Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 (18)

# Happy Reading #

Sandra memasuki sebuah kondominium yang dihuni oleh dua orang lelaki. Ia bisa masuk dengan mudah karena mempunyai duplikat keycard dari rumah susun yang ada di kawasan elit tersebut. Perasaannya amat kesal karena tingkah penghuni dari kondominium ini.

Sandra meraih knop pintu dan membuka ruangan tersebut dengan kasar. Ia masuk begitu saja ke satu-satunya kamar yang ada di rumah itu. Tak peduli dengan respon pemilik kamar karena pasti kedua pria itu masih bermanja dengan bunga tidurnya.

"Oh My God, come on men. Please wake up. It is almost 07.00 am. 45 minutes later you have a schedule with Bazar Magazine. Don't you remember guys?" omel Sandra dengan suara nyaring begitu ia memasuki kamar.

Saat di dalam kamar itu, Sandra menyingkap selimut yang menutupi dua orang laki-laki tidur saling berpelukan, bertelanjang dada, dan hanya memakai celana dalam saja. Sandra sudah tak asing lagi dengan pemandangan mesum dari dua artis asuhannya itu. Ia bahkan sudah kebal jika mereka telanjang di depan Sandra, wanita yang usianya lebih tua dari mereka. Mata Sandra berkali-kali ternodai.

"Ayo cepat, bangun," gerutu Sandra sambil menampar singkat kedua pipi John dan Vano.

Kedua laki-laki berbadan atletis itu menggeliat di tempat tidur. Sandra memang harus ekstra sabar dalam membangunkan mereka. Wanita yang selalu menguncir ponytail surainya ini menghela napas dan melanjutkan aksinya membangunkan kedua orang yang ada dihadapannya.

"John, kalo kamu tidak cepat bangun, aku akan sentuh milikmu!" ancam Sandra pada John.

Pria keturunan asing ini memang paling sulit dibangunkan. Sedangkan Vano sudah terbangun dan dia beranjak dari tempat tidur queen size—tempat Vano dan John tidur—lalu ia berjalan dengan langkah tak beraturan.

Kepala Vano masih pusing akibat minuman keras yang ia teguk semalam bersama John. Saat akan masuk kamar mandi, ia mendengar gertakan Sandra. Lelaki itu hanya terkekeh dan meninggalkan Sandra bersama John.

Ketika suara shower terdengar dari kamar mandi, Sandra melucuti segitiga pengaman yang menutupi kejantanan John. Laki-laki itu memang memiliki orientasi seks yang menyimpang. John penyuka sesama jenis dan pasangannya sekarang adalah Vano. Sandra hanya ingin John bisa kembali menyukai perempuan tapi dari dalam lubuk hatinya, lelaki keturunan asing itu menolak.

Saat pagi seperti ini, 'sosis panjang' milik John sudah mengacung tinggi bak monumen. Tanpa aba-aba, Sandra memegang sosis berwarna putih kemerahan itu. Ia memaju mundurkan tangannya untuk mengurut batang yang telah kaku itu. Sedangkan si empunya masih mengumpulkan kesadarannya sembari melenguh. Sewaktu Sandra akan memasukkan mulutnya, John buru-buru bangun dan menghentikan aksi Sandra.

"Hey lady, this is special for Vano not you. Stop it," protes John.

"Ok, aku berhenti. Sekarang kamu cepat mandi dan aku akan menyiapkan pakaian kalian untuk hari ini," perintah Sandra sambil menggiring John ke kamar mandi. Vano sudah selesai membersihkan badannya saat John akan masuk ke ruangan kecil yang hanya cukup untuk dua orang saja.

Dengan cekatan Sandra memilihkan pakaian yang akan dipakai oleh kedua artis pendatang baru yang ia asuh itu. Pakaian yang serupa tapi tak sama. Layaknya mereka seorang yang kembar dan berpasangan. Memang image yang dibuat oleh managemen untuk mereka adalah sibling. Meski dari wajah sama sekali tak ada kemiripan, namun mereka bisa melengkapi layaknya pasangan atau saudara.

Entah karena mereka terlalu menghayati image tersebut, Vano dan John malah terikat dengan hubungan sesama jenis. Kasih terlarang itu hanya diketahui oleh Sandra dan kedua orang tuanya. Mommy and Daddy-nya Sandra sudah dianggap orang tua oleh Vano.

***

Saat Vano memutuskan untuk mengasingkan dirinya dari keluarga, ia memilih Singapura sebagai tempat melanjutkan ilmu dan mengasah minat juga bakat yang ia miliki. Kemudian Vano dipertemukan oleh Mommy Yati dan Daddy Hans di negara asing itu. Kedua orang paruh baya tersebut membantu Vano. Ia mengijinkan Vano tinggal dirumahnya untuk menemani anak perempuan semata wayang mereka.

Meski tinggal satu atap dengan Sandra, Vano hanya menganggap wanita itu sebagai kakaknya. Sandra banyak memberinya petuah sebagai ganti posisi kakak kandung Vano yang ada di Indonesia.

Vano sama sekali tak memikirkan tentang cinta saat di Singapura. Ia hanya fokus pada pendidikan yang nantinya bisa mengantarkannya menjadi sumber penghasilan utama di masa yang akan datang.

Selama kuliah, Vano bekerja part time di restoran milik Mommy Yatz untuk membiayai pendidikannya. Ia tidak mau seluruh kebutuhannya ditanggung oleh kedua orang tua angkat Vano itu. Mereka sudah berbaik hati menawarkan tempat tinggal dan menanggung biaya hidupnya selama kuliah di Nanyang Technological University.

Setelah wisuda, Vano mencoba menerapkan ilmunya dengan beberapa kali ikut casting iklan dan drama. Meski hanya berperan sebagai figuran, Vano bisa mendapat penghasilan. Sampai akhirnya wajah tampan nan menarik itu mulai dilirik oleh sebuah production house dan menawarkan kontrak kerja.

Vano menerima pekerjaan itu dan menggandeng Sandra—anak tunggal dari orang tua angkatnya—sebagai manajer. Vano tak ingin orang asing yang mengatur segala macam pekerjaan yang akan ia ambil kelak.

Keakraban dan kerja sama juga kerja keras antara dirinya bersama Sandra membuahkan hasil. Ia makin dikenal dan namanya dielu-elukan oleh penduduk di negara termaju dalam lingkup asia tenggara itu. Nama Vano semakin melambung dan memutuskan untuk tinggal sendiri di kondominium yang ia beli dari hasil keringatnya. Vano meninggalkan rumah Mommy Yatz untuk melindungi privasi mereka.

Dalam satu kesempatan, Vano dipasangkan dengan John—artis pendatang baru juga—di sebuah drama singkat 15 episode. Pada drama tersebut diceritakan tentang persahabatan antara sesama pria. Drama yang mengangkat cerita bromance itu ternyata laris. Banyak dilihat oleh warga Singapura. Mereka makin menginginkan kolaborasi antara John dan Vano terus.

Jadi disinilah awal kisah terlarang John dan Vano dimulai. Awalnya Sandra mengira jika Vano tak tertarik dengan Sandra karena fisiknya yang memang biasa-biasa saja. Ia mengaku kalah. Tidak seperti teman sesama artis yang dekat dengan Vano. Mereka bertubuh molek dan wajahnya rupawan.

Ternyata anggapan Sandra salah. Vano mempunyai ketertarikan terhadap sesama kaumnya. Begitupun juga dengan John. Faktanya lelaki keturunan Thailand-Singapura itu sudah menganut homoseksual sejak ia masih senior high school.

Hubungan Vano dan John semakin dekat. Sebagai seorang Manager, penyimpangan seksualitas ini harus disembunyikan dari publik jika tak ingin dihujat oleh warga netijen yang maha benar itu. Sandra hanya khawatir jika karier keartisan di dunia hiburan yang sedang dirintis oleh kedua pria itu akan hancur karena kenyataan ini.

John yang telah 'senior' sangat posesif terhadap tubuhnya. Ia hanya akan melayani pasangannya. Jika ada yang menyentuh tubuhnya selain sang kekasih, ia akan marah besar. Jauh di lubuk hatinya, John menolak untuk sembuh.

John menganggap jika tubuhnya disentuh dan dinikmati oleh wanita, akan membuatnya perlahan tak lagi mencintai seorang pria. Padahal ia sudah nyaman akan kasih dan sentuhan dari sesama jenisnya.

Sudah menjadi tugasnya, Sandra berusaha melindungi privasi artis yang ia asuh. Sandra mengijinkan Vano dan John tinggal bersama. Hal Itu hanya kamuflase agar mereka punya tempat untuk bermesraan tanpa ada yang curiga.

Seiring berjalannya waktu, Sandra mempunyai tekad. Ia ingin menyembuhkan penyimpangan seksual yang dimiliki kedua artisnya karena Dewa Cupid telah menembakkan panah pada hati Sandra yang telah lama beku. Sang manager telah jatuh cinta pada salah satu artisnya.

***

"This is your outfit, Vano," tutur Sandra sambil menyerahkan pakaian.

"And this is yours, John," sambung Sandra yang kemudian ia meninggalkan kamar para lelaki itu.

Sandra berjalan ke arah meja makan dan menyiapkan sup pereda mabuk yang sudah dibuatkan Mommynya. Sandra tahu semalam mereka menenggak minuman keras karena kebiasaan John yang selalu meneleponnya dalam keadaan mabuk. Sandra juga menebak jika pasangan terlarang itu mengakhiri malamnya dengan bercinta.

Sandra tahu fakta itu karena ia menemukan kondom yang berisi cairan kental berwarna putih di tempat sampah. Ia sangat detail terhadap hal kecil yang bisa merusak karier artisnya. Tanpa ada rasa jijik, Sandra buru-buru memusnahkan benda yang membuatnya iri itu.

Ia sungguh ingin merasakan lelaki yang dicintainya itu menyemprotkan cairan sperma ke dalam rahimnya suatu hari nanti. Memang bisa saja ia menyimpan cairan itu lalu ditanamkan ke dalam tubuhnya agar tumbuh janin.

Tanpa harus menikah, ia sudah bisa mempunyai anak dari pria yang menyita segenap pikirannya. Namun sial, Sandra tak pernah tahu, siapa pemilik dari kedua kondom itu. Lagi pula Sandra ingin merasakan sentuhan seksual dari pria yang ia kasihi.

***

Selagi kedua manusia itu menghabiskan sup yang dibuat mommynya, Sandra menyiapkan perlengkapan yang diperlukan oleh John dan Vano. Sandra tak pernah mengeluh. Walaupun pekerjaan sebenarnya sebagai manager tapi nyatanya ia merangkap menjadi asisten juga.

Setelah selesai, Sandra kembali ke meja makan dan mendapati kelakuan romantis yang bikin miris itu. Vano dan John saling menyuapi sup secara bergantian. Bukan dengan sendok, melainkan dengan mulut mereka.

"Guys stop it," bentak Sandra sembari menatap sepasang kekasih tersebut dengan manik yang membola. Tak hanya itu, tangan Sandra yang tadi diletakkan di pinggang rampingnya kini melerai pagutan kedua anak manusia itu.

Awalnya mereka saling menyuapi tapi lama-lama kedua pria itu saling mencumbu. Kecupan lembut yang berakhir dengan lidah saling membelit tak terelakkan dari pandangan Sandra. Naluri Sandra meneriakkan protes untuk menghentikan aksi tak tahu malu itu.

"Sebelum lebih jauh lagi, aku mohon hentikan. Kita sudah hampir terlambat. Apa kalian mau mendapat lahar amarah dari Mrs. Jenny?" semprot Sandra mengingat John dan Vano.

Hanya dengan ancaman itu, mereka bisa kembali ke dunia nyata. Tangga surgawi yang tengah mereka naiki telah ditinggalkan. Baik Vano atau John sudah tak malu lagi menunjukkan kemesraan mereka di hadapan Sandra. Hanya di kondominium itu, pasangan sesama jenis ini bebas bermanja.

Mereka menganggap Sandra adalah wanita yang berpikiran luas. Dia selalu menilai tak hanya dari satu aspek saja seperti Mommy Yatz dan Daddy Hans, orang tua Sandra.

Sandra berharap suatu saat nanti ia bisa menyembuhkan kelainan seks dari pria yang membuatnya jatuh hati. Ia terus berdoa agar bisa menemukan cara supaya keinginannya bisa terwujud.

- To Be Continued -

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel