Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 14

Seharian Zee terlihat sangat lelah. Hari ini pengunjung begitu membludak di saat weekend. Semua karyawan tampak sibuk tak terkecuali Zee dan Edo. Seperti hari-hari lainnya, Kassa 28 tetap ramai antrian. Banyak para customer yang dengan sengaja memilih kassa 28, meskipun Kassa di sebelah antrian lebih pendek.

Kali ini Zee dapat mengontrol emosinya, ciuman semalam membuat hatinya berbunga-bunga.

Serasa hatinya dikelilingi oleh jutaan panah cinta yang siap dibidik oleh cupid si penabur cinta. Rasa marah, cemburu, kesal semua terkikis oleh rasa bahagia.

"Sepertinya kamu sedang bahagia, apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Alena, ia heran melihat Zee yang tak seperti biasa.

"Hahaha, biasa aja Len, bukankah biasanya juga seperti ini?" Zee duduk dan memakai jaketnya.

Alena mendekat, mengamati wajah sang sahabat yang tengah berseri-seri.

"Jangan bilang kamu sama Edo udah jadian, tadi pagi kalian itu jadi bahan gosip di ruangan atas."

Zee malah tertawa tak menanggapi perkataan Alena.

"Ish malah tertawa, aku serius Zee. Kalian pacaran?"

Alena berusaha mencari kebenaran dari sahabat karibnya. Mencoba memastikan apa yang diperbincangkan para staff benar adanya.

"Zee ... ." Alena menatap serius.

Sementara Zee hanya menggelengkan kepalanya.

"Maksudnya?" Alena semakin tidak mengerti.

"Aku dan Edo memang tidak pacaran."

"Lantas? Kalau nggak pacaran kalian bisa sedeket itu, bikin yang lain iri tauk." Alena memanyunkan bibirnya.

"Kamu kepo ah, udah ah mau pulang. Udah ditungguin ama si Agusta." Zee beranjak dari tempat duduknya.

"Agusta? Siapa lagi dia Zee?" Setengah berteriak bertanya pada Zee, tetapi sahabatnya tak menoleh, membiarkan Alena semakin penasaran.

Sesampainya di parkiran Zee tak melihat Edo di sana. Hanya tampak Agusta miliknya yang terparkir di sana.

Menunggu, Zee berteduh di taman supermarket. Bolak-balik melihat jam tangannya, sudah 20 menit menunggu, tetapi Edo belum juga datang.

"Kemana dia? Kenapa selalu membuat kesal."

Menunggu adalah hal yang sangat menjemukan. Itulah yang tengah di rasakan Zee sekarang.

Berulang kali menelpon Edo, tetapi tak ada sahutan di sana.

Sebuah tangan menutup kedua mata Zee, membuatnya terkejut dan memberontak.

"Hei jangan bilang kamu mau menculikku." Zee mencoba melepaskan tangan yang menutup matanya, tetapi tak berhasil.

"Ish, siapa juga yang mau nyulik wanita kayak kamu, rugi tau." Suara Edo terdengar dari belakang.

Zee membuka matanya perlahan, menoleh, melihat Edo yang tertawa.

"Kamu, selalu aja bikin orang shock." Zee memukul Edo memggunakan tasnya.

"Aww..sakit Mbak kasir sayang."

Edo duduk di sebelah Zee, mengelus tangannya yang terkena pukulan Zee.

"Sakit ya?" Zee menyesal telah memukul Edo.

"Belum nikah aja udah KDRT."

"Maaf ... Maaf."

"Gimana, kamu udah siap 'kan nikah sama aku?"

Zee terkejut, bagai disambar petir di sore hari. Perkataan Edo membuat Zee semakin salah tingkah.

"Pacaran aja belum ngajakin nikah."

Edo tercengang mendengar jawaban Zee, senyumnya mulai terbit. Sepertinya wanita di depannya memberi sinyal positif kepadanya.

"Pacaran? Bukankah kamu kemarin yang ngajakin aku langsung nikah?"

Pipi Zee terlihat memerah."Itu_itu karena aku nggak ingin kamu hanya mempermainkan aku."

"Baiklah, jika itu maumu, ini hari ke enam. Empat hari adalah waktu kita untuk saling mengenal satu sama lain. Dan di hari ke sepuluh aku menunggu jawaban atas pertanyaanku barusan."

"Okey, kita lihat sejauh mana keseriusanmu kepadaku. Jika kamu ingkar, sebaiknya kamu pergi dari hadapanku selamanya."

"Tak masalah , Deal ya." Edo mengaitkan jari kelingkingnya sebagai tanda bahwa ia menyetujui apa yang menjadi permintaan Zee.

Mereka beranjak dan pulang bersama, sore menjadi saksi komitmen mereka berdua. Zee hanya berharap jika memang Edo adalah jodohnya, ia hanya meminta untuk dimudahkan segalanya.

Zee sudah terlalu lelah mendapatkan pertanyaan dari keluaraga atau teman, yang selalu menanyakan kapan ia menikah.

Berdua mereka melintasi area parkir dengan senyum yang menegembang . Sepintas Edo melihat Riki yang terlihat sengit melihat kebersamaan mereka berdua.

Harapan untuk kembali bersama Zee sepertinya menjadi hal yang mustahil, tetapi bukan seorang Riki jika ia tidak berhasil mengambil apa yang pernah menjadi miliknya.

*****

Seorang gadis muda tengah menelpon seseorang, wajahnya tengah serius menanggapi suara di ujung telpon. Senyumnya menyeringaj penuh arti.

Setelah puas, ia menutup telponnya. Memandangi sebuah benda pipih kecil. Air mata luruh perlahan.

'Kamu tenang aja Beib, kamu pasti akan mendapatkan hakmu.'' Memegangi perutnya sembari mengelusnya.

Mengusap air mata, bersiap-siap mengambil tas dan merapikan make upnya. Ia tidak ingin orang tuanya curiga dengn keadaannya.

Kedua oramg tuanya telah menunggu di bawah. Mereka berjalan keluar menuju mobil, segera berangkat ke acara makan malam yang telah mereka sepakati.

Sesampainya di kediaman kelurga besar Wiratmaja, keluarga Handoko disambut hangat oleh Asri dan Wira.

Stella mencium kedua pipi Asri."Tante, Kak Edo mana?" tanya Stella.

"Sebentar lagi juga pulang, kamu tenang saja." Asri tersenyum menggandeng Stella masuk ke dalam rumah.

Keluarga Handoko dan Wiratmaja mempunyai hubungan yang baik sejak dulu. Jauh sebelum Edo mempunyai hubungan dengan Sonia, anak sulung dari keluarga Handoko. Besar harapan Wira dan Handoko untuk menjalin hubungan kekeluargaan, meskipun Sonia telah tiada mereka mempunyai rencana untuk menjodohkan Edo dan Stella, agar kekeluargaan mereka semakin erat.

"Edo mana, Mbak?" tanya Astrid, m

Mama Stella.

"Mungkin sebentar lagi, maafkan Edo ya Mbak Astrid, setelah kepergian Sonia, anak itu susah sekali di atur." Asri merasa enggan, karena Edo belum juga pulang.

"Iya nggak apa-apa Mbak. Aku harap dengan adanya Stella bisa membuat Edo melupakan Almarhum Sonia."

Stella tersenyum, akhirnya ia bisa mendapatkan Edo. Ia yakin Edo pasti tidak akan bisa menolaknya kali ini. Lelaki itu sungguh menarik bagi Stella. Sudah lama ia mengidolakan Edo semenjak Sonia masih hidup.

Harapannya terbuka lebar saat Sonia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Stella mencoba mendekati Edo, tetapi seringkali memdapatkan penolakan. Padahal Stella tahu di luar Edo sering bermesraan dengan wanita lain, sedangkan ia selalu menolaknya.

Perbincangan semakin menghangat setelah acara makan malam, topiknya pun masih sama, tentang perjodohan Stella.

Handoko yakin, setelah mereka menikah bisnis keluarga mereka akan semakin solid dan kokoh.

Stella tersenyum puas, setidaknya ia tidak perku susah payah untuk menjauhkan Edo dari Zee. Baginya wanita seperti Zee tidak ada apa-apanya. Seorang pegawai supermarket yang pasti tidak akan bisa di terima di keluarga besar Wira.

****

"Terima kasih ya untuk hari ini." Zee tersenyum malu.

"Hahah sudahlah, bukankah sudah kewajibanku untuk membuatmu bahagia." Edo melepas helm yang dipakai Zee.

"Emmm." Zee memegang tali tasnya, rasa-rasanya ia begitu malu untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya.

"Kamu kenapa? Kok jadi tukang gumam gini?" Edo tertawa melihat perubahan sikap Zee.

"Ish, kamu ini. Sebentar manis sebentar berubah menyebalkan."

"Oh ya, tapi aku yakin kamu pasti akan melabuhkan hatimu padaku."

"Ih, dasar tukang gombal."

Cup...

Tanpa aba-aba Zee mencium pipi kanan Edo malu-malu.

"Selamat malam, mimpi yang indah." Zee langsung pergi meninggalkan Edo yang masih shock dengan apa yang baru saja ia dapat.

Zee benar-benar membuat Edo semakin penasaran. Edo masih memegangi pipinya, seolah tak percaya apa yang tengah terjadi barusan. Seorang Zee yang jual mahal, mencium pipi Edo.

'Zee aku akan terus berusaha mendaoatkan hatimu dan berjuang untuk kita,' gumam Edo, melihat bayangan Zee yang telah menghilang dari pandangannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel