Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 (18)

# Happy Reading #

Hari itu adalah hari pertama Mutia masuk kuliah setelah OSPEK. Tepatnya pada hari senin setelah sabtu kemarin ia bermain drama bersama Lano. Dengan langkah yang sedikit ragu, Mutia duduk di kantin. Mutia berniat untuk jajan sambil minum teh hangat. Padahal tadi sebelum berangkat, ia sudah sarapan.

Beberapa mahasiswa yang duduk di sana banyak yang mengenal Mutia sebagai peran Ratu. Kasak kusuk juga bisik-bisik tak terelakkan lagi. Pasalnya drama yang dimainkan olehnya berjalan lancar dan sukses mencuri perhatian penonton yang mayoritas mahasiswa kampus tersebut. Jangan lupakan adegan kissing yang menjadi penutup drama itu, nama Mutia dan Lano seketika menjadi vital.

Setelah Mutia membeli camilan, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk yang kosong. Beruntung, ada satu meja dengan dua bangku yang kosong saling berhadapan. Letaknya berada di sudut dan menghadap ke ruangan yang tidak terpakai.

Mutia duduk di sana membelakangi beberapa bangku yang terisi mahasiswa lain. Tanpa memedulikan sekitar, ia mengeluarkan gawai dari dalam tasnya lalu berbalas pesan dengan Lano yang duduk dua meja di belakang sang kekasih. Ia membuang waktu sembari menunggu jadwal kuliahnya yang masih satu jam lagi.

Mutia duduk sendiri di situ. Mau bagaimana lagi, ia masih belum terlalu kenal dengan teman-teman kampusnya. Hubungannya bersama Lano disimpan rapat-rapat oleh Mutia. Meski berada di tempat yang sama, Mutia dan Lano hanya berkirim pesan melalui telepon selulernya.

Tiba-tiba dia disapa oleh gadis berambut pendek sebatas telinga. Di dahi kiri dan tangan kirinya terdapat luka yang ditutup oleh perban sedangkan tangan kanannya membawa segelas jus alpukat.

"Hai, boleh duduk di sini?" tanya gadis itu dengan sopan.

Mutia mengangguk dan mempersilahkan dia duduk di depan Mutia. Gadis itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Mutia berkenalan.

"Namaku Gladys. Kamu siapa?" sapa si gadis dengan sopan.

"Aku Mutia, kamu dari fakultas apa?" Mutia balik bertanya. Ia tak ingin menjadi seorang yang pasif seperti saat SMA dulu.

"Aku mahasiswa baru di FIKOM (Fakultas Ilmu Komunikasi)," pungkas Gladys sambil mengulas senyumnya yang manis.

"Oh ya, aku juga anak FIKOM tapi kemarin waktu OSPEK, kok nggak kelihatan kamu?" Mutia melontarkan pertanyaan lagi.

"Gara-gara ini," sahut Gladys sambil menunjuk ke tangannya yang terluka

"Sehari sebelum OSPEK aku terserempet mobil dan berakhir di rumah sakit. Nggak seberapa parah sih, tapi lama-lama terasa perih juga nyeri. Untungnya yang menyerempet tanggung jawab. Dia yang merawatku karena aku nggak punya siapa-siapa di sini," lanjut Gladys menjelaskan duduk perkaranya.

"Kamu yatim piatu?" Mutia bertanya dengan suara rendahnya. Ia takut menyinggung perasaan Gladys.

"Nggak. Aku punya orang tua kok. Mereka ada di Indramayu. Jadi aku kuliah di sini sambil kos," papar Gladys yang kemudian meminum jus alpukat yang tadi dia bawa.

"Lumayan jauh ya, di Indramayu," komentar Mutia secara singkat.

"Sebenarnya ayah dan ibuku dari Bogor. Kemudian mereka pindah ke Indramayu. Mengasingkan diri katanya," tukas Gladys mengurai sedikit asal usulnya.

***

Begitu awal mula Mutia bertemu dengan Gladys. Lalu kedua gadis cantik itu menjalin persahabatan. Baru kali ini Mutia punya teman dekat dan dia adalah Gladys.

Hanya dengan Gladys, Mutia bisa bercerita banyak hal tapi dia masih menutupi urusan percintaannya dengan Lano di hadapan Gladys. Mutia masih saja tertutup masalah hal yang sangat pribadi itu.

Beberapa minggu kemudian, Mutia datang ke kosan Gladys untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Rumah kos Mutia termasuk kos yang bebas karena terpisah dengan rumah pemiliknya.

Tok-tok-tok

Mutia mengetuk pintu kayu itu. Setelah beberapa lama, Gladys membukanya. Hanya sedikit celah yang ia perlihatkan. Setelah tahu Mutia yang datang, Gladys menutup pintu dan berbicara di depan kamar kosnya.

"Ada apa?" tanya Gladys.

"Kok tanya ada apa, Kamu lupa? Hari ini kita mau kerjakan tugas dari dosen killer itu kan?" balas Mutia sambil geleng-geleng dan tersenyum kecut.

"Astaga! aku lupa, sebentar. Aku beres-beres kamar dulu. Kamu tunggu di sini ya," pinta Gladys pada Mutia.

"Iya. Oke," sahut gadis yang saat itu mengenakan kaos berwarna merah jambu berlengan pendek dan celana jeans skinny warna biru tua.

Mutia menunggu dengan sabar sambil bersandar ke tembok di sebelah pintu kamar Gladys. Ia disibukkan oleh gawainya. Gadis itu mengirim pesan kepada Lano yang baru saja mengantar Mutia ke rumah kos Gladys.

Tak berapa lama pintu terbuka tapi bukan Gladys yang keluar melainkan seorang laki-laki yang usianya lebih tua. Bahkan bisa dibilang usia matang. Tanpa melihat Mutia yang berada di sebelah pintu, pria itu pergi begitu saja. Belum reda rasa terkejut Mutia, tiba-tiba Gladys mengagetkan Mutia yang termangu karena menatap pria tadi.

"Dor," sentak Gladys.

"Hah, kaget tau," cicit Mutia sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang.

"Kenapa bengong? yuk, masuk," ajak Gladys.

Mutia mengangguk dan menuruti kata Gladys. Baru kali ini Mutia masuk ke kamar sahabatnya itu. Lumayan rapi dan bersih walaupun tidak seberapa luas.

"Kamu sudah makan? Ini dikasih bekal sama ibuku, ada camilan juga," kata Mutia sambil menyerahkan apa yang dia bawa di tangannya.

Mereka berdua duduk di atas tempat tidur Gladys karena di kamar itu tak ada sofa atau kursi. Hanya ada tempat tidur, lemari pakaian dan meja yang lumayan panjang.

"Aku tadi sudah makan. Dibelikan bubur ayam sama orang itu," kilah Gladys.

"Tapi bubur ayam nggak bikin aku kenyang. Gimana kalo bekal dari ibumu, kita makan bersama aja," lanjut Gladys memberi usul sambil membuka bekal yang dimaksud oleh Mutia.

"Dys, orang tadi siapa? Om kamu?" tanya Mutia dengan hati-hati sembari melihat ke arah Gladys yang sedang sibuk mencari sendok yang diletakkan di atas meja.

"Dia orang yang kuceritakan dulu. Pria itu yang menabrakku. Dia ke sini mengantar sarapan," ungkap Gladys sambil membuka bekal dari sahabatnya.

"Oh," sahut datar.

"Yuk, kita makan dulu sepertinya masakan ibumu enak sekali. Selesai makan, kita lanjut kerjakan tugas," saran Gladys sambil mengalihkan percakapan mereka.

***

Selanjutnya pria yang bertemu Mutia di kosan Gladys menjadi kekasih sahabatnya yang selalu berambut pendek itu. Tak disangka dari musibah kecelakaan bisa berakhir di percintaan. Mutia tak menaruh curiga dengan hubungan asmara yang dijalani Gladys. Meski umur mereka terpaut jauh, Mutia tak ingin terlalu ikut campur dalam romansa percintaan Gladys dengan pria yang bernama Andre itu.

Saat pemilihan ketua BEM, Gladys sempat bercerita jika ia memutuskan hubungannya dengan pria yang bernama lengkap Andre Hernadi itu. Entah apa sebab pastinya karena sahabatnya tersebut hanya menyebut alasan sudah tidak cocok lagi.

Setahun sudah Gladys hidup tanpa pasangan. Dia pun memilih untuk pindah kos. Ia ingin menghindar dari Andre yang dinilai Mutia sangat posesif itu. Gladys bahkan mengganti nomornya dan selalu bersembunyi jika pria pemilik sebuah restoran itu datang untuk mencarinya ke kampus.

Sampai akhirnya Gladys bercerita dia berkenalan dengan laki-laki yang mampu membuatnya jatuh hati lagi. Gladys berjanji pada Mutia akan memperkenalkan lelaki itu padanya.

Sampai saat itu tiba, Gladys mengajak Mutia ke sebuah cafe. Di situ lelaki yang dimaksud Gladys sudah berada di sana. Dia duduk di salah satu sudut di tempat nongkrong kekinian itu.

"Hai, maaf telat. Sudah lama?" tanya Gladys pada lelaki itu. Terlihat dari penampilan sepertinya usianya juga lebih tua dari Gladys. Mungkin selera Gladys memang pada pria yang lebih tua.

"Enggak. Aku baru aja sampai," sahut lelaki yang memakai kemeja hitam berlengan pendek dengan motif garis vertikal berwarna putih, celana jeans membalut tubuh bagian bawahnya. Pria itu terlihat sangat rapi.

"Oh, iya. Kenalkan ini temanku, Mutia dan Mutia, ini Jimi," papar Gladys yang diiringi senyum manis di wajahnya yang cantik.

"Dia dikenalkan sebagai apa nih. Teman, pacar, atau suami," goda Mutia pada Gladys.

Jimi dan Gladys sama-sama tersipu malu. Tak ada yang menjawab hingga suasana hening pun terjadi di tengah-tengah mereka bertiga. Sampai akhirnya kehadiran waiters yang berhasil mencairkan kebekuan itu.

***

Setelah wisuda dan Mutia memutuskan untuk pindah ke Jakarta, Gladys putus komunikasi dengan sahabatnya itu. Nomor telepon seluler Gladys entah kenapa tidak bisa di hubungi. Bahkan di grup almamater kampus juga tidak ada.

Sejak tahu jika Gladys berpacaran dengan orang yang usianya lebih matang—Kak Andre—Lano menyuruh Mutia untuk tidak terlalu akrab dengan sahabatnya itu. Mutia tak ambil pusing dengan larangan Lano. Gadis berambut sebahu itu menganggap jika kekasihnya hanya cemburu karena perhatiannya terbagi dengan Gladys.

Saat Gladys menemui Mutia ketika dia mengadakan resepsi di Bandung, menjadi pertama kali keduanya bertatap muka setelah tiga tahun tak saling bertukar kabar. Tentu menjadi hal yang membahagiakan bagi Mutia tapi tidak untuk Lano. Suami Mutia itu masih saja tak suka dengan keberadaan Gladys di samping Mutia.

Namun, Mutia tak mau begitu saja membuang sahabat lamanya. Ia akan mempertahankan Gladys sembari menawarkan kata damai kepada Lano. Pasti nanti Lano akan mengerti dengan permintaan Mutia kali ini.

- To Be Continued -

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel