yang Edo miliki tulus untuk Zee.

Edo menatap langit senja yang memunculkan semburat jingga. Di tempat ini Edo pertama kali bertemu dengan Zee, di tempat ini ia menemukan sosok yang berhasil mengoyak hatinya, dan di tempat ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk meninggalkan kebiasaan lamanya mempermainkan para wanita yang mendekatinya.

Rooftop tempatnya berbagi keluh kesah saat mengingat Sonia, tempat yang menyimpan sejuta luka. Tempat di mana ia bertengkar dengan Sonia dan berakhir kecelakaan. Tak ayal untuk melampiaskan semua kemarahannya, Edo melampiaskan pada semua wanita yang berusaha mendekatinya.

Cahaya matahari mulai terpendam pada peraduannya. Satu bintang terang pun telah bersinar terang di ujung langit, disaksikan rembulan yang mulai menujukkan pesonanya.

Edo merasa hatinya mulai tenang, jika berjodoh Zee akan tetap bersamanya. Jikalau bukan berjodoh berarti tuhan punya rencana indah untuk kisah percintaannya.

Saat menuju tangga darurat, Edo melihat sosok yang ia kenal berdiri di depan pagar pembatas. Ia sangat mengenali bentuk tubuh yang ramping itu. Dalam kegelapan Edo tak begitu jelas melihat wajahnya, tetapi Edo sangat yakin, dialah yang Edo cari.

"Malam, apakah semua lelaki itu sama? Apa aku yang terlalu naif menjadi seorang wanita?"

Terdengar suara seorang wanita yang tengah mengadu pada keheningan malam.

Edo mendekat, ia sangat mengenal suara itu.

"Zee ... !" Edo memanggil wanita di depannya.

Wanita itu menoleh, dan benar saja, dia adalah Zee. Wanita yang Edo cari sedari tadi. Wajahnya yang sendu tak begitu jelas terlihat, tetapi dalam setiap nada perkataannya, suara itu sangat terdengar bila Zee tengah merasakan kecewa.

"Kamu?" Mendengar suara Edo, Zee berusaha menghindar darinya.

"Jangan pernah menghindar dariku." Edo menahan tangan Zee.

Edo sangat yakin bila saat ini tuhan tengah memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Zee.

"Ini sudah malam, aku tidak ingin Bapak dan Ibu khawatir karena aku belum pulang." Suara Zee masih terdengar melo.

Wajahnya menunduk, tak berani menatap lelaki di depannya dalam keheningan malam.

Edo mengeluarkan ponselnya dan terdengar menelpon seseorang. Alangkah terkejutnya Zee saat mendengar Edo meminta ijin pada Rahman bahwa hari ini Zee pulang terlambat.

Edo memang susah ditebak, dari mana ia mendapat nomor telpon orang tua Zee.

"Kamu ... "

"Udah nggak usah kaget, bagiku sangat mudah untuk mendapat nomor telpon seseorang." Edo menarik tangan Zee untuk menuruni tangga. Ia tak ingin terlalu lama di rooftop, karena yang pasti pasukan nyamuk akan siap menyerangnya jika terlalu lama di sana.

Zee masih terdiam tak berkata. Sesampainya di parkiran karyawan, Zee masih menunduk tak bersuara.

"Kamu beneran Zee 'kan?" Edo memakaikan helmnya.

"Maksudnya?kamu kira aku si Mumun, yang sering gentayangan di malam hari." Zee kembali menunjukkan kesengitannya.

Edo malah tertawa menanggapinya, membuat Zee memicingkan matanya.

"Kamu pikir aku badut yang bisa menghiburmu."

Zee tampak sangat kesal melihat Edo tertawa.

"Aku hanya bahagia bisa melihat Mbak kasirku sayang sudah kembali seperti semula."

"Maksudmu aku tidak normal?"

Edo semakin tertawa."Miss jutek, aku senang melihatmu kembali jutek seperti ini." Edo malah mencubit kedua pipi Zee.

"Dasar playboy, apa maumu huh? Sudah cukup kamu permainkan perasaan seoran dig gadis." Zee mendekik.

"Gadis? Siapa yang kamu maksud? Setahuku kami sudah dewasa tidak pantas disebut seorang gadis." Edo menautkan kedua alisnya, menggoda wanita yang terlihat kesal di depannya.

"Mbak kasirku, percaya sama aku, hatiku ini cuma satu, tidak ada teorinya manusia mempunyai dua hati dalam satu tubuh. Begitu pula dengan rasa di hatiku." Edo memegang kedua bahu Zee.

Netra itu memberi kehangatan, dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi.

"Ish, itu semua yang dikatakan lelaki. Kenyataannya mana ada lelaki yang akan menolak bila di suguhi seorang wanita cantik." Zee melepas tangan Edo.

Ia tidak ingin hatinya terjerat dengan mulut manis Edo, meskipun dalam hatinya ingin rasanya ia mengatakan bahwa kali ini ia cemburu.

"Gadis itu Stella, dia adik almarhumah Sonia. Dari dulu sikap Stella tak pernah berubah, selalu manja kepadaku. Aku pun tak pernah berpikir untuk menjadikannya kekasih atau apapun, karena bagiku hatiku sudah terlanjur memilih." Edo kembali menjelajah netra yang berusaha sembunyi dari pandangannya.

"Dia terlihat sangat mencintaimu, aku bisa lihat dari sorot mata dan gerak-geriknya." Zee berusaha menghindar, ia tidak ingin hatinya terluka lagi oleh tipu daya cinta.

"Zee ... Zee .... Bukan hanya Stella yang mengejarku, bahkan ribuan gadis muda pun rela menyerahkan semuanya kepadaku."

"Kamu..?" Zee terkejut mendengar ucapan Edo.

"Dasar lelaki brengsek kamu." Zee menatap Edo sinis.

"Zee, terserah kamu mau bilang apa, aku memang pantas disebut lelaki brengsek, bahkan kamu boleh mengatakan aku ini lelaki tak punya hati."

Zee semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Edo. Lelaki itu memang sulit ditebak. Di saat banyak orang menjaga nama baiknya dan berusaha membuat dirinya terlihat baik, Edo malah tidak peduli dirinya terlihat buruk di mata orang lain.

Lelaki ini memang semprul, bahkan dia memang lelaki tampan yang mempunyai sejuta pesona untuk menjerat hati wanitanya.

Zee menepis pikirannya, ia tak mau terlalu cepat menyimpulkan bahwa Edo adalah lelaki yang tepat, meskipun ada setitik kagum yang tersirat di hatinya.

"Sudahlah, simpan semua rayuanmu, bahkan aku tak peduli semua tentangmu."

"Katakan padaku! Apa alasanmu yang membuatmu marah? Apa alasanmu yang membuatmu kesal padaku."

Zee terkesiap, tidak mengira akan mendapat serangan telak dari Edo. Bagaimana ia harus menjelaaskannya, bagaimana ia harus mengatakan apa yang ia rasa, serta dari mana ia harus memulai semuanya.

"Akui saja bila memang cinta, akui saja bila kamu memang suka, aku tak masalah. Aku yakin tak ada wanita yang mampu menolakku." Edo tersenyum melihat Zee yang kebingungan.

"Sudah berulang kali aku katakan, itu tak berlaku untukku."

"Oh ya? Lihat aku! Tatap mataku jika kamu memang tak suka, katakan kamu tidak mencintaiku." Edo kembali menangkup pipi Zee. Wanita itu tak berani menatap wajahnya.

Edo semakin mendekatkan wajahnya, netra itu kian mendekat. Bayangan Sonia nampak jelas di sana.

Pelan, Edo mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir mungil milik Zee. Ia tidak menyadari sosok yang di depannya adalah Zee bukan Sonia.

Kenangan indah bersama Sonia tiba-tiba saja muncul. Edo semakin memeprdalam ciumannya, seperti tak berdaya, Zee tak bisa menolaknya.

Edo tersadar apa yang dilakukannya, membuka mata dan melepaskan tautan bibirnya.

Melihat Zee yang masih terpejam membuat Edo merasa bersalah. Bukan Zee yang ada di pikirannya saat ini, melainkan Sonia.

"Maaf, aku benar-benar minta maaf."

Zee membuka matanya perlahan, bingung dengan apa yang terjadi.

Edo tampak kacau, ia merasa bersalah telah mencium Zee karena melihat bayangan Sonia di depannya.

"Zee, terima kasih untuk semuanya, maaf." Edo pergi meninggalkan Zee.

Lelaki itu pergi dengan Agusta kesayangannya, meninggalkan Zee yang masih bertanda tanya tentang apa yang telah terjadi.

Pikiran Zee terlampau bingung, hal apa yang tengah merasuki pikirannya hingga membuatnya tak bisa berpikir sehat. Membiarkan Edo menciumnya tanpa perlawanan.

Zee tersenyum memegangi bibirnya, sepertinya ia memang telah terjerat cinta sang playboy. Lelaki yang beberapa hari ini selalu hadir secara tiba-tiba dan selalu membuatnya kesal tapi mampu membuatnya tersenyum.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel