Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 2. Pelampiasan

“Aku yakin, dia masih perawan.”

Untuk beberapa saat ucapan bartender itu berhasil membuat kinerja otak Axel melambat. Saat kata perawan terucap, seketika ia teringat Liora. Bukan hanya tak lagi perawan, tapi Liora bahkan telah menjadi tempat sampah banyak pria hidung belang. Sebenarnya hal semacam itu tak begitu ia pikirkan, hanya saja ia tak bisa menerima karena selama ini Liora telah menipunya bahkan melakoni pekerjaan haram di saat ia berusaha menjunjung tinggi dan menjaga haraga diri dan kehormatannya.

Bartender itu terkekeh melihat ekspresi Axel. Ia pun mengatakan, “Mungkin ia membawa ponsel, kenapa anda tidak mencoba menghubungi keluarga atau temannya?” Senyumnya merekah, bukan lagi seringai seperti beberapa saat yang lalu kala ia menggoda Axel dengan kata ‘perawan’.

Axel hanya diam dan mendudukkan wanita itu kembali ke kursi kemudian diaturnya posisi tubuh bagian atas wanita itu agar berada di atas meja. Mengambil dompet dari saku celana, diambilnya kartu atm miliknya dan memberikannya pada si bartender guna membayar minumannya.

Bartender itu menerima kartu di tangannya dan kembali mencoba menggoda Axel. “Anda yakin ingin meninggalkannya? Padahal aku yakin anda pria yang baik. Karena jika bukan anda, kuharap bukan mereka,” menunjuk segerombolan pria yang baru saja memasuki club.

Axel menoleh kemudian kembali menatap bartender itu tanpa minat. “Bayar juga minumannya,” ucapnya dengan melirik wanita itu.

“Sekalian dengan sewa kamar?”

“Katakan saja jika kau menginginkannya. Aku tak peduli,” kata Axel di mana baritonnya terdengar dingin. Ia mulai kesal karena bartender itu terkesan memaksanya.

“Aku punya adik perempuan dan sepertinya usia mereka sama.” Melirik wanita itu dan kembali mengatakan, “Aku sudah melihat banyak tipe orang yang datang dan aku yakin dia wanita baik-baik. Anggap saja saat ini aku tengah meminta bantuan anda.”

Axel hanya diam, jika dilihat penampilan wanita itu memang sangat berbeda dengan wanita lain di sana. Wanita itu memakai sweater rajut turtle neck lengan panjang dengan celana jeans. Sementara rambut panjangnya terikat ponytail dengan wajah yang hanya terpoles make up tipis. Wanita itu tak bisa minum dan ia ingat jika wanita itu sebelumnya meracau dan memaki nama seorang pria. ‘Apakah juga memiliki masalah yang sama?’ batinnya. Namun Axel mencoba mengenyahkan pikiran itu. Apapun yang terjadi pada wanita itu ia tak peduli. Bahkan Liora yang dikenalnya selama ini saja bisa membodohinya, jadi tak ada alasan baginya membantu wanita itu.

Desahan lelah terdengar lolos dari mulut si bartender. “Yah, apa boleh buat. Aku tak bisa memaksa orang lain menjadi pahlawan.” Kemudian melakukan transaksi pembayaran. Diberikannya mesin EDC itu pada Axel agar memasukkan PIN seraya mengatakan, “Tapi tolong, antarkan dia ke atas sekarang.”

Tepat di saat itu segerombolan pria yang tadi baru masuk menghentikan langkah di belakang Axel.

“Yo! Chris, ke mana pelangganmu? Tumben mejamu kosong,” ucap salah satu di antara lima pria itu pada si bartender seraya melirik Axel.

Chris, nama bartender itu membalas dengan tawa ringan. “Jadi kau yang harus duduk di sini dan menjadi pelangganku,” guraunya.

“Oi, oi, oi, siapa gadis ini?” celetuk pria dengan tindik di telinga, bibir dan hidungnya. Pria itu membungkuk melihat wajah wanita itu dari samping. Disibaknya anak rambut wanita itu yang menutupi sebagian wajahnya kemudian siulan menggoda pun terdengar. “Fiuuu, dari mana datangnya bidadari polos ini?”

“Wanita ini bersamanya, Nath,” ujar Chris segera seraya mengarah pandangan pada Axel.

Nathan, si pria bertindik itu, menegakkan punggungnya kemudian berdiri di depan Axel. “Bagaimana jika aku membayarmu untuknya? Hanya satu jam,” ucapnya.

“Hei, Nath, jangan buat aku kehilangan pelanggan baruku,” cegah Chris.

Sebuah tangan bertengger di bahu Axel. Teman pria bertindik itu berbisik, “Benar, Bung. Lagipula kau sudah sering memakainya, kan?”

Kedua tangan Axel terkepal kuat di sisi tubuhnya. Entah kenapa ia sangat marah seakan ia membayangkan pria hidung belang seperti ini yang berkencan dengan Liora setiap malamnya. Pria kurang ajar yang hanya mengandalkan uang untuk menidurinya.

Bugh!

Axel melayangkan pukulan tiba-tiba pada pria yang menyampirkan tangan di bahunya kemudian dengan gerak cepat melayangkan bogem mentah pada pria bertindik yang masih berdiri di hadapannya. Sontak hal itu membuat tiga rekan dua pria itu terkejut dan tak terima. Hingga perhatian seluruh pengunjung pun tertuju ke arah mereka.

***

Axel menatap ke luar jendela dari tempatnya berdiri saat ini di mana saat ini ia berada di kamar vvip. Ia hanya diam menatap ke arah langit yang tampak gelap. Ia memejamkan mata sejenak dan saat kedua matanya terbuka dan menunjukkan kembali iris onyxnya, ekspresi kelegaan terlihat samar menghiasi wajah. Mungkin Axel sudah gila karena telah membuat keributan di tempat yang baru pertama kali ia datangi. Ia juga melakukan kekerasan pada orang lain hanya untuk melindungi seorang gadis yang tidak ia kenal. Tapi benarkah demikian? Benarkah semata karena ingin melindungi wanita itu? Tidak. Alasan yang paling masuk akal adalah karena ia meluapkan kemarahan. Ia marah saat tahu Liora membodohinya dan ia marah membayangkan pria kurang ajar seperti tadi yang memakai Liora. Tiba-tiba lamunan Axel teralihkan saat mendengar lenguhan samar. Ia setengah berbalik dan menatap wanita yang saat ini terbaring di atas sofa.

‘Ngh~~’

Wanita itu terlihat berusaha membuka mata. Dan saat kedua matanya terbuka sempurna, pandangannya mengedar. Ia hanya diam selama beberapa saat seperti tengah mencerna di mana keberadaannya sekarang. Hingga beberapa saat kemudian, ia berusaha bangun menegakkan punggungnya kemudian menurunkan kedua kakinya dari sofa. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa berat dengan mulut yang bergumam, “DI mana ini?”

Axel yang hanya diam mengamati wanita yang sepertinya belum menyadari keberadaannya memutuskan keluar. Ia berjalan dengan satu tangan masuk saku celana kemudian mengambil ponselnya di atas meja.

Wanita itu terkejut hingga matanya melebar. “Siapa kau?” tanyanya kala Axel hendak kembali melangkah menuju pintu.

“Kusarankan agar kau segera pulang,” ucap Axel tanpa menoleh. Bukan karena khawatir lima pria tadi mendatanginya. Tentu tidak mungkin karena kelimanya telah babak belur di tangannya.

Wanita itu memeriksa pakaiannya dan saat menyadari tak ada sesuatu apapun yang kurang atau berubah darinya, ia segera berdiri dan memanggil Axel. “Tunggu!”

Axel menghentikan langkahnya namun tak berniat menoleh.

Wanita itu hendak melangkah untuk mengucapkan terima kasih. Apapun yang terjadi sebelumnya, tapi ia yakin Axel tak punya niat buruk dan tak melakukan hal aneh kala ia pingsan. Namun karena kepala yang masih terasa pusing tiba-tiba tubuhnya kembali jatuh. Ia terhuyung dan kembali jatuh ke sofa.

Mendengar suara, Axel menoleh dan mendapati wanita itu tertawa seperti orang gila. Tertawa dan menangis di saat bersamaan. “Apa aku baru saja menyelamatkan orang gila?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel