Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

# Happy Reading #

Dering alarm yang berasal dari gawai Mutia berdering nyaring pukul 05.00 pagi. Memang biasanya di jam itu, dia bangun untuk memulai aktivitasnya. Mutia meraba ke sebelah kirinya mencari sumber suara yang membuatnya terpaksa bangun dari alam mimpi. Padahal ia sangat menikmati buaian bunga tidur yang tengah menyapanya itu.

"Duh, ini apa sih yang ada di perutku," keluh Mutia dengan mata yang masih terpejam.

Ia berusaha menyingkirkan sesuatu yang menindih perutnya agar bisa bangun untuk mengambil telepon genggam milik Mutia yang diletakkan agak jauh dari jangkauannya. Mutia meraba benda yang sedang berada di atas perut dengan tangan lentiknya .

Netranya terbuka lebar ketika ia sadar bahwa yang ada di atas perutnya adalah tangan. Tanpa pikir panjang, Mutia menendang sosok yang sedang tidur tengkurap di sebelahnya.

Bruk-Bruk

Dengan dua kali tendang, dia jatuh di lantai dekat tempat tidur. Ia mengaduh karena pantatnya kesakitan.

"Aduh Queen, kenapa aku kok ditendang?" tanya Lano sambil mengusap pantatnya yang nyeri.

Mutia semakin kaget ketika tahu orang yang tidur di sebelahnya tadi adalah Lano. Sedangkan pria yang surainya berantakan itu sekarang tampak mengucek matanya agar ia bisa melihat sempurna.

"Kamu ngapain tidur di sini?" Mutia balik bertanya.

"Kamu lupa ya, kita udah resmi suami istri tentu saja aku tidur di sampingmu. Memangnya dimana lagi aku harus tidur? Di sofa?" cecar Lano yang mulai kesal.

Mutia mengerjapkan maniknya. Ia berpikir sejenak. Lalu menyadari bahwa ia bersalah. Mutia beranjak dan menghampiri Lano untuk membantunya bangun.

"Aku minta maaf ya, King. Aku lupa," aku Mutia dengan pandangan mata penuh sesal. Kemudian Mutia mendekat ke ujung ranjang dan membantu Lano berdiri.

"This is morning kiss for you, My King," rayu Mutia pada Lano.

Sang istri mendaratkan kecupan singkat pada bibir tebal Lano. Tentu semburat kebahagian singgah di hatinya tapi ia berpura-pura masih merajuk. Berharap akan mendapat hujan cumbuan dari istrinya seperti semalam.

Namun, saat akan mengingat apa yang terjadi tadi malam, Lano semakin kesal. Bagaimana tidak, si Tejo—nama alat kelamin milik Lano—sudah menunggu lama untuk bertemu si Surti, tapi si Surti—nama kewanitaan Mutia—malah memasang tanda bahaya jika memaksa untuk bersua.

Kenyataan tragis bahwa Mutia sedang datang bulan malah membuat pria yang memakai kaos oblong dan celana boxer itu mengerucutkan bibir untuk meneruskan aksi merajuknya. Sayang, harapan Lano menguap begitu saja karena yang didapat malah cubitan di kedua pipi sang suami.

"Aduh, sakit, Queen." Lano mengaduh dua kali di pagi ini. Bukannya mendapat hal romantis di awal pernikahan, dia malah mendapat tendangan juga cubitan dari istrinya.

"Biarin!" pekik Mutia sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek sang suami.

Setelah 'menyerang' Lano, Mutia melarikan diri ke kamar mandi. Ia tak lagi peduli dengan suara alarm dari telepon selularnya yang berteriak lagi untuk kedua kalinya.

***

"King, setelah ini kita kemana?" tanya Mutia saat Lano keluar dari kamar mandi.

Tanpa melihat ke arah sang suami, Mutia masih menunduk dan sibuk pada layar gawai yang ada di genggaman tangannya. Ia duduk di depan meja rias yang berada di sudut kiri ruangan.

"Nanti aku mau ajak kamu ke suatu tempat," sahut Lano sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil ditangannya. Meski tidak melihat secara langsung, Mutia bisa mencuri pandang tubuh kekar sang suami dari cermin yang ada di depannya.

Pria yang membalut tubuh bagian bawahnya dengan handuk itu membuat konsentrasi Mutia berantakan saat dia mulai mengangkat kepalanya.

"Ke-kemana?" balas Mutia dengan sedikit terbata. Wanita yang sudah selesai memakai baju itu melongo seketika saat melihat postur tubuh suaminya dengan jelas. Ia yang tadi betah bermanja dengan gawainya kini tampak salah tingkah.

Apalagi setelah melihat Lano yang hanya berbalut handuk putih itu. Tak sengaja Mutia melihat V-line punya Lano sekilas. Hal itu makin menggelitik rasa penasarannya akan bagian intim milik sang suami. Belum lagi aroma mint dari sabun yang dipakai suaminya berhasil membuat Mutia terlena.

Mutia buru-buru mengusir perasaan itu dan kembali pura-pura sibuk dengan telepon selularnya. Ia tidak ingin membuat suasana 'mencekam' seperti semalam.

"Pokoknya kita beres-beres dulu karena setelah ini kita check out dan mengantar kepulangan keluarga kamu ke Bandung," urai Lano sambil memakai baju yang sudah disiapkan Mutia. Setelan baju kasual itu tergerai di atas ranjang.

Sejenak Lano menangkap ekspresi sang istri yang terlihat lucu karena ini pertama kalinya melihat ia telanjang bulat di depan Mutia. Lano tak lagi menunjukkan rasa malunya pada sang istri.

"Seperti yang kamu lihat, selama kamu mandi, aku sudah packing semua baju kita," dalih Mutia yang terus mengalihkan pandang ke layar datar telepon selularnya.

"Kalo gitu kita pergi, yuk," ajak Lano cepat.

"Sebentar aku pakai bedak sama lipstik dulu," sahut Mutia yang terlihat memasukkan gawai ke dalam tas. Berganti mengeluarkan pouch make up-nya. Ia meraih compact powder dan lip matte dari dalam kantong yang berisi peralatan riasnya.

"Memangnya kita mau pergi kemana?" lanjut Mutia yang tengah memoles wajahnya dengan bedak tipis dan mewarnai bibirnya memakai lipstik.

"Aku ingin mengajak istriku yang cantik ini ke suatu tempat," goda Lano sambil menghentikan aktivitas Mutia lalu merangkum wajah tersipu sang istri dengan kedua tangannya. Kedua netra mereka saling menatap.

Mutia menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Membuat degup jantung sang suami jumpalitan. Tanpa ijin, Lano mendaratkan cumbuan ke bibir merona sang istri. Tak disangka, Mutia menyambut ciuman itu hingga mereka begitu terhanyut dalam kabut gairah.

Sang istri melepas paksa sentuhan sensual dari Lano. Mutia harus melakukannya saat ia merasa perutnya meronta minta diisi. Sejak semalam sampai pukul 08.00 pagi ini, Mutia belum makan apa-apa lagi.

"Aduh, King, perutku ... sakit .... Aku … lapar," rintih Mutia yang diakhiri cengiran di wajahnya. Ia agak ragu dan masih malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.

"Makan aku aja," usul Lano dengan senyum yang sangat licik.

"Memangnya aku, kanibal. Ayo, kita makan dulu. Perutku perih, King," keluh Mutia sambil memegang perutnya yang terasa sedikit sakit.

Tak butuh waktu lama untuk becanda dan membuat istrinya makin kesakitan, Lano menggandeng tangan istrinya untuk mengajak sang istri ke restoran yang ada di dalam hotel tempat mereka menginap.

Lebih baik langsung ke restoran saja dari pada harus menunggu makanan di antar ke kamar hotel. Ia kasihan pada sang istri yang cantik itu bila harus menahan sakit lebih lama lagi. Begitu yang ada di pikiran Lano.

"Tunggu dulu," cekal Mutia saat mereka akan melangkah keluar dari kamarnya.

"Kenapa?"

"Bersihkan lipstik yang menempel di bibirmu dulu. Malu tau kalo keluar dengan wajah penuh lipstik kayak gitu. Salah sendiri aku baru pakai, sudah main sosor aja," ungkap Mutia dengan raut tersipunya.

Mutia mencari tisu basah di tas tangannya dan membersihkan bibir tebal Lano. Sang istri mengusap dengan lembut sampai warna merah yang melekat di area wajah Lano menjadi bersih.

***

"Hallo, bro aku mau lihat apartemenku sekarang, sudah bisa, kan?" tanya Lano di sambungan telepon saat Mutia sedang berada di kamar mandi. Mereka sudah kembali ke kamarnya setelah selesai sarapan.

Lano menghubungi temannya, Hendra. Teman SMA-nya itu sedang mendesain apartemen yang telah ia beli beberapa waktu yang lalu.

"Buru-buru banget, Bro." Hendra menyahut dari ujung sambungan telepon.

"Iya, aku ingin secepatnya bisa tinggal di sana setelah pulang dari bulan madu," papar Lano mengutarakan alasannya.

"Oh, gitu maksudnya. Bisa, kok. Apartemen kamu sudah selesai sejak seminggu kemarin. Maaf, aku nggak kasih kabar. Takut masih sibuk sama persiapan wedding kamu," tutur Hendra.

"Oke, jadi aku langsung aja ke sana ya?" Lano memastikan dengan melontarkan tanya.

"Iyalah," sahut Hendra singkat.

"Oke, kita ketemu disana satu jam lagi, bisa?" tanya Lano yang menampakkan wajah bahagianya setelah mendengar kabar dari Hendra Atmoko.

"Siap! Oh, iya, gimana malam pertamanya?" Hendra iseng melemparkan pertanyaan yang sangat tidak ingin dijawab oleh Lano.

"Mau tau aja. Bukannya kamu juga merasakannya dengan Fraya. Hahaha," balas Lano diiringi kekehan oleh keduanya.

Ketika Mutia keluar dari toilet, Lano langsung memutus panggilan teleponnya dengan Hendra. Kemudian mengajak sang istri untuk check out dari kamar President Suite yang sudah menjadi saksi bisu kisah malam pertama mereka yang tragis.

"Tadi ngobrol sama siapa, King?" tanya Mutia saat mereka berada di meja resepsionis dan akan check out dari Hotel.

"Oh, tadi aku bicara sama Hendra." Lano menjawab dengan santai.

"Hendra? Hendra Atmoko maksud kamu?" Mutia mengulangi pertanyaannya sampai ia yakin bila tidak salah dengar.

"Iya, kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Lano dengan kening yang berkerut.

Mutia tak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan. Mutia menelan salivanya ketika Lano menyebut nama Hendra Atmoko di depannya. Pria yang semalam sempat datang di acara resepsinya itu pernah menggoreskan kenangan di hati Mutia.

Aduh, sebenarnya mau apa lagi sih, Lano menyebut namanya. Jangan sampai dia tahu tentang masa laluku dengan Hendra. Mutia menggerutu dalam hatinya.

Tanpa terasa keringat dingin keluar dari kening Mutia. Ia buru-buru menghapus peluh itu sebelum sang suami menyadari kekalutan hatinya.

- To Be Continued -

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel