Bab 11
# Happy Reading #
Udara sejuk di siang menuju sore menjadi pendingin alami dari panasnya aktivitas yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang menginap di cottage. Lano dan Mutia mencoba menggapai surga dunia yang belum pernah mereka cicipi di awal pernikahan.
Saat Mutia memberi lampu hijau, dengan cekatan Lano meraup bibir ranum sang istri. Mencumbu lembut tapi menuntut balas dari lawannya. Seakan tahu dengan kode yang diberikan Lano, Mutia membuka mulut hingga lidah suaminya bisa menelusup masuk untuk mengabsen gigi putih sang istri.
Pertemuan lidah dua sejoli itu berpadu di dalam mulut Mutia. Rupanya sang istri masih malu-malu karena baru kali ini Lano menciumnya dengan gaya french kiss ini.
"Eeehm." Mutia mendesah pelan saat Lano mengulum bibirnya.
Suara yang terdengar seksi bagi Lano itu makin menaikkan kadar libidonya. Bibir tebal sang suami kini beralih mencium leher jenjang Mutia. Hingga membuat wanita itu menggelinjang tiada henti. Mutia memejamkan maniknya untuk berusaha menikmati sentuhan Lano.
Sampai akhirnya pria itu sengaja membuat stempel kepemilikan di sana karena kabut gairah telah berkuasa atas otaknya. Warna kemerahan terbentuk jelas di sisi kiri leher sang istri. Terlihat sangat kontras dengan kulit putihnya.
Mutia tak menyatakan penolakannya saat Lano meminta untuk mengangkat tangan agar bisa meloloskan atasan tanpa kancing yang dipakai sang istri. Lalu membuang kain berwarna merah itu ke tepi tempat tidur.
Kini dengan manik penuh nafsu, Lano memandang payudara Mutia yang masih terbungkus bra hitam yang dihias renda. Sungguh berbeda dengan kulit putih yang dimiliki Mutia.
Lano kembali mencium bibir seksi istrinya, mencumbu benda kenyal itu lebih dalam tapi tetap lembut. Sembari tangannya bergerilya ke belakang punggung sang istri. Jemari Lano berhasil melepas kaitan bra yang dipakai Mutia. Kain itu kini tak lagi menjadi penghalang pemandangan indah milik istrinya. Lano menatapnya penuh hasrat.
Payudara Mutia yang telah terbebas dari bra itu terlihat kian indah. Wajah sang istri memerah ketika suaminya melepas kain penutup dadanya. Ia spontan menutup dadanya dengan kedua tangan. Lano menyingkirkan pelan-pelan bagian tubuh yang menghalangi benda montok itu. Benar-benar sebuah pemandangan yang menggoda imannya.
Jujur, baru kali ini Lano melihat secara gamblang pada siang hari. Setelah sebelumnya dia hanya menatap dengan cahaya remang-remang. Berkat pantulan sinar matahari sore yang menerobos masuk di pintu transparan balkon, Lano menikmati dengan jelas lekuk tubuh bagian atas istrinya.
Jemari Lano makin nakal. Kesepuluh jarinya kini turun perlahan ke buah dada Mutia. Lalu meremas payudara istrinya yang montok itu. Terasa lembut dan kenyal bak jeli. Lano yakin jika yang dipegangnya ini asli karena Mutia tak pernah mau merubah apapun yang sudah dianugrahkan oleh Tuhan kepadanya.
Pria yang masih mengenakan pakaian utuhnya itu menelan saliva saat kedua tangannya bergantian mengelus, lalu membelai dan meremas buah dada yang terasa pas di telapak tangannya.
"Queen, it is so sexy, too beautiful," puji Lano.
Sang suami amat kecanduan bermain di buah dada sang istri. Mutia sampai menengadahkan kepalanya saat merasakan pijatan erotis dari sang suami yang makin menggugah gairahnya. Ia begitu menikmati sentuhan demi sentuhan dari Lano.
Setelah puas memijat dada Mutia yang kenyal itu, Lano kini bermain di puting Mutia yang mulai menegang dan berwarna pink itu. Pria itu mengulum lalu menjilati puting sebelah kanan sementara payudara sebelah kiri milik Mutia diremas nikmat oleh sang suami.
Lano amat menikmati hal yang baru saja ia rasakan. Benar kata teman-temannya, jika bermain di gunung kembar wanita itu sangat menyenangkan meski akan terlihat sebagai bayi besar.
Mutia memejamkan mata untuk menyambut segala perlakuan Lano kepadanya. Jemari lentik Mutia kini aktif menyisir rambut pendek suaminya. Sesekali turut meremas ketika rasa yang baru pertama menyerangnya itu kian membuncah.
"Ough," desah Mutia dengan suara seraknya.
Suara yang terdengar seksi itu makin membuat tangan Lano yang tadi bermain di nipple sang istri kini berpindah menyusuri tubuh bagian bawah wanitanya. Lano melepas kuluman dan hisapan dalamnya di dada Mutia.
Kedua tangannya berusaha meloloskan celana panjang juga celana dalam renda yang di pakai Mutia. Sedangkan wanita itu kini hanya bisa menggigit bibir bawahnya melihat tingkah Lano.
Jantung Mutia berdebar berlarian dan wajahnya merona ketika Lano melihat kewanitaannya yang tertutup hutan rindang itu. Lagi-lagi Mutia menutupi bagian tersebut dengan tangan kanannya.
"King, aku malu," cicit Mutia dengan suara rendahnya.
Lano mendekat dengan bertumpu pada lengan kirinya. Sementara tangan kanannya mengusap pipi kemerahan sang istri. Ia tersenyum untuk melepas keraguan Mutia.
"Sama suami sendiri kok malu," bisik Lano di depan bibir istrinya. Kemudian kening mereka saling menempel dan Lano mengecup lembut bibir Mutia.
Lano melepas pagutannya dan berkata, "Ijinkan aku menyentuh dan menikmatinya, Queen."
Rasa bimbang yang tadi sempat singgah sekarang musnah. Mutia mengangguk tanda setuju. Lano tersenyum begitu manis membalas jawaban dari istrinya. Senyuman yang mampu mengalihkan perhatian kaum hawa itu hanya akan dimiliki Mutia.
Lano memberi sedikit jarak agar ia bebas melepas semua kain yang dipakainya. Tanpa harus beranjak dari tempat tidur. Sekarang, baik Lano maupun Mutia sama-sama polos. Agar Mutia tidak merasa jengah karena telanjang sendirian.
Kini keadaan tubuh mereka sama. Mutia bisa melihat dengan jelas kejantanan Lano yang sudah mengacung, menatap langit-langit kamar. Lano sengaja mengikuti kemana arah pandangan istrinya untuk bukti bahwa dia berhasil mengusir rasa malu yang sempat menyergap Mutia.
Lano kembali ke posisinya yang tadi. Dengan bersimpuh pada kakinya, tangan Lano membimbing kaki Mutia agar menekuk sampai ujung tumitnya hampir menyentuh pantat. Ia merendah sampai kepalanya berada di antara kedua paha istrinya. Sekarang Lano bisa menatap jelas vagina Mutia yang telah basah.
Lano membelai rambut kewanitaan istrinya agar ia bisa melihat bibir 'bawah' yang basah karena cairan itu. Jemarinya mengusap gemas si Surti. Menyentuh klitoris yang berhasil membuat Mutia terkejut nikmat.
"Kamu ngapain, King?" Mutia melontarkan tanya atas apa yang diperbuat Lano.
"Rileks aja, Queen. Jangan tegang, Oke?" saran Lano yang kemudian menjulurkan lidahnya. Menusuk-nusuk klitoris Mutia.
Sang istri melemparkan protes dengan memegang kepala Lano menggunakan kedua tangannya. Menyuruh Lano untuk berhenti melakukannya.
"King, di situ jorok. Stop," cicit Mutia yang mengangkat kepalanya untuk bisa melihat ke arah Lano.
Namun, larangan Mutia tak digubris oleh Lano. Dia begitu antusias dengan apa yang dia lakukan. Lano sebelumnya sudah melihat adegan bercinta ini saat dia masih lajang. Dulu ia sangat penasaran, bagaimana rasanya menjilati bibir vagina? Ternyata memang senikmat itu. Hingga membuat Lano tak ingin berhenti mengeksplor.
Kriiing-kriiing-kriiing
Dering panggilan masuk dari gawai Mutia berbunyi seiring desahan kenikmatan dari si pemilik telepon. Suara nyaring itu memecah konsentrasi Lano. Ia benar-benar terganggu.
"King, handphoneku bunyi," sela Mutia sambil menyisir rambut suaminya. Membelai rambut tebal itu dengan lembut. Ia menginterupsi agar Lano berhenti sebentar.
Lano menjeda sebentar, untuk menyahut perkataan Mutia, "Biarkan saja, Queen. Nanti kalo emang urgent, pasti akan telepon lagi. Udah tanggung ini," oceh Lano yang kembali melanjutkan kegiatannya.
Sekarang berganti dengan jari telunjuknya yang menelusup seperti lidahnya. Mutia kian menggeliat merasakan kesenangan yang berbeda. Lano merasa jarinya basah oleh cairan kenikmatan istrinya.
Kriiing-kriiing-kriiing
Dering yang tadinya berhenti berbunyi kini bersuara lagi. Mau tak mau Lano berhenti. Dengan wajah masam dan tubuh yang polos Lano beranjak dari ranjang lalu mengambil telepon genggam Mutia yang diletakkan di meja dekat lemari pakaian.
Ia akan mengutuk dalam hati, pelaku yang mengganggunya menuju tangga surga dunia. Tetapi, saat dia melihat nama pelaku di gawai istrinya, Lano urung mencela orang tersebut.
"Siapa?" tanya Mutia singkat sambil menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang polos.
"Dari Ibu," sahut Lano sembari berjalan mendekat ke ranjang lalu menyerahkan benda berbentuk persegi panjang itu.
- To Be Continued -
Hai readers yang baik. Lily butuh feedback dari kalian. Silahkan kalau mau kasih Krisan atau caci cayang buat Lily. Please tinggalkan komentar biar Lily dengar suara kalian.
