Chapter 5. Dibodohi
Axel mengeluarkan kartu namanya dari dalam dompet dan memberikannya pada Shanaya. Dan hal itu membuat dahi Shanaya berkerut.
“Apa ini?” tanya Shanaya menatap kartu nama di atas meja samping cangkir capucinonya.
“Kartu namaku. Jika terjadi sesuatu kau bisa menghubungiku,” jawab Axel yang kemudian mengalihkan pandangan dari Shanaya. “Karena semalam aku tidak memakai pengaman,” lanjutnya dengan suara pelan.
Shanaya menatap Axel dalam diam. Sepertinya Axel memang bukan pria jahat dan hal itu membuatnya merasa bersalah. Ia memejamkan mata sejenak, mendorong kartu nama Axel sampai di sisi cangkir kopi hitam pria itu dan mengatakan, “Kau tenang saja, aku tidak dalam masa subur.” Setelah itu tak ada la pembicaraan antar keduanya. Axel tampak ragu ingin memaksa Shanaya menyimpan kartu namanya tapi mendengar Shanaya mengatakan demikian, ia memilih diam.
“Jadi …” Belum sempat Axel menyelesaikan ucapannya, suara Shanaya lebih dulu menyela.
“Bisa kita buat kejadian ini seperti tidak terjadi? Kau dan aku akan melupakannya bahkan jika suatu saat kita bertemu lagi, kita sama-sama telah melupakannya dan seperti tak pernah terjadi apa-apa.”
Axel menatap Shanaya dengan pandangan tak terbaca seakan bertanya-tanya apakah Shanaya serius dengan ucapanya? Di sini Shanaya yang dirugikan tapi kenapa wanita itu justru memilih menganggap tak terjadi apa-apa? “Apa kau yakin?” tanyanya guna memastikan.
Shanaya mengangguk lemah. “Sebelumnya aku selalu berkomitmen bahwa tidak ada sex sebelum menikah dengan kekasihku. Dan saat semua ini terjadi membuatku merasa bersalah dan seperti menjilat ludahku sendiri. Aku ingin melupakannya, aku ingin mengabaikannya. Karena semakin mengingatnya membuatku merasa semakin bersalah meski dia telah mengkhianatiku,” ungkapnya.
Axel terhenyak, komitmen Shanaya sama dengan komitmen dan prinsip yang ia pegang namun pada akhirnya Liora merusaknya dalam sekejap mata. Ia pun tersenyum kecut karena kembali mengingatnya.
Shanaya bangkit dari duduknya dan mengatakan, “Kalau begitu aku pergi.” Hanya empat kata itu yang terucap dari mulut Shanaya dan mengakhiri pembicaraan mereka hari itu. Shanaya berbalik dan berjalan keluar restoran meninggalkan Axel yang hanya menatap punggungnya dalam diam.
Setelah Shanaya tak lagi terlihat, Axel terlihat memijit kepalanya yang terasa berat. Ia kira minuman beralkohol hanya akan membuatnya mabuk, ia tak mengira jika minuman haram itu juga bisa membuatnya kehilangan kendali diri. Mulai detik ini ia bersumpah tak akan lagi menyentuh minuman haram itu.
Tapi, benarkah hanya karena minuman? Nyatanya tidak. Keduanya sama sekali tak menyadari bahwa mereka telah dibodohi.
Shanaya menghentikan langkahnya saat telah berada cukup jauh dari restoran. Ia berdiri dengan kepala menunduk menatap ujung sepatu yang dipakainya. Sampai tiba-tiba tetes demi tetes air mata jatuh dan membasahi sepatu. Kekuatan yang sebelumnya ia tunjukkan di depan Axel hanyalah sandiwara, nyatanya ia benar-benar tidak baik-baik saja. “Berpura-pura baik-baik saja ternyata menyakitkan,” gumamnya di mana perlahan tubuhnya merosot. Ia jongkok dengan menyembunyikan wajahnya berusaha menahan tangisnya agar tak ada yang mendengar. Namun apa yang dilakukannya justru membuat orang-orang di sekitarnya terheran.
“Dasar bodoh! Siapa suruh kau ke tempat seperti itu? Siapa suruh kau meminum minuman haram itu? Lihat! Lihatlah apa yang terjadi karena kebodohanmu. Jika Rangga tahu, akan kau taruh mana mukamu?” gumam Shanaya yang memaki dirinya sendiri. Ia benar-benar telah menyesal pergi ke bar. Menyesal telah minum minuman haram dan sangat menyesal telah gila hingga kehilangan harga diri yang berusaha ia jaga. Mungkiinkah ini karma untuknya? Karma karena terlalu sombong mengatakan pada semua orang bahwa keperawanan adalah segalanya dan hanya untuk suaminya kelak. Ataukah Tuhan tengah mengujinya?
Bahu Shanaya terlihat bergetar dengan isak tangis yang perlahan kian terdengar. Ia seolah lupa di mana ia sekarang membuatnya tak peduli jika orang lain akan menganggapnya gila atau nelangsa,
***
Matahari telah berada di atas kepala dan saat ini Shanaya telah sampai di depan rumahnya. Sebelum masuk rumah, ia berdiri di depan pintu dan mengambil cermin dari dalam tas selempang yang dibawa. Tangannya kembali menyeka air mata di ujung mata tak ingin orang tuanya mengetahui ia baru saja menangis. Meski begitu ia tetap tak bisa menyembunyikannya karena matanya yang sembab. Menarik nafas panjang dengan menegandah, ia harap air matanya segera kering agar ayah dan ibunya tak bertanya macam-macam. Memasukan kembali cermin kecilnya, dibukanya pintu utama rumahnya dan masuk ke dalam. “Aku pulang,” ucapnya seraya melangkah dan mengucap salam. Namun baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ayah dan ibunya duduk di sofa ruang tamu dengan seorang tamu yang duduk berhadapan dengan mereka.
“Ah, akhirnya kau datang juga.”
Mata Shanaya melebar melihat Rangga, kekasihnya. Dan suara yang baru saja ia dengar adalah suaranya, Rangga Ardian, kekasih yang telah mengkhianatinya.
“Dari mana saja, kau,” kata ayah Shanaya tiba-tiba di mana raut wajahnya terlihat tak seperti biasa.
Shanaya menatap ayah dan ibunya terheran. Pandangan ayah dan ibunya tak dapat diartikan. Seperti marah, kecewa dan penuh tanya.
“Aku tanya sekali lagi! Dari mana dirimu!” teriak ayah Shanaya hingga membuatnya terjingkat.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” batin Shanaya. Ia tahu pasti telah terjadi sesuatu terlebih saat ini ibunya mulai menangis.
“Shanaya!”
“A– aku … aku menginap di rumah teman, Ayah,”cicit Shanaya. Padahal ia sangat ingin menanyakan alasan Rangga ada di sana, tapi bentakan ayahnya membuatnya kehilangan akal. Ia tahu ayahnya benar-benar tengah marah karena sampai berteriak padanya. Tapi karena apa? Mungkinkah ada hubungannya dengan Rangga?
Ayah Shanaya bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Shanaya. Dan tanpa mengatakan apapun melayangkan tamparan di pipi kanannya.
Suara tamparan terdengar membuat ibu Shanaya kian menangis terisak. Sementara Shanaya memegangi pipinya yang terasa panas dan kini telah memerah.
“Dasar anak kurang ajar! Beraninya kau menyalahgunakan kepercayaan orang tuamu!” teriak ayah Shanaya hingga urat-urat di pelipisnya terlihat dengan wajah merah karena marah. Meski begitu matanya terlihat berkaca-kaca seperti benar-benar kecewa.
“A– ayah, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Shanaya dengan air mata yang telah menggenang. Ditatapnya sang ayah penuh tanya dan takut di saat bersamaan.
Ayah Shanaya mengambil ponsel di atas meja dan menunjukkan sebuah video pada Shanaya membuat Shanaya seketika melebarkan mata.
Rangga bangkit dari duduknya dan kian menambah panas keadaan. “Selama ini kau selalu mengatakan tak ada sex sebelum menikah, tapi apa yang kau lakukan semalam? Menghabiskan malam panjangmu dengan pria hidung belang. Benar-benar munafik.”
Dunia Shanaya seakan runtuh saat itu juga. Bagaimana bisa Rangga tahu? Dan yang lebih membuatnya tak bisa percaya adalah kenapa sampai ada rekaman itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia benar-benar telah dibodohi?
