Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 6. Lima Ratus Juta

Shanaya terdiam. Ia tak sanggup berkata-kata melihat video yang menampilkan dirinya dalam layar bersama Axel semalam. Tubuhnya terasa aku hingga tak sanggup bergerak bahkan kepalanya terasa begitu berat seakan hanya tinggal menunggu detik menunggunya pingsan.

Ayah Shanaya membanting ponsel di tangannya ke lantai hingga pecah meski begitu tak ada penyesalan di wajah Rangga melihat ponselnya tak berdaya karena ia masih menyimpan video yang sama di ponselnya yang lain.

Rangga melangkah dan berdiri di samping Shanaya dengan bertepuk tangan. “Lihatlah, wanita sok suci ini pada akhirnya tertangkap basah bahwa dia hanyalah seorang jalang. Jadi sepertinya aku harus mengatakan selamat tinggal pada pernikahan yang kau impi-impikan itu.”

Kedua tangan Shanaya terkepal kuat di sisi tubuhnya dengan ia yang menatap Rangga penuh kemarahan. “Jadi semua ini rencanamu agar membuatku terlihat yang bersalah di sini?!” teriaknya. Pikirannya sudah mulai terbuka mendengar apa yang Rangga katakan. Dan ia sama sekali tak menduga, sama sekali tak mengira Rangga telah menyiapkan kejutan kedua. Kemarin mengejutkannya dengan perselingkuhannya dengan sahabatnya dan sekarang mengejutkannya dengan membongkar siapa dia sebenarnya.

Rangga mengangkat bahu. “Apa maksudmu? Bukankah sudah sangat jelas siapa yang bersalah? Apakah bukti itu tak cukup membuatmu malu dan menyadari kesalahanmu?” kata Rangga dengan seringai mengejek yang terukir di bibir. Setelah itu ia berbalik menghadap ayah Shanaya. “Jadi begini saja, Om, berikan aku lima ratus juta maka aku tak akan menyebarkan video anakmu yang jalang itu.”

Seketika mata ayah Shanaya melebar begitu juga dengan mata Shanaya yang membulat sempurna. “Apa maksudmu?!” geram ayah Shanaya hingga tangannya terkepal kuat.

“Hah … apakah ucapanku masih kurang jelas? Ataukah kau tak bisa mendengar? Aku bilang, berikan aku lima ratus juta jika kau tak ingin video itu tersebar. Tentu kau tahu apa yang akan terjadi jika video itu tersebar bukan? Nama anakmu, keluargamu, bahkan perusahaanmu, akan tercemar dan hancur. Dan saat itu terjadi tentu kau tahu apa yang akan terjadi bukan?”

“Kau!” teriak ayah Shanaya seraya melayangkan pukulan pada Rangga namun dengan gerak cepat Rangga menangkap kepalan tangan mantan calon mertuanya itu. Dugaan ayah Shanaya benar. Selama ini ia telah melarang Shanaya menjalin hubungan dengan Rangga dan ketidaksukaannya pada Rangga kini terbukti.

Tak ada raut ketakutan di wajah Rangga. Ia sangat percaya diri hingga tak segan berbuat kurang ajar pada orang yang lebih tua karena memegang kartu AS di tangan. “Aku tahu selama ini sebenarnya kau tak menyukaiku. Dan selamat, kau benar. Sayangnya putrimu terlalu bodoh dengan mencintaiku,” ucap Rangga seraya menghempas tangan ayah Shanaya kasar.

“Ayah!” teriak ibu Shanaya yang segera menahan tubuh sang suami yang terhuyung ke belakang karena dorongan Rangga.

“Siapa kau sebenarnya?! Kenapa kau melakukan ini padaku, hah?! Kenapa?!” teriak Shanaya dengan memukul punggung Rangga. Ia benar-benar tak percaya Rangga bisa berubah dengan cepat atau mungkinkah yang diucapkannya barusan benar? Dia tidak berubah melainkan menyembunyikan kebusukannya dan artinya selama hampir setahun mereka bersama, selama itu juga Rangga membodohinya.

Rangga berbalik, menangkap tangan Shanya dan mencengkramnya kuat-kuat. Ia sedikit menunduk mendekatkan wajahnya dan menatap Shanaya dengan raut wajah tanpa minat. “Itu bukan urusanmu,” ucapnya dengan suara dingin. Menarik kepala, raut wajahnya yang tampak suram digantikan seringai lebar. Ia mendorong Shanaya hingga Shanaya terduduk di sofa. “Hahahaha hahahaha!”

Shanaya menatap Rangga dengan pandangan tak terbaca. Kecewa, tak percaya, terkejut sekaligus terluka menjadi satu kala melihat Rangga tertawa lebar. Ke mana perginya Rangga yang menyayanginya? Ke mana perginya Rangga yang tersenyum tulus untuknya? Semuanya lenyap dalam sekejap terlebih saat Rangga meminta uang pada ayahnya membuatnya semakin tak bisa berpikir jernih sekarang. Masih cukup masuk akal Rangga selingkuh dengan sahabatnya sendiri, tapi sangat tak masuk akal jika Rangga sampai menciptakan skenario untuknya hanya untuk meminta uang tebusan.

Tawa menggelegar Rangga terhenti. Ia mendekati Shanaya, mencengkram lemah pipinya. “Ada apa, Honey? Kenapa menatapku seperti itu? Kau masih tak percaya pada apa yang kau lihat? Ah, kasihan sekali. Tapi sayangnya, aku justru sangat puas melihatmu seperti ini.” Setelah mengatakan itu, dilepasnya cengkram tangannya kemudian menoleh menatap ayah Shanaya yang saat ini memegangi dadanya yang terasa sesak. Tiba-tiba seringai dan wajah mengejek yang ia tunjukkan pada Shanaya berubah menjadi tatapan begitu datar. “Lima ratus juta satu jam dari sekarang. Jika tidak bersiap-siaplah video putrimu akan tersebar.”

“Ka– Argh!” Ayah Shanaya mengerang kesakitan merasakan sakit luar biasa dalam dadanya.

“Ayah! Ayah!” teriak ibu Shanaya yang begitu panik. Tangisannya pun kian meraung saat perlahan sang suami mulai tak sadarkan diri.

Rangga yang melihatnya tampak tak peduli kemudian berbalik dan melangkah pergi. Sementara Shanaya masih diam tak berkutik. Ia seolah baru tersadar saat sang ibu berteriak memanggil.

“Sha! Ayahmu, Sha! Ayahmu!” teriak ibu Shanaya dengan tangisan kian menjadi. Dipeluknya sang suami dan terus memanggil memintanya membuka mata kembali. “Ayah! Bangun, Yah! Bangun!” Untuk pertama kalinya ia melihat suaminya seperti ini dan tentu saja membuatnya begitu khawatir, membuat pikirannya buruk pada apa yang akan terjadi pada suami. “Cepat bawa ayahmu ke rumah sakit, Sha! Ayo bawa ayahmu ke rumah sakit sekarang!” raungnya yang kian menjadi.

***

Shanaya menjatuhkan kepala ke belakang menjadikan dinding rumah sakit sandaran. Air matanya mengalir deras dan seperti tak mau berhenti meski terus ia seka. Perlahan tubuhnya merosot kala kakinya seakan tak sanggup menopang berat tubuhnya. “Maafkan aku, ayah. Maafkan aku,” lirih Shanaya dengan kedua tangan menutup wajah. Setelah apa yang terjadi di rumah, ia segera meminta bantuan dan membawa ayahnya ke rumah sakit. Sudah satu setengah jam berjalan tapi ayahnya masih berada di ruang ICU.

“Bertahanlah, Yah … bertahanlah.”

Shanaya menoleh pada ibunya yang tak berhenti menangisi sang suami. Kondisi ayah Shanaya sudah kritis saat sampai di rumah sakit membuat ibunya berpikir yang tidak-tidak. Ibunya terus berdoa meminta terjadi sesuatu dengan sang suami.

Shanaya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah kala ia berusaha menahan isak tangisnya. Air matanya mengalir deras, tapi ia tak ingin tangisannya terdengar jelas. Ia tak ingin semakin menambah pikiran sang ibu mengenai ayahnya. Membenamkan wajahnya pada kedua lututnya yang tertekuk ribuan kata maaf pun terucap dari mulut.

Tiba-tiba ponsel dalam saku Shanaya berbunyi. Shanaya ingin mengabaikannya namun ponselnya terus berdering. Akhirnya ia pun mengangkat panggilan tanpa melihat lebih dulu siapa yang menghubunginya.

[“Waktumu hampir habis.”]

Mata Shanaya yang digenangi air mata melebar kala mendengar suara yang sudah sangat ia hafal.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel