Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11

Melihat seseorang menyapa Edo, Zee berdiri merapikan bajunya. Gadis itu masih saja memandangnya tak suka. Menelisik Zee dari atas sampai bawah. Zee merasa tak nyaman dengan Stella.

"Apa ada yang salah denganku?" tanya Zee, ia merasa terganggu dengan pandangan Stella yang terkesan menghina.

Stella tak menggubris pertanyaan Zee, ia langsung mengapit lengan Edo manja. Tak peduli banyak orang yang tengah memandangnya.

"Kalau mau pacaran, jangan di sini! Ini tempat untuk pembayaran." Zee kembali ke tempatnya, tak memperdulikan Edo dan Stella.

Kemesraan yang ditunjukkan Stella membuat Zee panas, tak peduli Zee segera meninggalkan kassa 28 untuk peegantian shift. Lama di sana hanya akan membuatnya semakin kesal dengan Edo.

Meninggalkan dua sejoli dengan rasa amarah yang bergemuruh di dada. Bagaimana bisa Edo memintanya menjadi pacarnya tadi pagi, sedangkan saat ini ia berdua dengan wanita lain.

Apa wajahnya yang terlihat innocent tadi pagi hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi perilakunya sebagai seorang player. Bahkan kata-katanya terlalu manis untuk menjerat seorang wanita dalam dekapannya.

Apakah ini salah satu cara Edo untuk mendapatkan hati seorang wanita, setelah itu dengan santainya ia akan menghempaskannya setelah mendapat madu yang ia dapat.

"Dia bukan lelaki yang baik untukmu."

Kedatangan Riki membuat Zee hanya tersenyum sinis menanggapinya.

"Zee, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

"Riki, kesempatan apa yang kamu inginkan? Bukankah kesempatan itu sudah aku berikan sejak lama?" Zee menoleh memandang lelaki di sampingnya penuh dengan kebencian.

Pengkhianatan Riki saat itu seolah tak mau menghilang dalam ingatannya.

Kejadian beberapa tahun lalu seakan menjadi momok untuk zee kembali menjalin sebuah komitmen dengan yang lain.

Lamanya hubungan yang terjalin antara dirinya dengan Riki membuatnya selalu gagal move on. Lelaki itu memang sangat berarti bagi Zee saat itu, tetapi pengkhianatannya benar-benar membuat Zee terluka.

"Zee, maaf hari ini aku belum bisa datang ke rumah, aku ada janji dengn teman." Riki mengabari Zee lewat telpon.

"Iya, tak apa Rik, aku paham."

"Terima kasih Zee, kamu memang paling terbaik." Riki menutup telponnya.

Zee kembali merapikan barang-barangnya. Ponselnya kembali bergetar. Ternyata Alena sahabatnya yang menelpon. Ia mengajak Zee makan siang di cafe langganannya, sebagaj bentuk rasa syukurnya karena berhasil dipromosikan untuk menjadi supervisor 4 di tempatnya bekerja.

Zee merias diri di depan cermin, bergegas mengendarai motornya menuju tempatnya janjian.

Bertemu Alena di tempat parkir cafe, mereka segera masuk ke dalam.

Betapa terkejutnya Zee saat melihat Riki dengan mesranya mencium tangan seorang wanita. Luluh lantah hatinya melihat kemesraan Riki berdama yang lain.

Kepercayaan yang selama ini tanamkan dalam hati hancur seketika. Hubungan yang selama ini ia banggakan akan kekokohan cintanya telah hancur hanya karena sebuah pengkhianatan.

Alena yang merasa sahabatnya telah dikhianati langsung mendatangi Riki yang tengah bermsaraan.

"Oh... Ini kelakuan kamu di luar?"

Riki terkaget melihat Alena, Zee masih saja berdiri di tempatnya. Ia seolah enggan mendekat dan menatap wajah lelaki yang telah melukainya.

"Len, dia hanya ... "

"Hanya selingkuhan kamu bukan? Dasar brengsek kamu." Lena menyiram Riki dengan minuman yang di meja. Membiarkannya malu dengan perilakunya sendiri.

Riki teriak memanggil Zee, tetapi kekasihnya tak menanggapinya. Baginya hubungannya bersama Riki cukup berakhir sampai di sini.

Mengingat luka yang ia tutup rapat membuat pelupuk mata Zee mengembun. Luka yang ia kubur dalam-terasa terbuka kembali karena Riki.

"Zee ... "

"Riki, bolehkah aku minta satu permintaan?" Zee menatap sendu Riki.

Riki mengangguk, ia kembali menatap kornea mata yang basah karena air mata.

"Biarkan aku bahagia. Aku mohon jangan pernah menggangguku atau memintaku kembali."

"Zee ... "

"Riki, aku mohon. Terlalu banyak luka yang sudah kau berikan."

Riki tak membiarkan Zee berlalu, ia mencoba kembali memburu netra yang kini menghindar.

"Lihat aku! Katakan bila kamu memang sudah tak menginginkanku lagi. Katakan bila rasa cintamu telah berakhir."

Zee membuang muka, ia tak sanggup bila harus bertatapan dengan pria masa lalunya. Cintanya yang besar masih tersimpan meski hanya seujung kuku.

Ia tak yakin dengan apa yang dirasakannya pada Edo. Apakah ini cinta? Ataukah hanya rasa pelampiasannya karena sakit hati.

"Zee, tatap aku! Aku yakin masih ada rasa yang tersembunyi." Riki makin membutu netra di depannya.

"Aku ... Rik, aku mohon jangan buat aku seperti ini." Zee berusaha menghindar.

Riki kembali mencekal pergelangan tangan Zee, mencoba untuk menaklukkan kembali hati wanita yang pernah mengisi hatinya.

"Zee, apa yang terjadi di antara kita hanyalah sebuah salah paham."

"Maaf, tapi aku nggak bisa." Zee melepas tangan Riki."Semua itu hanya masa lalu dan tetap menjadi masa lalu di antara kita".

Membiarkan Riki sendiri, Zee mengambil tas dan jaketnya. Meninggalkan ruang karyawan pulang untuk menenangkan pikirannya.

Dua orang lelaki hari ini telah berhasil mencabik-cabik hatinya. Edo yang hanya memberiny aharapan palsu dan Riki yang hanya membuka luka lamanya yang sudah ia kunci rapat.

****

"Stella, lain kali nggak usah datang ke supermarket." Edo menepis tangan Stella yang sedari tadi menggamit lengan Edo.

"Kak Edo kenapa sih?"

Edo menarik napas, kehadiran Stella membuatnya harus kerja keras kembali untuk meluluhkan hati Zee. Padahal baru saja tadi pagi Zee telah memberi lampu hijau memberinya kesempatan, dan sekarang kesempatan itu terasa hilang.

"Kak Edo suka sama perempuan tadi?" tanya Stella menyelidik.

"Bukan urusan kamu."

"Kak, jadi ini alasan Kakak buat kerja di sini? Ngapain sih, kakak di sini bisa dapat jabatan lebih dari ini." Stella tampak tak rela jika Edo menaruh hati pada wanita lain.

"Pckk. Bukan urusan kamu."

Tak mau menyerah Stella masih saja menggamit lengan Edo manja.

"Kak, ingat ya perkataanku tempo itu. Kakak nggak ingin kan Kak Sonia kecewa di sana?" Stella menatap tajam Edo di hadapannya.

"Nggak usah bawa-bawa Sonia."

"Kak ... Aku harus lakuin apa sih buat Kakak?"

Stella mendekatkan tubuhnya, kini wajahnya hanya berjarak beberap centi dari Edo. Ia berharap Edo membuka sedikit hatinya untuk Stella.

"Kak ... "

Stella memejamkan mata, napasnya memburu. Berharap Edo akan luluh olehnya.

"Bukan ciuman atau hasrat yang aku inginkan. Cinta itu butuh kenyamanan hati, bukan nafsu semata."

Stella masih terdiam malu, hatinya terasa malu mendapat penolakan dari Edo.

"Sayangi dirimu, jangan sampai kamu memberikan hal paling berharga hanya untuk lelaki brengsek sepertiku." Edo meninggalkan Stella yang masih tercengang dengan penolakan Edo.

Harga dirinya terasa tercoreng di saat Edo menolaknya. Lelaki itu tak menoleh sesikitpun.

"Kak, bisa aku pastikan kamu akan tetap memilihku."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel