Chapter 3. Panas
Kedua tangan wanita itu bekerjasama menutupi wajah dan mengusap air mata yang sebelumnya mengalir deras. Menurunkan kedua tangannya dan menatap Axel, senyum keterpaksaan pun tersungging di bibirnya. “Apa kau ada waktu?” tanyanya seraya menepuk bagian kosong di sampingnya. Menjatuhkan kepala pada headrest sofa, ia menengadah menatap langit ruangan. “Boleh aku bertanya? Sebagai seorang pria apa yang ada di kepalamu hanya sex belaka?”
Sebelah alis Axel terlihat meninggi. “Apa maksudmu?” Sepertinya ia tersinggung mendengar apa yang baru saja wanita itu katakan.
Wanita itu menoleh ke arahnya dan melempar senyum tipis.”Kau bisa memanggilku Sha dan kuanggap sekarang kita berteman. Jadi duduklah di sini dan ceritakan padaku alasan seorang pria tak bisa menunggu.”
“Jika kau lupa, wanita lah yang menggoda,” potong Axel segera.
Shanaya Jovanka, nama wanita itu menegakkan punggungnya dengan tangan bersedekap. “Benarkah? Apakah aku menggodamu? Tapi kau bahkan membawaku ke sini,” ucapnya dengan melempar senyum mengejek.
“Jika kau lupa, aku berniat pergi. Dan harusnya kau berterima kasih karena aku membawamu ke sini. Jika tidak, mungkin besok kau akan bunuh diri.” Axel mulai terbawa emosi. Menurutnya wanita itu sangat menjengkelkan setelah apa yang dilakukannya untuk menyelamatkannya. Yah, meski di sisi lain harusnya ia berterima kasih karena wanita itu ia bisa melampiaskan emosinya pada pria kurang ajar tadi.
Shanaya terdiam sesaat dan kembali menjatuhkan tubuhnya ke belakang bersandar pada punggung sofa. “Baiklah, maaf. Aku hanya sedang dalam keadaan yang kacau. Aku menemukan kekasihku bermain dengan sahabatku sendiri. Menurutmu, siapa yang harus aku salahkan?”
Axel hanya diam, sepertinya dugaannya benar, mereka memiliki masalah hampir sama. Sampai dengan sendirinya kakinya seolah mengambil alih tubuhnya agar duduk di sebelah Sahanaya.
Shanaya menoleh ke arah Axel dan bertanya, “Siapa namamu?”
“Bukan urusanmu,” kata Axel ketus.
“Hee? Nada bicaramu kasar sekali.”
Axel hanya diam, ia bahkan tidak tahu kenapa memilih duduk. Tapi pada akhirnya ia membuka suara. “Sebagai seorang wanita, hal apa lagi selain uang yang membuat kalian memilih menjual kehormatan?”
Shanaya yang menatap Axel dari samping, berkedip pelan mencerna pertanyaan darinya. “Istrimu selingkuh?” tanyanya tiba-tiba.
Axel yang menatap vas bunga di atas meja di depannya, tersenyum samar. “Sepertinya,” jawabnya dengan gumaman.
“Jadi … kita memiliki masalah hampir serupa?”
Tepat di saat itu pintu ruangan terbuka menampilkan Chris yang membawa sebotol minuman di atas nampan. “Sepertinya aku mengganggu,” ucapnya seraya meletakkan minuman itu ke atas meja. “Hei, Nona, kau sudah sadar? Apa kau sudah berterima kasih padanya?” Melirik Axel dengan senyum tipis. “Jika bukan karenanya mungkin kau akan bunuh diri besok,” lanjutnya.
Shanaya menatap Chris penuh tanya. Apa yang dikatakannya sama dengan yang dikatakan Axel sebelumnya. ‘Apa yang sebenarnya telah terjadi?’ batinnya.
Chris terkekeh. “Kau bisa melihatnya dari cctv nanti,” ucapnya sampai tiba-tiba Axel bangkit dari duduknya. “Hei, Tuan, mau ke mana and?” tanyanya.
“Pulang,” jawab Axel singkat sampai akhirnya tangan Chris menahannya.
“Hei, hei, apa maksud anda? Aku sudah berbaik hati memberi anda minuman, loh. Jadi setidaknya minumlah walau seteguk,” ucapnya melirik sebotol minuman yang baru ia letakkan beberapa detik yang lalu.
“Kalau begitu biar aku bayar,” sahut Shanaya membuat Axel dan Chris menoleh padanya. “Anggap saja sebagai ucapan terima kasih walau aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi,” lanjutnya dengan menggaruk pipinya yang tak gatal.
“Kalau begitu tak ada alasan bagi anda pergi,” kata Chris pada Axel. Sebenarnya ia telah berniat memberikan minuman itu sebagai permintaan maaf atas sikap Nathan dan teman-temanya, tapi jika Shanaya menawarkan ingin membayarnya, tentu ia tak menolak. “Setidaknya hargailah ucapan terima kasih darinya,” lanjutnya. Dilepasnya tangannya yang sebelumnya menahan tangan Axel kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruangan. Namun saat mencapai pintu, sebelum ia benar-benar keluar dari sana, ia menoleh pada Axel dan Shanaya dengan satu tangan terangkat. “Selamat bersenang-senang.”
“Jadi, bisa jelaskan padaku kenapa besok aku lebih memilih bunuh diri?” tanya Shanaya tiba-tiba saat Chris telah menghilang di balik pintu.
Axel yang masih berdiri hanya melirik Shanaya lewat ekor mata. “Kau bisa melihatnya sendiri nanti,” jawabnya.
Shanaya mendengus mendapat jawaban ketus dari Axel. Padahal sebelumnya ia kira mereka bisa bicara dan saling bertukar pikiran. Bahunya terlihat mengedik kemudian tangannya meraih botol di atas meja, membuka tutup botol dan menuang cairan berwarna merah itu ke dalam gelas. Bukan memberikannya pada Axel, ia justru menghabiskannya dalam sekali tenggak.
Tak!
Bunyi kaki gelas yang mencium meja kaca itu terdengar kala Shanaya meletakkannya dengan sedikit kasar.
“Jika kau lupa, kau baru saja bangun dari pingsan hanya karena segelas,” peringat Axel. Ditatapnya Shanaya dengan pandangan seolah mengisyaratkan, ‘apa kau bodoh?’.
Shanaya tersenyum menatap Axel dan mengatakan, “Kurasa itu lebih baik agar aku bisa lupa kekasihku saat ini. Percayalah, bahkan aku ingin melupakannya selamanya tapi rasanya begitu berat.”
Axel terdiam sampai beberapa saat kemudian kembali duduk di sebelah Shanaya. Tangannya terulur meraih satu gelas yang lain, menuang cairan berwarna merah dari botol dan menghabiskannya juga dalam satu kali tenggak. Shanaya benar, hal pertama yang ia butuhkan saat ini adalah obat agar bisa melupakan Liora.
“Hei, jadi kenapa istrimu selingkuh? Apa karena kau juga selingkuh makanya di selingkuh?” tanya Shanaya.
Axel meliriknya lewat ekor mata. “Apa aku terlihat seperti tukang selingkuh?”
Shanaya mencondongkan tubuhnya dan mengamati Axel dari ujung kepala hingga kakinya. Axel memiliki wajah yang tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung. Bahkan wajahnya sangat bersih tanpa jejak bekas jerawat sedikitpun. Iris matanya berwarna onyx dengan tatapan mata yang tajam. Dia tinggi, kira-kira 185 cm. Tubuhnya pun terlihat atletis meski terbalut kemeja. “Tapi aku yakin, ke mana pun kau pergi akan selalu ada wanita yang melirikmu,” ucapnya.
Axel menoleh membuat jarak wajah mereka begitu dekat. Dan entah hanya perasaannya saja atau memang ia yang baru menyadari bahwa Shanaya terlihat begitu cantik? Hidung mancungnya kecil, kelopak matanya lebar dengan bulu mata lentik bukan hasil extension. Bibirnya tampak mungil dan tipis dengan pipi yang sedikit chubby.
Axel tersentak saat merasa ada yang aneh dengannya. Ia pun segera menoleh mengalihkan pandangan. Begitu juga dengan Shanaya, wajahnya terlihat merah, ia pun segera mengambil jarak. Kenapa suasananya jadi terasa canggung dan ambigu? batin keduanya.
“Ah, aku yakin kau tak akan bisa menghabiskan minuman ini sendiri,” kata Shanaya seraya menuang kembali minuman ke dalam gelasnya. “Jadi aku akan membantumu.”
Axel yang merasa aneh dengan tubuhnya pun melakukan hal serupa, menuang minuman itu dan kembali menghabiskannya. Mungkin dengan minum perasaannya akan kembali waras. Namun di luar dugaan, tubuhnya justru terasa semakin panas.
“Apa kau mematikan AC-nya?" tanya Shanaya dengan melonggarkan kerah turtleneck sweater yang dipakainya. Tangannya pun mengibas menjadi kipas guna menghilangkan rasa panas yang ia rasa.
Axel menelan ludah menatap Shanaya, wajahnya pun terlihat merah. Ia benar-benar merasa aneh dengan tubuhnya. Dan yang paling membuatnya bertanya-tanya adalah, kenapa sesuatu di bawah sana tiba-tiba mengeras.
