Chapter 7. Menghubungi Axel
Rangga mematikan sambungan telepon sebelum Shanaya mengucap sepatah kata. Sementara saat ini ia sendiri tengah berada di dalam mobilnya di depan sebuah rumah yang tak lain adalah rumah Axel.
“Sekarang, tinggal menyelesaikan tugas kedua,” gumamnya yang kemudian menggeser layar ponselnya.
Axel menjatuhkan bokongnya ke tepi ranjang di mana ia baru sampai di rumah beberapa saat yang lalu. Hela nafas lelahnya terdengar kala ia mengembuskan nafas panjang. Malam yang ia lewati malam tadi adalah malam tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Dan baginya malam itu adalah malam terburuk selama ia bernafas. Bagaimana tidak? Ia berhasil membuka aib Liora di depan matanya sendiri, membongkar kebusukan yang disembunyikan wanita yang ia cintai. Sementara saat hendak menenangkan diri, ia justru terperangkap dengan Shanaya.
Axel memijit pangkal hidungnya memikirkan semua masalah yang terjadi dalam satu malam. Meski Shanaya mengatakan tidak akan terjadi apa-apa bahkan memintanya melupakannya, bagaimana bisa ia melakukannya? Karena faktanya apa yang mereka lakukan semalam adalah yang pertama.
Tiba-tiba perhatian Axel jatuh pada sebingkai foto di atas nakas yakni foto dirinya dan Liora. Rasanya ia masih belum percaya Liora mengkhianatinya bahkan membodohinya. Tangannya terulur meraih foto itu kemudian dibantingnya ke lantai hingga kaca bingkai itu pecah. Axel tak peduli, hancurnya bingkai itu sama dengan hancurnya hati. Kemudian ia membungkuk mengambil foto di dalamnya, menatap wajah ayu Liora yang duduk di sampingnya dengan senyuman.
Kraak!
Bunyi sobekan seakan terdengar jelas di telinga Axel. Disobeknya foto itu memisahkan gambar dirinya dan Liora. Kemudian diremasnya bagian foto Liora dan melemparnya ke tempat sampah. Ya, tempat sampah adalah tempat terbaik untuk Liora. Tempat yang sangat pantas untuk Liora karena dirinya juga menjadi tempat sampah banyak pria.
Nafas Axel masih menderu kencang. Emosinya meluap setelah melihat foto Liora menjadi sampah. Tapi seketika raut wajahnya berubah diselimuti rasa bersalah saat kembali teringat Shanaya. Ia dapat melihat dengan jelas wanita itu berusaha menahan tangisnya saat mereka membuat kesepakatan. Dan Axel merasa seperti pecundang jika mengingatnya. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang tak bisa mengendalikan diri. Terlebih melihat noda darah di sofa yang mereka tempati. Semalam ia benar-benar seperti bukan dirinya dan seperti dikendalikan nafsu semata.
Drt … drt
Tiba-tiba perhatian Axel teralihkan sejenak kala ponsel di atas nakas bergetar. Mengambil ponsel tersebut, kemudian dibukanya pesan berisi video dari nomor tak dikenal. Dahinya terlihat berkerut kala video mulai diputar. Dan seketika matanya melebar sempurna melihat bahwa orang dalam video itu adalah dirinya dan … Shanaya. Sebulir keringat timbul di dahi Axel dengan segudang pertanyaan. Siapa yang mengiriminya video itu dan bagaimana bisa? Jika dilihat angle pengambilan gambar, sudah dipastikan itu adalah kamera diam.
Axel segera menghentikan pemutar video tersebut sampai di saat itu panggilan masuk muncul dari nomor yang sama yang mengiriminya video itu. Ia pun segera menggeser layar mengangkat panggilan.
[“Anda sudah melihatnya?”]
Rahang tegas Axel tampak mengeras. “Siapa kau!” tanyanya dengan geraman tertahan.
[“Aku?”] Suara pria itu terhenti sejenak di mana terdengar decakan samar dan tawa. [“Aku … hanya orang yang bertugas memerasmu.”] lanjut orang itu yang tak lain adalah Rangga.
Otak cerdas Axel mulai bekerja, mencerna jawaban yang ia dengar. Sekarang ia tahu ia telah dijebak.
[“Aku tahu anda bukan orang bodoh. Jadi anda tentu sudah tahu apa maksudku, bukan?”]
“Jadi kau yang–”
[“Lima ratus juta. Jika tidak, aku akan menyebar video itu. Dan tentu anda pasti tahu konsekuensi yang akan anda dapat nanti.”]
Seketika Axel bangkit berdiri dengan kemarahan yang terlihat jelas. “Apa katamu! Sebenarnya siapa kau!”
[“Hei, hei, ayolah, Tuan. Kurasa uang itu tak ada artinya untukmu. Hanya lima ratus juta, tentu itu nominal yang sangat sedikit bagi anda, bukan?”]
Rahang Axel kian mengeras dengan gigi terdengar bergemeletuk. Bukan soal uang, tapi ia benar-benar marah karena diperas terlebih dengan ancaman video itu.
Tangan Axel terkepal kuat sama kuatnya meremas ponsel yang menempel di telinga. “Jadi semua sudah kau rencanakan?!” Dan satu-satunya orang yang Axel curigai adalah bartender semalam.
[“Menurut anda? Haruskah anda menanyakannya? Bukankah sudah sangat jelas? Anda pikir wanita itu adalah wanita polos yang baru pertama memasuki tempat itu seperti anda? Oh, Sha benar-benar hebat. Sarannya memilih anda memang tepat.”]
Alis Axel tampak menyatu dengan kerutan tajam di dahi mendengar nama Sha terucap. Apa itu artinya Shanaya juga bagian dari rencana ini?
[“Ah, sudahlah, jangan banyak bertanya dan bicara, Tuan. Kirim saja uangnya ke rekening yang sudah aku berikan. Jika tidak, aku akan menyebar video itu. Ah, ya, Sha memintaku menyampaikan ini padamu. Permainanmu semalam sangat payah dan kau harus segera membayar, dia butuh uang untuk operasi keperawanan, lagi. Dan kau untuk apa bukan? Tentu saja untuk membodohi pria bodoh seperti anda lagi. Hahahahaha!”]
Tubuh Axel seakan kaku. Jadi benar Shanaya adalah bagian dari rencana ini? Itu artinya ia benar-benar telah dibodohi. Padahal ia sangat menyesal menganggap dirinya adalah bajinan. Tapi ternyata …
[“Anda pasti bertanya-tanya bukan? Baiklah, baiklah, aku akan menjelaskannya. Anda ingin tahu kenapa anda tak bisa menahan diri? Tentu anda tahu obat perangsang bukan? Dan ya, selamat, anda baru saja masuk jebakan. Sha benar-benar cerdas. Dengan idenya ini kami bisa mendapat uang dengan mudah. Haish, jalang itu memang selalu bisa diandalkan untuk mencari uang.”]
Suara Axel tercekat saat teringat wajah Shanaya. Jadi semua yang dilihatnya hanyalah sandiwara? Jadi rasa bersalahnya hanya sia-sia?
[“Maafkan aku, Tuan. Aku hanya melaksanakan apa yang Sha inginkan. Hah … kurasa itu sudah cukup. Sampai nanti, Tuan. Aku harus kembali bekerja menjaring kembali pria bodoh seperti anda.”]
“Agh!” Axel berteriak seraya membanting ponselnya. Nafasnya tersengal sangat jelas terlihat dari dadanya yang naik turun. Giginya bergemeletuk menahan amarah yang memuncak. Teriakan kata sialan terus saja terucap dalam benak. Dan tentu satu-satunya orang harus membayar adalah Shanaya. Tangannya terkepal kuat, tak dapat dijelaskan seperti apa lagi kemarahannya saat ini.Terlebih saat ia menyadari dalam satu malam ia telah dibodohi dua wanita iblis. Giginya terdengar bergerut mengingat wajah Shanaya. Wajah penuh kepalsuan yang akan ia beri pelajaran. Berbeda dengan Liora yang ia benci karena kecewa, ia membenci Shanaya karena berani menyeretnya dalam jebakan. Terlebih itu adalah pengalaman pertamanya. “Kita lihat saja, apakah uang itu bisa membuatmu bebas dari pembalasanku?” gumamnya. Dadanya bergemuruh panas, akan ia buat Shanaya menyesal telah melibatkannya, hanya demi mendapatkan uang.
