Bab 8
# Happy Reading #
Setelah Papa Bramanta bebas dari penjara, Keluarga Lano mulai merintis bisnis baru. Saat di penjara Papa Bramanta dibekali keterampilan sebagai modal saat beliau bebas kelak.
Dengan usia yang tidak muda lagi, Papa Bramanta berbisnis bengkel dan cuci mobil. Memang itu hal sepele tapi buktinya pendapatan dari usaha Papa Bramanta membuahkan kebahagiaan bagi keluarga kecilnya. Papa Bramanta tak ingin lagi berkecimpung di dunia politik.
Papa Bramanta memang aktif di ranah legislatif sebelum beliau menjabat menjadi walikota, tapi setelah merenung di penjara sekian lama, Papa Bramanta tak mau lagi kembali ke dunia yang menjebloskannya ke hotel prodeo itu. Lano tentu saja menghargai dan mendukung keputusan papanya.
Dia juga membantu usaha orang tuanya dalam berpromosi. Lano yang seorang juru warta itu memasang iklan secara online dan offline agar bisnis papanya laris.
Tak perlu waktu bertahun-tahun, hanya dalam hitungan bulan saja, usaha Papa Bramanta berkembang pesat. Bahkan di bulan kedua, Papanya sudah mempunyai banyak pegawai. Ia mempekerjakan kenalannya saat di penjara dulu. Merangkul para mantan narapidana yang telah bebas untuk bekerja sama dengan Papa Bramanta.
Awalnya Lano sedikit takut karena mereka pernah terlibat kriminal, tapi papanya meyakinkan Lano bahwa mereka bernasib sama. Mereka yang dipekerjakan adalah orang baik yang terkena fitnah sama seperti Papa Bramanta.
***
Hari ini Mutia akan mengadakan pesta kecil-kecilan atas pernikahannya di Bandung, kota tempat ia dilahirkan. Sudah sejak semalam keluarga Lano tiba di kota Kembang itu. Mereka memilih menginap di hotel yang letaknya dekat rumah Mutia. Keluarga Lano tak ingin merepotkan saudara atau kerabatnya yang pernah 'membuang' mereka. Sedangkan Lano tentu saja menginap di rumah mertuanya.
Pesta kecil-kecilan yang digelar Mutia itu mengundang keingintahuan publik akan pesta pernikahannya. Meski sederhana, nyatanya banyak dilihat oleh masyarakat kota Bandung yang mengenal Mutia melalui layar televisi. Ini semua di luar dugaan.
Memang Mutia dikenal masyarakat sebagai pembaca berita yang rutin dilihat pada siang hari. Selain menjadi pembaca berita, Mutia juga mempunyai acara talk show pada sore hari. Kepiawaiannya sudah tidak diragukan lagi. Terlepas dari kepopulerannya, ia tetap saja menjadi pribadi yang baik dan rendah hati.
Keluarga Mutia sudah disibukkan oleh berbagai persiapan sejak semalam. Kerabat dan saudara dari keluarga Mutia banyak yang datang untuk membantu. Pemandangan yang miris jika dibandingkan dengan situasi keluarga Lano.
***
Pukul empat pagi, Mutia dan Lano dipaksa bangun. Mereka harus mempersiapkan acara terakhir yang mereka gelar dalam rangkaian momen pernikahannya. Setelah mandi dan berpakaian santai, juga sarapan pagi, mereka didatangi oleh perias pengantin. Selagi Mutia memakai make up pengantin di kamarnya, Lano juga berdandan di kamar adik Mutia karena pukul delapan pagi mereka berdua harus sudah siap.
Menjelang satu jam menuju pukul 08.00 pagi, pintu kamar Mutia diketuk. Awalnya Mutia mengira itu ibunya yang mengantar minuman, karena tenggorokan Mutia kering sekali setelah tadi ia hanya meneguk segelas air saat sarapan. Ibunya berpesan jangan minum terlalu banyak, takut membuat Mutia harus bolak balik ke kamar mandi dengan pakaian yang dikenakannya itu.
Mutia memilih mengenakan pakaian adat sunda lengkap dengan mahkota yang menghias di kepalanya. Mutia dan Lano sendiri yang memutuskan memakai baju adat tersebut meski akhirnya Mutia harus menyesalinya. Ia menjadi sulit berjalan dibalik kain jarik yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Tetapi, ia juga merasa antusias, kapan lagi dia merasakan memakai baju pengantin spesial ini.
"Permisi," sapa seseorang yang baru saja masuk ke kamar Mutia.
Sang empunya kamar yang tengah dirias tak memperhatikan siapa yang datang, tapi dari suara yang diucapkan oleh wanita itu, Mutia yakin jika dia adalah Gladys.
"Gladys!" jerit Mutia dengan nada terkejut sekaligus bahagia.
Mutia tak menyangka bisa dipertemukan dengan Gladys. Ia sudah lama tak berjumpa dengan wanita yang selalu berambut pendek itu.
"Hai," sapa Gladys datar dan kikuk sambil mendekat ke arah Mutia yang duduk di depan meja riasnya. Kemudian Mutia berbalik dan memeluk Gladys.
Keduanya berpelukan untuk melepas rindu akan kehadiran satu sama lain. Terputar kenangan masa lalu di antara mereka dalam pikiran kedua sahabat itu. Hingga membuat sang perias khawatir dengan hasil maha karyanya karena Mutia mulai meluncurkan bulir bening di kedua ujung matanya.
"Kamu kemana aja, Dys?" tanya Mutia dengan suara serak.
Ucapannya bergetar dan pandangannya meremang akibat air yang menggenang di manik kecoklatan Mutia. Dengan hati-hati Gladys membantu Mutia menghapus air matanya.
"Aku di Bandung aja kok." Gladys berbohong tentang keberadaannya kemudian dia berkata, "aku menyesal datang ke sini kalo hanya membuatmu terlihat jelek karena tangisan kayak gini." Gladys menyeka air mata sang sahabat dengan tisu.
"Oke, aku nggak akan menangis lagi. Aku terlalu bahagia karena bisa ketemu kamu lagi," aku Mutia.
"Kalo gitu senyum dong," usul Gladys sambil menyembulkan seringai termanisnya.
Mutia turut menarik kedua ujung bibirnya untuk menerbitkan senyuman yang tak kalah cantik dari Gladys. Percakapan mereka harus di sela oleh juru rias, "Neng Mutia jangan nangis lagi, make up yey jadi berantakan tuh. Gara-gara si mbak ini, nih. Pake acara tangis-tangisan di hari bahagia gini," protes waria yang merias Mutia. Dia berkata dengan nada khasnya yang manja.
Dua sahabat itu tak bisa lagi menahan tawa saat waria itu melancarkan ujarannya. Mereka tertawa bahagia. Sudah lama sekali kedua wanita itu tak bisa melepas gelaknya.
"Iya, iya. Aku minta maaf ya," sahut Gladys dengan sopan. Mutia kemudian menghadap cermin lagi dan sang perias membenahi make up Mutia.
Tanpa melihat Gladys, Mutia mengajak sahabatnya itu ngobrol.
"Gimana kabarmu? Kerja dimana sekarang?" Mutia tak sabar mengetahui cerita kehidupan Gladys selama ini. Ia mencecar sahabat yang berparas manis itu dengan banyak pertanyaan.
"Kabarku baik. Aku ... aku sudah dua hari ini jadi pengangguran. Aku berhenti bekerja." Gladys mengutarakan dengan ragu.
"Kenapa?"
"Aku nggak bisa cerita sekarang. Nanti aku bisa-bisa dimarahi lagi sama dia," ujar Gladys menunjuk pada perias yang tengah memberi touch up di wajah cantik Mutia.
