Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

# Happy Reading #

Tujuh tahun yang lalu…

"Raja, aku mau hubungan kita tidak diketahui oleh siapapun saat status kita sebagai mahasiswa. Aku tidak ingin gosip atau cibiran menghambat pendidikan kita di universitas ini. Apa kamu setuju?" pinta Mutia ketika awal menjalani romansa kasihnya bersama Lano.

Lano—pujaan hati yang merajai seluruh pikiran Mutia—sedang menimbang-nimbang permintaan dari kekasihnya. Meski berat untuknya, dia akan mengabulkan demi sang gadis tersayang.

"Aku sungguh mencintaimu tapi aku juga tidak ingin cinta kita menghalangi jalanku untuk sukses. Banyak pertimbangan dan beban yang ada di pundakku. Kamu sudah tau sendiri dengan latar belakang keluargaku dan seluruh ambisi yang pernah kuceritakan padamu," lanjut Mutia menguraikan alasannya.

Lano mengangguk dan meraih kedua tangan Mutia sembari mengusap kulit yang halus itu, ia berkata, "Berjanjilah kamu hanya milikku dan aku adalah milikmu. Hanya aku yang ada di hatimu, Ratuku."

"Aku janji akan menjaga hatiku hanya untukmu, Rajaku," balas Mutia seraya mengangguk untuk mengusir keraguan di hati Lano.

Sumpah itu terucap dari Mutia. Dengan janji itu, Lano menaruh kepercayaan penuh pada kekasihnya. Tidak mungkin Mutia akan mengingkari ucapannya sendiri, begitu pikir Lano.

***

Tak terasa sudah tahun kedua Mutia menimba ilmu di universitas. Hubungan antara dirinya dan Lano berjalan seperti biasa. Mereka saling menjaga perasaan. Hanya saja frekuensi kebersamaan mereka sedikit berkurang karena kesibukan masing-masing.

Mutia menjadi aktivis di kampus sedangkan Lano memutuskan untuk mengambil kerja part time sambil kuliah. Berawal dari itu, hubungan mereka menjadi renggang.

Walaupun Lano sudah mengutarakan niatnya untuk meminang Mutia seusai wisuda. Tetapi, dengan jujur Mutia menolak keinginan Lano, ia beralasan mau meniti karier dan mewujudkan cita-citanya sebagai artis atau orang terkenal.

Mutia berfikir jika ia menyandang status sebagai Nyonya Lano, dirinya akan kesulitan untuk menapaki masa depannya. Apalagi perjalanannya begitu panjang. Mengingat status pernikahan menjadi pertimbangan tersendiri saat melamar pekerjaan.

Mutia ingin membantu kedua orang tuanya untuk membiayai kedua adiknya sampai tingkat universitas seperti dia. Oleh karena itu, Lano giat mencari uang. Selain untuk keluarganya, ia menyisihkan hasil jerih payah yang dihasilkannya—sebagai pekerja magang di tabloid olahraga—untuk masa depan. Lano ingin membantu meringankan beban Mutia saat mereka menikah nanti.

Saat Lano sibuk mencari uang, Mutia sendiri sibuk dalam kegiatan kemahasiswaan. Ia sudah bertekad untuk lebih terbuka dalam pertemanan. Mutia tak mau lagi menjadi anak yang kesepian karena dikucilkan oleh teman-temannya seperti dulu.

Makanya tak heran jika akhirnya Mutia diusung menjadi calon Ketua BEM mewakili fakultasnya. Ia pun mengumpulkan kepercayaan dirinya untuk maju dalam pemilihan bergengsi itu.

Mutia juga di dukung penuh oleh kekasihnya, Lano. Sayangnya pria itu tetap menjaga jarak jika berada dalam lingkungan kampus sesuai kesepakatan yang telah mereka buat kala pertama menjalin kasih.

***

Riuh sorai pemilihan ketua BEM yang baru terdengar bergemuruh memenuhi aula utama universitas tempat Mutia dan Lano menuntut ilmu. Tak disangka nama Mutiara Jingga yang sering disebut pada pemilihan dengan sistem voting itu.

Meski hanya terpaut sedikit dengan saingan terberatnya—Hendra Atmoko—pada kenyataannya hasil akhir di pemilihan tersebut menentukan jika Mutia adalah Ketua BEM untuk periode berikutnya. Kekasih Lano yang berwajah cantik itu menggantikan posisi Emir Rajasa. Mutia menjabat sebagai ketua BEM tepat saat ia berada pada tahun kedua di Universitas tersebut.

"Selamat ya, Mutia," cakap Hendra sembari menjabat tangan rivalnya. Pria itu menerima dengan lapang dada walaupun harus kalah dari seorang wanita seperti Mutiara Jingga. Tetapi, Hendra akui gadis cerdas penuh pesona itu memang patut menyandang predikat sebagai Ketua BEM.

"Terima kasih, Hend," sahut Mutia sambil menarik kedua ujung bibirnya. Ia merangkai senyuman termanis untuk teman satu kampus dengannya bersama Lano.

Hendra Atmoko adalah nama pria yang juga ikut dalam pementasan drama saat malam apresiasi seni di akhir acara OSPEK dulu. Kala itu ia berperan menjadi patih sang raja. Memang Mutia akui perawakan Hendra yang tinggi dan atletis itu sangat cocok dengan tokoh yang ia mainkan.

Faktanya, Hendra adalah orang kedua yang mampu membuat dada Mutia bergetar begitu hebatnya. Sama seperti saat ia berhadapan dengan Lano dulu.

Setelah Hendra menjabat sebagai sekretaris BEM, bisa ditebak, ia sering berinteraksi dengan gadis beralis tebal itu. Apalagi jalinan kasih antara Mutia dan Lano sama sekali tidak diketahui oleh teman-temannya. Mereka bahkan menganggap Mutia belum punya pasangan.

Baik Mutia maupun Lano berhasil menyembunyikan hubungan asmara dari hasil cinta lokasi antara Raja-Ratu. Itu semua karena mereka tidak banyak berbincang secara langsung jika berada di kampus. Hanya melalui panggilan telepon atau saling berkirim pesan saja.

Saat ada kegiatan BEM, Mutia selalu diantar jemput oleh Hendra. Pria itu hanya merasa kasihan dengan Mutia karena dia tidak punya kendaraan jika harus bergerak kemanapun. Mutia hanya mempunyai satu sepeda motor. Dan kuda besi itupun biasanya dipakai oleh sang ayah untuk pergi mengajar.

Setiap harinya Mutia naik angkutan umum jika berangkat ke kampus. Ia melarang Lano untuk antar jemput karena dia tidak ingin ketahuan kalau memiliki hubungan dengan lawan mainnya saat drama dulu. Mutia terlalu takut di-bully hingga mengorbankan status asmaranya bersama Lano.

***

Kini setelah dia magang. Waktu Lano banyak tersita karena pekerjaannya. Walau sesekali ia meluangkan hari liburnya bersama Mutia tapi tetap saja ada yang berbeda di antara mereka.

Lano tak lagi ada saat dibutuhkan dan Mutia mulai berani mencari kebahagiaan dengan orang lain. Bahkan Mutia banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman kuliahnya. Baik teman wanita atau temannya yang laki-laki.

Kebersamaan Hendra dan Mutia juga berhasil mengalahkan kualitas hubungan dengan kekasihnya, Lano. Ketua dan sekretaris BEM itu lebih cepat akrab. Mutia terlena. Ia tergoda untuk menduakan Lano. Padahal pria itu tetap menjaga hatinya hanya untuk Mutia seorang.

Pada suatu kesempatan, Mutia mencurahkan isi hatinya pada Hendra. Ia memberanikan diri mengutarakan perasaannya agar terbebas dari rasa yang membuat gadis itu tak bisa tidur nyenyak dalam beberapa bulan kemarin. Mutia hanya ingin tahu apakah Hendra juga merasakan cinta padanya.

Mutia tak pikir panjang. Ia cuma memaparkan dan tak mau ambil pusing jikalau nanti Hendra juga mempunyai rasa cinta kepadanya, maka Mutia hanya harus menghapus pilihan yang lain. Semudah itukah mengalihkan perasaannya? Ia terus bertanya dalam hati untuk menemukan jawaban.

"Hen, aku ingin berkata jujur padamu. Selama kita dekat, aku tertarik untuk berada di sampingmu. Mendampingimu bukan sebagai ketua dan sekretaris tapi sebagai kekasih. Sungguh aku tak bisa lagi meredam rasa cintaku yang semakin hari kian membuncah," aku Mutia kepada Hendra di ruang sekretariat BEM saat senja mulai merayu malam dan hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

Hendra diam. Mencerna setiap kata yang baru saja dilontarkan Mutia. Ia menghela nafasnya sejenak dan memberi jawaban pada gadis yang berada di hadapannya.

Mutia mengerjap seolah tak percaya dengan jawaban yang diberikan secara langsung oleh Hendra kepadanya. Ia ingin mempercayai indra pendengarannya tapi di sisi lain satu pilihan yang telah Mutia buat menjadi suatu penyebab hilangnya pilihan-pilihan yang ada.

- To Be Continued -

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel