9
Tiga jam berikutnya, aku menghabiskan waktu dalam banyak hal. Untung Tesla mengirim sopir untuk mengantarku ke plaza. Ibu naik di belakang BMW hitam, dengan ocehan yang tak henti-hentinya. Si sopir terus-menerus berkata bahwa semuanya akan berjalan dengan sempurna.
Mungkin, itu karena saat aku masuk ke ruang ganti, satu jam sebelum pernikahan, gaunku dilucuti. Kemudian, tubuhku dibungkus dengan jubah sutra. Rambut pirangku ditata dengan sempurna, dilambai-lambai oleh seorang wanita ceria nan gemuk. Katanya, wajahku tidak terlalu membutuhkan banyak perawatan, karena secara alami bersinar, terlepas dari apa yang kurasakan saat itu. Hal terakhir yang datang adalah gaun. Itu adalah tugas yang lebih sulit daripada yang terakhir kali. Kerudungnya jauh lebih menantang, karena praktis menutupi lantai di belakangku. Rasanya taknyaman saat bergerak.
Aku masih bisa beristirahat lima menit, sebelum berjalan menyusuri lorong yang menakutkan. Ibu menghilang. Namun, aku tidak terlalu peduli, karena taktahan lagi dengan obrolannya yang tak penting. Aku masih belum pulih dari hadiah yang ibu berikan tadi paginya.
Terdengar suara ketukan di pintu, wanita cantik berambut coklat melongokkan kepala ke dalam—dia adalah Lisa—Elisa Pundalisa.
"Boleh saya masuk?" tanyanya.
"Ya, silakan," jawabku, yang mulai berdiri.
"Eh, jangan, jangan berdiri. Lisa tau Kakak lelah," calon iparku itu berkata seraya melambaikan tangan.
Dia mengenakan gaun emas cantik sampai di bawah lututnya, dipadukan dengan sandal emas bertumit tinggi. Rambut coklat lurusnya terurai indah di belakang punggung. Dia memegang buket bunga tulip di satu tangan, lalu menyerahkannya kepadaku.
"Ini ambil," katanya, dengan senyum seperti canggung, “nama Kakak ... Novi, kan?"
"Rapunsel Novi. Kamu bisa panggil saya Novi atau Punsel, terserah sih,” jawabku.
"Begini, Kak Sel," katanya; senyumnya berubah menjadi hangat, "Lisa minta maaf atas makan malam kemarin. Vita emang di luar batas. Harusnya Lisa gak biarin dia datang ke sana.”
"Gak papa. Saya cuma kaget,” jawabku, lalu membatin, “tapi kalo gue pasti bisa ngatasin dia lebih cepat, dari kebanyakan orang.”
"Jangan khawatir; Vita gak bakal datang ke pernikahan. Lisa bilang, kalo dia datang, Lisa bakal akhirin persahabatan,” katanya, lalu menambahkan, "dia cuma sedikit patah hati, itu aja. Pasti Kak Tesla udah ceritain semuanya.”
“Padahal mah enggak,” jawabku dalam hati, lalu berucap kepadanya, “iya, Tesla udah cerita semuanya kok.”
"Lisa harap, kita bisa temenan ya, Kak.”
"Ya, nanti kita temanan yah," kataku, hampir seketika. Aku menyukai Elisa—yang sama sekali tidak seperti Tesla. Sebenarnya, aku menyukai anggota keluarganya yang lain.
"Yah, semoga berhasil. Kak Tesla bilang, gak ada teman Kakak yang bisa menjadi pengiring pengantin. Jadi, dia suruh saya. Semoga Kakak gak keberatan."
"Gak masalah, Lisa. Saya bilang ke dia kalo kamu bakal sempurna," aku pun berbohong, meski sebenarnya benar-benar lupa tentang detail itu.
Tiba-tiba, aku merasa sedih. Teman-teman ... yah, aku tidak punya banyak teman, tapi ingin sekali mereka melihat pernikahanku. Namun, aku menggeleng kembali secara mental—takingin teman-teman melihatku menikah dengan orang asing. Dua tahun sebelumnya, mereka mungkin mengharapkanku menikah dengan bahagia. Namun, tidak pada hari itu. Aku takbisa mengatakan bahwa sedang berbahagia. Jadi, lebih baik mereka tiada.
Elisa tampak senang dan dia memelukku. Kemudian, dia memberitahukan bahwa pernikahan akan segera dimulai. Tenggorokanku langsung menegang karena mendengar berita itu.
"Ya Tuhan, ternyata pernikahan ini benar-benar terjadi!" ucapku, dalam hati.
"Tesla udah nungguin Kakak, loh," Elisa tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku pun mengambilnya dengan sekuat hati.
Di sana, bapak sudah menunggu di pintu masuk. Tanpa berkata-kata lagi, dia mengaitkan tangannya di lekukan lenganku.
"Bapak minta maaf soal ini, Novi, beneran."
"Sudah terlambat, Pak. Lupain aja," aku membalas sambil berbisik—betapa sudah lelah melontarkan sindiran lagi.
Aku yakin bapak sudah menyesali apa yang dilakukan, tetapi tetap saja, kepahitan tetap terasa di hatiku.
Musik dimulai; semua orang di depan antrean—yaitu orang-orang asing di mataku—mulai berjalan secara perlahan menyusuri lorong. Semua orang menoleh padaku. Aku melihat kembali ke mereka; bersyukur, mungkin cadar mampu menutupi wajahku yang cemberut. Aku takingin tersenyum. Semua orang adalah orang asing, kecuali ibu yang duduk bersama Bu Ida dan Nek Husna Pundalisa. Mereka tampak seperti teman sejak lahir. Kursi kosong di sampingnya, kemungkinan besar adalah untuk bapakku. karena mata penuh dengan wajah-wajah baru di sekeliling, aku hampir tersentak. Aku tak menyangka bahwa pelaminan, yang aku dan Tesla kunjungi kemarin harinya, bisa menjadi lebih indah. Lampu emas tergantung pada langit-langit yang tinggi; bunga-bunga mahal di sepanjang lorong. Semuanya berwarna emas.
Aku bertanya-tanya, seandainya saja pernikahanku itu bersama pria yang tercinta, pasti rasanya seratus kali lebih baik. Aku melihat ke depan, Tesla terlihat tampan seperti biasanya, dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu. "Apakah mungkin si Tesla ini bakal cinta gue selamanya?" pikirku, sinis.
Seorang pria tampan berambut hitam—bapakku, berdiri di samping mempelai pria—Tesla, kekaguman terlihat di kedua wajah mereka saat para tamu memandangnya. Aku merasa bahwa wajahku langsung memanas, ketika menyadari bahwa aku adalah objek ketertarikan mereka.
Astaga, ternyata bapak merupakan aktor yang hebat. Tesla meraihku setelah berjabat tangan dengan bapak. Tangannya terasa hangat saat menggenggam tanganku.
"Kamu kedinginan kayaknya, Nov," bisiknya, di telingaku.
"Di luar dingin," aku berbohong tanpa ragu.
Pendeta memulai ucapannya. Aku berusaha keras untuk tidak memedulikan perutku yang keroncongan—bahwa sadar, sejak pagi belum makan.
Akhirnya, setelah melakukan sumpah— dengan setengah hati, tentunya—kami menandatangani dan menyegel kontrak pernikahan, yang akan mengikat seumur hidup. Yah, dalam kasus kami, itu hanya akan mengikat selama enam bulan— dan aku sudah takut akan momen itu.
"Silakan mencium mempelai Anda, Tesla," pendeta berkata sambil tersenyum.
Jantungku mulai berdebar, saat tangan Tesla menyelipkan cincin kawin di jariku.
Kemudian, dia mengangkat cadarku sambil menyeringai.
"Hehe. Hai, Novi Pundalisa," katanya.
Dia pun menatap mataku, lalu bibirnya turun dan bertemu dengan bibirku. Itu sedikit lebih lama dari ciuman sebelumnya—dan itu lebih lembut. Aku menciumnya kembali, karena takingin dia menikmati sendirian. Massa pun bertepuk tangan.
"Hai juga, Tuan Pundalisa," sapaku, nakal, dengan alis terangkat untuk menantang. Namun, aku tidak berharap dia membalas ciumanku dengan intensitas yang sama.
Dia pulih agak cepat, lalu mencondongkan tubuh lebih dekat dan berbisik, "Saya udah gak sabar nunggu bulan madu yang kamu atur buat kita."
Inderaku melonjak dalam kewaspadaan penuh, saat napasnya menggelitik telingaku, apalagi tangannya bergerak ke belakang punggungku. Aku secara mental menepis sensasi menyenangkan itu, mengingatkan diri sendiri mengapa sebenarnya aku di sana.
"Oh itu, jangan khawatir, Sayang, gue tau lo pasti bakal suka."
Penonton bersorak saat Tesla mengajakku menyusuri lorong; keluar dari pelaminan.
*
Beberapa jam berikutnya, kami menghabiskan waktu di aula lain, dengan gelas anggur berkilauan, taplak meja emas, kursi perak, dan orang-orang berpakaian bagus. Bapakku berdansa dengan Tesla.
Beberapa saat kemudian, seorang pria tampan menghampiriku, yang akhirnya kukenal sebagai Deri.
"Senangnya bertemu kamu, Nov," katanya.
Mata hitamnya terlihat gelap seperti larut dalam kekaguman. Agaknya, dia tidak benar-benar berusaha keras untuk menyembunyikan. Aku jadi bertanya-tanya, apakah dia tahu tentang alasan, mengapa aku menikah dengan temannya.
"Yah, saya juga," jawabku.
Dia memamerkan gigi putihnya yang sempurna, lalu berkata, "Tesla bilang, kalian sudah lama saling kenal?"
"Ya, benar. Kami berjodoh karena dikenalin teman."
"Siapa? Siapa temannya, Nov? Kasih tau saya dong, biar bisa dapet cewek cantik kayak kamu juga," dia berucap dengan mata yang tampak serius.
Aku pun tiba-tiba merasa aneh dan taknyaman.
"Nov, ayo, siapa teman kalian?"
"Tesla gak kasih tau kamu?"
"Enggak deh, dia gak pernah cerita tuh," sahutnya.
"Saya gak pernah apa?" suara Tesla bertanya, ternyata dari belakang.
Aku pun menghela napas, lega karena mendengar suaranya.
"Hehe. Gak, Tes, saya cuma nanya sama Novi, siapa yang udah kenalin kamu sama dia," Deri menjawab sambil menyeringai.
"Oh, namanya Beni. Lagian kamu juga gak kenal sama dia, Der," Tesla pasti berbohong, lalu menatap Deri dengan ekspresi taksabar, "bisa saya ambil istri saya sekarang?"
Deri terkekeh kemudian menjawab, "Haha. Oke, silakan, Bung."
"Terima kasih," Tesla menyahut, tanpa memandang Deri lagi. Dia meraih tanganku kemudian memeluknya erat-erat.
"Duh, hampir aja, Tes. Harusnya lo lebih spesifik waktu ngajarin gue kisah kita."
"Berbohong aja, setiap hal kayak tadi terjadi lagi," katanya, di samping telingaku.
"Gue mana bisa berbohong semudah lo," balasku, dengan berbisik, padahal, sebenarnya aku adalah pembohong yang ahli.
"Kalau begitu ubah aja topiknya," katanya, "Sekarang, ayo kita ciuman. Biar semua orang liat."
"Persetan! Gue bakal ...," ucapanku terpotong karena dia menciumku tiba-tiba.
Ya Tuhan, aku meleleh sekali lagi. Ciumannya mulai membuatku khawatir—akan kehangatan dan panas yang merasuki indera kewanitaanku.
Meskipun begitu, aku takingin membiarkannya menikmati sendirian. Aku menciumnya kembali, mengunci tangannya di tengkuknya; ujung jariku menelusuri rambut cokelat gelapnya. Aku menyeringai ketika merasakan bahwa bahunya membeku, mungkin ia sedang berkontraksi.
Aku tak membiarkan dia menyelesaikan ciumannya sendiri. Aku memulainya, jadi aku sendiri yang harus mengakhirinya. Namun, ternyata ciuman kami berhasil terlepas.
Kemudian, dia memasang senyum manis.
"Yuk, kita pergi sekarang. Kaki gue sakit banget., Gue gak mau bergaul sama orang-orang asing di sini," ucapku.
"Terus orang tua lo?" dia bertanya.
"Mereka bakal senang ngeliat gue pergi sama lo, apalagi ibu," jawabku.
Kemudian, aku menoleh ke belakang, di mana ibu sedang mengobrol dengan Bu Ida dan Nek Husna, di salah satu sudut, dengan anggur di tangan. Ya Tuhan, seseorang harus mengambil gelas itu dari ibu, sebelum ibu melakukan sesuatu yang bodoh.
"Ayo, Tes, kayaknya kita harus pergi sekarang."
"Kamu udah gak tahan mau mulai bulan madu?" tanyanya—nakal juga dia.
Wajah kami terpisah beberapa inci, aku tertawa datar.
"Ya, gue bakal ngakak ngeliat ekspresi lo, pas tau kemana kita bakal pergi," kataku.
Wajahnya menjadi kosong, alarm merayap masuk.
"Maksud kamu?"
"Sayang, jangan khawatir. Gue bakal ngelayani lo dengan baik."
Sudah waktunya untukku membalas dendam!
