Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

# Happy Reading #

Lano menemui mamanya saat selesai mengantar kepergian mertuanya untuk pulang ke Bandung, tempat asal Mutia. Ia ingin pergi ke suatu tempat bersama istrinya sebentar. Ia perlu melakukan ini karena sang mama menyuruhnya untuk langsung pulang ke rumah setelah check out dari hotel.

Ditengah rencana mamanya itu, Lano malah ingin mengajak melihat-lihat tempat yang kelak dihuni oleh pasangan pengantin baru tersebut. Lano sudah tak sabar untuk memperlihatkan kepada istrinya.

"Kumohon sebentar saja, Ma. Aku ingin memberi kejutan spesial pada istriku. Aku janji sebelum malam sudah kembali ke rumah." Lano berusaha mendapatkan ijin dari mamanya. Ia membawa pergi sang istri di sela-sela waktu.

Mama Lena mengangguk dan menyuruh Lano untuk menepati janjinya.

"Jangan terlambat pulang ke rumah," peringat wanita paruh baya itu.

Setelah restu dari mamanya berhasil ia dapatkan, Lano mengajak istrinya pergi. Mereka akan ke suatu tempat dimana mereka akan menghabiskan waktu bersama lebih lama.

***

Sebuah mobil sedan melintas di jalanan ibu kota. Membelah siang yang berusaha merayu sore. Sepasang pengantin baru yang belum mengincip nikmatnya surga dunia itu tengah melarikan diri dari padatnya acara yang akan mereka lalui.

"Kita mau kemana, King?" tanya Mutia memecah kebisuan di antara mereka. Sedari tadi mereka tak bicara apa-apa tapi justru itu makin menggelitik rasa penasaran Mutia.

"Kita ke suatu tempat, Queen," jawab Lano sambil membelokkan setir mobilnya. Mereka mengarah ke jalan yang menuju ke stasiun TV tempat mereka mengais rejeki.

"Kita ke kantor? Ngapain? Kita kan masih cuti, untuk apa ke sana?" cecar Mutia sesudah menyadari jika mobil yang mereka kendarai berada di dekat daerah tempat mereka bekerja.

"Enggak, Queen. Kamu salah. Kita nggak ke kantor. Kita hanya ke sebuah tempat yang letaknya dekat dengan kantor," sahut Lano.

"Oke, kamu hutang penjelasan padaku. Aku sungguh tersiksa jika dibuat penasaran. Kamu tahu itu kan?" Mutia mulai sewot dengan sikap pria yang sangat dicintainya itu.

Sedangkan Lano hanya melirik sekilas ke wajah cantik istrinya, "Gemesin banget, sih. Pengen aku cium sekarang juga," ujar Lano sambil mencubit pipi istrinya sebentar dan kembali berkonsentrasi menyetir.

Tak lama mereka tiba di gedung apartemen yang dekat dengan kantor mereka. Tak sampai 1 km, sudah sampai di tempat mereka bekerja.

Lano memakirkan mobilnya di basement. Ia membawa masuk sang istri ke dalam gedung berlantai 20 itu. Lalu mereka tiba di lobby. Di tempat itu, Hendra Atmoko sudah menunggu.

Mutia sudah menduga jika laki-laki yang tengah duduk di sofa lobby gedung apartemen itu adalah Hendra. Ia sangat kenal dengan perawakan Hendra. Apalagi mereka sempat dekat meski tak sampai berstatus sebagai pasangan kekasih.

Mutia harus menahan malu saat Hendra menolak cintanya pada waktu mereka kuliah dulu. Padahal Mutia sudah mempertaruhkan kepercayaan yang diberikan Lano padanya. Untung saja Mutia cepat membersihkan sisa perasaan sesaatnya pada Hendra sehingga kejadian yang membuatnya jengah itu tidak sampai diketahui Lano.

Mutia tidak ingin memperpanjang dan berniat menguburnya. Dia berpikir tidak mungkin akan berhubungan lagi dengan Hendra setelah mereka lulus kuliah. Namun, dalam jangka kurang dari 24 jam, ia malah bertemu pria itu dua kali.

Mutia berusaha menutupi kegusaran hatinya. Ia takut bila pernyataan cinta pada Hendra dulu sampai ke telinga Lano. Tangannya menggenggam dan telapaknya basah karena keringat kecemasan.

Mutia mengatur nafasnya dengan pelan agar tak ketahuan oleh Lano. Ia buru-buru mengusir kegelisahan yang hinggap di hatinya.

Kejadian itu jangan sampai Lano tahu. Toh itu hanya masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah hanya ada Lano di hatiku. Cukup dia. Aku tak mau yang lain.

Mutia berkata dalam hatinya. Sambil tetap mengikuti langkah suaminya, Mutia melontarkan salah satu pertanyaan yang ada dikepalanya.

"Kita ngapain ke sini, King?"

Mutia semakin ingin tahu saat Lano mengajaknya ke gedung apartemen yang terkenal mahal ini. Bahkan kabarnya hanya para artis yang tinggal di tempat ini.

"Aku punya kejutan buat kamu?" aku Lano dengan senyum di wajahnya.

Sang suami kemudian menghampiri Hendra dan menepuk bahu pria yang tengah duduk sambil membaca surat kabar itu. Hendra mendongak untuk melihat orang yang mengganggu keasyikannya.

"Hei, aku pikir siapa tadi?" sambut Hendra seraya bangkit dari duduknya dan menjabat tangan teman semasa putih abu-abu dulu.

"Sudah lama nunggu? Sendirian aja, nih," tanya Lano pada Hendra.

"Enggak aku baru saja sampai. Aku sama Fraya, kok," jawab Hendra dengan senyum yang terkembang di wajah yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.

"Di mana dia?" timpal Lano sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan kekasih dari Hendra sekaligus teman masa SMA-nya dulu.

Mutia hanya diam. Mendengar perbincangan kedua pria di hadapannya itu. Ia takut salah bicara jika ikut dalam obrolan mereka.

"Dia menunggu di mobil," balas Hendra sambil memberikan kartu yang tadi ia simpan di saku celananya.

Lano menerima kartu tersebut. Kemudian menggenggam benda tipis itu di tangannya.

"Bro, aku tinggal dulu, ya. Kasian Fraya sendirian di mobil," lanjut Hendra pada Lano.

"Kenapa tadi gak diajak ke sini?" tutur Lano basa-basi.

Hendra mengangkat bahunya sekilas dan membalas ujaran Lano dengan singkat, "Dia gak mau."

"Oke, makasih ya," tutur Lano sambil memperlihatkan kartu yang tadi diberikan oleh Hendra.

"Iya sama-sama. Lan, Tia, aku balik ya," pamit Hendra pada sepasang suami istri itu.

Kedua orang itu sama-sama mengangguk lalu melihat sosok Hendra berjalan menjauhi dua sejoli tersebut. Laki-laki yang berprofesi sebagai kontraktor itu pergi meninggalkan Mutia dan Lano yang ada di lobby.

"Kamu sepertinya akrab banget sama Hendra?" tanya Mutia penuh selidik.

"Dia teman SMA-ku." Lano menjawab dengan entengnya. Pandangan Lano masih saja tertuju pada punggung Hendra yang kian lama semakin menjauh.

Deg. Jantung Mutia seakan berhenti berdetak. Maniknya membulat seketika saat mengetahui fakta ini. Mulutnya menganga tapi Mutia cepat-cepat mengulum bibirnya.

"Kenapa kamu kaget gitu?" lanjut Lano saat melihat ekspresi dari istrinya. Seperti raut wajah maling yang tertangkap basah.

"E ... ehm nggak apa-apa," sahut Mutia dengan gagap.

"Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan," goda Lano dengan senyumnya yang lebar.

"Enggak ada, My King." Mutia mencoba mengalihkan pembicaraan secara halus.

"Kamu nggak percaya sama aku?" sambung Mutia seraya menatap manik kehitaman milik Lano untuk meyakinkan pria yang ada di hadapannya.

"Aku bercanda, Queen. Yuk, kita masuk sekarang," ajak Lano sembari menggandeng tangan Mutia untuk masuk ke lift menuju kamar apartemen yang sudah dibeli Lano.

***

Delano Fajar, putra dari pasangan Bramanta Said dan Magdalena. Saat Lano kuliah dulu, ayahnya menjabat sebagai walikota di wilayah jawa barat. Derajat keluarga mereka sedikit terangkat.

Papa Bramanta banyak disegani oleh pendukungnya. Beliau memimpin wilayah tersebut dengan sangat baik. Namun, semakin banyak yang suka, makin banyak pula yang benci. Terkadang mereka yang kontra menunjukkan ketidaksukaannya secara frontal.

Sampai pada tahun kedua Lano menuntut ilmu di perguruan tinggi, keluarga Lano mendapat cobaan. Papa Bramanta yang mengemban jabatan sebagai walikota di salah satu wilayah di Jawa Barat, terseret kasus suap. Beliau dijebak oleh bawahannya.

Hukuman penjara tak bisa dihindari karena seluruh bukti rekayasa yang terlihat nyata itu mengacu ke Papa Bramanta. Uraian para saksi tak membantu memperingan hukuman yang dituntut oleh jaksa.

Pada akhirnya hasil persidangan menyatakan Papa Bramanta bersalah dan dijatuhi hukuman kurungan penjara selama 5 tahun dan denda sebesar 500 juta jika tidak bisa membayarnya, maka seluruh aset yang dimiliki oleh papa Bramanta akan disita. Begitu putusan majelis hakim.

Proses naik banding telah ditempuh tapi tetap saja tak bisa menghapus atau mengurangi hukuman. Seluruh keluarga mau tidak mau harus menerima keputusan yang berat itu.

Sungguh cobaan yang tidak ringan untuk Lano bersama keluarganya. Apalagi ia seorang anak laki-laki yang harus bisa menggantikan posisi sang papa untuk menjaga dan membahagiakan mama tercintanya. Kerabat mereka mulai menjauh selangkah demi selangkah. Tak ingin ikut terseret dan menyebabkan nama baik mereka tercoreng.

Kasus ini mendorong Lano untuk bekerja lebih awal. Dia berjuang untuk sang mama tercinta. Meski hanya bekerja part time, Lano merasa cukup jika untuk biaya makan sehari-hari dan menabung untuk keperluan masa depannya bersama Mutia.

Ia malah menjadi termotivasi. Ia bertekad akan menjadi pemburu berita yang akan mengungkap kebenaran.

Lano berada di titik terbawahnya kala itu tapi ia tak mau berbagi bebannya pada Mutia. Pria itu menghadapi ini semua sendiri. Lano menganggap ini sebagai tempaan agar bisa membuatnya kuat mental.

Apalagi saat itu Mutia terlibat dalam pemilihan ketua BEM. Gadis cerdas itu didaulat sebagai kandidat Ketua dalam organisasi yang bergengsi di tingkat perguruan tinggi. Lano hanya bisa memberi dukungan dari jauh. Pria itu tak mau mengganggu konsentrasi Mutia dengan segala masalahnya.

***

Lano memutuskan untuk menikahi Mutia setelah papanya telah terbebas dari jeruji besi yang sudah membelenggunya selama 4 tahun masa hukuman dipotong remisi hari besar. Tetapi keinginan itu tak langsung dikabulkan Mutia. Gadis itu menawarkan pertunangan sebagai ganti pernikahan.

Sesudah mengikat Mutia dalam tali pertunangan, keluarga Lano memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Untungnya Mutia juga berkeinginan untuk pindah ke ibu kota. Gadis bermanik kecoklatan tersebut berniat untuk meniti kariernya di kota metropolitan bersama Lano. Orang tua Mutia menyetujui keinginan anak pertamanya. Lagi pula mereka sudah mengenal Lano dengan baik. Mereka tidak merasa khawatir karena Lano ada di samping Mutia.

- To Be Continued -

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel