Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 (18)

# Happy Reading #

Sejak pukul delapan malam, Mutia dan Lano mempersiapkan keperluan mereka untuk bulan madu. Mereka ingin sesuatu yang berbeda dan sudah menantikan momen ini sejak jauh-jauh hari.

"Kamu bawa apa aja? Ini nggak terlalu sedikit? Biasanya wanita bawaannya banyak lho," sindir Lano saat melihat dua tas yang disiapkan Mutia.

"Enggak kok, ini sesuai daftar yang kubuat dan sudah cukup. Nanti kita bisa pakai jasa laundry jadi kita nggak membawa pulang pakaian kotor," saran Mutia.

Memang banyak artikel yang mereka baca sebagai penjelasan keadaan di sana karena mereka belum pernah pergi ke kawasan wisata itu. Mutia dan Lano begitu antusias mengumpulkan informasi tersebut.

Lano juga mendapat rekomendasi dan ulasan dari teman-teman seprofesinya. Termasuk ada yang menyarankan untuk membawa obat pereda nyeri juga obat kuat segala. Entah obat itu akan berguna atau tidak tapi Lano benar-benar menyisipkannya di antara obat-obatan yang lain.

Mereka yang memberi saran tentu lebih senior dan cukup mengerti, mengingat mereka sudah menikah. Bahkan sebelum Mutia cuti—Elsha—rekan Mutia di penyiaran memberinya video vulgar tentang bagaimana cara bercinta. Katanya itu untuk bahan pembelajaran supaya tak kaget jika nanti mereka mempraktekkannya. Sungguh gila! Begitu menurut Mutia kala itu.

***

Pukul sembilan malam, Mutia dan Lano berpamitan kepada orang tua juga mertuanya. Setelah mendapat restu, keduanya berangkat bulan madu. Sebuah taksi siap mengantar mereka ke Stasiun Bandung. Baik Lano maupun Mutia tak ingin membuat lelah orang-orang yang sedari pagi sudah disibukkan dengan pesta kecil-kecilan di rumah Mutia.

Sepuluh menit lagi kereta api berangkat, Mutia dan Lano sudah berada di stasiun. Dengan membawa tas di tangan kiri dan punggungnya, Lano menggandeng Mutia yang juga membawa tas di punggungnya tak ketinggalan tas selempang kecil. Mereka masuk ke gerbong kereta eksekutif.

Lano melihat-lihat dimana tempat duduk yang sudah mereka pesan dengan mencocokkan tiket yang dibawa Mutia. Setelah ketemu, mereka kemudian duduk dan menaruh tas bawaannya di bagasi yang sudah disediakan.

Kereta Api Harina yang membawa mereka dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya. Dengan jarak tempuh lebih dari 500 km, Lano dan Mutia harus bersabar. Butuh waktu 12 jam untuk sampai di Surabaya, setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 4 jam ke daerah wisata yang akan mereka tuju.

Pukul 21.30 kereta berangkat. Baru kali ini Mutia dan Lano melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan kereta api di luar tugas mereka. Sebelumnya, baik Mutia maupun Lano sudah pernah melakukan perjalanan jauh untuk berlibur bersama tapi tidak pernah menggunakan kereta api.

Mutia dan Lano merasakan kenyamanan yang ditawarkan oleh kereta api eksekutif itu. Mereka diberi fasilitas layaknya berada di pesawat terbang. Kursi empuk nan longgar sehingga bisa kaki bisa selonjor dan tidak menekuk terlalu lama.

Perjalanan setengah hari itu menjadi tak terasa. Waktu luang mereka habiskan dengan menonton film yang ada di layar yang diletakkan di belakang sandaran kursi di bagian depan dari kursi Lano dan Mutia. Sesekali mereka mengobrol sebelum akhirnya sepasang suami istri itu terlelap dalam mimpinya.

Pukul sembilan pagi keesokan pada harinya, pasangan halal itu tiba di stasiun tujuan. Jarak 500 km itu seakan terasa pendek. Apalagi berada di dalam kereta sangat nyaman.

"King, kita cari makan dulu yuk," ajak Mutia pada suami saat mereka berjalan dari arah pintu keluar stasiun.

"Kamu masih lapar?" tanya Lano sambil mengernyitkan keningnya karena heran dengan permintaan sang istri.

"Masih, makanan di kereta tadi porsinya sedikit. Aku kepengen coba makan itu," tunjuk sang istri pada warung makan pinggir jalan yang menjual lontong balap.

"Kelihatannya enak ya, karena banyak yang mengantri di situ. Yuk, tunggu apalagi." Lano menggandeng mesra istrinya seperti tak ingin berpisah terlalu jauh dari wanita berparas bidadari itu.

***

Setelah selesai makan, Lano menghubungi pihak travel. Dia menggunakan biro perjalanan dan wisata dari Surabaya sampai Bromo sesuai saran dari rekan Lano yang pernah meliput ke Gunung yang letaknya di Jawa Timur itu.

