Bab 6
# Happy Reading #
Lano membuka sebuah pintu dengan kartu yang disimpan di saku bajunya. Kemudian ia mempersilakan Mutia masuk terlebih dahulu.
"Silahkan masuk, Queen," tutur Lano sambil membuka pintu lebar-lebar dan menyuruh istrinya memasuki sebuah unit apartemen. Entah itu milik siapa. Mutia tidak tahu karena sang suami tidak memberinya info pemilik hunian mewah ini.
Mutia melangkah pelan seperti maling yang takut ketahuan oleh penghuni rumah. Lalu ia juga memandang sekeliling ruangan yang ada di depannya. Mutia mengedarkan penglihatannya sampai penjuru ruangan kemudian berbalik untuk menatap manik kehitaman milik Lano.
"Ini apartemen siapa?" tanya Mutia sembari mengerutkan dahinya. Mutia ingin mengakhiri rasa penasaran yang sedari tadi hinggap dipikiran.
Setelah menutup pintu, Lano mengekori Mutia. Sampai akhirnya pertanyaan yang ditunggu-tunggu keluar dari mulut sang istri. Dengan senyum mengembang, Lano meraih tangan istrinya yang menggantung bebas seraya menjawabnya, "ini punya kita, Queen."
"Bener ini punya kita?" Mutia bertanya lagi untuk meyakinkan bahwa ia tak salah mendengar.
"Iya, Queen. Apartemen ini atas nama kamu. Aku sudah mengurus semua prosedur jual belinya," imbuh Lano menyakinkan Mutia.
"Bagaimana bisa? Ini harganya mahal lho. Aku aja nggak membayangkan punya hunian kayak gini," ungkap Mutia yang masih tidak percaya.
"Aku beli pakai tabunganku dan simpanan kita bersama. Jangan marah ya.... Sekarang kedua rekening itu ludes tak bersisa," urai Lano dengan sedikit ragu juga bernada sedih.
"Aku nggak marah, King. Kita memang berniat menabung untuk keperluan bersama. Aku nggak keberatan, kok," hibur Mutia sambil merangkum paras sedih dari suaminya.
"Jadi, apa kamu tidak menyesal menikah denganku yang tidak punya apa-apa ini?"
Mutia memeluk Lano untuk mengurangi rasa bersalahnya lalu berkata, "Kalo uang bisa dicari lagi, King."
Mutia melepas dekapannya lalu melanjutkan kata-katanya, "Kamu tahu nggak aku bahagia banget karena apa yang aku idam-idamkan sekarang tercapai."
"Jadi kamu nggak masalah punya suami miskin seperti aku?" tanya Lano sekali lagi.
Mutia menggeleng. Lano mengecup lembut kening istrinya lalu meneruskan ujarannya.
"Thank you, My Queen. I will do everything to make you happy." Lano tersenyum. Binar bahagia terlihat di manik kehitaman miliknya.
"Ayo, kita keliling," lanjut Lano sambil menggandeng mesra tangan sang istri.
Mereka seakan tak ingin berpisah. Padahal pasangan itu hanya mengitari seluruh sudut apartemen yang akan mereka huni sepulang bulan madu. Tempat ini akan menjadi sejarah yang siap mereka ukir di masa yang akan datang.
"Kalo kamu kurang pas dengan interiornya, kita bisa ganti pelan-pelan ya," saran Lano saat mereka masuk ke kamar tidur utama. Ruangan ini menjadi tempat dua sejoli itu beristirahat dan melepaskan penat juga hasrat nantinya.
"Enggak usah diganti. Aku cocok semua dengan pilihan furniture dan yang lainnya," terang Mutia dengan menunjukkan senyum termanisnya.
"Syukurlah, kalo begitu. Berarti selera kamu pas dengan Hendra," lontar Lano senang.
"Kok Hendra?" Mutia sedikit kesal ketika nama Hendra lagi-lagi disebut.
"Iya, Hendra yang bantu aku untuk mendapatkan apartemen ini dan dia juga yang menata interiornya. Aku tinggal terima beres," jelas Lano sambil menyusul Mutia yang sudah melangkah ke dekat pintu kaca yang besar. Pintu transparan itu menghubungkan dengan balkon.
Dari tempat itu mereka bisa mengamati lalu lintas Kota Jakarta. Bahkan suguhan indahnya cakrawala sore terpampang jelas. Sangat membuat hati tenang walau hanya sekedar memandangnya saja.
"Kenapa? Kelihatannya kamu nggak suka dengan Hendra?" sambung Lano yang kini mendekap tubuh Mutia dari belakang.
Semilir angin sore menerbangkan surai sang istri yang tergerai bebas. Dengan bantuan angin dan jarak yang sedekat itu, Lano bisa mencium aroma bunga kenanga yang selalu menjadi parfum Mutia. Sementara Mutia juga merasakan wangi tubuh Lano yang ada dibelakangnya. Keharuman yang memabukkan bagi para wanita.
Mutia menghela nafas untuk mengusir keraguan hatinya.
Apa aku harus menceritakan tentang Hendra kepada Lano?
Pertanyaan itu yang sedang mengganggu pikiran Mutia.
Lano meletakkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Berusaha mencium keharuman lembut yang selalu ia rindukan. Sentuhan Lano membuat Mutia tersadar dari pikirannya yang melayang entah kemana.
"Indah ya, kalo dilihat dari sini," kelit Mutia. Ia mengganti topik pembicaraannya.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku lho, Queen," tuntut Lano sambil mengikis jarak antara mereka berdua.
Mutia melepas dekapan Lano dan mengubah posisinya. Ia berputar, berdiri menghadap Lano.
"Aku cuma merasa segan aja karena dia dulu sekretaris BEM dan aku ketuanya. Aku juga kaget semalam dia datang ke pesta resepsi pernikahan kita karena aku merasa nggak mengundang dia," beber Mutia yang masih menyembunyikan fakta. Sang istri tak ingin mengungkapkan hal yang sebenarnya pada suaminya.
"Iya, aku yang undang Hendra. Malah aku nggak menyangka dia datang bersama Fraya." Lano mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepala istrinya.
"Masuk, yuk. Makin lama anginnya kencang," imbuh Lano sambil mengajak sang istri masuk lagi ke dalam kamar dan mengunci pintu tembus pandang itu.
"Fraya?" Mutia berkeliling ke kamar yang cukup luas untuk ukuran sebuah apartemen. Ia mengamati lukisan abstrak yang tergantung di depan ranjang dan berbagai pernak pernik yang ada di kamar itu dengan langkah pelan. Mutia melontarkan tanya untuk menyelidiki wanita yang mendampingi Hendra semalam.
"Iya, gadis yang dibawa Hendra kemarin namanya Fraya. Mereka dari SMA sudah dekat. Bahkan diisukan berpacaran tapi mereka terus saja menampik gosip itu. Makanya aku nggak menyangka hubungan mereka bisa awet sampai sekarang. Kemana-mana berdua terus," papar Lano yang bercerita tentang pasangan Hendra dan Fraya.
Oh, gadis itu yang membuat Hendra menolakku dulu.
Mutia mengoceh dalam hatinya, sambil tetap berjalan pelan, ia bertanya, "Mereka sudah menikah?"
"Sepertinya tidak lama lagi mereka akan menikah, itu yang kulihat dari sorot mata Hendra. Hubungan mereka sudah masuk di tahap yang serius dengan Fraya. Cinta mereka sekarang bukan hanya cinta monyet seperti jaman SMA dulu."
"Sok tau kamu, King. Memangnya kamu paranormal sampai bisa menilai orang begitu," protes Mutia sambil berlalu dan melihat ke ruang walking closet yang berada tersembunyi di sisi kanan ranjang.
"Kamu nggak percaya? Aku bisa menebak isi hati seseorang lho," tutur Lano sambil menarik kedua ujung bibirnya dan mengekori Mutia.
"Yang aku tahu kamu bukan dukun atau sejenisnya, King," canda Mutia sambil menahan tawa dengan mengulum bibir sensualnya.
Lano mendekap pinggang ramping Mutia dari belakang lalu memutar tubuh sintal istrinya. Hingga mereka berdiri dengan jarak yang amat dekat.
Lano menawan Mutia dengan senyumannya. Seringai itu berhasil menggoda Mutia. Bahkan mampu mencairkan hati yang awalnya beku seperti es.
Mutia terkejut dengan sikap Lano. Ia menggigit bibir bawahnya karena detak si jantung jumpalitan tak karuan.
"Kamu niat menggodaku, ya," timpal Lano yang makin intens memandang manik kecoklatan milik Mutia.
"Enggak," sanggah Mutia dengan singkat sambil mengulas senyum yang mampu meruntuhkan pertahanan Lano.
"Kamu harus dihukum, Queen," tandas Lano yang kemudian meraup lalu mencium bibir Mutia yang berhasil menggoda imannya.
Bibir mereka saling berpadu. Menciptakan kobaran gairah antara mereka berdua. Pasangan suami istri itu hanyut dalam romansa kasih yang selalu mereka rindukan.
Sentuhan Lano disambut oleh Mutia sampai akhirnya langkah kaki Lano menuntun mereka jatuh di ranjang king size yang ada di kamar itu. Dengan posisi Mutia yang ada di bawah. Lano makin berkuasa diatas. Mengungkung Mutia hingga wanita itu tak berdaya berada di bawahnya.
Lano masih saja mencumbu Mutia semakin dalam sembari jemari tangan kirinya mengelus kulit mulus istrinya. Mutia mengerang ketika Lano mengigit gemas bibir bagian bawah. Kemudian jari-jari makin aktif menyusuri pakaian Mutia sampai akhirnya menyibak dress yang dikenakan istrinya.
Tangan jahil Lano bermain dibalik kain yang dipakai Mutia. Meski berhasil membelai paha Mutia yang halus itu, kulit tangan Lano merasakan permukaan yang berbeda saat mengelus daerah intim wanita yang dicintainya itu.
Mutia masih betah mengenakan celana ketat yang dia sebut dengan korset itu. Seperti saat malam pertama mereka di hotel kemarin. Setelah tangan Lano menyentuh permukaan korset yang menutupi area kewanitaan Mutia itu, ia seketika menghentikan aksinya.
Lano mematung dan menjatuhkan dirinya tepat di sebelah Mutia berbaring. Dengan menatap langit-langit kamar, ia berusaha menghapus kabut gairah yang tadinya bergejolak. Lano juga menetralkan degup jantungnya yang berdetak kencang dengan berulang kali ia menghela nafas yang panjang.
Lano harus menelan pil pahit. Ternyata Tejo masih saja tak boleh bertemu dengan Surti. Ia merasa pandangan matanya berputar di depannya. Pening seketika menyerang syaraf-syaraf di tubuh pria berdada bidang itu.
"Queen, kapan kamu berhenti memakai celana sialan itu," kutuk Lano menyalurkan kekesalan hatinya.
"Sabar ya, King. Tinggal sedikit lagi kok. Aku memang tiap datang bulan selalu memakai ini biar nggak nyeri," urai Mutia sambil berbaring ke samping untuk bisa memandang suaminya meski harus disanggah oleh siku tangan kirinya.
"Kamu kok nggak pernah cerita tentang celana itu. Memangnya kalau datang bulan sakit sekali, ya? Yang aku tahu, wanita kalo datang bulan selalu sensitif dan marah-marah pada hal sepele." Lano mencoba mendebat Mutia.
"Hormon pada perempuan beda-beda, King. Jadi kalo mereka merasa sensitif, kalo aku selalu merasa nyeri tapi tidak sepanjang siklus menstruasi. Dan masa haidku juga nggak selalu datang di tanggal yang sama. Kadang lebih cepat kadang lambat." Mutia menyampaikan dalihnya.
Pantas saja, aku selalu nggak bisa menandai kapan menstruasi kamu datang, Queen. Ternyata begitu.
Lano meracau dalam batinnya. Sejenak percakapan tentang dunia wanita yang ditutupi istrinya ini memancing rasa penasaran sang suami.
"Trus apa nggak ada cara untuk mempersingkat biar datang bulannya cepat pergi," tanya Lano yang masih tak mau menatap Mutia yang ada di sampingnya.
"Iya kalo lalat bisa diusir. Kamu ini ada-ada aja tapi kalo menurut perhitunganku, nanti saat bulan madu kita, aku udah bebas dari celana yang bikin kamu sewot kayak gini."
Setelah selesai menjelaskan pada Lano, Mutia mengecup pipi sang suami dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Lano. Mereka kembali mesra setelah perdebatan kecil itu.
***
"Queen, aku ingin kita secepatnya punya anak," ungkap Lano saat mereka berada di suatu kamar yang baru saja mereka lihat.
Sebuah kamar yang ada di apartemen milik mereka. Ruangan itu tidak begitu besar tapi desain minimalis menjadikan bilik itu tampak luas.
"Tapi ...." Mutia mencoba mengurai keresahan hatinya tentang keturunan tetapi tiba-tiba dipotong oleh Lano.
"Tak bisakah kali ini permintaanku mengalahkan egomu?" pinta Lano dengan nada yang memelas mengharap iba dari istrinya.
"Aku ingin cepat mempunyai keturunan. Hasil buah cinta kita, Queen," imbuh Lano dengan suara yang terdengar sedih.
"Baiklah nanti aku pikirkan, King." Mutia menghela nafas dan beranjak. Ia meninggalkan Lano sendiri di ruangan kamar tidur yang rencananya akan di tempati oleh anak mereka berdua.
- To Be Continued -