"Oke. Kalo gitu masukkan kontakku supaya kita bisa berhubungan lagi," perintah Mutia yang kemudian dituruti oleh Gladys.
"Neng, sekarang sudah selesai. Udah waktunya keluar. Jangan nangis lagi ya. Biar make up yey gak rusak," pesan sang perias.
"Dys, kamu tetap menemaniku, kan?" tanya Mutia yang enggan berpisah dari sahabatnya itu.
"Aku akan menemanimu sebentar. Setelah ini aku ada janji untuk bertemu orang yang menawarkan pekerjaan padaku. Nanti kita bisa lanjut komunikasi. Aku sudah kirim pesan ke nomor handphone-mu kok," bujuk Gladys sambil memeluk Mutia sebelum dia beranjak pergi dari ruangan itu.
Gladys berdusta lagi. Ia tidak nyaman berlama-lama bertemu dengan sahabatnya karena Gladys tahu jika Lano tidak menyukai bila Mutia terlalu dekat dengannya. Setelah berpamitan, ia pergi dari pesta pernikahan sang sahabat.
Maaf Mutia, aku harus pergi. Aku tidak ingin kamu dan Lano bertengkar lagi seperti dulu.
Gladys hanya mampu menyampaikan maafnya dalam hati. Ia juga berjanji akan menghubungi Mutia saat sudah berada di Jakarta.
***
"King, kenapa ramai sekali? Kata bapak sama ibu, mereka mengundang sedikit orang. Hanya teman-teman kerja bapak dan warga sekitar rumah tapi mengapa sampai seramai ini?" tanya Mutia sambil berbisik pada Lano yang ada di sebelahnya.
Mutia mengaitkan tangannya ke lengan Lano. Kemudian mereka berjalan beriringan dari rumah Mutia sampai ke pelaminan yang ada di lapangan depan rumahnya. Warga sekitar memang sering menyulap lapangan itu menjadi tempat untuk hajatan. Tidak hanya acara pernikahan, terkadang untuk khitanan atau acara yang lain.
"Mereka itu penggemar dari istriku yang cantik ini. Kamu itu sangat terkenal melebihi artis," jawab Lano sambil melirik ke arah Mutia.
Seringai licik muncul dalam paras tampannya. Sedangkan Mutia hanya membalas dengan senyum sekilas lalu menyahut, "kamu itu bisa aja, King."
Wanita yang memakai kebaya berwarna putih tulang itu tersipu malu oleh gombalan sang suami. Kedua anak manusia tersebut sama-sama menunduk sambil menahan tawa bahagia karena obrolan di antara mereka. Sepasang suami istri itu masih tampak jengah dan mereka sepakat untuk menyembunyikan tawa recehnya.
"King, sambutan mereka melebihi ekspektasiku. Aku nggak menyangka bakal meriah kayak gini. Aku gugup banget tau. Rasanya kayak aku pertama On Air saat baca berita," ungkap Mutia yang kini mencoba melempar senyum pada tamu yang hadir di hajatannya. Ia melakukan itu untuk menutupi rasa gelisah yang seketika menyergapnya.
"Tenang, Queen. Anggap aja kita sedang akting di atas panggung menjadi Raja dan Ratu dulu. Ada aku di sini yang akan selalu menemanimu, My Queen," hibur Lano untuk menetralkan perasaan Mutia.
"Iya, My King. Aku akan membayangkan seperti yang kamu bilang. Nyatanya dengan seperti itu selalu berhasil untuk membuatku tenang. Bahkan ketika aku bekerja di depan layar kamera. Aku selalu mengingat saat kita bermain drama dulu untuk mengusir nervous," urai Mutia yang kemudian dihadiahi kecupan di punggung tangannya yang sedari tadi dipegang Lano.
"Itu baru istriku," puji Lano sambil memandang lembut manik kecoklatan Mutia.
Hampir dua jam penuh dua sejoli itu berdiri di atas pelaminan untuk menyalami satu per satu tamu undangan yang hadir. Ada sedikit rasa kecewa saat mengetahui Gladys tak ada di antara orang yang berbaris untuk mengucapkan selamat pada mempelai.
Pukul sebelas siang, para tamu telah pulang. Di rumah Mutia hanya tersisa kerabat dan Keluarga Lano saja. Sang pengantin pun sekarang kembali ke kamar mereka untuk berganti pakaian santai dan menghapus make up yang menurut Mutia terasa tebal menutupi wajahnya.
Selesai makan siang, Mutia dan Lano sama-sama mengistirahatkan punggungnya di tempat tidur yang ada di kamar tidur milik Mutia dulu. Mereka berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
"King, kamu udah tidur?" Mutia melontarkan tanya untuk memecah keheningan.
"Hem," dehem Lano sebagai jawaban jika ia belum menyentuh alam mimpi.
"Kamu kerasa capek banget, nggak?" Mutia bertanya lagi.
"Hem." Lano pun bersuara sama.
"Kamu segitu capeknya ya sampai hanya hem hem hem terus dari tadi," gerutu Mutia menanggapi reaksi dari sang suami.
"Lalu aku harus gimana?" balas Lano yang kini menutup manik kehitamannya. Ia enggan meneruskan debatnya dengan Mutia.
Jujur saja, tadi memang Lano merasa lelah tapi seusai Mutia berganti pakaian yang sedikit terbuka di area dadanya, rasa letih itupun hilang dalam sekejap.
Berganti dengan hasrat yang kian membuncah. Apalagi Lano sempat melirik belahan dada yang sempat mencuat. Pemandangan itu melintas tanpa permisi di penglihatan Lano. Matanya ternodai oleh buah dada Mutia yang menyembul dibalik kemeja tanpa lengan yang dua kancing depannya sengaja tak dikancing itu.
Si Tejo langsung bereaksi. Ia mengeras di balik segitiga pengaman yang mengurungnya ketika disuguhi tampilan yang menggoda syahwat itu. Oleh karena itu, sedari tadi Lano hanya diam dan memilih untuk menutup indra penglihatannya agar si Tejo kembali tidur.
Padahal tanpa sepengetahuan Lano, si Surti telah menurunkan bendera merah yang sudah seminggu ini ia kibarkan. Tetapi Mutia masih sedikit takut bila harus mempraktekkan malam pengantinnya di Bandung. Dia malu kalo harus menerima sindiran atau gurauan dari kerabat yang menginap di rumahnya.
Untuk mengelabui Lano, Mutia masih tetap memakai koleksi celana korset yang setia ia kenakan saat datang bulan.
"Oh iya, tadi ada yang belum kuceritakan padamu, King," tutur Mutia mengganti topik pembicaraan yang kelihatannya membuat Lano agak kesal itu.
"Cerita apa?" Lano balik bertanya dengan datar. Terdengar tak terlalu ingin tahu.
"Tadi sewaktu aku dirias, Gladys datang ke kamar dan menemuiku," ungkap Mutia yang kemudian diikuti bangkitnya Lano. Pria itu tadinya berbaring sekarang duduk menghadap Mutia. Terlihat dari raut mukanya, ia tak suka dengan berita yang Mutia sampaikan.
"Jangan berhubungan lagi sama dia," tandas Lano dengan netra yang menyalang.
"Kenapa?" Mutia bertanya dengan lirih karena takut pada respon sang suami.
"Aku tidak suka," pekik Lano.
"Nanti kamu pasti tahu kenapa aku melarangmu. Tidak etis jika aku memberitahukannya sama kamu. Lebih baik Gladys sendiri yang bercerita padamu, Queen," lanjut Lano dengan merendahkan nada suara. Ia melihat istrinya ketakutan saat tadi tanpa sengaja Lano membentak Mutia.
- To Be Continued -