Dari stasiun mereka akan naik mobil. Kendaraan itu akan membawa mereka ke hotel yang sudah dipesan oleh sepasang suami istri itu.

Perjalanan dari kota Surabaya menuju Bromo cukup lama ditambah tadi sempat macet saat mereka melintas di jalan pantura. Pukul 14.00, sepasang suami-istri itu baru check in di hotel.

Sesampainya di penginapan, Pak Nurdin mewakili pihak travel, yang mengurus akomodasinya. Suami istri itu akan tinggal di hotel selama empat hari tiga malam. Dan mereka akan bertemu dengan Pak Nurdin lagi pada hari terakhir liburan mereka.

***

Lano mengajak Mutia masuk ke dalam cottage yang dipesannya. Sebuah ruangan yang akan benar-benar menjadi saksi bisu kisah cinta mereka menuju tangga surga dunia. Sebuah hal yang sangat dinanti Tejo tentunya.

Hanya memikirkannya saja sudah membuat Lano melengkungkan senyum. Bahkan degup jantungnya menjadi tak karuan.

Setelah mengunci pintu utama, Lano menyusul Mutia yang tengah melihat-lihat pemandangan di luar balkon yang terhubung dengan kamarnya. Lukisan indah karya Sang Maha Pencipta benar-benar menyejukkan mata di saat siang yang seharusnya terik itu.

Mutia merentangkan tangan merasakan dinginnya udara di luar kamar sembari menghirup dalam-dalam udara bersih itu. Sungguh membuat paru-parunya menjadi segar. Sekali lagi, dengan serakah merasakan udara segar pegunungan nan sejuk yang jarang ia rasakan saat di Jakarta.

"Queen, kamu lapar nggak? Mau makan siang dulu?" usul Lano mendekap Mutia dari belakang sambil berbisik lirih di telinga istrinya.

Mutia merasa geli dengan sentuhan bibir Lano yang menyentuh cuping telinganya. Ia sontak menjauhkan indra pendengar itu agar sedikit berjarak. Tapi, tangan Mutia memegang telapak tangan Lano yang melingkar di perutnya.

"Aku masih kenyang. Nanti saja, King," tawar Mutia yang masih ingin menikmati suguhan pemandangan tak biasa itu.

Dari balkon kamarnya, Mutia bisa melihat sekitar hotel apalagi dari tempatnya berdiri itu bisa mengintip keindahan Gunung Bromo. Sungguh elok karya eksklusif dari Tuhan tersebut.

Kegagahan gunung di antara bukit-bukit yang mengelilinginya menggelitik rasa penasaran Mutia. Ia tergoda untuk melihat keindahan alam itu dari dekat. Ingin rasanya ia berjalan-jalan keluar hotel dan mengabadikan pemandangan matahari terbenam di kala senja.

"Aku mau lihat sunset," pinta Mutia dengan tiba-tiba.

Lano masih betah mendekap Mutia dari belakang. Malah ia semakin mendekat pada istrinya. Mutia merasa ada ganjalan keras yang mengusap di pantatnya. Awalnya Mutia mengira, Lano membawa kayu. Namun, saat Mutia melirik ke bawah, ia sadar bahwa kejantanan Lano yang menegang dan menyentuh pangkal paha bagian belakang.

"Tapi sebelum itu kita makan dulu ya, aku sudah tak sabar sejak di kamar hotel kemarin," tandas Lano sambil menggendong Mutia ala bridal dan menutup pintu transparan balkon dengan kakinya. Sang suami melangkah dengan hati-hati lalu membaringkan Mutia pelan-pelan di ranjang king size dalam kamarnya.

"King, kamu ngapain, sih. Katanya mau makan," tuntut Mutia.

"Aku maunya makan kamu, Queen," kilah Lano yang mengungkung sang istri di bawahnya.

Mutia tahu apa yang dimaksud suaminya dan ia hanya bisa tersipu. Indra pendengarannya menangkap ujaran manis sang suami. Senyum tipis serta pipi yang merona menjadi balasan atas rayuan dari Lano.

Sang istri sudah tak bisa lagi menghindar atau menunda. Sudah menjadi kewajibannya untuk melayani sang suami secara lahir dan batin. Apalagi dengan posisinya yang berada di bawah kungkungan suaminya. Kedua kakinya dijepit oleh lutut Lano. menelan salivanya saat perjalanan menuju surga dunia itu tiba.

Kemudian wanita berambut pendek sebahu itu menangkup wajah tampan pria yang sudah merajut tali percintaan dengannya selama tujuh tahun. Mutia menatap manik kehitaman milik Lano dengan lembut lalu dia mengangguk pelan.

"King, do it gently," mohon Mutia dengan lirih tapi didengar jelas oleh Lano.

"As your wish, My Queen," pungkas Lano dengan seringai bahagianya.

- To Be Continued -

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel