
Ringkasan
Bagi Axel Deon semua wanita itu sama, sama-sama makhluk menjijikan yang rela mengkhalalkan segala cara demi uang. Kekasih yang selalu ia jaga kehormatannya justru menyembunyikan fakta kelam dan saat ia berusaha melupakannya, ia justru dipertemukan dengan wanita serupa bahkan dengan cara yang lebih menjijikan yakni memerasnya dengan mengancam akan menyebarkan video mereka saat menghabiskan malam bersama di bar. Axel bersumpah akan membalas wanita itu. Bukan sekedar karena uang yang ia keluarkan, namun karena cara wanita tersebut menjebaknya membuatnya seperti pria paling bodoh di dunia. Tapi siapa kira, wanita tersebut yang bernama Shanaya hanyalah kambing hitam dan sebenarnya juga korban. Bahkan ia harus kehilangan kedua orang tuanya karena ancaman video serupa. Dan kehidupannya pun semakin menyedihkan saat Axel tak berhenti mengusiknya sebagai alasan memberi pelajaran dan membalas dendam. Sanggupkah Shanaya menghadapi kekejaman Axel padanya? Dan apa yang akan Axel lakukan jika fakta sebenarnya terkuak? Fakta mengenai siapa dalang sesungguhnya dari kesalah pahaman antara keduanya.
Chapter 1. Pengkhianatan
“Axel! Axel!”
Pria itu mengabaikan teriakan wanita yang berlari mengejarnya di mana raut wajahnya tampak suram.
“Axel! Kumohon! Dengarkan penjelasanku!” Wanita berpakaian sedikit terbuka itu terus berteriak mengabaikan tatapan orang-orang padanya. Sampai akhirnya ia berhasil meraih tangan prianya, lirihan dan tangisan pilu pun kian nyaring terdengar. “Axel, kumohon maafkan aku, aku bisa menjelaskannya!”
Axel Deon, nama pria itu, menatap kekasih sekaligus calon tunangannya dengan raut wajah nan suram. Meski matanya berkaca-kaca namun tak melunturkan aura kebencian dan kecewa yang tercetak jelas. Dan saat merasakan genangan air matanya hampir tumpah, dengan kasar dihempasnya tangan wanita itu hingga membuatnya jatuh terduduk di lantai. Tanpa menunggu waktu ia pun segera meninggalkan wanita itu mengabaikan raungan dan tangisannya yang terdengar pilu.
“Maaf, maaf, maaf,” lirih wanita itu menyadari bahwa semua tak ada gunanya lagi. Apapun yang ia katakan, atau alasan apapun yang ia sampaikan pasti tak akan bisa Axel terima.
Axel berjalan menuju tempat mobilnya terparkir. Masuk ke dalam mobil, suara pukulan dan teriakan pun mulai terdengar.
“Argh!” Axel berteriak hingga suaranya serak. Tangannya pun berkali-kali memukul stir dengan kaki menendang meluapkan emosi. Selama 28 tahun hidupnya, ini adalah malam yang paling ia benci. Semua ini berawal dari beberapa hari yang lalu saat teman Axel memberinya kabar buruk. Awalnya Axel tak percaya karena ia sangat mempercayai kekasihnya, Liora. Temannya mengatakan bahwa Liora masuk dalam daftar situs kencan online. Tentu hal yang sangat mustahil. Lagipula tak ada alasan masuk akal kenapa Liora melakukannya. Jika uang, tentu tidak mungkin karena ia selalu memberi Liora uang saku setiap bulan bahkan bisa dibilang lebih dari cukup. Tak ingin mempercayai ucapan temannya begitu saja akhirnya Axel memutuskan membuktikannya sendiri. Ia berpura-pura memesan Liora di situs kencan online itu menggunakan nama dan akun samaran. Sampai akhirnya mereka membuat janji di sebuah hotel dan fakta sesungguhnya pun terungkap. Wanita yang telah menunggunya di kamar hotel tempat mereka membuat janji adalah Liora. Benar-benar Liora, kekasihnya.
Brugh!
Axel menjatuhkan kepala pada stir dengan isakan tertahan yang terdengar. Bahunya terlihat bergetar dengan tangan mencengkram stir kuat. Ia sudah berusaha menahannya namun ia tak bisa. Hati dan perasaanya benar-benar telah terluka. Kenapa Liora tega melakukan ini padanya? Padahal selama mereka menjalin hubungan, ia tak pernah sedikitpun menyentuh Liora lebih dari berciuman. Ia begitu menghormati Liora, menjunjung tinggi harga dirinya, tapi sepahit inikah ia menerima kenyataan yang Liora sembunyikan? Kenyataan bahwa Liora berkubang dalam lumpur hitam di saat ia begitu menghormati harga dirinya sebagai perempuan. Liora tak ubahnya sampah yang menyulap dirinya menjadi berlian saat di depannya. Apakah ia yang terlalu bodoh, atau Liora yang terlalu liciik? Kenyataan yang ia terima kali ini amat menyakitkan, sangat-sangat menyakitkan.
Perlahan Axel mengangkat kepala, mengusap sisa air mata di ujung matanya kemudian menghidupkan mobilnya. Tak ada gunanya menangisi kenyataan yang sudah terjadi. Bahkan jika ia memutuskan mati, kenyataan bahwa Liora hanyalah wanita murahan bahkan wanita hina pun tak akan berubah.
***
Tak!
Axel meletakkan gelas ke atas meja bartender dengan sedikit kasar setelah menghabiskan cairan bening yang terasa panas di tenggorokan. Untuk pertama kali seumur hidupnya ia menyentuh minuman haram itu dan semua itu hanya karena seorang wanita. Berbagai pertanyaan pun terus berputar dalam otak, kenapa Liora sampai berbuat sejauh ini? Untuk apa? Dan sejak kapan? Apa saat mereka mengenal Liora sudah berada dalam kubangan lumpur kotoran?
Axel menatap gelas kosong di depannya dalam diam, bahkan baru segelas, namun kepalanya sudah terasa berat. Bagaimana jika ia meminum sebotol? Ah, mungkin itu ide yang bagus agar ia bisa melupakan ini semua. Tapi … apakah akan menjamin ia takkan kembali mengingatnya saat tersadar? Namun hal yang paling membuatnya cemas adalah, rasa sakit dan sulitnya melupakan cintanya pada Liora. Meski rasa dendam dan benci menguasai hati, namun dipastikan tak akan mudah baginya melupakan wanita yang dicintai dan wanita yang dulu ia harap menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.
Trap!
Perhatian Axel teralihkan sesaat saat seorang wanita duduk di sebelahnya dengan menangis terisak. Bahkan ia dapat mendengar wanita tersebut meracau memaki nama seorang pria. Merasa telah melakukan hal bodoh dan sia-sia karena memperhatikan wanita di sebelahnya walau sesaat, perhatian Axel kembali tertuju pada gelas kosong yang ia mainkan. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana wajah Liora saat melihatnya di kamar hotel tempat mereka membuat janji bertemu. Dan mengingatnya semakin membuatnya muak. Penampilan Liora benar-benar berbeda jauh dari Liora saat berada di hadapannya sebagai kekasihnya. Liora yang ia kenal adalah Liora yang lemah lembut, cantik walau tak memakai make up dan selalu memberikan senyum tulus untuknya. Tapi semua berbeda saat Liora melakukan pekerjaan haramnya.
Brak!
Lamunan Axel teralihkan kala mendengar gebrakan meja. Ia melirik wanita di sampingnya yang meminta bartender kembali menuang minuman ke dalam gelasnya.
“Berikan aku lagi! Berikan aku satu botol lagi!” racau wanita itu.
Axel berusaha mengabaikannya namun melihat wajah wanita itu memerah ia yakin wanita itu hampir mabuk. Dan benar saja, bahkan belum sempat ia mengalihkan pandangan, wanita itu tiba-tiba ambruk ke arahnya. Secara reflek Axel pun menahan tubuh wanita itu, menopang tubuh sintal itu agar ia juga tak ikut jatuh.
“Dia pengunjung baru dan sepertinya sendiri, Tuan,” ujar sang bartender pada Axel dengan bibir menyunggingkan senyum tersirat.
Axel menatap bartender tersebut dalam diam di mana sorot matanya menunjukkan ketidak pedulian. “Kau pikir aku peduli?” batin Axel yang hendak mendorong tubuh wanita itu. Namun sebelum itu terjadi, suara sang bartender membuat niatnya terhenti.
“Orang-orang sekarang sangat lucu. Datang kemari saat ada masalah dan berlagak seperti raja minum. Tapi baru setetes, mereka sudah menimbulkan masalah baru,” ucapnya tanpa meninggalkan kegiatannya mengelap gelas di tangan. Entah ia sadar atau tidak, namun ucapannya itu membuat Axel kesal karena ia juga baru pertama menginjakan kaki di sana.
Bartender itu mencondongkan tubuhnya ke arah Axel. “Ada ruang vvip jika anda ingin membawanya,” bisiknya. Tangannya terangkat dengan telapak tangan terbuka di sisi mulutnya seolah menjadi dinding perlindungan agar tak ada yang mendengar bisikannya.
“Bukankah ini menjadi tanggung jawabmu?”
Bartender itu menggeleng seraya kembali menarik diri dan berdiri tegak di balik meja yang menjadi pembatas antara mereka. “Anda keliru, tanggung jawabku sebatas dalam kubik ini.” Menunjuk ujung meja kanan ke ujung meja kiri. “Jika aku jadi anda, aku tak akan berpikir dua kali untuk membawanya. Anda tahu kenapa? Karena aku yakin, dia masih perawan.”
