Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 4. Nikmat Kesalahan Semalam

Shanaya mengangkat sweaternya hingga perutnya yang masih terlindungi singlet warna putih terlihat. Tubuhnya benar-benar terasa panas hingga ia ingin menanggalkan pakaiannya, tapi tentu ia tak akan melakukan hal itu mengingat ada Axel di sebelahnya. Ia melirik Axel dan pria itu tampak aneh. Apakah ia juga kepanasan? batinnya. Ia menelan ludah susah payah saat melihat setetes keringat mengalir melewati jakun Axel yang terlihat naik turun seperti menelan ludah. Entah kenapa hal itu terlihat amat seksi bagiya. “Apa yang kau pikirkan, Sha?” teriak Shanaya dalam benaknya. Ia pun segera menoleh mengalihkan pandangan tak ingin pikiran kotor semakin merasuki otaknya terlebih saat ia merasakan sesuatu di bawah sana yang tiba-tiba berkedut.

Axel menyandarkan punggungnya dengan tangan mulai membuka tiga kancing kemejanya. Ia melirik Shanaya dengan hasrat menggebu namun coba ia tahan. Meski ia sadar ada yang tak beres dengan tubuhnya namun ia tak bisa mengendalikan diri, tak bisa menekankan pada dirinya bahwa ia harus segera pergi. Kedua kakinya seolah tak ingin beranjak dengan kedua mata yang ingin terus menikmati wajah menggoda Shanaya. Nafasnya semakin memburu hingga dengan berani kian menipiskan jarak dengan Shanaya. Mungkin ia sudah gila, tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah bagaimana cara untuk membebaskan siksaan yang dirasa saat ini.

“Ma– mau apa kau?” kata Shanaya disertai desahan tertahan dan semakin membuat Axel menggila.

Tangan Axel terulur meraih wajah Shanaya, mengusap pipinya yang sedikit chubby itu kemudian menariknya. Wajah mereka pun semakin dekat hingga keduanya dapat merasakan deru nafas masing-masing. Dan saat bibir keduanya saling bertemu, tak ada penolakan sedikitpun dari Shanaya. Bahkan dengan beraninya Shanaya menarik kemeja Axel hingga tubuh mereka menempel tanpa jarak.

Axel kian memperdalam ciuman. Tangan yang sebelumnya membelai wajah Shanaya merambat ke belakang kepala menahannya agar tetap mempertahankan ciuman mereka. Nafsu telah menguasai dirinya bahkan keduanya membuat mereka mengabaikan fakta mereka bukan siapa-siapa. Mereka tak memiliki hubungan apa-apa kecuali dua manusia beda gender yang tak sengaja dipertemukan dengan kisah cinta hampir serupa dalam konteks yang berbeda.

Perlahan Axel merebahkan tubuh Shanaya membuatnya terlentang dengan ia yang berada di atas tubuhnya. Dengan tak sabaran dibukanya kemejanya dan membuangnya ke lantai. Dengan tak sabaran pula dibukanya pakaian yang melindungi tubuh Shanaya dan tanpa mengatakan apapun memulai aksinya.

Shanaya mungkin sudah gila membiarkan Axel berbuat seperti ini padanya. Tapi tubuhnya justru menginginkan lebih, meminta Axel segera menyelesaikan siksaan yang dirasa. Ini yang pertama untuknya yang membuatnya mungkin akan menyesalinya karena melakukan dosa dengan pria tak dikenal. Tapi ia tak peduli. Otaknya justru kian tercemari dengan hasutan bahwa yang dilakukannya ini benar. Rangga, kekasihnya, bahkan entah sudah berapa kali tidur dengan sahabatnya di saat ia ingin mereka menjaga hubungan tanpa adanya sex sebelum menikah.

Axel tak bisa berhenti meski hatinya memintanya menghentikan semua ini. Bahkan saat mendengar rintihan Shanaya yang justru terdengar seperti desahan nikmat, justru membuatnya semakin bersemangat.

Keduanya sama-sama menikmati hal yang baru mereka lakukan pertama kali sampai lupa bahwa ada yang namanya penyesalan. Penyesalan yang sejatinya selalu mengikuti perbuatan yang tak dibenarkan, perbuatan yang hanya didasari nafsu semata dan perbuatan yang jelas disebut dengan dosa.

***

Malam yang panjang telah digantikan mentari yang bersinar cerah dengan membawa cahaya yang hangat. Namun hangatnya mentari tak dapat menembus ruangan tempat Axel dan Shanaya terlelap. Keduanya tampak pulas meski dengan posisi tidur yang terlihat tak nyaman.

Tiba-tiba dahi Shanaya terlihat berkerut saat merasakan hal tak nyaman di bawah sana. Perlahan kedua matanya pun terbuka menampilkan iris mata kecoklatan yang tampak sayu. Kepalanya terasa berat degan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dan saat kesadaran perlahan menghampirinya, rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya kian terasa terutama di bawah sana.

“Ugh!” Shanaya melenguh panjang disertai rintihan tertahan saat hendak bangun menegakkan punggungnya. Dan di saat itu juga ia baru menyadari bahwa ada sebuah tangan yang melingkari perutnya. Ia pun begitu terkejut hingga bahunya terangkat dan mengenai wajah Axel di belakangnya. Posisinya kini berada dalam pelukan Axel dengan ia yang berada di pinggir sofa. Seketika tubuh Shanaya pun terasa kaku namun berusaha memberanikan diri menoleh melihat siapa yang saat ini di belakangnya. Dan saat ia menoleh, di saat itu juga matanya membulat sama membulatnya dengan kedua mata Axel yang ternyata telah terbuka.

Satu jam berlalu sejak Axel dan Shanaya terbangun dan menyadari mereka telah melakukan kesalahan semalam. Dan saat ini keduanya telah berada di restoran tak jauh dari bar semalam. Keduanya duduk berhadapan di mana tak ada yang berusaha membuka suara terlebih dahulu. Keduanya seolah masih tenggelam dalam pikiran masing-masing menangani semua yang telah terjadi. Baik Axel dan Shanaya sama-sama tak mengerti apa yang terjadi dengan tubuh mereka seperti semua bukan kehendak diri sendiri.

Axel mengusap tengkuknya yang terasa berat. Ia berniat memulai pembicaraan.. “Aku … tidak tahu harus memulai atau menjelaskannya dari mana.”

Shanaya terdiam sesaat kemudian menjawab dengan suara lemah. Pandangannya tampak kosong mengarah pada capucinonya yang masih mengeluarkan uap panas. “Aku ….” Namun baru sepatah kata terucap, ia seolah tak sanggup melanjutkannya. Suaranya seolah hilang dengan kata-kata kembali tertelan dalam tenggorokan saat teringat apa yang terjadi tadi malam. Dengan bodohnya ia kehilangan keperawanannya dengan orang tak dikenal sementara selama ini ia berusaha menjaganya.

Axel dapat melihat Shanaya tidak baik-baik saja dan semakin membuatnya merasa bersalah. Bukan tanpa alasan karena ia menemukan noda darah di atas sofa beludru warna cream yang semalam menjadi saksi bisu dosa yang ia perbuat. Shanaya masih perawan dan dengan tidak tahu diri ia telah merenggutnya membuatnya merasa bodoh dan menyalahkan dirinya sendiri. Harusnya sejak awal ia pergi agar kejadian semalam tak terjadi. Meski itu juga yang pertama untuknya tetap saja itu berbeda.

Shanaya menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan, menegakan kepala, ditatapnya Axel dengan senyuman merekah. Namun tetap saja senyuman itu terlihat sangat terpaksa. “Tidak apa-apa. Lagipula itu semua … itu semua bukan murni kesalahanmu. Aku … aku sangat malu karena sepertinya baik kau dan aku sama-sama tidak dalam keadaan baik-baik saja.”

Di tempat lain terlihat dua orang pria tampak serius menyaksikan video yang tengah diputar dalam layar ponsel.

“Baru kali ini aku menemukan orang gila dengan menyuruhku merekam kekasihnya sendiri bermain dengan pria lain,” kata salah satu pria itu yang tak lain adalah Chris.

Pria disebelah Chris mendengus dan hanya mengedikkan bahu. “Sebaiknya kau diam. Bukankah yang terpenting kau sudah kubayar?” ucapnya yang tak lain adalah Rangga kekasih Shanaya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel